Tampilkan postingan dengan label Kyuhyun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyuhyun. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 November 2012

A Fanfiction - Still here_Baekyeol/Chanbaek Chapter SEVEN (END)


Still here


Tittle: Still here
Author: Fie
Genre: Mystery, romance, Shounen-ai (Boys Love), drama
Rated: 15+
Pairing: Baekyeol/Chanbaek
Length: multichapter
Main Cast:
- Byun Baekhyun
- Park Chanyeol
- Cho Jinho (Jino)
- Lee Soonkyu (Sunny)
- Lee Sungmin
- Cho Kyuhyun

Support Cast:
- Kim Jongin (Kai)
- Oh Sehun
- Do Kyungsoo (D.O)
- Kim Joonmyun (Suho)
- Kim Minseok
- Xi Luhan



Summary:

Aku masih di sini dan akan menjadi orang yang bisa kau percaya sampai kapanpun.



TUJUH



_flashback_

“Namaku Lee Soonkyu.”

“Namaku Cho Jinho.”

“Apa kau menikmati acara yang dibuat orangtuaku?”

“Ne, orangtuamu benar-benar hebat membuat acara!”

“Hei, apa yang sedang kau bawa?”

“Oh, ini. Ini petasan,” ucap Jinho seraya mengangkat bungkusan yang ia bawa.

“Petasan itu apa?”

“Kau tidak pernah bermain petasan? Petasan ini bersuara sangat kencang dan bisa membuat kita kaget!”

“Benarkah? Aku tidak pernah mendengar suara yang mengagetkan.”

“Kalau begitu, kau mau dengar? Tapi tidak di sini.”

“Kenapa?”

“Karena kalau ketahuan yang lain, jadinya tidak menyenangkan. Ayo kita ke taman belakang panti asuhan.”

“Ayo!”

...

DARR

DARR

DARR

“Soon—“

Soonkyu memegangi dadanya setelah mendengar suara ledakan itu. Keadaan yang mereka kira akan menyenangkan berubah sebaliknya. Soonkyu terjatuh sambil terus memegangi dadanya.

“Soonkyu, kau kenapa?”

“Dadaku sakit sekali, Jinho.”

“Ke-kenapa...”

“Apa yang kalian lakukan di tempat ini?!”

Seorang anak lelaki mendatangi mereka dan langsung membentak. Dia, Sungmin, membantu Soonkyu berdiri sambil mengelus dada Soonkyu seperti menenangkan.

“Kau kenapa, Soonkyu?”

“Dadaku sakit, Oppa...”

“Apa yang kau lakukan pada adikku?!”

“A-aku...”

Sungmin mendorong Jinho hingga namja kecil itu jatuh.

“Kau hanya anak panti asuhan yang mendapatkan hidup dari orangtuaku! Kau tidak pantas bermain dengan adikku!”

“Ma-maafkan aku...”

Airmata sudah menggenang di pelupuk mata Jinho, tapi Sungmin tidak berniat untuk mengakhirinya.

“Kau punya pikiran tidak, sih? Mengajak adikku ke taman yang sepi seperti ini dan bermain petasan! Permainan tidak jelas begitu tidak pantas untuk keluarga terhormat seperti keluarga kami! Kau jangan sekali-sekali menemui adikku lagi! Kalau kau  masih menemuinya, akan kukeluarkan kau dari panti ini dan kau akan menjadi gelandangan! Kau mau?”

“Sungmin-oppa, tolong...jangan marahi Jinho...”

“Oh, jadi namanya Jinho? Baiklah, akan kuingat namamu!”

Sungmin hampir saja menampar Jinho, tapi tangannya ditahan oleh seorang anak lelaki seumurannya, Cho Kyuhyun. Cho Kyuhyun menatap Sungmin dengan tatapan tajam seraya menggenggam tangan Sungmin sangat erat sampai Sungmin meringis kesakitan. Sungmin langsung melepas paksa pegangan itu.

“Hentikan,” ucap Kyuhyun sinis. Sudah cukup setelah kedua orangtuanya pergi sehingga dia dan adiknya harus berada di panti asuhan ini dan sekarang ada orang yang ingin menyakiti mereka, sekali lagi, sudah cukup.

“Siapa kau?” Tanya Sungmin tidak kalah sinis tanpa rasa takut karena bagaimanapun mereka adalah anak pemilik panti asuhan ini.

“Aku Hyungnya.”

“Oh, jadi kau kakak anak ini? Jaga adikmu baik-baik, jangan sampai dia menyentuh adikku! Ayo, Soonkyu. Kita pergi saja dari sini. Kedua namja kurang ajar ini memang seharusnya tinggal di panti asuhan ini. Kurasa kedua orangtua mereka meninggalkan mereka karena kebodohan mereka.”

Kyuhyun ingin sekali menghajar Sungmin, tapi dia masih punya akal sehat untuk meredam amarahnya. Kyuhyun membantu Jinho berdiri selepas kepergian Sungmin dan Soonkyu.

“Tenang saja, Jinho. Suatu saat nanti, kita akan membuat mereka merasakan apa yang kita rasakan sekarang. Kita akan mengambil kebahagiaan mereka. Dan kurasa...titik kebahagiaan mereka ada pada gadis cilik itu.”

“Apa yang Hyung bicarakan?”

“Sekarang kau harus belajar giat, ne? Agar kita mendapat keluarga yang bisa membantu kita membalas mereka. Keluarga Lee.”

_flashback end_

***

“Chanyeol-ssie, tolong aku...”

“A-ada apa, Sungmin-hyung?”

“Me-mereka...” (DARR)


Tut...


“Baekhyun, ayo! Kita harus ke rumah Sungmin-hyung!”

“Ada apa, Channie?”

“Mereka datang! Kyuhyun dan Jino datang!”

Chanyeol langsung menarik Baekhyun ke luar dan membuat motornya melesat sangat cepat. Chanyeol belum menjawab segala pertanyaan Baekhyun, tentang apa yang mereka bicarakan, atau kenapa Chanyeol bisa menyimpulkan kalau Kyuhyun dan Jino datang.

“Chanyeol-ssie! Aku butuh kejelasan secepatnya!”

“Baekhyun, tidak ada waktu untuk menjelaskannya!”

“Tolong sedikit saja!”

“Tadi aku mendengar suara tembakan dan panggilan Sungmin-hyung langsung terputus!”

“I-itu artinya...”

“Ne, itulah yang kutakutkan, Baekhyun! Aku takut mereka membunuh Sungmin-hyung dan Sunny!”

“Jino tidak mungkin melakukannya. Kami percaya padanya.”

“Sejauh apapun kalian memercayainya, tetap saja dia punya niat jahat!”

“Jino...Jino-hyung...”

***

Tidak lebih dari dua puluh menit, mereka telah tiba di depan gerbang kediaman Sungmin dan Sunny. Di sana begitu sepi dan itu semakin membuat Baekhyun dan Chanyeol cemas. Mereka biarkan motor Chanyeol terparkir sembarang karena di sana tidak ada petugas yang berjaga. Baekhyun dan Chanyeol langsung mendobrak pintu dan berlari menuju kamar Sungmin yang terhubung dengan kamar Sunny. Kamar Sungmin kosong, keadaannya tidak berantakan, menandakan Kyuhyun dan Jino melakukannya dengan baik tanpa bekas.

Baekhyun mencoba untuk membuka kamar Sunny, tapi kamar itu masih terkunci. Dia mendobrak pintu itu seperti orang kerasukan, Chanyeol yang masih memeriksa keadaan kamar Sungmin langsung berlari menghampiri Baekhyun.

“Apa yang kau lakukan, Baekkie?”

“Sunny ada di dalam, Channie! Sunny-ah! Bertahanlah!”

Chanyeol menjauhkan Baekhyun dan berganti mendobraknya. Setelah beberapa lama mendobrak, akhirnya pintu itu terbuka. Butuh perjuangan keras, karena pintu itu memang didesain sekuat baja, badan Chanyeol dan Baekhyun pasti memar-memar dibuatnya.

“Sun—“

Kamar itu juga kosong. Jendela kamar Sunny terbuka sehingga tirainya beberapa kali terbawa angin.

“Kemana mereka, Chanyeol?”

Chanyeol belum menjawab karena dia masih memandangi ponsel Sungmin yang pecah seperti ditembak.

“Chanyeol!”

“Aku tahu kemana mereka pergi.”

“Mwo?”

***

“Bukankah sama seperti dulu? Saat kau melindungi adikmu yang lemah itu?”

“Cho Kyuhyun, kau...,” ucapan Sungmin terputus-putus karena luka di kepalannya.

“Keadaannya sama bukan? Aku bertanya.”

Sungmin tidak bisa menjawab, karena dia sangat khawatir melihat keadaan Sunny yang semakin lemah. Jino tidak bisa menolong karena Kyuhyun sudah membuatnya tidur dan mengikatnya di pohon dekat mereka berada.

“Soonkyu-ah, Oppa akan membawamu ke rumah sakit, tolong bertahanlah sebentar lagi...”

“Bertahan? Sepertinya gadis itu akan mati sekarang juga.”

Kyuhyun mengarahkan pistolnya tepat ke jantung Sunny, sedangkan Sungmin masih bertahan untuk tidak pingsan lagi, padahal darah segar sudah keluar cukup banyak dari kepalanya.

***

_flashback_


Sunny mencoba untuk tidur, tapi perasaannya tidak bisa tenang, jadi dia hanya tidur tanpa memejamkan matanya. Dia pandang langit-langit penuh lukisan awan buatannya. Tiba-tiba, airmatanya menetes karena teringat sesuatu dari lamunannya itu.

“Apa kau akan datang, Jino?”

Sunny memegangi dadanya sambil menahan rasa sakit dari jantungnya yang berdetak semakin lambat. Dia terlalu lemah untuk melawan, tapi setidaknya dia bisa menahannya.

“Rasa sakit di jantung ini...tidak lebih sakit daripada hatiku.”


BRAKK


“Soonkyu-ah! Lari!”

“O-Oppa?”

“Lelaki itu datang! Kyuhyun-ssie datang! Aku yakin Jinho juga ada di belakangnya!”

“Jangan lari lagi, Oppa. Jangan lari...”

Sungmin memandangi Sunny lekat. Dia terdiam, begitu rapuhnya gadis yang berusaha kuat itu. Betapa jahatnya Sungmin yang sudah menimpakan seluruh kesalahannya pada Sunny. Betapa...


BUG


Sebuah balok menghantam kepala Sungmin hingga Sungmin terjatuh. Darah segar mengalir dari kepalanya yang terluka. Sunny bangun dari tempat tidurnya dan menghampiri Sungmin tanpa takut pada si pelaku, Kyuhyun.

“Kau masih menungguku, Sunny? Kau masih menungguku, kan?”

“Jika kau ingin membunuhku, tolong bunuh aku sekarang juga. Jangan sakiti Oppa atau keluargaku. Dan juga...jangan paksa Jino menjadi sepertimu.”

Melihat ada celah kecil, Sungmin langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Chanyeol.

“Chanyeol-ssie, tolong aku... Me-mereka...”


DARR


Ponsel itu seketika pecah karena tembakan Kyuhyun yang sangat jitu. Tangan Sungmin langsung gemetaran karena dia mengira peluru itu mengenai kepalanya juga.

“Kau menghubungi siapa, hah?”

“Aku menghubungi orang yang akan membuatmu masuk penjara!”

“Siapa? Namja manis itu? Atau pacarnya yang super tinggi?”


BUG


Sekali lagi, Kyuhyun memukul Sungmin dengan balok, seperti yang ia lakukan pada seluruh penjaga rumah ini, hingga pingsan.

“Oppa!”

“Sebaiknya kalian ikut aku, karena Jino sudah menunggu kalian di sana.”

“Apa yang kau lakukan pada Jino?”

“Kau peduli pada orang yang sudah membohongimu? Naif.”

“Dia tidak pernah membohongiku, dia mencintaiku.”

“Memangnya kau tahu perasaannya yang sebenarnya? Dia hanya menganggapmu sebagai sisa rokok yang harus di buang. Sesuatu yang harus dilenyapkan agar keluargamu tidak sombong dan merasakan apa yang kami rasakan.”

“Tolong jangan sakiti Jino...aku...aku yang salah...aku yang salah karena menjadi gadis yang lemah...aku...”


_flashback end_

***

Sunny harus menahan sakit di dadanya sekuat tenaga, karena kini hanya dia yang bisa menyelamatkan Sungmin, ya, hanya dia. Sunny tidak peduli jika Kyuhyun menembaknya saat dia mengangkat Sungmin dengan tubuh kecilnya itu, dia tidak peduli, karena sekarang yang dia pedulikan adalah nyawa Sungmin. Setidaknya jika dia harus tiada hari ini, dia masih bisa menyelamatkan Oppanya.

“Oppa, ayo kita ke rumah sakit dan mengobati lukamu.”

“Soonkyu-ah, kau tidak usah memedulikanku. Aku...aku akan membayar semuanya.”

“Ish, aku benci sekali melihat drama seperti ini. Untung saja adikku belum bangun, karena jika dia bangun, dia akan menjadi pemberontak lagi,” remeh Kyuhyun.

Sekarang kondisi Sunny lebih memungkinkan untuk membawa Sungmin pergi, ketimbang kondisi Sungmin yang sudah sangat lemah.

“Kalian kira aku akan mengizinkan kalian untuk lari? Sudah bertahun-tahun aku menunggu saat yang tepat seperti ini. Membawa kalian berdua ke taman belakang panti asuhan, mengintimidasi kalian, lalu...pada akhirnya aku akan membunuh salah satu dari kalian. Bukankah menyenangkan? Tidak setimpal dibanding apa yang sudah keluarga kalian lakukan pada keluargaku.”


“Itu bukan salah keluarga Lee atau siapapun, Cho Kyuhyun.”


Kyuhyun, Sunny, dan Sungmin menoleh ke sumber suara. Ternyata itu suara Chanyeol. Baekhyun juga ada di sampingnya. Sebenarnya Baekhyun ingin segera menyelamatkan Sunny dan Sungmin, tapi Chanyeol menahannya karena Kyuhyun belum tahu yang sebenarnya.

“Oh, pahlawan kesiangan datang.”

“Boleh kutahu apa alasanmu membenci keluarga Lee selain Sungmin-hyung yang memarahi adikmu?”

“Heuh...sebenarnya aku malas menceritakannya, tapi tidak apa-apalah untuk sekedar mengingatkan betapa kejamnya keluarga Lee. Kalian pasti tahu kenapa aku dan adikku masuk panti asuhan. Iya, karena kedua orangtua kami bunuh diri. Orangtua kami bunuh diri karena tekanan dari keluarga Lee. Cih, perusahaan kredit yang memalukan, mengintimidasi klien agar membayar hutang secepatnya. Mereka pergi karena orangtua kalian yang jahat itu mengintimidasi orangtuaku! Saat perayaan ke dua tahun panti ini, aku langsung tahu kalau dua orang itulah pemilik perusahaan kredit tempat orangtuaku meminjam. Kalau bukan karena mereka...mungkin sekarang orangtuaku masih ada, masih memeluk kami.”

“Benarkah seperti itu?” Chanyeol kembali bertanya.

“Lalu apa lagi? Sudah jelas di dekat TKP ada berkas-berkas hutang. Sudah pasti mereka memaksa orangtuaku untuk membayar sampai orangtuaku tertekan.”

“Begitu cepat seorang Cho Kyuhyun yang dinobatkan sebagai lulusan terbaik dari universitas di London mengambil kesimpulan.”

“Sebenarnya apa maumu, Park Chanyeol?”

“Baca ini.”

Chanyeol melemparkan sebuah buku dan buku itu jatuh tepat di hadapan Kyuhyun. Kyuhyun hanya memandang buku itu tanpa menyentuhnya.

“Kenapa? Kau takut jika kenyataan dari simpulanmu itu salah? Ayo baca.”

“Apa ini?”

“Aku tidak menyangka seorang yang rela mati untuk anaknya, memunyai anak sejahat ini.”

***

_flashback_


“Apa kau yakin jika kita menemukan buku diari Eommamu kita bisa menyelamatkan Sunny?”

“Semoga, Baekhyun.”

“Tapi bukankah kau bilang buku diari Eommamu ada banyak? Lalu kita harus mengambil yang mana?”

“Eomma selalu mengarsipkan semuanya dengan rapi, maksudku dia akan menulis kenangannya berdasarkan buku yang sudah dia beri judul. Jadi jika Eomma punya sahabat, dia pasti mengarsipkannya dalam buku tertentu.”

“Jadi...”

“Ah! Ini dia!”


_flashback end_

***

Kyuhyun meletakan pistolnya di saku lalu mengambil buku itu. Matanya membesar melihat semua tentang Eommanya ada dalam buku ini. Bahkan ketika dia baru dilahirkan atau saat Jino masuk TK, semuanya ada di sini. Kyuhyun mencari halaman yang dimaksud Chanyeol, tentang kesalahannya dalam membuat simpulan. Dia terus mencari sampai tangannya berhenti, dia ingat tulisan tangan Eommanya, iya, ini tulisan Eommanya. Ada kertas lain di halaman itu seperti tempelan, seperti pesan terakhir Eommanya pada sahabatnya itu.



Park Soojin. Apa kabarmu?

Maaf ya karena aku jarang menghubungimu lagi. Aku sedang sibuk mencari biaya pendidikan Kyuhyun dan Jinho. Kau ingat mereka, kan? Kalau Kyuhyun kau pasti tahu walaupun aku jarang membawanya ke rumahmu, tapi Jinho itu anak keduaku yang waktu itu berfoto bersama kita. Kau ingat kan sekarang? Sudah lebih dari tiga tahun aku menghilang, ya? Hahaha, aku juga bingung kenapa hidupku jadi seperti ini.

Ahiya, aku mau menceritakan sesuatu padamu. Ini kisah tentang orangtua yang juga bekerja keras demi anaknya yang sedang sekarat, Soojin. Aku meminjam uang pada perusahaan mereka, tapi belum bisa melunasinya. Aku bodoh, ya? Sudah tahu suamiku pasti tidak bisa bayar, tapi aku bersikeras meminjam. Aku tidak kuat melihat mereka yang berusaha menolong anak mereka, Soojin. Mereka begitu tulus meminjamkan pinjaman pada orang sepertiku, bahkan mereka tidak memaksaku untuk melunasinya setelah mendengar ceritaku. Hatiku seakan melemah melihat ketulusan mereka. Tapi apa kau tahu yang lebih menyakitkan? Suamiku belum sembuh juga dari penyakit judinya. Aku benci itu. Aku...ingin membunuh lelaki itu. Aku ingin membebaskan anak-anakku dari belenggunya. Tapi bukankah itu kejam? Bukankah kalau aku membunuhnya, posisiku sama sepertinya? Aku pasti akan membuat anak-anakku sedih.

Soojin...aku tidak punya pilihan lain...

Aku membunuhnya, Soojin...

Saat anak-anakku berkemah, aku membunuhnya...

Aku pembunuh, Soojin...

Aku tidak punya pilihan lain...

Daripada aku hidup sebagai pembunuh di mata anak-anakku, sebaiknya aku juga tiada...

Tolong jangan katakan ini pada anak-anakku kecuali mereka siap membacanya, Soojin.

Tolong biarkan mereka bebas dan hidup seperti anak-anak kebanyakan tanpa kami...

Tolong, Soojin...



Selesai membaca surat itu, tangan Kyuhyun melemas, semua dendamnya meluruh berganti penyelasan mendalam. Dia terlalu cepat mengambil simpulan. Bodoh...sangat bodoh...

“Aku telah mengubah adikku menjadi pembohong...aku menyakiti Sunny yang tidak tahu apa-apa...aku melukai Byun Baekhyun dan adiknya tanpa penyesalan...”

Tubuh Kyuhyun roboh, dia menyesali semuanya, dia...menyesal.


BUG


“Chanyeol!”

“Baekhyun, ini untuk kasus penyeranganmu. Bukankah waktu itu aku sudah pernah bilang, kalau aku akan memukul namja sialan yang sudah melukaimu? Hanya satu pukulan tidak setimpal dengan darah yang keluar dari tubuhmu yang tidak bersalah itu. Aku ingin sekali darah dibayar dengan darah, tapi aku masih punya akal sehat. Aku akan melaporkanmu dan adikmu ke kantor polisi.”

“Tolong tangkap aku saja, aku yang bersalah, adikku sama sekali tidak bersalah.”

“Mau bagaimanapun Jino membantumu dalam rencana ini, dia juga bersalah.”

“Jinho...maafkan Hyung...”

“Eommaku meninggal sebelum mengatakan semuanya padamu, andai saja aku tidak melewatkan diari itu, mungkin semuanya tidak akan rumit seperti ini. Heuh...aku juga bodoh nih.”

“Chanyeol-ssie, aku sekarang yakin, kau lelaki yang tepat untuk Baekhyun,” ucap Sunny tiba-tiba.

“Eh? Hahahaha, tentu saja. Aku mencintainya begitupun dia. Ahiya, ayo kita bawa Sungmin-hyung ke rumah sakit.”

Chanyeol mengangkat tubuh Sungmin dan memasukannya ke dalam mobil taksi yang Baekhyun pesan beberapa saat lalu, dia juga membantu Baekhyun untuk mengangkat Jino yang masih pingsan. Setelah memasukannya, Chanyeol menyuruh Baekhyun dan Sunny untuk ke rumah sakit duluan, karena ada yang harus dia urus sedikit lagi dengan Kyuhyun. Selepas kepergian taksi itu, Chanyeol kembali ke tempat Kyuhyun yang sedang membaca ulang isi surat terakhir Eomma Kyuhyun.

“Jangan salahkan Eommamu atau Appamu, Kyuhyun-ssie.”

“Cih, kau tahu apa, Detektif amatiran.”

“Dulu aku sempat membenci Eommaku karena dia terus-terusan menceritakan anak sahabatnya yang sangat pintar, tidak kusangka itu kau, tapi setelah kupikirkan lagi...untuk apa aku membenci orang yang sudah bertaruh nyawa untuk melahirkanku ke dunia ini. Begitu juga Eommamu, Kyuhyun-ssie. Eommamu melakukan ini karena terpaksa, dia hanya berfikir jika dia dan Appamu pergi, kehidupanmu akan lebih baik dari sebelumnya, karena dia tahu, kau memiliki potensi untuk lebih maju ketimbang Appamu yang gila judi itu. Eommamu rela membunuh dan juga meninggal karena kalian, Kyuhyun-ssie. Jadi jangan membenci mereka.”

“Aku...aku tidak pernah membenci mereka...aku tidak pernah membenci Appaku yang gila judi atau Eommaku yang bisa membunuh Appaku. Aku hanya membenci takdirku.”

“Takdir...kalau kau bilang kau membenci takdir, itu artinya kau membenci Tuhan yang sudah memberikan kehidupan untukmu, Kyuhyun-ssie.”

“Jadi apa yang harus kulakukan sekarang?”

“Yang harus kau lakukan adalah melenyapkan kebencianmu.”

“Mwo?”

“Kebencian yang kau ciptakan di hatimu membuatmu salah dalam menarik simpulan, bukan? Maka dari itu, lenyapkan perasaan itu dan hiduplah tanpa beban setelah kau keluar dari penjara, Kyuhyun-ssie. Aku tahu beban tidak akan pernah hilang dalam hidup ini, tapi...tolong jangan campurkan dendam di dalamnya. Karena beban itu akan semakin berat jika kau mengasahnya dengan dendam dan kebencian.”

“Tidak salah jika dulu Eommaku begitu mengagumimu,” ucap Kyuhyun sambil tersenyum tipis dan berdiri.

“Nde?

“Seorang anak kecil yang mampu mengatakan hal-hal yang hanya mampu diucapkan oleh orang dewasa di depan orang banyak itu kau, kan?”

“Kapan ya? Aku lupa, hehehe.” Chanyeol menggaruk kepalanya bingung.

“Hahaha, kau orang yang menarik, Chanyeol. Kuharap setelah aku keluar dari penjara, aku bisa belajar banyak darimu tentang kehidupan. Kita sama-sama tidak punya orangtua, jadi mungkin kita akan cocok.”

“Kalau itu, aku sudah tidak memermasalahkannya, karena sekarang ada Baekhyun yang sudah kuanggap sebagai Eomma sekaligus Appaku. Dia benar-benar mengurusku seperti anaknya. Haduh...orang itu benar-benar cerewet. Tapi kalau bicara soal cocok, mungkin kita bisa cocok.”

“Ada satu rahasia lagi...”

“Ohya?”

“Aku juga mencintai Sunny, tapi aku tidak mungkin merebut senyum itu dari adikku sendiri. Takdir begitu kejam, bukan?”

***

Sungmin sudah melewati masa kritisnya, tapi dia belum siuman karena obat bius, sedangkan Jino sudah bangun setelah pengaruh obat bius dari Kyuhyun habis. Sunny dan Baekhyun sepakat untuk menemui Jino di kamarnya setelah mendapat izin dari dokter.

Saat Sunny dan Baekhyun masuk ke kamar Jino, lelaki itu tidak berani bertatap muka dengan keduanya, jadi dia hanya menunduk.

“Hya, Cho Jinho-ssie,” panggil Baekhyun, tapi Jino tidak bergeming dari posisinya semula.

“Jino...”

Baru setelah mendengar suara lembut Sunny, namja itu mengangkat kepalanya.

“Aigo...giliran Sunny yang memanggil kau langsung mengangkat kepalamu! Dasar ganjen!” Kesal Baekhyun.

“Byunnie, berhentilah menggoda Jino,” balas Sunny. Baekhyun hanya terkekeh aneh.

“Maafkan aku...,” lirih Jino tiba-tiba, “jeongmal mianhae...,” lirihnya lagi.

Sunny dan Baekhyun duduk mengapit Jino dan merangkul masing-masing sisi pundak Jino.

“Kenapa harus minta maaf?”

“Sunny-ah...”

“Hya, Jino-hyung! Kalau kau minta maaf dengan lemah begini, aku yakin Sunny tidak akan menyukaimu lagi.”

“Byunnie!”

“Ne-ne, Sunny.”

“Aku minta maaf karena sudah membohongi kalian tentang identitasku, dan terlebih padamu, Baekhyun, aku tidak menyangka Hyungku akan menggertakku dengan melibatkanmu dalam rencana ini.”

“Tidak apa-apa, itu seru,” hibur Baekhyun.

“Se-seru?”

“Ne! Aku tidak pernah merasakan sakit seperti itu! Aku juga tidak pernah merasakan marah yang sangat-sangat-sangat...marah seperti itu. Hahahaha.”

“Kau hampir mati dan kau masih menertawai itu?” Heran Jino.

“Aku santai begini karena percaya, uri Jino tidak mungkin melakukannya.”

“Tapi tetap saja...”

“Sudahlah, Jino.”

Jino menoleh ke arah Sunny yang tidak tahan dengan perdebatan kecil itu.

“Aku tidak pernah marah pada Hyungmu dan kau. Aku juga pasti akan melakukannya jika aku dalam posisimu.”

“Benarkah? Kau akan melukai orang juga?” Tanya Baekhyun jahil.

“Byunnie, kau ini benar-benar!”

“Hehehe, maafkan aku, Sunny.”

“Sunny, apa penyakitmu...” Jino bertanya saat ingat perkataan Kyuhyun tempo lalu mengenai penyakit Sunny.

“Aku bisa megatasinya, aku akan terus sehat karena kalian mau itu, kan?”

“Tentu saja, Sunny! Kau itu menanyakan hal yang konyol!” Seru Baekhyun yang sekarang sangat bersemangat untuk mem-bully sahabat-sahabatnya itu.

“Ngomong-ngomong, kalau aku masuk penjara nanti, kalian jangan melupakanku, ya,” pinta Jino.

“Ish, kau bica—“

Baekhyun menghentikan omongannya karena Sunny sudah menatap tajam Baekhyun.

“Kami akan selalu mengunjungimu. Kami masih di sini, Jino, dan akan selalu di sini untuk menjadi orang yang bisa kau percaya sampai kapanpun.”

“Gomawo, Sunny, Byunnie.”

“Aku juga akan menunggumu,” ucap Sunny tegas.

“Nde?”

“Aku akan menunggumu mengatakan hal itu lagi,” ucap Sunny sambil menunduk malu.

“Hal apa?”

“Jino bodoh!” Baekhyun sudah tidak tahan lagi melihat kelakuan Jino yang lambat menangkap suasana.

“Ah, sudahlah, aku keluar dulu, ya. Kyungsoo dirawat di kamar sebelah, kalau kalian mau berkunjung, silahkan. Tapi sebelumnya kalian harus menyelesaikan urusan kalian dulu.”

“Dasar banyak omong,” ledek Sunny.

“Wee.” Baekhyun menjulurkan lidahnya dan berlari keluar.

***

Baekhyun menutup pintu kamar Jino sambil tersenyum. Senyum yang menandakan ia lega...sangat lega.

“Semoga kalian bisa terus bersama dan semoga...tidak ada lagi kesalahpahaman.”

“Salah paham itu wajar kalau di sana ada kasih sayang.”

Baekhyun sangat kaget dengan suara itu, suara bass Chanyeol memang menyeramkan kadang-kadang.

“Hya, kau mengagetkanku,” ucap Baekhyun sambil mengelus dadanya seperti kaget.

“Kau kan sudah sering mendengar suaraku, untuk apa kaget begitu?”

“Aku kan sedang melamun, kau tiba-tiba saja datang dan mengucapkan hal aneh begitu.”

“Hal aneh apa?”

“Pokoknya aku tidak suka yang namanya salah paham.”

“Ne-ne, kalau begitu bagaimana kalau sekarang kita tidur menemani malaikat kecilmu?”

“Sudah malam begini apa Kai masih di sana, ya?”

“Tentu saja dia masih di sana, kalau tidak, akan kuhajar lelaki itu.”

“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan That’s news!, Channie?

“Aku akan mengurusnya besok bersama Suho-hyung. Kau hanya harus duduk tenang dan menungguku kembali dengan kabar baik. Aku juga baru tahu kalau perusahaan kita ditutup itu karena laporan palsu dari Kyuhyun.”

“Nde? Jadi Kyuhyun-ssie juga menyerang kantor kita?”

“Hehehe, tidak apa-apalah, kan dengan begitu kita bisa fokus pada permasalahanmu.”

“Jadi besok That’s news! dibuka lagi?”

“Sepertinya lusa baru bisa, kita kan belum punya berita untuk koran kita.”

“Fiuh...aku lega sekali semuanya sudah selesai.”

“Ne, besok kita ke tempat itu lagi, yuk?”

“Kemana?”

“Tempat kenangan kita yang pertama.”

“Apartemen?”

“Byun Baekhyun! Aish, chinca...kau ini lebih pelupa dariku.”

“Ke tempat apa sih?”

“Ah, sudahlah, malas deh.”

“Eh? Kau marah, Channie?”

“Huh.”

“Chanyeollie...pacarku tersayang...,” goda Baekhyun seraya menoel-toel(?) punggung Chanyeol dengan jahil.

“Hentikan, itu menggelikan,” ucap Chanyeol sambil menahan tawa.

“Hihihi, aku tidak lupa kok. Setelah mengantar Kyungie pulang dan kembali menyuruh Kai menjaganya, kita ke sana.”

“Jadi kau ingat?”

“Rumahmu, kan?”

“Hya! Dasar...”

Baekhyun hanya tertawa melihat ekspresi Chanyeol yang seperti kepiting rebus karena ulahnya, sedangkan Chanyeol terus mencubit pipi Baekhyun sepanjang jalan.

***

Pagi ini Baekhyun, Chanyeol, Sungmin, dan Sunny mengantar Kyuhyun dan Jino yang menyerahkan diri ke kantor polisi. Teman-teman Jino di kantor polisi sangat kaget melihat laporan penyerahan diri itu. Jino hanya tersenyum menanggapi pertanyaan teman-temannya. Awalnya Jino ingin melepas pekerjaannya juga selepas masa hukumannya, tapi pimpinan agensinya tidak mengizinkan Jino pergi, dia ingin Jino menjadi detektif yang lebih baik lagi setelah ini.

“Gomawo sudah mengantar kami, ya,” ucap Jino.

“Hei, kau sudah ingat apa yang akan kau katakan pada Sunny nanti, kan?” Bisik Baekhyun.

“Serahkan saja padaku, Baekkie. Hehe.”

“Oiya, aku masih penasaran dengan kata-kata terakhirmu di buku tahunan tentang kejutan spesial yang ingin kau berikan pada Baekhyun dan Sunny jika kalian bertemu lagi.”

“Ingatanmu hanya kuat dalam masalah seperti ini, Channie,” ucap Baekhyun dibalas tatapan sinis Chanyeol yang terkesan pura-pura.

“Ahiya, aku hampir lupa. Ini...”

Jino mengeluarkan kertas berisi gambar dari pensil, di gambar itu ada dirinya, Baekhyun, dan Sunny. Tapi...gambar itu benar-benar...err...

“Buff...”

“Kalau mau tertawa, tertawa saja.”

“Buahahaha! Kau yang menggambarnya? Je—, aw!” Sunny menginjak kaki Baekhyun sangat kencang untuk menutup mulut Baekhyun yang tergolong ceplas-ceplos.

“Kalau kau keluar nanti, aku akan mengajarimu menggambar lebih baik dari ini, eoh?”

“Ah...sudah kuduga gambar ini tidak bagus, aku selalu berusaha menggambar bagus seperti yang dilakukan Kyuhyun-hyung, tapi tetap saja bakatku bukan menggambar.”

“Itulah gunanya Sunny ada untukmu, Jino,” ucap Baekhyun yang mulai bisa mengontrol kata-katanya. Dia memang seperti itu jika berhadapan dengan dua sahabatnya.

“Ne, tunggu aku, ya.”

“Selalu.”

Jino dan Kyuhyun pun masuk ke dalam ruang tahanan. Mereka sama sekali tidak sedih, mereka justru senang karena penyesalan mereka terbayar. Semoga semua akan menjadi lebih baik setelah hukuman ini selesai.

***

Sesuai rencana, sore itu setelah mengantar Kyungsoo ke apartemen dan menyuruh Kai untuk menjaga Kyungsoo karena Kyungsoo belum sepenuhnya sembuh, Baekhyun dan Chanyeol pergi ke bangku hijau tua tempat mereka berbaikan dulu. Menurut mereka, kebersamaan kali ini sangat spesial, mengingat bagaimana mereka melewati semuanya bersama, melewati semuanya dengan airmata dan tawa, akhirnya...semua selesai, akhir yang bahagia.

“Akhirnya penantianku selesai sudah,” celetuk Baekhyun membuka pembicaraan.

“Penantian seperti apa?”

“Ya semuanya.”

“Semuanya itu seperti apa, Byunnie?”

“Kau juga pasti tahu, Chanyeol. Semuanya itu tentang perasaan kita,” tegas Baekhyun.

“Hihihi, aku jadi ingat pertama kali kita jadian. Waktu itu kita berdebat tentang telepon dari Sunny. Kukira dia benar-benar hantu,” kenang Chanyeol

“Ne, aku juga masih ingat wajah ketakutanmu saat melihat Sunny di depan pintu.”

“Aku tidak takut, hanya lengah.”

“Ih, dasar gengsian.”

“Biar saja, kan di depan pacarku sendiri.”

“Hei, kalau aku di posisi Sunny, kau akan mencelakaiku juga tidak?”

“Tidak,” jawab Chanyeol dengan yakinnya.

“Benar?”

“Ne, aku tidak akan melukaimu. Aku kan mencintaimu lebih dari apapun, wuahahaha.”

Baekhyun kaget mendengar tawa itu, yaampun, sepertinya Chanyeol sedang girang atau...gila?

“Jangan tertawa seperti itu dong! Aku kan kaget!”

“Memangnya tawaku kenapa?”

“Menakutkan! Kau tahu itu?”

“Seperti apa? Coba contohkan.”

“Wuahahaha.”

“Tidak, tawa itu sama sekali tidak menakutkan.”

“Itu kan aku yang tertawa! Oiya, aku baru ingat. Kenapa waktu Eommamu masih hidup, kau tidak kenal dengan Kyuhyun maupun Jino? Eommamu dan Eomma mereka kan bersahabat.”

“Kau kan tahu aku pelupa, mana mungkin aku ingat wajah orang lain yang sudah 15 tahun tidak bertemu.”

“Ne, kau sangat-sangat pelupa.”

“Ya...yang penting aku tidak akan melupakanmu.”

“Cih, gombal.”

“Gombal apanya? Itu kan sungguhan! Daripada kau, kau itu polos, atau mungkin aku bisa bilang kau bodoh?”

“Tega sekali sih! Dasar namja abnormal!” Kesal Baekhyun sambil melipat tangannya di depan dada.

“Hya! Kenapa abnormal?”

“Tinggimu abnormal! Gigimu abnormal! Rambutmu abnormal!”

“Haduh...aku frustasi sekali punya pacar sepertimu!”

“Kalau frustasi ya...jangan frustasi dong!”

“Nde?”

“Jangan frustasi, karena aku tidak mau kau frustasi.”

“Memangnya kenapa kalau aku frustasi?”

“Aku takut...kau meninggalkanku kalau kau frustasi.” Baekhyun menunduk malu karena tidak menyangka akan mengatakan hal seperti itu. Aigo...

“Makanya jangan buat aku frustasi.”

“Kalau kita membicarakan frustasi, aku yang akan frustasi menanggapi perkataan frustasimu.”

“Kau benar-benar menggemaskan, Byunnie.”

“Ciee, kata itu lagi! Aku sudah lama tidak mendengarnya. Kau benar-benar sudah frustasi, ya? Wuahahaha.”

Chanyeol memukul kepala Baekhyun pelan, karena kesal juga mendengar tawa Baekhyun sepanjang pembicaraan. Tiba-tiba Chanyeol memegang pundak Baekhyun seperti mengunci tubuh itu untuk diam. Chanyeol menatap Baekhyun lekat dan Baekhyun hanya tersenyum. Chanyeol ikut tersenyum lalu mengecup bibir Baekhyun lembut. Baekhyun memejamkan matanya dan merasakan setiap detail kelembutan yang Chanyeol berikan untuk hidupnya. Baekhyun berjanji akan menjadikan Chanyeol sebagai satu-satunya pendamping hidupnya. Karena Chanyeol masih di sini, masih di hatinya yang luas. Seperti yang dia bilang dulu, Chanyeol adalah bagian terpenting dalam hati itu dibanding yang lain.

“Aku mencintaimu, Baekhyun. Kau percaya, kan?” Tanya Chanyeol saat melepas ciumannya.

“Ne, aku percaya.”

“Sama, Baekhyun. Sangat sama dengan perkataan yang ingin kuucapkan.”

Chanyeol kembali menyentuh bibir Baekhyun dengan bibirnya, memberikan kehangatan di malam terakhir musim dingin.


Aku masih di sini dan akan menjadi orang yang bisa kau percaya sampai kapanpun.


END

A Fanfiction - Still Here_Baekyeol/Chanbaek Chapter SIX


Still here


Tittle: Still here
Author: Fie
Genre: Mystery, romance, Shounen-ai (Boys Love), drama
Rated: 15+
Pairing: Baekyeol/Chanbaek
Length: multichapter
Main Cast
- Byun Baekhyun
- Park Chanyeol
- Cho Jinho (Jino)
- Lee Soonkyu (Sunny)
- Lee Sungmin
- Cho Kyuhyun

Support Cast
- Kim Jongin (Kai)
- Oh Sehun
- Do Kyungsoo (D.O)
- Kim Joonmyun (Suho)
- Kim Minseok
- Xi Luhan



Summary:

Aku masih di sini dan akan menjadi orang yang bisa kau percaya sampai kapanpun.


ENAM



“Chanyeol! Hubungi ambulan!”
“Sial! Ini pasti perbuatan orang yang menyerangmu waktu itu, Baekhyun! Dia mengirimi Kyungsoo kue ini!”
“Orang itu...aku tidak akan melepaskannya lagi.”
Chanyeol segera menghubungi rumah sakit dan tidak lama kemudian ambulan datang. Baekhyun terus menggenggam tangan Kyungsoo sambil menatap wajah adiknya dengan raut dendam. Chanyeol yang menemaninya ingin menenangkan Baekhyun, tapi ia rasa ini bukan saat yang tepat. Suara gemeretak gigi Baekhyun terdengar jelas, menandakan Baekhyun sedang sangat marah.
“Byunnie, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit.”
“Selama Kyungie dirawat, tolong temani dia. Aku harus ke suatu tempat sebentar.”
“Kemana, Baekhyun?”
“Aku harus ke rumah Sunny, aku ingin menemui Sungmin-hyung.”
“Untuk apa?”
“Pokoknya aku harus menemuinya.”
“Apa kamu mau...”
“Tidak, untuk masalah seperti ini aku akan menyerahkan semuanya padamu.”
“Lalu?”
“Aku belum bisa mengatakannya, Channie. Aku yakin kau bisa menemukannya sendiri.”
“Baiklah, aku tidak akan mengekangmu, Byunnie. Lakukan semua keputusan terbaikmu. Aku hanya bisa mengingatkan, pakai hatimu, jangan amarahmu.”
“Gomawo, Channie. Tolong hubungi aku jika Kyungsoo sudah bangun, aku memegang ponselnya,” ucap Baekhyun sambil menimang ponsel Kyungsoo.
“Pasti, Byunnie. Kau juga, segera hubungi aku jika kau butuh bantuan.”
Baekhyun mengangguk dan berlalu. Dia kepalkan tangannya untuk menahan semua amarahnya, hentakan langkah Baekhyun terdengar berat tapi mampu menghasilkan bunyi nyaring di lantai rumah sakit. Dia benar-benar marah.
“Tidak ada yang boleh menyakiti adik kesayanganku.”
Chanyeol memandangi Baekhyun sampai kekasihnya itu menghilang dari hadapannya. Chanyeol tidak mencemaskan Baekhyun, karena dia tahu apa yang akan dilakukan Baekhyun.
“Aku akan membantumu, Baekhyun. Selalu.”

***

Baekhyun tiba di kediaman keluarga Lee. Dia langsung meminta penjaga memanggilkan Sungmin tanpa menerima ajakan masuk. Sesaat kemudian, sang pelayan keluar tanpa Sungmin.
“Tuan Sungmin sedang tidak ada di rumah, Tuan.”
“Aku tahu kau berbohong. Katakan, orang yang bertemu dengannya adalah Byun Baekhyun.”
“Tapi Tuan Sungmin benar-benar tidak ada, Tuan.”
“Kalau begitu biarkan aku masuk ke kamarnya.”
“Tidak boleh, itu menyalahi aturan, Tuan Byun.”
“Aku akan terus menunggunya. Pokoknya aku harus bertemu dengannya.”
“Silahkan Anda menunggunya.”
Pelayan lelaki itu masuk dan menutup pintu. Baekhyun terus berdiri di sana karena dia tahu, Sungmin ada di rumah.
“Aku akan menunggumu! Aku tidak akan pergi dari sini sebelum kau keluar!”

10 menit...
15 menit...
25 menit...
30 menit...

Krett

“Masuklah.”
“Akhirnya kau keluar, tidak sia-sia aku menunggumu.”
“Masuklah, Baekhyun.”
“Tidak, Hyung. Aku ingin bicara denganmu di sini.”
“Apa yang ingin kau bicarakan?”
“Jangan sentuh adikku!”
“M-mwo?”
“Kalau kau berani menyentuh adikku, aku tidak akan segan-segan membunuhmu!”
“Apa yang kau bicarakan, Baekhyun?”
Baekhyun tidak menjawab pertanyaan Sungmin dan langsung berlari pergi.
“Baekhyun! Apa maksudmu?!”
Baekhyun tersenyum kecil, sebuah senyum yang menyiratkan sesuatu. Seperti ada yang sedang dia rencanakan.

***

Ponsel Kyungsoo bergetar saat Baekhyun tiba di depan gerbang rumah sakit. Panggilan dari Chanyeol itu sengaja tidak dia angkat karena dia akan tiba di UGD sebentar lagi.
“Channie!”
“Ah, Baekhyunnie. Tadi Dokter bilang Kyungsoo sudah melewati masa kritisnya.”
“Jadi sekarang kita boleh masuk?”
“Kyungsoo akan dipindahkan ke kamar rawat inap dulu.”
“Kau yang memesan kamarnya?”
“Ne.”
Tak berapa lama Kyungsoo yang belum sadarkan diri dibawa ke kamar inap diikuti Baekhyun dan Chanyeol. Keduanya belum memberitahu pada yang lain karena malam sudah cukup larut, mungkin besok. Setelah mendapat izin dari dokter dan pihak rumah sakit untuk menginap di kamar Kyungsoo, Chanyeol menyuruh Baekhyun tidur karena hari ini adalah hari yang panjang untuk Baekhyun. Tapi Baekhyun menolak karena ingin terus menatap wajah Kyungsoo sambil memegangi tangannya. Chanyeol akhirnya tidak lagi menyuruh Baekhyun tidur, mungkin malam ini mereka bisa mengobrol.
“Chanyeol, apa kau menemukan perkembangan dari kasus Sunny?”
“Mungkin iya, mungkin juga tidak.”
“Jawabanmu benar-benar menyebalkan.”
“Jika aku menceritakannya padamu, aku takut kau malah marah.”
“Ceritakan saja, Channie.”
“Uhm...sebelumnya aku ingin bertanya, menurutmu siapa orang yang benar-benar ingin tahu keberadaan Sunny?”
“Kita semua menginginkannya, Channie. Itu pertanyaan yang umum.”
“Coba dipikirkan baik-baik, Baekhyun. Kira-kira siapa orang yang dari awal pencarian sangat terobsesi menemukan Sunny?”
Sebenarnya Baekhyun tahu jawabannya, tapi dia terlalu takut untuk menjawab. Chanyeol tidak sadar pada perubahan sikap Baekhyun, dia kira itu hanya reaksi Baekhyun yang masih sedih melihat adiknya kritis. Malam semakin larut, tapi Baekhyun dan Chanyeol terus mengobrol. Di dalam obrolan itu begitu banyak penekanan pada perasaan Baekhyun, antara tidak percaya dan tidak mau percaya.
“Channie...”
“Ne, Byunnie?”
“Bagaimana jika...orang yang melakukan kejahatan adalah orang yang sangat kita sayang?”
Chanyeol terdiam, akhirnya Baekhyun menyadarinya. Dia yakin tadi Baekhyun menemui Sungmin untuk urusan itu.
“Bagaimana jika...aku tidak bisa membuktikan kalau dia tidak bersalah?”
“Baekhyunnie...”
“Aku melihat mata itu saat aku diserang. Walaupun itu bukan dia, tapi aku yakin mereka terikat. Sejak wisuda SMA dulu...aku tidak pernah percaya pada kenyataan itu, lebih tepatnya tidak bisa percaya, Channie.”
“Jika orang itu memang menyayangi kita, orang itu pasti akan segera mengaku.”
“Aku sangat menyayanginya, Channie...”
Baekhyun mengeratkan genggamannya pada tangan Kyungsoo. Walaupun hati Baekhyun begitu sakit, tapi tak sedikitpun airmata yang keluar. Karena dia begitu lelah.
“Kenapa harus dia, Channie, kenapa?”
Chanyeol memeluk Baekhyun erat. Chanyeol mencoba menghangatkan hati Baekhyun lewat pelukannya. Chanyeol kecup kening Baekhyun lembut lalu mengelus rambutnya.
“Aku akan mencoba untuk menyelesaikan semuanya, Baekkie. Kau juga...harus menyelesaikannya.”

***

Pagipun tiba, Chanyeol menggerak-gerakan lehernya seperti senam untuk kesekian kali, Chanyeol sengaja tidak tidur untuk menjadi sandaran Baekhyun yang sekarang sedang tertidur lelap di pundaknya. Kyungsoo juga belum sadar, sepertinya efek obat dari rumah sakit sangat kuat.
“Sudah pagi, sebaiknya kuhubungi yang lain.”
Chanyeol mengambil ponselnya dari saku kemejanya, kemeja yang dibelikan Baekhyun. Dia kirim pesan singkat pada Kai, Sehun, dan Suho. Mungkin ini masih terlalu pagi untuk mengabari mereka, tapi mau kapan lagi? Pikirnya. Lalu Chanyeol menatap Baekhyun yang tertidur sambil menggenggam tangan adiknya.
“Semua orang akan melakukan segalanya untuk orang yang mereka sayangi. Sama sepertiku. Aku juga akan memertahankan That’s news! Aku pasti akan mengambil izin itu lagi.”
Beberapa saat kemudian, Baekhyun mulai menggeliat, Chanyeol meregangkan rangkulannya untuk memberikan keleluasaan pada Baekhyun. Akhirnya Baekhyun bangun dengan menguap kecil. Ia usap matanya dengan tangan kiri sedangkan tangan yang lain masih menggenggam tangan Kyungsoo.
“Oh, aku tertidur, Channie.”
“Ne, kau kelihatan sangat lelah kemarin.”
“Kau tidak tidur?”
“Aku tidur sebentar.”
“Jangan berbohong padaku, Channie. Walaupun kau berbohong untuk menjaga perasaanku, aku tetap tidak suka. Tolong jujurlah padaku untuk semua hal, eoh?”
“N-ne, Byunnie.”
“Sekarang kau harus istirahat.”
“Aku tidur di sini saja, Byunnie. Tidak apa-apa, kan?”
“Kau kira ini hotel? Hanya anggota keluarga yang boleh menemani pasien, kau harus pulang, Channie.”
“Tapi saat kau sakit kan aku di sini.”
“Yasudah, terserah kau saja kalau mau terganggu dengan dokter yang mengobati Kyungie.”
“Tidak apa-apa, yang penting aku harus berada di sampingmu.”
“Ahiya, kau sudah menghubungi Kai dan yang lain, kan? Aku rasa Kai tidak keberatan jika dia kusuruh menemani Kyungie sampai aku kembali atau kau bangun.”
“Kau mau kemana?”
“Ada yang harus kuurus sedikit lagi. Kau tidak usah khawatir, bukankah kemarin kau kulumpuhkan dengan jurusku?”
“Itu karena aku lengah, bagaimanapun aku harus bersamamu, Byunnie.”
“Jangan, kau harus menjaga Kyungie sampai Kai datang.”
Chanyeol berfikir keras, cukup lama, membuat Baekhyun gemas pada sikapnya. Baekhyun tiba-tiba mengecup pipi Chanyeol untuk menyadarkan Chanyeol dari dunianya.
“E-eh, kau tidak minta izin dulu mau menciumku, ya.”
“Kau juga sering mengecup keningku tanpa izin. Sudahlah, kau tidak boleh tidur sebelum Kai dan yang lain datang. Kalau Kyungie bangun, bilang saja aku akan segera kembali.”
“Baiklah, kau masih bawa ponsel Kyungie, kan?”
“Ne.”
“Hati-hati, Baekhyun. Oiya, kau harus mandi dulu sebelum mengurusi urusanmu.”
“Hahaha, saat Kai datang kau juga harus mandi, ya.”

***

Pagi ini Baekhyun ingin menemui Jino di kantornya, sesibuk apapun lelaki itu, Baekhyun harus menemuinya. Sesampainya Baekhyun di kantor Jino, Jino kebetulan sedang merokok di luar karena di kantornya dilarang merokok.
“Jino-ssie.”
“Ba-Baekhyun, kenapa kau tiba-tiba datang ke sini?”
“Kyungsoo diracun.”
“Mwo? Kapan? Kenapa kau tidak langsung menghubungiku?”
“Bisakah kau ikut denganku ke apartemen? Ada yang harus kubicarakan.”
“Apa Chanyeol ikut?”
“Tidak, hanya kita berdua.”
“Tidak mau ah.”
“Ayolah, Jino...aku merindukanmu...,” goda Baekhyun sambil menarik tangan Jino.
“Hei-hei-hei, aku masih punya pekerjaan.”
“Sebentar saja, Jino.”
“Kau butuh bantuanku mengenai kasus Kyungie, kan? Jangan bohong.”
“Hehe, iya, aku membutuhkanmu untuk memeriksa rumahku. Aku lebih percaya padamu ketimbang namja tinggi itu.”
“Baiklah, tunggu sebentar, ya.”

***

Baekhyun dan Jino tiba di apartemen Baekhyun. Begitu Baekhyun membuka pintu, Jino membelalakan matanya, karena lantai ruangan itu masih tersisa darah Kyungsoo.
“I-itu darah Kyungie?”
“Ne.”
“Kejadiannya kemarin malam dan kau langsung pergi?”
“Tepat. Sebentar ya, kubersihkan dulu.”
“Ne. Aku akan memeriksanya setelah kau bolehkan, oiya, boleh aku duduk duluan?”
“Silahkan, Jino.”
Jino memandang darah itu sebentar lalu segera mengalihkannya pada Baekhyun yang datang dengan lap basah. Mata Baekhyun berkaca-kaca, menahan sesuatu yang terus menghantuinya. Begitu Baekhyun selesai, dia langsung ke dapur dan membuatkan minuman untuk Jino.
“Ini, minum dulu.”
“Baiklah.”
Baekhyun terus menatap Jino. Dia belum percaya pada perkataan Sunny maupun Chanyeol tentang Jino. Sahabatnya ini bukan pembunuh, bukan.
“Jino-ssie, aku mau menutup kasusku.”
“Nde?”
“Kasus tentang penyeranganku dan Kyungie. Aku ingin menutupnya.”
“Kau tidak percaya padaku?”
“Tidak, bukan begitu, Jino. Tadi kan aku bilang, kalau aku sangat memercayaimu. Hanya saja...sebaiknya kau fokus pada kasus Sunny.”
“Oiya, aku hampir lupa, Byunnie. Aku menemukan petunjuk baru, kemungkinan Sungmin-hyung menyembunyikan Sunny di sekitar rumah.”
“Darimana kau tahu?”
“Beberapa hari yang lalu aku mengikuti Sungmin-hyung. Dia pergi ke toko pakaian, tapi itu toko pakaian wanita, bukankah aneh? Sungmin-hyung kan tidak punya pacar. Dan lagi, Sungmin-hyung membawanya ke rumah.”
“Itu untuk Eommanya mungkin.”
“Lho, Eomma dan Appa Sungmin-hyung kan masih tinggal di pinggiran Seoul seperti orangtua kita.”
“Mungkin saat Sungmin-hyung berkunjung ke rumah orangtuanya, dia akan memberikan baju-baju itu pada Eommanya.”
“Tapi baju-baju yang dibeli itu untuk wanita seumuran Sunny.”
“Ah, aku sedang tidak nafsu membicarakan perkara itu.”
“Eh? Tumben, biasanya kau yang paling gencar dalam kasus ini.”
“Aku atau...kau?”
“A-aku juga kan sahabat Sunny, aku pasti juga gencar.”
“Oiya, kemarin aku bertemu dengan lelaki yang mirip sekali dengan hyungmu, Jino.”
“H-Hyungku? Hyungku kan...”
“Sudah meninggal? Aku tidak lupa, kok.”
“Baekhyun, aku datang ke sini bukan untuk mengobrol. Kalau kau mau menutup kasusmu, sebaiknya kita selesaikan di kantor.”
“Mana boleh...seorang detektif menyerah dalam sebuah kasus walaupun korban yang memintanya?”
“Te-tentu saja boleh. Kami bukan pemaksa.”
“Chanyeol sudah cerita banyak, banyak sekali.”
“Kau percaya pada detektif amatiran itu?”
“Amatiran? Walaupun aku lebih memercayaimu, bukankah kau sendiri yang bilang kalau Chanyeol sebenarnya bisa menjadi detektif handal?”
“Jangan terlalu percaya pada omongan pacarmu itu, Baekkie.”
“Aku memang tidak percaya.”
“Nah, kalau begitu aku boleh pergi sekarang?”
“Untuk apa terburu-buru, Cho Jinho?”
“Sudah kubilang jangan panggil aku dengan nama itu.”
“Aku tidak pernah tahu alasannya karena aku takut kau marah jika aku menanyakannya. Tapi sekarang aku mau mendengar alasan kenapa kau tidak suka dipanggil dengan nama aslimu, Jino.”
“Kenapa sikapmu jadi aneh begini sih, Baekkie? Kau sudah mengenalku selama 6 tahun, sedangkan dengan Chanyeol? Paling-paling 2 tahun, kan?”
“Darimana kau tahu aku mengenalnya selama 2 tahun?”
“Aku hanya menebak, tebakanku jitu, bukan?”
“Iya, sangat-sangat tepat. Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang belum kau jawab, Jino. Kenapa sih kau menyembunyikan semua jawaban itu?”
“Pertanyaan yang mana?”
“Kenapa kau tidak mau dipanggil Cho Jinho?”
“Aku hanya tidak suka saja.”
“Kau tidak suka atau takut?”
“Takut? Kenapa aku harus takut pada namaku sendiri?”
“Mungkin kau takut jika identitas aslimu ketahuan?”
“I-identitas? Sebenarnya kau sedang membicarakan apa sih?”
“Kemarin aku pergi ke jalan raya yang sering kita lalui saat SMP.”
“Ohya? Apakah masih sama? Kursi hijau tua yang dulu sering kita pasangi stiker masih ada, kan?”
“Ne, bahkan pahatan yang kalian buat untukku masih ada.”
“Fiuh...syukurlah kalau begitu.”
“Aku...”
Baekhyun terdiam agak lama, membuat Jino kebingunan dan mulai mendekati Baekhyun.
“Ada apa, Byunnie?”
“Setiap aku ke sana, orang yang pertama kali kuingat adalah Jino, baru kemudian Sunny di belakangnya. Itu karena...aku sangat percaya pada semua omongan Jino.”
“Ba-Baekhyunnie.”
“Aku selalu melihat sosok Jino sebagai sosok hyung yang kuat dan bertanggung jawab. Berhubung aku anak pertama, jadi itulah pertama kali aku merasakan kasih sayang kakak. Kadang-kadang, kalau kita sedang bermain, aku akan diam-diam memanggilmu Jino-hyung, tapi sepertinya kau tidak sadar. Kau juga yang selalu membantuku dalam kesulitan, entah itu dalam pelajaran atau perasaan. Maka dari itu...aku sangat menyayangi Jino.”
“Aku juga menyayangi Byunnie.”
“Tapi...aku takut jika suatu saat nanti Jino yang kusayang berubah menjadi sosok yang sangat kubenci.”
Jino terdiam, dia menatap Baekhyun lekat, karena...rahasia itu hampir terbongkar.
“Aku takut jika Sunny yang kusayang akan pergi karena perbuatanmu.”
“Baekhyunnie, aku harus pergi.”
“Tolong jangan lakukan itu, Jino. Jangan bunuh persahabatan ini.”
“Bukankah Chanyeol yang menceritakan semuanya padamu? Si ahli hipotesa itu kan yang menceritakannya?”
“Bukan hanya dia, Jino.”
“Lalu?”
“Sunny juga...sudah mengetahuinya.”
“Kau bilang kau percaya padaku, jadi kau harus tetap percaya padaku.”
“Hyungmu yang menyerangku dan Kyungie, kan?”
“Jika aku bisa menemukan Sunny lebih cepat, mungkin kalian tidak akan diserang.”
“A-apa?”
“Aku harus pergi.”
“Jino-hyung.”
“Tolong panggil aku Jinho, Byunnie. Aku merindukan nama itu.”
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Jika aku bisa menyelesaikan ini, aku akan menceritakannya padamu.”
“Jino...”
“Aku akan menemukan Sunny lebih dulu, Byunnie. Aku berjanji akan melindungi Sunny dengan nyawaku. Karena aku sudah terlanjur mencintainya. Dan setidaknya...kau mengerti perasaan Hyungku.”

***

FLASHBACK

Di malam mereka mengobrol, kemarin malam...

“Coba dipikirkan baik-baik, Baekhyun. Kira-kira siapa orang yang dari awal pencarian sangat terobsesi menemukan Sunny?”
“Aku tidak tahu.”
“Kau tahu, Byunnie. Aku yakin kau tahu.”
Baekhyun terus diam, tidak berani menjawab pertanyaan Chanyeol.
“Baekhyunnie, jawab.”
“Jino.”
“Baekhyun, aku bukannya mau menuduh Jino. Tapi...semua terasa ganjil setelah kau diserang seminggu yang lalu.”
“Ke-keanehan seperti apa, Chanyeol?”
“Tadi siang Sungmin-hyung yang menceritakannya padaku. Sebenarnya Jino itu adalah anak angkat keluarga Cho. Keluarga sebelumnya juga bermarga Cho, jadi tidak ada perubahan dalam namanya. Jino punya seorang hyung bernama...Cho Kyuhyun. Mereka berdua diadopsi saat Jino berumur 10 tahun, hanya sekitar 5 bulan setelah mereka masuk panti itu. Orang bernama Cho Kyuhyun itu juga dia selidiki, Kyuhyun adalah seorang mahasiswa di London dan baru lulus dua tahun yang lalu. Kyuhyun kembali ke Korea untuk bertemu dengan Soonkyu yang membuka galeri lebih dulu di Korea. Baru dua tahun kemudian atau dengan kata lain, tahun ini, Kyuhyun pulang ke London untuk mengejar strata 2 sekaligus mendirikan galerinya sendiri. Dua orang itu...mereka kakak-beradik.”
“Lalu apa penyebab kematian orangtua Jino?”
“Penyebabnya karena bunuh diri.”
“M-mwo?”
“Ne, modus bunuh diri itu tidak diketahui sebabnya sampai sekarang.”
“Lalu kenapa kau mencurigai Jino? Apa hubungannya dengan Sunny?”
“Apa kau tidak merasa aneh? Pertama, Jino selalu tahu keadaanmu tanpa kita beritahu. Kedua, Sungmin-hyung sama sekali tidak pernah menceritakan perihal kau bertemu dengan Sunny pada Jino. Lalu...kemana dia saat pemakaman Sunny? Apa dia bersembunyi untuk mencuri dengar pembicaraanmu dengan Sungmin-hyung?”
“Channie...”
“Ne, Byunnie?”
“Bagaimana jika...orang yang melakukan kejahatan adalah orang yang sangat kita sayang?”
“Bagaimana jika...aku tidak bisa membuktikan kalau dia tidak bersalah?”
“Baekhyunnie...”
“Aku melihat mata itu saat aku diserang. Walaupun itu bukan dia, tapi aku yakin mereka terikat. Sejak perpisahan itu...aku tidak pernah percaya pada kenyataan itu, lebih tepatnya tidak bisa percaya, Channie.”
“Jika orang itu memang menyayangi kita, orang itu pasti...akan segera mengaku.”
“Aku sangat menyayanginya, Channie...”
“Kenapa harus dia, Channie...kenapa?”
“Aku akan mencoba untuk menyelesaikan semuanya, Baekkie. Kau juga...harus menyelesaikannya.”

---

Tiga belas tahun yang lalu...

Baekhyun berkunjung ke rumah Jino bersama Sunny, tapi karena Sunny masih les, jadi Baekhyun datang pertama. Jino menyuruh Baekhyun menunggu di kamarnya. Saat Baekhyun melihat-lihat benda-benda di kamar Jino, tidak sengaja Baekhyun menemukan figura berisi foto Jino bersama seorang lelaki.
“Mirip sekali, apa ini hyung Jino?”

PRANG

Baekhyun terkejut mendengar bunyi gelas pecah dibelakangnya, tapi yang lebih mengagetkan saat Jino merebut figura yang sedang dia lihat.
“Siapa yang menyuruhmu untuk menyentuh barang-barangku?”
“Ma-maaf, Jino. Aku hanya penasaran pada figura itu. Dia hyungmu?”
“Ne.”
Jino memasukan figura itu ke laci meja kasar, seperti marah.
“Jeongmal mianhae, Jino. Aku benar-benar tidak tahu.”
“Sudahlah, lupakan saja.”
Baekhyun membantu Jino membersihkan gelas yang pecah tadi.
“Kemana hyungmu, Jino?”
“Dia sudah meninggal.”
“Ma-maaf, sekali lagi aku minta maaf.”
“Tidak apa-apa, Baekhyun. Tapi kau harus janji kau tidak akan mengatakannya pada Sunny, ne?”
“Ne, aku janji.”

***

FLASHBACK

Malam wisuda SMA

“Baekhyun, apa aku bisa bicara denganmu?” Bisik Sunny di sela-sela acara.
“Tentu saja, Sunny. Ada apa?” Baekhyun meletakan minumannya di meja dan balik berbisik pada Sunny.
“Tidak di sini, maksudku tanpa Jino.”
“Kenapa memangnya?”
“Sudahlah, ikut saja denganku.”
Sunny berjalan membelakangi Baekhyun, sedangkan Baekhyun berusaha mengimbangi langkah Sunny yang begitu cepat.
“Sunny-ah, tunggu aku.”
“Cepat, aku tidak mau ada yang mengikuti kita.” Nada bicara Sunny benar-benar menggambarkan kegelisahan dan ketakutan luar biasa.
“Ada apa sih sebenarnya?”
Sunny berhenti di halaman belakang sekolah yang memang jarang dikunjungi anggota sekolah.
“Nah, di sini mungkin tidak ada yang dengar.”
“Ada apa?”
“Baekhyun, jangan membenciku, ya.”
“Aku tidak mungkin membencimu, Sunny.”
“Jadi jika aku menceritakan hal ini, kau tidak akan marah padaku, kan?”
“Sunny, jangan buat aku bingung.”
Sunny tiba-tiba menunduk dan tubuhnya bergetar ketakutan, membuat gaun putih indahnya yang dengan mudah terbawa angin ikut bergetar.
“Aku...sebenarnya tidak mau memercayainya, Baekkie. Tapi...Jino...Jino-ssie...”
“Ada apa, Sunny?”
“Sebenarnya aku sudah mengetahuinya sejak setahun yang lalu, saat aku berkunjung ke rumahnya. Aku menemukan fotonya bersama teman-teman panti asuhan.”
“Pa-panti asuhan?”
“Ne, ternyata sebelum menjadi anggota keluarga Cho, dia tinggal di panti asuhan bersama hyungnya. Dulu...aku pernah bertemu dengannya. Kami bermain petasan diam-diam, tapi Sungmin-hyung mengetahuinya dan langsung memarahi Jino. Aku sudah menyuruh Sungmin-hyung berhenti marah-marah, tapi dia tidak mau berhenti. Sampai hyung Jino yang seumuran dengan Sungmin-hyung datang dan melindungi Jino.”
“Lalu setelah itu?”
“Aku juga menemukan surat dari hyung Jino. Mereka berdua...ingin mencelakai Sungmin-hyung dan aku.”
“Ti-tidak mungkin, Sunny. Aku tidak percaya.”
“Aku juga tidak percaya, Baekhyun. Sekarang, aku ingin melupakan semuanya. Maksudku, ayo kita lupakan semua omonganku tadi. Sudah kuduga kau juga tidak percaya, kan? Aku sangat memercayai Jino, tapi aku lebih percaya padamu.”
“Kenapa saat kau tahu itu, kau tidak langsung memutuskan hubungan kalian?”
“Kau tahu kan, aku benar-benar mencintainya, Baekkie.”
“Aku mengerti, Sunny. Jadi sekarang apa yang mau kau lakukan?”
“Aku akan pindah ke London untuk melupakannya. Aku akan bersekolah di sana sesuai rencana.”
“Apakah Sungmin-hyung tahu masalah ini?”
“Tidak. Aku tidak akan memberitahunya. Kau juga, tolong rahasiakan ini dan terus percaya pada Jino, ya?”
“Ne. Dia sahabat kita juga, Jino tidak mungkin melakukan itu. Benar, Jino tidak mungkin mencelakaimu.”
“Ne, aku percaya.”
“Tapi ingatlah, Sunny. Kapanpun kau membutuhkan orang yang bisa kau percaya, segera hubungi aku. Aku masih dan selalu akan ada di sini, di hatimu.”
“Gomawo, Baekkie.”

***

Baekhyun kembali ke rumah sakit setelah mengambil beberapa keperluan menginap, karena Kyungsoo harus dirawat tiga hari lamanya. Saat Baekhyun kembali, Kai sedang berbincang dengan Kyungsoo, sedangkan Chanyeol masih tidur di sofa.
“Hyung! Kemana saja? Huaaa, aku mencari-cari Hyung! Tapi kau menghilang,” rengek Kyungsoo.
“Hya, kan sudah ada aku, Kyungie,” ucap Kai.
“Kau hanya membuatku pusing dengan semua omonganmu, Kai!”
“Hya!”
Baekhyun tertawa melihat kelakuan Kyungsoo dan Kai.
“Sudah-sudah, kan tadi aku sudah bilang ada yang harus kuurus sebentar.”
“Sebentar? Ini sudah jam satu siang! Aku sudah menunggumu sejak jam sembilan pagi!”
Baekhyun masih diam, dia meletakan barang-barangnya di dekat sofa tempat Chanyeol tidur. Kemudian Baekhyun mendekati Kyungsoo dan memeluknya erat sambil menitikan airmata, mengingat kejadian yang sudah dialaminya.
“Maafkan Hyung, Kyungie. Maafkan Hyung...”
“H-Hyung, maksudku bukan begitu, Hyung. Aku tidak benar-benar marah kok.”
“Anyeo, Kyungie. Hyung yang salah, semua salah, Hyung.”
“Hyung jangan menangis, kalau Hyung menangis, aku akan benar-benar marah.”
“Baekhyun-hyung, apa ini karena cerita Sungmin-hyung?” Tanya Kai.
“Sungmin-hyung? Kau menemuinya, Hyung?”
“Nanti saja aku ceritakan, ya. Sekarang kita makan siang dulu. Aku belikan spageti kesukaanmu.”
“Woaa, benarkah? Asik!!”

***

Jam sudah menunjukan pukul 3 sore. Kai sudah pulang karena Baekhyun yang menyuruhnya. Sebenarnya Kai ingin menginap juga, tapi Baekhyun melarangnya dengan alasan, rumah sakit bukan hotel. Ya, lagi-lagi alasan itu.
Baekhyun membuka jendela kamar lebar-lebar untuk memasukan udara musim dingin yang mulai pudar, karena musim dingin akan segera berakhir, gantinya musim semi yang selalu ditunggu semua mahluk hidup. Baekhyun menatap lapang pemandangan rumah sakit. Sambil tersenyum, dia menghirup udara dingin itu dalam-dalam lalu menghembuskannya. Akibat semua masalah yang menimpanya, hal yang dia sukai sekarang adalah bernafas dengan tenang.
“Hyung, Channie-hyung kenapa tidurnya lama sekali sih?”
“Biarkan saja, kemarin dia tidak tidur.”
“Lho? Kenapa bisa?”
“Dia menjadi bantalku kemarin. Hahaha.”
Baekhyun pun menutup jendela karena takut Kyungsoo kedinginan. Setelah menutup, Baekhyun duduk di samping Kyungsoo sambil merangkul adik kesayangannya itu.
“Maaf ya, tadi Hyung menangis. Hehehe.”
“Iya, tidak apa-apa, Hyung. Tapi tadi kau kenapa, Hyung?”
“Hyung sangat-sangat-sangat...takut kehilangan Kyungie.”
“Kyungie masih di sini, Hyung.”
“Ne, Hyung percaya kau masih di sini. Kau jangan sembarangan memakan kue lagi, ya?”
“Oiya, kemarin kue itu...”
“Sudah-sudah, tidak usah dibahas. Pokoknya sekarang Hyung ingatkan, kau tidak boleh terlalu percaya pada orang lain, kecuali orang itu memintanya dengan tulus.”
“Seperti Channie-hyung, ya?”
“Maksudnya?”
“Kemarin Channie-hyung rela menunggu sampai malam di luar kantor That’s news!, Hyung.”
“Ohya? Dia itu memang keras kepala, tidak usah dipikirkan.”
“Aku dengar, Byunnie.”
Chanyeol membuka penutup mukanya dan meregangkan otot tubuhnya.
“Hoahhmmm, siapa sih tadi yang membuka jendela? Udara dingin begini buka jendela.”
“Aku yang membukanya, kau mau apa?”
“Kalau kau membukanya, kau harus memelukku.”
“Orang yang akan kupeluk saat udara dingin hanya Kyungie!”
“Mwo? Aish...kau ini tidak tahu perjuangan pacar, ya.”
“Sudahlah, hentikan pembicaraan konyol ini. Kau belum makan siang, kan? Aku membelikan spageti untukmu. Makan dulu sana.”
“Oh, baiklah.”
Chanyeol kembali meregangkan otot tubuhnya lalu mengambil kotak berisi spageti di meja di dekatnya. Ia mulai melahap habis spageti itu lalu setelah selesai, ia menaruh tempatnya ke pelastik sampah, tidak sadar kalau Baekhyun sedang memandanginya.
“Kau tidak pernah lihat orang makan?”
“Tidak, aku tidak pernah melihat orang setampanmu makan.”
“Hei-hei.”
Chanyeol menghampiri Baekhyun dan mencubit hidung Baekhyun gemas.
“Apa tadi kau bertemu Jino?”
“Ssst, jangan keras-keras bicaranya, Kyungieku sedang tidur.”
“Hih, biarkan saja dia, umurnya kan sudah 23 tahun, tidak pantas dimanja seperti itu.”
“Aku dengar itu, Channie-hyung! Tadi kan aku tidak mengganggumu tidur! Sekarang jangan ganggu aku!”
“Hahahaha, yasudah tidur saja malaikat kecilnya Baekhyun,” ledek Chanyeol sambil mengacak-acak rambut Kyungsoo.
“Huh.”
Kyungsoo membalikan tubuhnya seperti marah, padahal dia tertawa cekikikan setelah mengomeli Chanyeol. Baekhyun merapatkan selimut pada Kyungsoo lalu mengecup pipi Kyungsoo sebagai ucapan selamat tidur.
“Kita mau mengobrol di mana?” Tanya Chanyeol.
“Di sofa itu juga cukup, aku tidak mau meninggalkan Kyungie sendiri.”
“Ah, benar juga.”
Chanyeol menggandeng Baekhyun menuju sofa dan duduk bersama. Chanyeol merangkul Baekhyun erat seperti menguatkan Baekhyun dari segala masalah yang menimpanya.
“Kau menemui Jino?”
“Ne.”
“Lalu apa yang kau bicarakan?”
“Semua yang kau ceritakan.”
“Lalu tanggapannya?”
“Kau benar, Channie. Jika orang itu menyayangiku, dia pasti akan segera mengaku.”
“Jadi dia yang menyerangmu?”
“Bukan, tapi Hyungnya.”
“Sudah kuduga, lalu sekarang di mana namja sialan yang sudah menyerangmu?”
“Dia masih mencari Sunny. Jino bilang, kalau saja dia bisa menemukan Sunny lebih cepat, mungkin aku dan Kyungie tidak akan diserang.”
“Jadi ini semacam gertakan?”
“Mungkin.”
“Tapi kenapa selain Sungmin-hyung, Jino juga diancam?”
“Ini karena Jino ingin melindungi Sunny, Channie. Dia tidak mau Kyuhyun menyakiti Sunny. Dia juga bilang, setidaknya aku mengerti perasaan Kyuhyun-ssie. Iya, aku sangat mengerti perasaannya.”
“Jadi sebenarnya ancaman itu ditujukan untukmu juga?”
“Tidak. Aku rasa secara tidak langsung aku bisa merasakan amarah Kyuhyun-ssie.”
“Besok, setelah menitipkan Kyungsoo pada Kai, kita pergi ke kediaman Sungmin-hyung.”
“Untuk bertemu dengan Sunny?”
“Ne. Bertemu dengan Sunny.”

***

Satu hari itupun terlewati begitu saja. Begitu cepat sampai Baekhyun sendiri bingung untuk mengingatnya lagi. Kemarin dia begitu lelah, sampai dia bangun kesiangan hari ini. Chanyeol sudah bangun duluan bahkan sudah mandi. Tidak biasanya Baekhyun bangun kesiangan, apalagi hari ini adalah hari yang sangat ditunggunya. Dia akan bertemu dengan Sunny dan kini bukan khayalan lagi.
“Aaa! Aku kesiangan! Kenapa kau tidak membangunkanku, Channie?”
“Aku tidak tega, Baekkie.”
“Jam berapa ini? Woaa, jam 10 pagi?!”
“Tenang, Baekkie, tenang.”
“Aku tidak suka bangun kesiangan, huft...mungkin karena aku memang kelelahan. Padahal kemarin aku tidak melakukan apa-apa.”
“Apanya yang tidak melakukan apa-apa? Kemarin emosimu meluap-luap, itu juga termasuk kegiatan yang menguras tenaga, Baekkie.”
“Untung kau memesan kamar VIP. Jadi aku tidak perlu keluar untuk mandi.”
“Ne, mandi sana.”
Chanyeol melempar pakaian pada Baekhyun dan Baekhyun langsung melesat ke kamar mandi.

---

Beberapa saat kemudian, Baekhyun keluar dan di sana Kai sudah datang rupanya.
“Tenang saja, Baekkie-hyung, aku akan menjaga Kyungie.”
“Ne, aku percaya padamu. Jangan lupa makan siang, aku sudah menyiapkan makan siangmu di kulkas, sedangkan Kyungie sepertinya harus makan makanan rumah sakit.”
“Kau tidak menyiapkan makanan untukku, Hyung?”
“Untuk sementara kau makan makanan rumah sakit dulu, ya. Nanti aku akan membelikan makanan enak untukmu.”
“Ne.”
“Sudah ya, Hyung dan Chanyeol harus segera berangkat.”
Baekhyun mengecup kening Kyungsoo dan refleks hampir saja mengecup Kai juga. Kai hanya cengar-cengir menanggapinya.
“Jaga Kyungie baik-baik, ne.”
“Ne, Hyung.”
Hari ini Baekhyun memang sedang buru-buru. Dia ingin segera melihat Sunny, juga memancing Jino dan Kyuhyun untuk mengikutinya. Mereka ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya. Tapi itu artinya...Kyuhyun akan terbukti bersalah dalam penyerangan Baekhyun dan...mereka akan dipenjara.
“Ini semua demi kebaikan mereka, Baekhyun.”
Chanyeol rupanya menangkap sikap gelisah Baekhyun selama perjalanan.
“Ne, untuk kebaikan mereka.”
“Sudah ya, tidak usah gelisah begitu.”
“Tapi kan aku sudah menutup kasus ini, jadi Kyuhyun-ssie bisa selamat dari hukuman.”
“Hukum tetap hukum, Baekhyun.”
“Channie...”
“Hei-hei, kita sudah sampai.”
“Ah, sudah sampai ternyata.”
Chanyeol menepikan mobilnya sesuai petunjuk petugas di sana. Sungmin memang berpesan pada petugas kalau Chanyeol akan datang. Chanyeol menggenggam erat tangan Baekhyun, seperti berkata, kau adalah milikku dan seterusnya begitu. Baekhyun htersenyum menanggapi sikap Chanyeol lalu membalasnya dengan mengeratkan lagi genggaman itu.
Kedua namja itu dipersilahkan masuk dan mereka langsung menuju kamar Sungmin. Pelayan bilang Sungmin sudah menunggu mereka di sana. Di kamar, Sungmin yang awalnya duduk langsung berdiri melihat kedatangan mereka.
“Selamat pagi, kalian telat sekali?”
“Maafkan aku, Hyung. Aku kesiangan.”
“Ah, Baekhyun-ssie. Kau sudah tidak apa-apa? Bagaimana dengan adikmu?”
“Dia sudah baikan, Hyung. Gomawo sudah bertanya.”
“Pacarmu itu sudah menceritakan semuanya, kan?”
“Ne.”
“Nah, sekarang kau siap untuk bertemu Sunny asli?”
“N-ne, oh, tidak juga, aku benar-benar gugup.”
“Sudahlah, ayo kita menemuinya. Dia juga sudah tidak sabar bertemu dengan kalian.”
Sungmin menggandeng tangan Baekhyun yang satunya lagi dan mengajak mereka ke sebuah ruangan tersembunyi tempat Sunny disembunyikan. Baekhyun dan Chanyeol ternganga melihat ruangan super indah itu. Benar-benar menyesakan mata, karena semua yang ada di sana adalah peralatan wanita, tapi semuanya sangat cantik. Tapi yang paling menarik perhatian Chanyeol dan Baekhyun adalah gadis yang duduk di kasurnya dengan baju tidur berwarna putih. Dia seperti putri yang menunggu pangeran.
Baekhyun tidak bisa lagi menyembunyikan rasa rindunya pada Sunny, dia berlari dan langsung memeluk Sunny. Sunny menepuk-tepuk punggung Baekhyun seperti dulu. Airmata Baekhyun luruh, setelah lama mencari dan beradu nyawa, akhirnya dia menemukan Sunny. Sahabatnya yang sangat dia rindukan. Baekhyun masih tidak percaya pada pertemuan ini walaupun dia senang. Dia mengelus rambut Sunny sekali lagi untuk memastikan.
“Sunny, apa ini benar-benar kau?”
“Benar, Baekkie. Ini aku.”
“Sunny-ah!”
Di dalam teriakannya, begitu banyak beban yang menghilang. Sekarang Baekhyun sudah cukup lega karena pertemuan ini. Sunny tersenyum sambil menitikan airmata, inilah pertama kalinya dia tersenyum setelah pertemuannya dengan Baekhyun tempo lalu. Chanyeol memandang Sunny dan Baekhyun lekat, sebenarnya ada rasa cemburu, tapi itu semua teredam karena sekali lagi, Baekhyun adalah miliknya.
“Aku....aku sangat merindukanmu!”
“Ne, aku juga merindukanmu, Baekkie. Sudah-sudah, sepertinya ada yang sedang cemburu melihat kita berpelukan begini.”
“Eh? Ti-tidak kok!” Seru Chanyeol.
“Hahaha, dengan gugup begitu saja sudah membuktikan kalau kau cemburu.”
Wajah Chanyeol mendadak merah padam akibat ledekan Sunny. Baekhyunpun melepaskan pelukannya tapi masih memandang Sunny lekat.
“Sekarang aku harus istirahat, Baekhyun. Maaf aku tidak bisa berlama-lama mengobrol denganmu. Jika kau ingin mengobrol, nanti malam saja lewat telepon, ya?”
“Kenapa, Sunny? Apa kau sakit?”
“Tidak, aku tidak sakit. Hanya saja...aku masih lelah karena acara semalam.”
“Kau melakukan apa semalam?”
“Aku terus melukis kebersamaan kita. Kau, Jino, dan aku. Karena Sungmin-hyung bilang hari ini kau akan datang.”
“Lalu mana lukisannya?”
“Aku akan memberikannya saat kita bertiga berkumpul.”
“Sunny-ah...”
“Aku tahu, Baekhyun. Aku rela tersakiti olehnya. Karena aku mencintainya, aku percaya dia sepenuhnya.”
“Tolong jangan serahkan apapun padanya, Soonkyu!”
“Oppa, kita sudah membicarakan ini matang-matang. Lagipula...aku...”
“Sudah kubilang kau akan hidup lama! Sangat lama!”
“Hanya Tuhan yang tahu sampai kapan aku hidup.”
“A-ada apa ini?” Baekhyun mulai merasakan keganjilan dalam pembicaraan ini.
“Tidak, tidak ada apa-apa. Aku ingin tidur sekarang, bolehkah?”
“Ne, Sunny.”
Sungmin mengantar Chanyeol dan Baekhyun keluar ruangan. Saat Sungmin berbalik setelah mengunci pintu, matanya memerah, bukan karena marah, tapi karena menahan airmata.
“Sungmin-hyung, ada apa ini?”
“Baekhyun, Soonkyu memang selalu menyembunyikan penyakitnya.”
“Pe-penyakitnya?”
“Apa kau ingat ceritaku sebelumnya? Aku memarahi Jino saat mereka bermain di panti asuhan dulu, bermain petasan. Permainan yang dapat membuat penyakit Soonkyu kambuh.”
“M-mwo?”
“Inilah alasanku terlalu posesif menjaga Soonkyu. Aku tidak mau ada orang yang menyakitinya atau membuat penyakitnya kambuh. Mungkin pagi ini dia lelah karena semalaman dia terus melukis, tidak peduli pada keadaannya. Keinginannya hanya satu...memerlihatkan lukisannya pada kalian berdua. Soonkyu yakin Jino akan mengikutimu, Baekhyun. Makanya dia bilang akan menunjukan lukisannya saat Jino datang bersamamu.”
“Tapi kenapa Sunny tidak pernah mengatakannya?”
“Apa dia tega? Apa dia tega membuat sahabat-sahabatnya cemas?”
Baekhyun terdiam, melihat kegelisahan itu Chanyeol langsung merangkul Baekhyun.
“Kenapa dia harus mengenal mereka berdua? Kalau saja Soonkyu tidak berhubungan dengan—“
“Tidak, Hyung. Kalau Sunny tidak mengenal Jino dan hyungnya, mungkin Sunny tidak akan sebahagia ini. Pernahkah kau melihat Sunny tidak memedulikan kesehatannya? Sunny rela kesehatannya terganggu untuk Kyuhyun dan Jino.”
“Kau benar, Baekkie. Aku memang tidak pernah mengerti hatinya. Pantas saja dia percaya padamu, kau pintar menangkap perasaan gadis itu.”
“Kami harus pulang sekarang, Hyung. Nanti malam aku akan menunggu teleponmu. Ah iya, nomorku sedang tidak aktif, jadi hubungi nomor ini.”
Baekhyun menyerahkan kertas berisi nomor Kyungsoo pada Sungmin.
“Oiya, maaf ya karena waktu itu aku menabrakmu sampai ponselmu rusak.”
“Oh, jadi Hyung yang menabrakku?”
“Hehe, aku takut kau diikuti Jino. Tapi sekarang aku sudah tidak takut lagi. Kalau mereka mau datang, aku akan menghadapinya.”
“Satu lagi, Hyung. Siapa orang yang ada di dalam mobil Sunny saat kecelakaan?”
“Dia itu sepupuku. Aku sudah memeringatinya kalau mobil Soonkyu sedang diperbaiki, tapi dia terus memaksa untuk memakainya. Tapi melihat kecelakaan itu aku jadi punya ide untuk mengalihkan identitas Soonkyu padanya. Keluarga gadis itu sudah kuhubungi dan kusuruh berpakaian seperti Appa dan Eommaku saat pemakaman agar media tidak curiga. Aku sangat jahat ya, mengalihkan kematian itu demi keselamatan Soonkyu? Aku benar-benar terpaksa melakukannya.”
“Masih ada satu misteri lagi, motif dari rencana untuk melukai Sunny. Bahkan mereka hampir membunuh Baekhyun dan Kyungsoo demi menemukan Sunny. Bukankah itu berlebihan?” Baekhyun dan Sungmin setuju pada perkataan Chanyeol.
“Apa Sungmin-hyung tidak menanyakannya pada pengurus panti asuhan tempat Jino tinggal dulu?”
“Aku juga sudah bertanya, tapi mereka tidak tahu apa-apa soal bunuh diri itu.”
“Yang tahu hanya Tuhan dan mereka berdua.”
“Ah, aku baru ingat, aku juga ingin bertanya padamu, Byunnie. Kenapa kemarin lusa kau mendatangiku dan marah-marah masalah Kyungie?”
“Oh, itu...aku hanya ingin mengelabui Jino agar besoknya aku bisa memintanya mengobrol denganku tanpa curiga.”
“Ah...jadi begitu.”

***

“Hanya menunggu waktu yang tepat. Ne, menunggu...”
“Kau sedang apa, Byunnie? Ayo masuk.”
“Suasana rumahmu sangat menenangkan, Chanyeol.”
“Mungkin karena aku merawat rumah ini dengan baik.”
“Itu karena cinta kedua orangtuamu, Chanyeol.”
“Hem...benar juga. Ayo cepat masuk, sebelum aku berubah pikiran.”
Baekhyun mengikuti Chanyeol ke dalam rumah Chanyeol. Ini pertama kalinya Baekhyun datang ke rumah Chanyeol, karena selama ini Chanyeol-lah yang selalu datang ke apartemennya. Rumah Chanyeol begitu sederhana, tapi sangat nyaman.
“Kalau rumahmu senyaman ini, kenapa kau sering datang ke apartemenku? Bahkan sebelum kita pacaran, kau selalu berkunjung. Sampai-sampai dulu aku sempat berfikir kau tidak punya rumah.”
“Rumah ini memang nyaman, tapi kalau sendirian, apa gunanya?”
“Jadi kau mau aku sering berkunjung? Aku kan masih punya Kyungie untuk kujaga.”
“Aku tidak memaksamu kok. Makanya, izinkan aku selalu berkunjung ke apartemenmu, ya?”
“Kau boleh ke apartemenku kapan saja. Apa kau mau kubuatkan kunci duplikat?”
“Boleh juga. Oiya, kau mau minum apa?”
“Terserah kau, Channie.”
“Baiklah, tunggu sebentar ya.”
Baekhyun menatap ruangan itu, ruangan minimalis dengan warna cokelat sebagai warna dominan barang-barang di sana. Matanya terus berkeliling sampai terhenti pada satu figura yang terletak di dekat jendela di depannya. Baekhyun berdiri, lalu menghampiri figura itu.
“Appa dan Eomma Channie...”
“Byunnie, kau sedang apa?”
“Oh, ini, aku sedang melihat Appa dan Eommamu.”
Tanpa ekspresi berati, Chanyeol meletakan minuman untuk Baekhyun di meja lalu duduk. Baekhyun membawa figura itu dan duduk di samping Chanyeol.
“Kau sangat mirip Appamu, tapi hidungmu mirip Eommamu.”
“Ne, aku sangat menyayangi mereka.”
Raut wajah Chanyeol berubah sendu, Baekhyun langsung merasa bersalah karena mengingatkan Chanyeol pada orangtuanya.
“Maafkan aku, Channie.”
“Tidak, kau tidak perlu minta maaf, sayang. Apa kau mau melihat foto yang lain?”
“Kau tidak apa-apa?”
“Aku baik-baik saja, kok. Mau tidak?”
“Boleh.”
Chanyeol mengambil sebuah album foto yang dia simpan di rak di bawah sofa tempat mereka duduk sekarang.
“Lho? Aku tidak sadar ada rak buku di sana.”
“Hahaha, Appaku orang jenius bukan? Dia yang membuatnya untuk buku-buku kesukaannya. Dia sering membaca buku di sofa ini.”
“Kau sangat mirip Appamu.”
Chanyeol hanya tersenyum dan mendekatkan tubuhnya pada Baekhyun. Chanyeol membuka sampul album dan terpampanglah banyak foto kenangan Chanyeol ketika kecil. Baekhyun tertawa kecil melihat sebuah foto yang berisi Appa Chanyeol yang sedang memasang wajah konyol untuk menghibur Chanyeol yang sedang menangis.
“Hahaha, wajah Appamu sangat konyol, tapi wajahmu lebih konyol, Channie!”
“Hya! Aku lucu bukan konyol!”
Chanyeol membuka lagi halaman album. Di halaman itu ada foto berisi Eomma Chanyeol bersama wanita lain dan anak kecil.
“Siapa anak kecil ini?”
“Aku tidak tahu, seingatku waktu foto ini diambil, aku sedang bersama Appa ke rumah saudaraku.”
“Anak ini memakai baju sekolah, sepertinya dia baru masuk sekolah.”
“Mungkin dia anak sahabat Eommaku, itu yang berdiri di samping Eommaku.”
“Kalau dilihat-lihat...dia mirip sekali dengan Jino, ya?”
“Hem, benar juga. Dia juga mirip denganmu, kau mirip Jino, kan?”
“Ne. Hei, tertulis nama anak itu dan Eommanya di foto ini.”
“Ohya? Aduh, tulisannya tidak jelas. Tidak usahlah, Baekkie.”
“Coba baca baik-baik, Channie. Aku penasaran.”
“Aish, kau ini, menyusahkan saja.”
Channie mencoba untuk membaca tulisan di foto itu. Matanya tiba-tiba membesar karena tidak percaya pada yang dia baca.
“C-Cho Jinho.”
“Mwo?”
“Apa jangan-jangan Eommaku itu...”
“Sahabat Eomma Jino!”
“Kalau begitu, mungkin kita bisa menemukan penyebab kematian orangtua Jino!”
“Ne! Apa kau menyimpan catatan-catatan Eommamu?”
“Yaampun, aku lupa menaruhnya di mana. Eommaku punya banyak sekali buku diari, tapi aku sudah membereskannya.”
“Kau tidak penasaran dengan isi diari Eommamu sendiri?”
“Kau kan tahu aku hanya suka membaca novel misteri atau koran.”
“Ish, dasar ‘kolot’.”
“Hya! Maksudmu apa?”
“Sudahlah, ayo kita cari buku-buku itu.”
Chanyeol mengangguk dan mengajak Baekhyun ke kamar orangtuanya. Sepertinya kamar itu tidak terpat untuk dibilang kamar tidur, karena kamar itu dipenuhi buku dan kertas yang tersusun rapi di rak yang terpasang menutupi seluruh dinding.
“Woaa, sepertinya keluargamu memang kutu buku, ya.”
“Ya...begitulah, kau juga pasti percaya aku gila buku begini karena mereka.”
“Ne.”
“Kau cari dari rak sebelah kanan, aku kiri.”
“Baik.”
Begitu Baekhyun membuka penutup rak yang terbuat dari kaca, debu langsung menyambut Baekhyun sampai Baekhyun batuk-batuk.
“Oiya, aku lupa tentang debunya. Hehe, aku sudah membaca semuanya semasa orangtuaku hidup, jadi wajar saja kalau buku-buku ini terbengkalai.”
“Ne-ne, aku mengerti.”
Baekhyun mulai membaca judul buku-buku itu, kebanyakan adalah novel misteri, buku filosofi, buku pengetahuan hukum, dan lainnya yang berhubungan dengan hukum. Tapi tiba-tiba jari Baekhyun berhenti mencari saat membaca judul sebuah buku yang dia tahu itu novel orang dewasa.
“Eh, kalau Chanyeol sudah membaca semuanya, itu artinya...”
Baekhyun melihat Chanyeol sekilas lalu kembali menatap buku itu.
“Kalau Chanyeol sudah membacanya, apa aku boleh, ya? Dulu kan Appa marah-marah saat aku ingin membaca novel ini.”
“Hya, Baekhyun-ssie! Kau sedang apa?”
“Ti-tidak. Hei, Chanyeol, kalau kau sudah membaca semua buku di rak ini, itu artinya kau sudah membaca novel dewasa ini, ya?”
Chanyeol masih memandangi Baekhyun bingung sampai tidak sadar kalau di depannya ada pembatas rak. Alhasil kepalanya terbentur cukup kencang sampai namja itu meringis.
“Appo...”
Refleks Baekhyun menghampiri Chanyeol dan mengelus-elus kepala Chanyeol yang terbentur tadi.
“Gwencanhayo?”
“Aku tidak akan apa-apa kalau kau tidak menanyakan pertanyaan konyol itu!”
“Memangnya itu konyol, ya?”
“Aish, sudahlah, ayo cari lagi.”
“Eh, pertanyaanku yang tadi belum dijawab. Kau sudah membacanya?”
“Novel yang mana sih?”
“Dari sekian banyak buku-buku di sini, pasti hanya itu novel non misteri punya Appamu.”
“Ooh...yang itu. Sudah, memangnya kenapa?”
“Kau membacanya?” Tanya Baekhyun tidak percaya.
“Me-memangnya kenapa sih?”
“Aku belum pernah baca.”
“Yasudah tidak usah.”
“Dulu Appa memarahiku karena aku hampir membacanya.”
“Yasudah, Baekkie. Tidak usah baca yang seperti itu. Kau terlalu polos.”
“Hem, memang sebaiknya tidak usah.”
“Hya! Kenapa kita jadi mengobrol tidak jelas begini sih? Ayo cari lagi.”
Baekhyun kembali mencari dan melupakan kejadian barusan. Baekhyun terus mencari begitupun Chanyeol, tapi sampai mereka berada pada titik temu, diari Eomma Chanyeol tidak ditemukan.
“Sebenarnya kau simpan di mana sih?”
“Benar deh, aku lupa.”
Chanyeol mengacak-acak rambutnya seperti frustasi.
“Aigo...”

PIP PIP PIP

“Teleponmu bunyi tuh,” ucap Baekhyun yang sepertinya masih kesal dengan sifat pelupa Chanyeol. Chanyeol tidak mau menanggapi Baekhyun dulu dan segera mengambil ponselnya.
“Yeoboseo, Sungmin-ssie?”
“Eh? Itu Sungmin-hyung?” Chanyeol hanya mengangguk dan Baekhyun berusaha untuk mencuri dengar pembicaraan itu.
“Chanyeol-ssie, tolong aku...”
“A-ada apa, Sungmin-hyung?”
“Me-mereka...” (DARR)

Tut...

“Baekhyun, ayo! Kita harus ke rumah Sungmin-hyung!”
“Ada apa, Channie?”
“Mereka datang! Kyuhyun dan Jino datang!”


TBC

Kamis, 01 November 2012

A Fanfiction - Still Here_Baekyeol/Chanbaek Chapter FIVE


Still here


Tittle: Still here
Author: Fie
Genre: Mystery, romance, Shounen-ai (Boys Love), drama
Rated: 15+
Pairing: Baekyeol/Chanbaek
Length: multichapter
Main Cast:
- Byun Baekhyun
- Park Chanyeol
- Cho Jinho (Jino)
- Lee Soonkyu (Sunny)
- Lee Sungmin
- Cho Kyuhyun

Support Cast:
- Kim Jongin (Kai)
- Oh Sehun
- Do Kyungsoo (D.O)
- Kim Joonmyun (Suho)
- Kim Minseok
- Xi Luhan



Summary:

Aku masih di sini dan akan menjadi orang yang bisa kau percaya sampai kapanpun.




LIMA


“Aku merasa lelaki itu menyembunyikan sesuatu,” ucap Chanyeol.
“Menyembunyikan apanya? Dia sahabat baikku, Channie. Mungkin saja dia tahu penyeranganku dari kantor polisi yang kau hubungi.”
“Kalau begitu, kenapa dia tidak bilang langsung?”
“Mungkin dia lupa.”
“Atau mungkin...dialah orang yang menyerangmu, Baekhyun.”
“Ah, tidak mungkin. Bukankah kau menemuinya saat aku diserang?”
“Aku juga masih penasaran dengan lelaki bernama Cho Kyuhyun itu.”
“Sudahlah, sebaiknya kita istirahat sekarang, aku sangat-sangat mengantuk.”
“Izinkan aku tidur di kamarmu ya, Baekhyun?”
“Eh? Tidak boleh! Kau tidur dengan Kyungie saja sana!”
“Sudahlah, Hyung...kau pasti mau kan tidur dengannya?” Tanya Kyungsoo dengan nada jahil, membuat Baekhyun menjitak kepalanya.
“Kyungsoo!”
“Aku tidak akan macam-macam, Byunnie. Aku akan tidur di sofa kamarmu.”
“Kau tidak berniat mencorat-coret mukaku, kan?”
“Ish, alasan itu lagi. Tidak, aku tidak akan melakukannya.”
“Yasudah, mandi dulu sana, kau bau.”
“Tidak kok, aku tidak bau!”
“Kau bau, Park Chanyeol!”
***
Sebenarnya tujuan Chanyeol tidur di kamar Baekhyun bukan hanya untuk tidur. Tapi juga mencari petunjuk tentang Sunny dan Jino. Sebagai sahabatnya, Baekhyun pasti punya semua tentang mereka berdua. Chanyeol menunggu Baekhyun tertidur, karena tidak mungkin dia mencari bukti saat Baekhyun terjaga, dia akan marah kalau Chanyeol mencurigai Jino.
Ya, Chanyeol memang curiga pada Jino. Pertama, kenapa Jino harus berbohong jika dia tahu keadaan Baekhyun dari Chanyeol? Kedua, kenapa Jino tidak secepatnya menyelesaikan tiga kasus itu? Padahal Chanyeol tahu sifat asli Jino sebagai detektif, dia memang tidak buru-buru, tapi berusaha menyelesaikannya secepat mungkin.
“Kalau benar dia terlibat dalam kasus penyerangan Baekhyun, untuk apa dia melakukannya?”
Chanyeol menemukan buku tahunan Baekhyun sewaktu SMA. Dengan berbekal penerangan dari ponselnya, dia mencari keterangan tentang Jino dan Sunny. Pertama yang dia temukan adalah identitas Baekhyun.
“Hihihi, ternyata Baekhyun dulunya sangat culun.”
Dia memandang lekat foto Baekhyun saat SMA itu. Sambil menerawang ke masa SMAnya yang menyenangkan, karena saat SMA dulu, Chanyeol adalah anak yang populer karena kecerdasannya. Hum, tidak aneh jika mengingat begitu banyak hipotesa menakjubkan yang dia luncurkan di komunitas.
Lalu Chanyeol beralih pada identitas berikutnya, Cho Jinho. Chanyeol mencatat semua data Jino, dari tanggal lahirnya, tempat asalnya, berapa banyak saudaranya, dan yang lain. Selanjutnya Chanyeol mencari identitas Sunny. Setelah menemukannya, Chanyeol langsung terdiam melihat wajah itu, wajah tak berdosa seorang gadis yang sedang dalam bahaya.
“Pantas saja Baekhyun menyukai gadis ini. Sunny memunyai senyum semanis Baekhyun. Aku harus menemukan Sunny untuk mengembalikan senyum itu pada Baekhyun dan orang-orang yang mencarinya.”
Chanyeol membaca pesan-kesan Baekhyun, Sunny, dan Jino di bagian belakang buku itu.

Byun Baekhyunnie:
Wah, tidak terasa tiga tahun sudah berlalu! Aku rasa, SMA ini adalah SMA terbaik yang pernah kutempati! (hei, memangnya aku pernah sekolah di tempat lain? Hahaha). Ada alasan yang membuatku sangat senang sekolah di sini, karena ada dua sahabat terbaikku. Sunny dan Jino. Sunny beruntung sekali punya lelaki seperti Jino, karena Jino menjaga Sunny seperti dia menjaga dirinya sendiri. Kalau aku jadi yeoja, aku ingin memunyai lelaki seperti Jino. Hei-hei, apa yang kukatakan? Hahaha, sudahlah.
Aku tidak akan melupakan kalian semua! Muah :*

Cho Jinho “Jino”:
Sudah tiga tahun berlalu ternyata. Saatnya kita berpisah. Aku...sangat sedih berpisah dengan semua teman-teman seangkatan, tapi yang membuatku lebih sedih adalah berpisah dengan Sunny dan Baekhyun. Aku tidak menyangka Sunny akan melanjutkan pendidikannya di London dan aku di tempat yang jauh dari Seoul. Jadi yang tersisa di Seoul hanya Baekkie, ya? Huaaa, aku tidak akan melupakan kenangan kita! Kalau suatu saat kita bertemu lagi, aku akan memberi kejutan yang spesial untuk kalian. Gomawo karena sudah menjadi sahabatku.

Lee Soonkyu “Sunny”:
Hiks, sebenarnya aku tidak suka menulis pesan-pesan perpisahan. Memang sih, semua yang ada di kehidupan ini lambat laun akan pergi. Tapi kuharap kedua sahabatku tidak akan meninggalkanku. Baekhyun dan Jino. Aku menunggu kalian menjadi orang yang sukses. Aku juga akan mengejar impianku menjadi pelukis di London bersama Sungmin-hyung. Oiya, kalau kita bertemu lagi, orang yang ingin sekali kutemui pertama kali adalah Baekhyun. Bukan karena aku menyukainya, tapi karena hanya kaulah orang yang bisa kupercaya. Hei, kenapa aku jadi melantur begini? Hahaha, cukup sudah pesanku yang benar-benar menyedihkan saat aku menulisnya ini. Assa-assa fighting, Baekhyun dan Jino!

Chanyeol membaca ulang pesan Sunny dan Jino bergantian lalu dia menemukan keanehan lain dari mereka berdua. Bukankah Sunny dan Jino berpacaran? Kenapa Sunny lebih percaya pada Baekhyun ketimbang Jino? Lalu apa yang akan Jino berikan jika mereka bertiga kembali berkumpul? Kejutan spesial seperti apa?
“Lee Soonkyu, Cho Jinho, ada sesuatu di antara kalian.”
“Ummhh...”
Chanyeol langsung mengembalikan buku tahunan Baekhyun saat mendengar Baekhyun bergumam.
“Channie...”
Chanyeol mendekati Baekhyun dan duduk di sampingnya.
“Ne, aku di sini, Baekkie.”
“Tolong temukan sahabatku...”
Chanyeol terdiam dan hanya bisa memandangi wajah manis Baekhyun. Wajah itu menggambarkan kelelahan luar biasa dari seorang sahabat yang menanggung beban berat akibat tertimpa banyak masalah.
“Baekhyun, aku berjanji akan membantumu menemukan Sunny, aku janji...”
Chanyeol mengecup kening Baekhyun lalu beranjak dari tempat tidur Baekhyun menuju sofa dan terlelap dalam banyak pertanyaan.
***
“Park Chanyeol-ssie, bangun.”
Chanyeol memang membuka matanya, tapi langsung menggeliat dan membelakangi Baekhyun seperti menolak kesadaran itu.
“Aku masih ngantuk, pergi sana.”
“Aku ada kabar buruk.”
“Eh? Pagi-pagi sudah memberi kabar buruk. Ada apa memangnya?”
“That’s news! Ditutup.”
“Mwo?”
“Orang dari kantor percetakan pusat yang memberi izin penerbitan menarik izin kita.”
“Apa masalahnya? Kita kan sudah dua tahun berdiri, selama ini tidak ada masalah, bukan?”
“Mereka bilang koran kita tidak memenuhi peraturan penerbitan.”
“Kita harus ke sana, kapan kau dikabari?”
“Baru saja. Makanya aku membangunkanmu. Setelah sarapan kita langsung ke kantor pusat.”
“Aish, menyebalkan sekali mereka itu. Padahal kan kita sudah dua tahun mengorbit! Dasar!”
“Aku juga bingung, mungkin ada peraturan baru.”
“Ini benar-benar tidak masuk akal. Kita kan tidak menyalahi aturan.”
“Makanya kubilang mungkin ada peraturan baru.”
“Yasudah, gara-gara kau aku jadi bangun. Kau sudah memberi tahu yang lain? Kantor di Beijing bagaimana?”
“Kris-hyung bilang kantor mereka juga ditutup.”
“Sial!”
“Sudahlah, daripada marah-marah begitu lebih baik kau mandi lalu sarapan bersama kami.”
“Baiklah.”
Akhirnya Chanyeol pergi ke kamar mandi, tapi dia langsung keluar karena teringat kalau dia tidak membawa baju ganti.
“Hya, Baekhyunnie, aku lupa tidak bawa baju ganti.”
“Kau tidak mungkin memakai bajuku atau punya Kyungie, pasti kekecilan.”
“Lalu aku pakai apa?”
“Kau pakai baju mandi dulu saja, akan kubelikan baju untukmu di toko baju dekat sini.”
“Kau jangan pergi sendiri, bagaimana kalau kau diserang lagi?”
“Sudah seminggu tidak ada yang menyerangku, kan? Sudahlah, tunggu saja, aku akan kembali dengan selamat, aku janji.”
“Tidak-tidak, aku tidak bisa tenang. Kau tidak diserang juga karena aku selalu bersamamu di rumah sakit.”
“Aigo...percayalah padaku, Channie. Mandi sana mandi.”
“Suruh Kyungie menemanimu.”
“Dan membiarkannya lari dari tugasnya?”
“Memangnya dia sedang apa?”
“Menyiapkan sarapan, hari ini gilirannya. Sudahlah tidak usah protektif begitu, tenang saja.”
Akhirnya setelah Baekhyun meyakinkan Chanyeol, Baekhyun pergi ke toko baju yang berada beberapa blok dari apartemennya. Toko itu tidak jauh, jadi Baekhyun memutuskan untuk berjalan kaki.
Di toko baju, Baekhyun bingung sendiri karena lupa ukuran baju Chanyeol. Dia juga tidak bisa menghubungi Chanyeol karena ponselnya masih rusak. Tiba-tiba dia teringat kalau Chanyeol pernah memeluknya, mungkin saja kalau dia peluk satu-satu baju yang ingin dia beli, dia bisa menemukan ukuran yang pas untuk Chanyeol. Ada-ada saja.
Jadilah, lelaki itu memeluk satu persatu kemeja dan baju santai berukuran besar seperti orang aneh, sampai beberapa staff menertawainya.
“Tuan, Anda cari apa? Kenapa memeluk baju-baju di sini?” Tanya seorang karyawan wanita.
“Aku lupa ukuran baju temanku, jadi aku memeluk baju-baju ini. Mungkin saja ada yang ukurannya pas.”
“Kenapa Anda tidak membeli baju all size saja?”
“Anyeo, aku ingin berhasil membelikan baju yang pas untuknya. Sudah, jangan protes.”
“Baiklah, saya akan menunggunya.”
Baekhyun kembali memeluk baju-baju itu. Tapi saking asyiknya dia memeluk baju, sampai tidak sadar dia memeluk seseorang yang dia kira boneka.
“Apa yang kau lakukan?”
“Oh, mianheyo, Tuan! Aku kira kau boneka! Mianhae, jeongmal mianhae!”
“Eh? Ka-kau...”
“Nde? Anda mengenal saya, Tuan?”
“Tidak, aku hanya salah lihat. Minggir!”
Lelaki itu mendorong tubuh Baekhyun hingga Baekhyun hampir jatuh. Baekhyun merasa tidak pernah melihat lelaki itu sebelumnya, atau pernah? Ah, tidak penting, pikir Baekhyun sambil kembali memeluk baju-baju.
Setelah 15 menit berkeliling akhirnya Baekhyun membeli 2 kemeja, 2 baju santai, dan 2 celana panjang. Baekhyun berharap semuanya pas untuk Chanyeol. Baekhyun mengambil belanjaannya dari karyawan yang masih saja menertawainya.
“Ish, apa salahnya berprilaku seperti itu?”
Baekhyun keluar dari toko dengan perasaan kesal. Kalau harus jujur, prilaku Baekhyun itu benar-benar aneh. Tapi mau bagaimana lagi? Daripada harus mondar-mandir ke apartemen? Pikir Baekhyun. Di tengah jalan, Baekhyun tidak sengaja menabrak orang yang tadi dipeluknya. Sekilas dia teringat seseorang saat melihat orang itu, tapi siapa?
“Ma-maafkan aku! Aku benar-benar tidak sengaja!”
“Kau lagi! Kau hobi sekali sih mengganggu orang lain?”
“Aku kan sudah minta maaf, lagipula kenapa kau berdiri di tengah jalan begitu?”
“Bukan urusanmu.”
Lelaki itu kembali berlalu dari hadapan Baekhyun.
“Benar, aku merasa pernah melihat lelaki itu. Tapi di mana?”
Baekhyun terus mengingat-ingat di mana dia bertemu lelaki itu, sampai tidak sadar sudah sampai di depan kamarnya.
“Aku pulang.”
“Oh, kau benar-benar pulang dengan selamat ternyata,” ucap Chanyeol yang pertama kali menyambutnya. Penampilan Chanyeol dengan rambut basahnya, baju mandi yang sangat pas dengan tubuhnya, membuat Baekhyun terdiam dan gugup.
“Pacarku ini benar-benar sexy.”
“Hya, apa yang kau katakan? Mana bajuku?”
“Ini.”
“Lho? Kau tidak membelikanku pakaian dalam?”
“Oiya, aku lupa! Sebaiknya kita pesan saja.”
“Jadi bisa dipesan? Kenapa tadi tidak pesan saja? Jadi kau tidak usah membuatku khawatir.”
“Pakaian dalam kan tidak ada yang lihat, jadi bisa pakai model apa saja. Tulis saja ukuran pakaian dalammu, biar aku yang pesan.”
“E-eh, biar aku saja yang pesan. Kau ini benar-benar.”
“Memangnya kenapa sih?”
“Byun Baekhyun!”
Baekhyun hanya memutar matanya karena bingung dengan sikap Chanyeol. Memangnya ada yang salah kalau dia tahu ukuran pakaian dalam Chanyeol? Heuh, sudahlah.
***
 Baekhyun bersama Chanyeol, setelah mengantarkan Kyungsoo ke kantor That’s news! yang disegel, segera ke kantor pusat untuk menarik izin mereka lagi. Suho juga ikut dengan mereka. Setibanya di sana, Baekhyun terus memegangi Chanyeol karena takut namja itu langsung menumpahkan kekesalannya.
“Tuan Lee! Kenapa izin penerbitan kami dicabut?” Tanya Chanyeol dengan amarah yang masih ditahannya.
“Sekarang ada undang-undang baru yang harus dipatuhi semua perusahaan media koran. Kantor kalian hanya terdiri dari 12 orang itupun terbagi jadi dua, lalu koran kalian juga tidak laku sampai sekarang, kan?”
“Undang-undang seperti apa itu? Aku mau dengar!”
“Channie.”
“Diam, Baekhyun!”
Baekhyun perlahan melepaskan pegangannya pada Chanyeol.
“Chanyeol! Tenanglah!”
“Tapi, Suho-hyung, ini keterlaluan! Perusahaan That’s news! Sudah berdiri selama hampir dua tahun, kenapa sekarang tiba-tiba ditutup?”
“Sudah kubilang ada peraturan baru yang membuat kantor kalian ditutup.”
“Bacakan, Tuan Lee!”
“Mulai sekarang, perusahaan koran dengan kondisi yang tidak layak akan segera ditutup dan juga jika koran itu banyak tidak diterima, atau dengan kata lain tidak laku juga akan segera ditarik.”
“Kantor kami layak! Dan koran yang kami jual lumayan laku!”
“Tapi dari laporan yang kami terima, kantor kalian sudah tidak layak. Sudahlah, kalian juga punya pekerjaan lain selain mengurusi koran-koran tidak laku itu, kan?”
“Hya! Jangan kau kira karena kau punya kekuasaan jadi kau menghina perusahaan kami!”
Chanyeol menarik kerah lelaki itu sampai beberapa petugas keamanan menjauhkan Chanyeol dari Tuan Lee.
“Pegawainya saja tidak punya etika, untuk apa aku menyerahkan izin penerbitan untuk kalian?”
“Baekhyun, bawa Chanyeol keluar, biar aku yang bicara dengan Tuan Lee.”
“Ne, Hyung.”
Baekhyun menarik Chanyeol sekuat tenaga karena Chanyeol lebih kuat darinya. Akhirnya Baekhyun berhasil membawa Chanyeol keluar gedung.
“Jangan marah-marah begitu, Channie.”
“Aku marah-marah untuk mendapatkan keadilan, Baekhyun!”
“Amarah tidak bisa menyelesaikan segala hal. Kau harus menahannya dulu.”
“Kau tidak mengerti perasaanku, Baekhyun. Perusahaan ini kudirikan bersama Suho-hyung karena orangtua kami yang sudah tiada ingin melihat anaknya meneruskan usaha mereka. Aku sudah gagal meneruskan usaha mereka!”
“Sudah, Channie...aku mengerti.”
“Sudah kubilang kau tidak akan pernah mengerti! Kau hanya memikirkan Sunny, Sunny, dan Sunny!”
“Kenapa kau tiba-tiba membawa Sunny?”
“Karena kau egois!”
“Mwo? Egois? Kenapa kau bisa menarik kesimpulan seperti itu?”
“Orang-orang susah karena kau mengurusi gadis itu terus! Kau membuat semua orang khawatir karena waktu itu kau diserang! Kalau kau menuruti perintahku untuk tidak menerima tamu, semuanya akan berjalan baik-baik saja!”
“Kenapa kau tiba-tiba menjadi orang yang sangat-sangat menyebalkan, Channie?”
“Sudahlah! Cari saja gadis itu sendiri! Tidak usah meminta bantuanku!”
“Lalu...siapa yang bisa kupercaya sekarang, Channie?”
Chanyeol terdiam, ia tatap namja yang selalu ingin dia lindungi itu. Betapa bodohnya, betapa jahatnya Chanyeol sudah mengucapkan kata-kata yang tidak pantas pada Baekhyun. Perlahan amarahnya teredam. Baekhyun menunduk sambil menahan airmata yang bisa kapan saja meledak jika Chanyeol menyentuhnya atau mengeluarkan suara.
“Byunnie...”
“To-tolong jangan temui aku dulu beberapa hari kedepan. Aku ingin istirahat.”
“Byun Baekhyun.”
“Aku...aku benar-benar lelah, Channie. Dalam hidupku, aku mengenal banyak orang yang kini menjadi bagian yang indah dalam hatiku. Kau...kau salah satu bagian yang paling indah dibanding yang lain. Tapi...sepertinya hanya aku yang berfikir seperti itu.”
“Byunnie, maafkan aku. Aku—“
“Beritahukan semuanya lewat Kyungsoo. Aku akan mencari Sunny sendirian. Kau tidak usah ikut, Channie. Jebal.”
“Baekhyun, aku benar-benar minta maaf.”
“Aku akan menenangkan diriku dan hatiku, kau hanya harus menunggu, Channie.”
Baekhyun berbalik ingin meninggalkan Chanyeol, tapi Chanyeol langsung menahannya, membuat Baekhyun terpaksa mengeluarkan keahliannya dalam bela diri dan berlari meninggalkan Chanyeol.
“Baekhyun! Sial! Aku benar-benar bodoh! Kau sangat bodoh, Chanyeol! Kau bodoh!”
***
Baekhyun tahu harus kemana dia sekarang. Dia terus berada di taksi sampai sang supir bertanya berkali-kali pada Baekhyun. Tapi jawaban Baekhyun masih sama.
“Teruslah berjalan sampai aku bilang berhenti.”
Baekhyun mengeluarkan ponselnya yang rusak, dia genggam erat ponsel itu sampai layarnya agak pecah.
“Kenapa di saat-saat seperti ini kita tidak bisa dewasa, Channie? Aku sadar...aku terlalu egois untukmu. Aku sadar, Channie.”
Airmata Baekhyun perlahan mengalir hangat membelai pipi itu, hingga penyesalan itu muncul lagi.
“Maafkan aku, tapi untuk beberapa saat lagi...tolong lupakan aku.”
Baekhyun memandang ke luar jendela. Jalan ini...jalan yang sama seperti sebelas tahun yang lalu. Jalan yang sering dia lalui bersama Sunny dan Jino saat sekolah dulu. Jalan yang membuatnya kembali teringat pada senyum tulus kedua sahabatnya.
“Ahjussie, kau bisa berhenti di sini.”
Setelah membayar ongkos sekaligus meminta maaf karena membuat susah lelaki itu yang harus mengantarkan Baekhyun ke jalan raya menuju SMPnya yang letaknya memang jauh dari pusat Seoul. Dulu Baekhyun, Jino, dan Sunny memang bersekolah di sekolah yang berada di pinggiran Seoul ini, lalu karena cita-cita mereka untuk sekolah di pusat Seoul, akhirnya mereka sepakat untuk pindah ke pusat Seoul. Dan di sinilah, Baekhyun, di sebuah jalan raya yang di pinggirnya terdapat pohon-pohon rindang yang menyejukan. Setiap Baekhyun sedih, dia selalu ke tempat ini tanpa diketahui siapapun. Biasanya Baekhyun akan menyewa sepeda sebelum berjalan-jalan ke tempat ini, tapi kali ini Baekhyun ingin berjalan kaki saja untuk berlama-lama di sana.
Baekhyun menghirup udara segar nan dingin yang diantarkan para pohon rindang yang mengelilinginya itu dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia merasa sebagian bebannya bisa keluar dari hembusan karbon dioksida yang ia keluarkan. Baekhyun sempat berfikir, manusia itu tidak adil karena membuang gas itu pada tumbuhan, sehingga tumbuhan harus menghirupnya dan menggantikannya dengan udara segar yang kemudian dihirup lagi oleh manusia. Akhirnya pada malam hari, tumbuhan akan merebut udara untuk manusia. Tapi bukankah itu sudah ditentukan? Semua itu adalah skenarioNya yang sangat indah. Begitu juga kehidupan Baekhyun yang sekarang. Semua kejadian yang ia alami beberapa hari ini sudah ditentukan dan Baekhyun percaya semuanya akan berakhir indah.
“Tuhan...bukannya aku tidak bisa menerima keputusanMu. Hanya saja...”
Baekhyun tidak bisa melanjutkan kata-katanya, karena jika dia berusaha melanjutkannya, perasaannya akan terus melumpuh.
“Aku tidak bisa melindungi sahabatku sendiri, aku juga bersikap egois pada teman-temanku, bahkan...aku tidak bisa menghentikannya untuk berbuat jahat.”
Baekhyun mulai melangkah, desiran angin lembut menerpa wajahnya dan terasa dingin ketika angin itu menyentuh airmata yang menggenang di mata Baekhyun.
“Andai aku punya keberanian untuk melawannya...”
Baekhyun terus berjalan sambil dipandangnya sekeliling jalan yang selalu berhasil membuatnya ingat pada aksi kejar-kejarannya bersama Jino dan Sunny.

“Hya! Tunggu aku!”
“Kau terlalu lamban, Byunnie! Masa’ kau kalah dengan Sunny! Hahaha!”
“Benar kata Jino! Kau harus lebih cepat mengayuh sepedamu! Kalau tidak, kami akan selalu meninggalkanmu!”

Sejak saat itu, Baekhyun selalu berlatih sepeda di jalan ini. Sampai saat dia kelas 2 SMP, dia bisa mengikuti perlombaan sepeda tingkat kabupaten dan keluar sebagai juara dua.

“Kau benar-benar hebat, Byunnie! Sekarang kau bukan lelaki lemah yang ketinggalan lagi!”
“Jino, sepertinya sekarang kita harus memanggilnya Master Sepeda Baekhyun!”
“Benar, Sunny. Sekarang kau adalah Master Sepeda Baekhyun!”

Baekhyun terus berjalan menyusuri jalan sepi itu. Di tengah perjalanan, Baekhyun melihat kursi kayu berwarna hijau tua yang umurnya sudah sangat tua, kursi yang dulu selalu mereka tempeli stiker kartun, tapi semuanya selalu dibersihkan oleh petugas di sini. Baekhyun duduk sambil mengelus pinggiran kursi itu sampai tangannya menemukan sebuah pahatan yang dulu dibuat Jino dan Sunny untuk ulangtahunnya. Hanya bekas itu yang tidak bisa dihapus oleh petugas.

“Byunnie pasti suka pahatan yang kita buat, Jino.”
“Tentu saja.”
“Kira-kira bagaimana tanggapan Byunnie pada pahatan ini, ya?”
“Dia pasti akan tersenyum sepanjang hari!”

Baekhyun tertawa kecil mengingat kenangan yang itu. Kedua sahabatnya tidak sadar jika Baekhyun memerhatikan mereka diam-diam. Baekhyun membaca pahatan itu.

Byunnie, Sunny, Jino jjang! Semoga selamanya, kita akan bersahabat dan tidak akan melupakan semua kejadian yang pernah kita lalui bersama. Byunnie, kau yang terbaik!

Airmata yang dia tahan sejak tadi tidak bisa lagi berkompromi, akhirnya bulir air itu meluncur bebas dari matanya.
“Aku benar-benar merindukan kalian. Aku ingin mengembalikan semuanya seperti semula. Sunny, kau di mana? Jino, jebal...hentikan semua ini.”
Tanpa Baekhyun sadari, seseorang sedang memerhatikannya dari balik pohon yang tidak jauh dari tempat Baekhyun berada. Airmata orang itu pun jatuh.
“Maafkan aku, Byunnie...”
***
Sementara Baekhyun sedang mengenang masa lalunya, Chanyeol masih merutuki kebodohannya. Suho yang masih bersamanya berniat untuk berbicara pada Chanyeol saat lelaki itu sudah mulai tenang, tapi setengah jam berlalu Chanyeol belum juga tenang. Akhirnya Suho menepuk pundak Chanyeol, dan benar saja, Chanyeol hampir memukulnya.
“Eh, mi-mianhae, Hyung.”
“Kau kenapa sih? Baekhyun kemana?”
“Dia marah padaku, Hyung.”
“Ba-bagaimana bisa? Bukankah kalian masih baik-baik saja tadi? Kau apakan dia?”
“Aku...memarahinya. Tapi itu karena dia terus menggangguku.”
“Mengganggu bagaimana?”
“Aaa! Ini salahku, Hyung! Aku memarahinya karena dia menenangkanku! Dasar Chanyeol bodoh!”
“Memangnya bagaimana kau memarahinya? Apa itu menyinggung perasaannya?”
“Tentu saja, Hyung. Aku bilang Baekhyun terlalu egois karena selalu memikirkan Sunny.”
“Ish, saat kau marah, kau selalu membuat semuanya berantakan. Apa kau tidak minta maaf padanya?”
“Aku sudah minta maaf, Hyung. Tapi dia masih sakit hati kelihatannya.”
“Kalau kata maaf sudah tidak mempan, lakukan hal lain yang bisa menenangkan hatinya.”
“Seperti apa?”
“Menebus perkataanmu tentang Sunny dan sifat egois Baekhyun mungkin?”
Chanyeol berfikir agak lama, lalu beberapa saat kemudian dia menemukan titik terang.
“Ahiya! Aku akan berpura-pura menemui Sungmin-ssie sebagai wartawan. Dengan begitu aku bisa membantu Baekhyun menemukan Sunny.”
“Tapi apa akan berhasil?”
“Aku akan melakukan apapun demi Baekhyun, Hyung.”
***
Setelah memersiapkan peralatan wartawan bohong-bohongan (walaupun Chanyeol memang wartawan asli, tapi kantornya masih disegel, jadi dia harus menyamar). Chanyeol segera pergi ke kediaman Sungmin bersama Kai. Setelah meyakinkan pelayan, akhirnya mereka berdua bisa masuk. Betapa terkejutnya Kai dan Chanyeol saat melihat kediaman Sungmin, rumah itu benar-benar mewah dan juga terdapat banyak lukisan di semua dinding. Ada satu lukisan yang menarik perhatian Chanyeol, lukisan berisi dua anak lelaki dengan seorang anak perempuan, Chanyeol yakin itu lukisan buatan Sunny, dan tiga anak itu adalah Baekhyun, Jino, dan Sunny.
Jika Kai tidak menyadarkan Chanyeol, mungkin Chanyeol akan terlena pada lukisan-lukisan di sana. Sungmin keluar bersama beberapa pelayan di belakangnya. Bagai seorang pangeran, Sungmin duduk di kursi super mewah yang sepertinya memang khusus untuknya. Orangtua Sungmin tidak terlihat, mungkin mereka tinggal terpisah.
“Kalian wartawan dari koran apa?”
“Ka-kami...”
“Oiya, aku lupa, silahkan duduk.”
Kai dan Chanyeol duduk bersamaan, terlihat sekali, mereka gugup.
“Kami dari koran That’s news! Sebenarnya kantor kami ditutup sementara, tapi kami yakin sebentar lagi akan dibuka lagi. Kami kesini hanya ingin memastikan kebenaran berita yang diberikan detektif Jino pada kami,” jelas Chanyeol. Sungmin kelihatannya tidak curiga, dia masih tenang dan malah menyuruh pelayannya menyediakan minuman dan makanan kecil untuk dua wartawan bohongan itu, menunjukan Sungmin memang ingin diwawancara, atau lebih tepatnya, lebih meyakinkan media untuk kasus Sunny.
“Apa yang ingin kalian pastikan?”
“Masalah tentang roh Sunny yang gentayangan.”

BRAKK

Sungmin menggebrak meja kaca di depannya, membuat Chanyeol dan Kai sedikit terlonjak.
“Siapa yang berani mengatakan roh adikku gentayangan?”
“Lho? Detektif Jino bilang kalau Anda menceritakan itu pada media. Tapi detektif Jino menyembunyikannya demi kebaikan Sunny.”
“Aku tidak pernah menceritakan itu! Aku hanya mengatakan kalau Soonkyuku sudah meninggal! Soonkyu pasti tenang di alam sana!”
“Ma-maaf, kenapa Anda memanggil Sunny dengan nama aslinya?”
“Di luar aku memang memanggilnya Sunny, itu keinginannya sejak SMP dulu. Tapi aku sangat tidak suka dengan panggilan itu, karena panggilan itu...”
“Panggilan itu kenapa, Sungmin-ssie?”
“Hei, bukankah kalian hanya ingin memastikan? Kepastiannya, aku tak pernah menceritakan tentang roh Soonkyu yang menemui seorang temannya. Aku juga tidak percaya pada cerita teman Soonkyu.”
“Kalau kau tidak percaya, kenapa kau menghubungi Baekhyun di malam pemakaman Soonkyu?” Tanya Chanyeol mulai sinis pada sikap Sungmin yang mengatakan hal jelek tentang Baekhyun.
“Kau kenal Baekhyun? Eh? Astaga! Kenapa aku tidak sadar pada nama koran kalian!”
“Ne, Baekhyun bekerja di redaksi ini. Kenapa, Hyung? Kenapa kalau kau tidak percaya pada Baekhyun, kau menelponnya malam itu?”
“A-apa kalian orang yang bisa dipercaya?”
“Baekhyun adalah orang yang sangat kucintai. Aku akan melakukan apapun untuk mengembalikan senyumnya, terutama menemukan sahabatnya yang dia percaya masih hidup.”
Sungmin menatap Chanyeol lekat, dia tahu tatapan mata itu, dia ingat siapa orang yang sebelumnya punya tatapan itu, seorang yang selalu ingin dia jauhkan dari Sunny, Jino dan Kyuhyun. Tapi tatapan ini berbeda, tatapan ini sangat tulus, Sungmin bisa merasakan hatinya meluruh bagai es yang mencair karena sinar hati Chanyeol. Sungmin menyunggingkan senyum walaupun airmatanya sudah menggenang di pelupuk mata indahnya.
“Ikutlah denganku.”
“N-nde?”
“Hanya sebentar, mungkin itu bisa mengembalikan senyum Baekhyun.”
“Baik.”
Sungmin berdiri lalu mengulurkan kedua tangannya pada Chanyeol dan Kai. Kedua namja itu sebenarnya bingung, tapi tapi mencoba mengikuti apa yang Sungmin minta. Chanyeol dan Kai menggapai tangan itu.
“Para pelayan, kalian tidak boleh mengikuti kami.”
“Baik, Tuan.”
---
Sungmin mengajak Chanyeol dan Kai ke kamarnya. Di kamar megah itu juga terdapat banyak sekali lukisan. Lukisan yang sangat indah dan membuat siapa saja betah berada di kamar itu walaupun seharian. Sungmin melepaskan pegangannya dan mendekati lemarinya dan mencari sesuatu. Setelah mendapatkannya, Sungmin membawanya sambil mendekati Chanyeol dan Kai.
“Duduklah.”
“Baik, Sungmin-ssie.”
Setelah Chanyeol dan Kai duduk, Sungmin ikut duduk sambil meletakan benda itu di atas meja.
“Kalian tahu isi kotak ini? Maksudku, bisakah kalian menebaknya?”
“Aku rasa sesuatu yang berharga,” tebak Kai.
“Ne, aku juga berfikir begitu.”
“Benar, isi kotak ini adalah semua barang berharga Soonkyu.”
Sungmin membuka penutup kotak dan terpampanglah banyak surat dan beberapa benda manis. Tapi yang menarik perhatian Chanyeol hanya satu, foto Baekhyun.
“Semuanya adalah barang kenangan Sunny bersama Baekhyun dan Jino.”
Sungmin kembali tersenyum lalu mengambil foto Baekhyun.
“Aku mencurinya.”
“Mencuri?”
“Ne, aku mencuri semua benda berharga ini dari kamar Soonkyu. Sebaik apapun gadis itu menyembunyikannya, tapi aku bisa menemukannya dengan mudah, karena aku punya kaki tangan yang berperan sebagai pelayannya.”
“Tapi kenapa Anda mencurinya?” Tanya Kai mulai penasaran.
“Karena aku ingin mengetahui kebenaran itu.”
“Kebenaran apa, Hyung?”
Sungmin menatap Chanyeol sekilas.
“Kebenaran tentang hubungan Jino dan Soonkyu yang tidak kuketahui sebelumnya. Padahal aku sudah melarangnya habis-habisan untuk berhubungan dengan Cho Jinho. Tapi...Soonkyu tetap menjalin hubungan itu.”
“Kenapa Anda melarang mereka berhubungan?”
“Karena aku tahu dia bukan lelaki yang baik. Aku tahu semuanya, aku masih ingat dengan wajah mereka di Panti Asuhan dulu. Aku...aku takut mereka berniat jahat pada Soonkyu.”
“Pa-Panti Asuhan?”
“Ne, sebenarnya Cho Jinho dan Cho Kyuhyun adalah kakak-beradik. Aku sudah menyelidikinya lewat orang kepercayaanku.”
“Lalu apa masalahmu dengan status mereka yang pernah tinggal di Panti Asuhan?” Kai mulai antusias, dia memang tidak pandai menganalisa seperti Chanyeol, tapi Kai mampu merekam semuanya dengan baik terutama kasus-kasus seperti ini.
“Bukan masalah status mereka, tapi tentang aku yang pernah menyakiti mereka,” Sungmin terdiam sejenak, lalu kembali bercerita, “dulu saat orangtuaku mengadakan acara di Panti Asuhan tempat mereka tinggal, aku menemukan Soonkyu yang sedang bermain dengan Jinho, aku tidak suka itu, karena mereka memainkan permainan yang membahayakan Soonkyu, jadi aku melarang Jinho mendekati Soonkyu dengan memarahinya. Kurasa mereka sakit hati.”
“Tapi apa hanya itu alasan mereka ingin mencelakai Sunny?” Kini giliran Chanyeol yang bertanya, karena dia merasa ada yang aneh dengan motif itu.
“Aku tidak tahu, yang pasti mereka ingin membuatku merasakan sakit yang mereka rasakan dulu.”
“Tidak, rasanya bukan itu saja masalahnya. Pasti ada alasan lain yang membuat mereka membenci keluargamu, Sungmin-hyung. Kalau tidak ada, untuk apa mereka sampai menyakiti Baekhyun?”
“Sudah kuduga mereka akan menggertakku dengan cara ini.”
“Ne, seminggu yang lalu Baekhyun masuk rumah sakit karena ada yang menyerangnya. Aku yakin orang itu adalah Cho Kyuhyun yang menghilang dari London.”
“Mana mungkin dia? Bukankah Cho Kyuhyun masih ada di London sekitar tiga hari yang lalu?” Tanya Kai.
“Aku punya alasan lain, kasus itu memang baru mencuat karena Kyuhyun menghilang tiga hari yang lalu, tapi ada saksi bilang sikap Kyuhyun tidak seperti biasanya sejak dia kembali ke London. Kalau tidak salah Kyuhyun pergi saat pemakaman Sunny, kan? Apa kalian tidak berfikir kalau Kyuhyun yang ada di London itu hanya Kyuhyun palsu?”
“Kau tidak punya bukti, Chanyeol.”
“Ne, bukti, itulah yang harus kucari sekarang.”
“Jadi, Sungmin-hyung, apa yang kau maksud dengan mengembalikan senyum Baekhyun-hyung?”
“Ahiya, aku ingin memberikan lukisan yang Soonkyu buat untuknya. Lukisan ini dibuat Soonkyu saat Baekhyun lomba sepeda beberapa tahun yang lalu. Dia tidak berani memberikannya karena tidak mau menciptakan kesenjangan pada persahabatan mereka.”
“Tapi kalau Sungmin-hyung tidak suka pada Jino, untuk apa Sungmin-hyung menyerahkan kasus itu pada Jino?”
“Aku juga tidak tahu, tiba-tiba saat aku datang Jino sudah ada di tempat otopsi dan bertanya banyak hal tentang kasus ini. Aku tidak bisa menolaknya karena banyak media yang meliput kejadian itu.”
“Tapi kenapa Sungmin-hyung berbohong tentang Sunny pada Baekhyun?”
“Karena aku tahu, orang yang akan ditanyai tentang Soonkyu adalah Baekhyun. Jino pasti langsung menemui Baekhyun untuk memastikan cerita bohongku pada media.”
“Ada satu pertanyaan lagi, dimana Sunny?”
***
Chanyeol berharap Baekhyun akan datang ke kantor That’s news!, tapi sampai sore setelah menemui Sungmin tadi, Baekhyun tak kunjung datang. Suho dan lainnya yang menemani Chanyeol menunggu Baekhyun mulai menyadarkan Chanyeol.
“Channie, mungkin Baekhyun sudah pulang.”
“Belum, Suho-hyung. Dia belum pulang. Tadi Kyungsoo sudah mengeceknya di apartemen.”
“Hyung, mungkin Baekkie-hyung memang sudah pulang sekarang. Ayo kita ke apartemen.”
“Kyungsoo, bagaimana saat Baekhyun datang tak ada orang di sini? Bagaimana jika dia membutuhkanku aku tidak ada di sini?”
“Hyung...”
“Kalau kalian ingin pulang, kalian pulang saja duluan.”
“Maafkan kami, kami harus pulang sekarang, Chanyeol.”
“Tidak apa-apa, Suho-hyung. Aku akan tetap di sini.”
“Jika Baekhyun-hyung pulang, aku akan langsung menghubungi Channie-hyung.”
Chanyeol hanya mengangguk.
“Jangan lupa hangatkan tubuhmu, sepertinya salju akan turun lagi. Sayang kau tidak bisa menunggu Baekhyun di dalam, kantor ini masih disegel,” ucap Suho.
“Ne, gomawo karena kalian mau menemaniku sampai sore.”
“Jika Baekkie-hyung datang ke sini, tolong langsung hubungi kami, Hyung.”
“Pasti, Kai.”
“Sehun, kau tidak pulang?”
“Tidak, Suho-hyung. Aku mau menemani Channie-hyung.”
“Baiklah, kami tinggal dulu, ya,” pamit Suho diikuti yang lain.
“Hati-hati di jalan.”
Selepas kepergian Suho dan yang lain, Chanyeol dan Sehun berdiam diri beberapa lama. Sampai Sehun memulai pembicaraan.
“Hyung.”
“Nde?”
“Aku benci sekali padamu.”
Chanyeol tidak bisa membalas perkataan Sehun. Karena dia juga sangat membenci dirinya yang sekarang.
“Kau memarahi Baekhyun-hyung sampai Baekhyun-hyung menyuruhmu menjauhinya, dia pasti sangat sedih.”
“Aku memang bodoh, Sehun.”
“Iya! Kau memang sangat bodoh, Hyung!”
Chanyeol bahkan tidak berani menatap Sehun.
“Kau membiarkan Baekhyun-hyung pergi, bahkan beberapa hari yang lalu kau tidak menjaganya sampai dia harus masuk rumah sakit! Apa aku harus mengajarimu?”

BUG

Satu pukulan menghantam pipi Chanyeol. Tubuh Chanyeol terhempas ke dinding di dekatnya karena pukulan itu.
“Itu balasan yang ingin kuberikan padamu, Hyung.”
“Pukul aku, bahkan kau boleh membunuhku sekarang, Sehun. Aku memang bodoh.”
“Kalau aku membunuhmu, Baekhyun-hyung akan bertambah sedih, aku tidak mau itu terjadi. Sebaiknya kau cari dia, Hyung. Hari sudah hampir malam.”
“Aku harus mencari kemana, Sehun?”
“Pergi ke tempat itu.”
“Kemana?”
***
Pergi diam-diam bukan berarti orang lain tidak tahu kemana Baekhyun akan pergi saat dia sedih. Sehun diam-diam selalu mengikuti Baekhyun ke tempat itu. Jalanan yang selalu menghibur Baekhyun dengan segala kenangannya. Setelah Sehun memberitahu Chanyeol dimana Baekhyun berada, namja tinggi itu langsung menuju ke sana. Dan benar, Baekhyun masih ada di sana, padahal hari sudah hampir malam. Baekhyun masih duduk di kursi kayu itu sambil memandangi orang yang sesekali lalu lalang di depannya. Udara dingin tidak menghalangi Baekhyun selama kegiatannya itu bisa menenangkan pikirannya.
“Sudah kubilang kan, jauhi aku untuk sementara.”
Ternyata Baekhyun menyadari kedatangan Chanyeol. Karena sudah terlanjur ketahuan, Chanyeol berjalan mendekati Baekhyun dan duduk di sampingnya.
“Kau tidak usah menatapku jika kau tidak mau, Byunnie.”
Baekhyun tidak menjawab dan terus diam. Di balik tangannya yang sudah hampir membeku, masih digenggamnya pahatan dari Jino dan Sunny.
“Udara di sini lebih dingin daripada di kota.”
Baekhyun menoleh sekilas dan langsung mengedarkan kembali pandangannya ke jalanan.
“Tentu saja, dataran di sini lebih tinggi.”
Chanyeol tersenyum kecil karena Baekhyun mau menanggapi perkataannya.
“Apa kau cukup hangat dengan mantel itu? Kenapa tidak bawa syal?”
Baekhyun tidak menjawab. Chanyeol perlahan mendekatkan tubuhnya pada Baekhyun.
“Jika kau masih sakit hati karena kejadian tadi pagi...aku akan mencabut semua perkataanku. Aku akan membantumu mencari Sunny dan—“
“Tidak usah. Aku akan mencarinya sendiri.”
“Baekhyun, tolong maafkan aku.”
“Aku tidak marah padamu, Channie. Setelah kupikirkan baik-baik di sini, aku memang egois. Aku tidak pernah bisa memahami perasaan Channie. Aku selalu menceritakan Sunny tanpa memikirkan perasaan Channie.”
“Anyeo, Baekhyun. Kau sama sekali tidak egois.”
“Lalu apa, Channie? Jahat?”
“Anggaplah semua perkataanku tentangmu tadi pagi salah. Kau adalah satu-satunya orang yang bisa memahamiku, Baekhyun. Bahkan kedua orangtuaku yang sudah tiada tidak bisa memahamiku sebaikmu.”
Baekhyun melepaskan genggaman pada pahatan itu lalu memegangi dadanya. Dia ingin mengontrol detak jantungnya yang berdetak kencang.
“Sekarang kita baikan, ya? Aku berjanji tidak akan marah-marah dan menyinggung perasaanmu lagi.”
“Jangan, Channie.”
“Nde?”
“Jangan berhenti memarahiku saat aku berbuat salah. Karena...aku bisa memerbaiki sifatku karena omelanmu.”
Chanyeol tersenyum lagi, sekarang lebih lebar. Chanyeol melingkarkan tangannya pada pundak Baekhyun dan menuntun kepala Baekhyun menyandar di dadanya.
“Sekarang sudah hangat, kan?”
“Hem.”
“Ayo pulang, Baekhyun.”
“Jangan dulu, Channie. Aku dan kedua sahabatku sudah melalui banyak hal di sini. Sekarang aku juga ingin membuat kenangan indah denganmu di sini.”
“Jadi kenangan apa yang ingin kau buat denganku?”
“Bersandar seperti ini juga sudah lumayan indah.”
“Kau tidak mau yang lain?”
“Mau apa lagi?”
“Misalnya...berciuman?”
“Tidak ah, lain kali saja.”
“Ish, kau ini.”
“Lain kali saja, Channie.”
“Aaa, aku maunya sekarang.”
“Tidak mau!”
“Kau bahkan sudah mencium orang lain!”
“Memangnya siapa yang kucium?”
“Kyungsoo.”
“Aish, dia kan adikku!”
“Kalau begitu kau belum pernah berciuman dengan orang lain?”
“Belum.”
“Sama.”
Baekhyun tertawa karena pembicaraan ini. Dia berjanji, kejadian malam ini tidak akan pernah dia lupakan. Bersama lelaki ini. Bersama lelaki yang dicintainya.
“Saranghae, Byunnie.”
“Nado saranghae.”
“Kau harus ingat sesuatu, Baekhyun. Aku masih di sini dan akan selalu begitu, menjadi orang yang bisa kau percaya selamanya.”
“Ne, Channie.”
“Jadi kau tahu kan apa jawaban dari petanyaanmu tadi pagi?”
“Pertanyaan yang mana?”
“Ish, dasar pelupa. Ayo ingat-ingat lagi.”
“Ooh...yang itu.”
“Jadi apa jawabannya?”
“Orang yang bisa kupercaya adalah Park Chanyeol. Park Chanyeol si namja tinggi, galak, cerewet, acuh...”
“Hya!”
“Hahahaha, kau juga boleh mengatakan semua sifatku.”
“Aku mencintai Byun Baekhyun yang pendek, lelet, tidak bisa mengalahkanku berlari, bodoh, bawel, sok berani, dan...dicintai Park Chanyeol.”
Mereka kembali terdiam, tapi senyum tidak lupa menghias wajah mereka. Dalam diam itu, Baekhyun dan Chanyeol bisa mendengar detak jantung mereka berirama bersama. Sangat indah...
***
Chanyeol mengantarkan Baekhyun ke apartemennya. Baekhyun menyuruh Chanyeol pulang, tapi Chanyeol bilang dia ingin menginap lagi di apartemen itu. Akhirnya setelah perdebatan kecil, Baekhyun mengizinkan Chanyeol menginap lagi.
Baekhyun membuka pintu apartemennya, suasana di dalamnya sangat gelap, Baekhyun pikir Kyungsoo sudah tidur. Baekhyunpun menyalakan lampu. Betapa terkejutnya Baekhyun saat mendapati Kyungsoo yang tergeletak di lantai ruang tamu dan mulutnya mengeluarkan banyak darah. Baekhyun langsung berlari menghampiri Kyungsoo dan memeriksa denyut nadi Kyungsoo.
“Chanyeol! Hubungi ambulan!”
“Sial! Ini pasti perbuatan orang yang menyerangmu waktu itu, Baekhyun! Dia mengirimi Kyungsoo kue ini!”
“Orang itu...aku tidak akan melepaskannya lagi.”


TBC

Daftar Blog Saya

Cari Blog Ini