Tampilkan postingan dengan label Rahmi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rahmi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Maret 2012

Star from Heaven - TUJUH BELAS


Alvin J. Sindunata

Pemakaman Alvin sudah sepi dari seluruh pelayat yang kebanyakan adalah sahabat-sahabat Alvin saat di klub karate. Setelah sudah benar-benar tak ada pelayat yang mengunjungi makam Alvin, Dea baru mendatangi makam itu. Ia elus nisan Alvin. Matanya sangat sayu, dengan perasaan sedih tak tertahankan Dea tabur bunga di atas tanah makam Alvin. Ia sudah tak bisa menangis, rasanya terlalu sakit jika ia menangis. Kecupan terakhir yang Alvin berikan di keningnya akan terus ia ingat. Terutama kata-kata terakhirnya, bahwa Alvin mencintai Dea selamanya.
“Semoga kau masih bisa mendengar jawabanku waktu itu.”
Dea kembali menabur bunga.
“Kau tahu, Kak. Saat pertama kali aku bertemu denganmu di masa SMP dulu, aku langsung mengagumi ketampananmu. Bahkan karena kau, aku berani masuk klub karate. Setelah melihat sisi kakak yang galak, aku mulai ragu dengan rasa kagumku itu. Dan akhirnya aku menjadi kesal sendiri. Lalu saat kau menolongku saat aku pingsan, disitulah aku mulai tahu, aku bukan kesal ataupun kagum padamu. Tapi aku mencintaimu. Kamu cinta pertamaku, dan juga bintang yang dikirim Tuhan dari surga untukku. Dan sekarang kau harus kembali pada Tuhan karena tugasmu sudah selesai, kamu telah membuatku menjadi gadis yang tidak cengeng lagi. Menjadi seorang gadis yang kuat, dan men jadi gadis…yang bisa memertahankan kepercayaan. Seperti impianku. Kamu mengajarkanku tentang kesetiaan dan keyakinan, yang takkan kulupakan. Terimakasih karena kamu sudah menjadi cinta pertamaku. Aku tahu ini bukan akhir dari segalanya, karena aku masih punya tugas, yaitu membuat anak-anak asuhku bisa merasakan cinta yang berkali lipat lebih baik dari yang kurasakan darimu. Ya, cinta yang kurasakan sejak aku bertemu denganmu.”
since i found you my world seems so brand new
you’ve show me the love i never knew
your presence is what my whole life through
since i found you my life begin so new
now who needs a dream when there is you
for all of my dreams came true
since i found you
***
Suasana Panti Gemintang masih kelabu, semua orang sedih akan kepergian anak pemilik Panti ini. Apalagi Alvin memang selalu bermain dengan anak-anak Panti Gemintang sebelum para peserta KKN datang. Zahra datang ke Bandung untuk terus bertukar semangat pada penghuni Panti Gemintang, terutama pada Iel dan Dea yang pernah menjadi orang yang sangat berharga bagi Alvin. Orangtua Alvin sudah pulang ke rumah mereka di Bandung dan mengadakan acara untuk mengenang anak tunggal mereka.
“De, kamu harus terus tersenyum demi Alvin, oke?”
“Kak Zahra, bahkan saat kak Alvin tertidur di pundakku, aku berusaha tersenyum agar ia bisa melihat senyumku untuk terakhir kalinya, dan aku yakin kak Alvin melihatnya.”
“Kamu gadis yang hebat, dan sekarang kamu harus melanjutkan kehidupanmu, kamu jangan mengecewakan keberadaan Alvin.”
“Pasti, Kak.”
Fay menatap Dea dari jauh, ia ingin mendekati Dea, karena ia merasa mereka sama. Melihat kematian orang yang sangat mereka sayangi di depan mata. Tapi ia terlalu takut melihat kesedihan orang lain.
***
Rio mendekati Dea yang sedang menyusun kertas skenario yang nanti sore akan dibagikan pada masing-masing pemain.
“Boleh gua bantu, De?”
“Ohiya, silahkan, Yo. Urutkan menurut halaman, ya.”
“Kenapa tidak minta bantuan yang lain?”
“Yang lain lagi bikin konsep panggung sama Angel, Ami, dan Sivia. Jadi gua aja yang ngerjain ini. Lagipula nggak cape kok.”
“Star from Heaven… kisah 3 orang anak yang mencari bintang mereka di dunia nyata…”
“Ssst, Rio, jangan dibaca dulu.”
“Tapi kan gua penasaran, De.”
“Yaudah, nanti sore aja.”
Riopun menurut pada sang ketua, lalu menata kertas-kertas naskah lagi.
“De, sebenarnya beberapa jam sebelum kepergian Alvin, gua sempet ngobrol sama dia.”
Gerak tangan Dea terhenti sejenak, senyumnya mengembang lemah.
“Ngobrol apa, Yo?”
“Ngobrol tentang loe.”
Tubuh Dea melemah, kesadarannya mulai pudar, jadi cepat-cepat ia duduk di kursi terdekat. Tangannya bergetar, karena sejujurnya ia belum siap menerima kepergian Alvin.
“Loe nggak apa-apa, De?”
“Nggak, gua nggak apa-apa.”
“Mau gua ambilin minum, De? Wajah loe pucet banget.”
“Nggak usah, Yo. Gua cuman ngantuk aja kok.”
“Bener?”
Dea mengangguk.
“Yaudah loe berhenti kerja dulu aja, De. Gua yang lanjutin.”
“Apa yang kalian bicarakan?”
Rio sudah menduganya, sikap aneh Dea tadi berhubungan dengan Alvin.
“Intinya, gua bilang ke dia bahwa dia harus cepat-cepat nyatain perasaannya ke loe, sebelum gua duluan yang nyatain perasaan gua.”
“Kenapa loe bilang begitu? Kalau loe nggak nyuruh dia buat nyatain perasaannya ke gua, kak Alvin pasti masih di sini. Masih bisa bercanda sama gua. Kenapa loe tega, Yo?!”
“De, bukan maksud gua buat…”
“Gua tahu loe nggak pernah suka sama kak Alvin, tapi kenapa loe harus bilang begitu?! Gua…gua benci banget sama loe, Yo!!”
Airmata Dea kembali jatuh, rasanya sangat sakit. Rio terdiam, ia harus berfikir jernih saat ini. Ini bukan kesalahannya, Alvin pergi karena takdir. Dea, bukan itu maksud Rio menyuruh Alvin.
Rio berlutut di hadapan Dea, gadis itu menutup wajahnya, Rio melihat airmatanya mengalir sangat deras hingga membasahi celana jeans Dea.
“Maafin gua, gua nggak bermaksud untuk menyuruh Alvin pergi lebih cepat. Ini takdir dari Tuhan, De. ini bukan salah siapa-siapa.”
“Gua sayang banget sama kak Alvin, Yo. Gua berusaha untuk cari dia selama 4 tahun setelah perpisahan gua sama dia, tapi sekarang saat gua ketemu sama kak Alvin, kak Alvin harus pergi lagi, bahkan lebih lama.”
“Maafin gua karena gua nggak bisa mengembalikan Alvin di sisi loe. Tapi setidaknya, tolong kasih gua kesempatan untuk menjadi seseorang yang loe sayang, sama seperti loe sayang sama Alvin.”
Dea menurunkan tangannya, Rio menatap mata Dea lekat.
“Seperti janji gua yang waktu itu gua bilang sama loe. Kalau gua mau jagain loe selamanya, sama seperti Alvin.”
“Loe sama kak Alvin nggak pernah sama.”
“Walaupun gua bukan pengganti Alvin, tapi gua akan berusaha menjadi bintang kedua buat loe.”
“Bintang kedua?”
“Ya, simpanlah Alvin di hati loe, dan sekarang sisipkan sedikit sinar gua juga di hati loe.”
“Gua takut loe juga pergi ninggalin gua.”
“Percayalah, semua yang pergi akan meninggalkan bekas yang berarti. Walaupun Alvin, atau mungkin gua yang pergi, kami masih menjaga loe, walaupun loe hanya bisa merasakan itu semua, tapi yakinkan di hati loe, kami akan selalu ada di sisi loe. Di hati loe, De.”
Dea mengangguk, Rio langsung memeluk Dea. Dan sekarang Dea bisa lebih terbuka menerima Rio sebagai bintangnya yang kedua.
***
Sore hari…
Peserta KKN, dan anak-anak Panti Gemintang duduk melingkar di ruang utama.
“Baiklah teman-teman, kita berkumpul di sini untuk memberikan skenario pada masing-masing peran. Siapa yang siap?”
“KAMI SIAP KAK DEA!!”
Dea pun membacakan peran masing-masing anak, semua sangat senang mendapatkan peran yang memang cocok dengan bakat mereka. Kelebihan mereka akhirnya tersalurkan. Apalagi ini mengenai musik, sesuatu yang sangat mereka suka.
Melihat senyum-senyum itu, Dea jadi teringat pada Alvin. Lelaki itu benar-benar membuat Dea sedih karena kepergiannya. Bukannya Dea tak ikhlas, tapi ini benar-benar…mendadak. Ia bisa saja tak berhenti menangis demi Alvin, tapi sepertinya itu akan membuat Alvin tak pernah tenang meninggalkan Dea. Bagaimana kalau Alvin juga tak bisa tersenyum karena sikap Dea? Bukankah itu lebih menyakitkan?
“De,” panggil Rio.
“Ya?”
“Fay nggak ada.”
“Oiya, gua baru nyadar.”
“Mau kita cari?”
“Biar gua sendiri aja, Yo.”
Tanpa ba-bi-bu Dea langsung menjauhkan diri dari Rio untuk mencari Fay. Tapi baru saja berjalan, langkah Dea terhuyung-huyung, pikirannya melayang, hanya dalam hitungan detik tubuhnya terjatuh. Sekilas, ia melihat bayangan Alvin menangkap tubuhnya, sosok itu tersenyum, tapi penglihatan Dea semakin kabur. Dea tak ingin cepat-cepat tertidur, ia ingin terus melihat senyum itu.
***
Fay melihat Dea terjatuh di ruang utama, ia melihat seseorang menangkap tubuh itu. Dan entah kenapa, ia bisa merasakan kesedihan Dea di dalam hatinya. Ia pernah merasakan itu, tapi apakah luka Dea sedalam lukanya?
***
Seluruh ruangan sangat kaget melihat Dea tiba-tiba saja jatuh pingsan, tapi dengan sigap Rio menangkap tubuh Dea. Suhu tubuh Dea sangat panas, menandakan kejiwaan Dea sedang tak baik. Ia mengangkat tubuh Dea menuju kamar perempuan. Sivia, Angel, dan Ami datang membawa baskom berisi handuk berbalut es batu untuk membantu Dea sadar.
“Sebaiknya sekarang loe keluar, Yo. Kami akan merawat Dea,” saran Ami.
“Nggak! Gua mau disini, Mi!”
“I…iya, tapi nggak usah pakai marah dong, Rio.”
“Maaf, gua terlalu takut.”
“Yo, kita semua tahu perasaan loe ke Dea, tapi untuk sekarang tolong biarin kita yang ngejaga Dea,” ucap Angel.
Rio terdiam, saat ini ia memang benar-benar takut, takut kehilangan Dea. Gadis yang ingin ia jaga selama hidupnya.
“Please percaya sama kita,” ucap Sivia.
Akhirnya Rio mau keluar.
***
Keadaan di luar dapat dikendalikan oleh Dayat. Dayat menyuruh semua orang di ruangan itu untuk tidak terlalu cemas pada keadaan Dea, karena Dea hanya kelelahan.
“Dea sudah ditangani, tenang saja,” ucap Dayat lagi.
Mata Dayat tertuju pada Fay yang duduk menyendiri di ayunan halaman belakang. Ia mendekati Fay, saat Fay ingin kabur Dayat menahan tangan Fay dengan kuat. Anak itu meronta, tapi tatapan kesal Dayat membuatnya segera diam.
“Duduk.”
Fay hanya pasrah karena ia tak mau dipukul atau dimarahi habis-habisan oleh lelaki itu, walau sepertinya tidak mungkin.
“Kamu mau apa?”
“Dea sakit karena kamu.”
“Apa salahku? Apa aku menyakitinya? Bertemu dengannya saja tidak pernah!”
“Ia sakit karena ia terlalu berusaha memasukanmu ke drama ini, menjadi pemeran utama pula!”
“Peran utama?”
“Ya, Dea sudah mendengar suaramu. Menurutku usaha Dea terlalu sia-sia walaupun aku tetap memercayainya.”
“Yasudah, jangan masukan aku ke drama ini.”
“Kamu bener-bener nggak ngerti, ya? Luka kamu, sama seperti luka Dea saat ini, ia kehilangan orang sangat ia sayangi di depan matanya, setelah orang itu mengatakan kalau dia mencintai Dea selamanya. Sama bukan?”
“Jangan samakan aku dengan orang lain!!”
“Kamu terlalu keras kepala, Fay! Kamu tak pernah memikirkan perasaan orang-orang yang menyayangi kamu!”
Fay geram, ia melepaskan pegangan Dayat sekeras ia mampu. Lalu ia berlari menuju tempat persembunyiannya, gudang.
***
Perlahan, Dea membuka matanya. Orang pertama yang ia lihat adalah Ami, gadis itu memeras handuk basah dan akan menempelkannya di dahi Dea untuk kesekian kalinya. Dea menahan tangan Ami lalu tersenyum lembut.
“Gua pingsan?”
“Iya, De. Kayaknya loe kecape’an,” ucap Sivia.
“Terakhir kali gua pingsan, saat gua nyanggupin tantangan dari Kak Alvin. Dia ngegendong gua, dan sekarang dia ngegendong gua lagi.”
“Kapan?”
“Saat gua pingsan tadi.”
“I…itu Rio, De,” jelas Ami.
“Bukan, itu Kak Alvin, gua yakin.”
“Sebaiknya loe tenangin pikiran loe dulu beberapa hari, De. oke?”
“Nggak, Njel. Gua yakin itu Kak Alvin!”
“Dea! Untuk saat ini tolong loe bisa dengerin omongan orang lain. Orang yang gendong loe ke kamar ini adalah…”
“Alvin, De,” serentak keempat gadis ini menoleh ke sumber suara.
“Alvin yang suruh gua untuk gendong loe.”
Dea tertawa hambar, ia juga tak sepenuhnya percaya Alvin yang sudah tiada bisa menggendongnya. Itu semua hanya bayangan, ya…bayangan yang sangat nyata dalam pikirannya yang terus meminta untuk ikhlas.
“Maafin gua, Yo.”
“Nggak usah minta maaf, De. Gua ngerti loe nggak bisa secepat itu melupakan Alvin.”
Rio mendekati Dea dan mengelus rambutnya, refleks Dea menepis tangan Rio dari kepalanya.
“Ma…maaf,” ucap Dea, “gua nggak bisa secepatnya nerima loe juga, Yo.”
“Gua akan terus menunggu, seperti Alvin yang selalu menunggu loe setiap malam.”
Rio tersenyum, lalu ia pergi meninggalkan Dea dan kawan-kawannya dalam sunyi.
“Kenapa loe nggak pernah bisa nerima Rio sih, De?” Tanya Sivia.
“Karena gua takut…”
“Takut apa?”
“Takut orang yang gua sayangi pergi lagi di depan mata gua.”
***
Kiki sangat kaget saat mendengar kabar tentang Alvin dari Angel. Ia masih ingat betul bagaimana ia bisa mengalahkan Alvin di turnamen terakhir yang ia ikuti, dan Kiki sampai saat ini masih merasa ganjil dengan kelakuan Alvin waktu itu. Walaupun menang, ia merasa kemenangannya itu tak pernah berarti. Entah kenapa. Dan sekarang saat ia tahu Alvin pergi, ia sangat penasaran akan jawaban “tak berarti” itu. Ia harus mengetahuinya.
Akhirnya Kiki memutuskan untuk pergi ke Bandung menyusul Angel, dan bertanya pada Dea tentang semua kejadian ganjil ini. mungkin ia tidak langsung bertanya, karena ia yakin Dea masih kaget dengan kejadian ini. Bagaimanapun juga Kiki tahu hubungan Alvin dan Dea tidak hanya sebatas teman.
“Hah? Kamu mau nyusul?”
Suara Angel terdengar seperti orang keheranan.
“Iya, Njel. Selain kangen sama kamu, aku juga mau tanya sesuatu ke Dea.”
“Tanya apa? Ohiya, di sini lagi ramai banget, Ki. Kalau misalnya kamu kesini, Panti ini bisa kepenuhan.”
“Aku kan ada Villa di Bandung, aku bisa bolak-balik ke Panti itu, kalaupun jauh, aku bisa sewa tempat di dekat Panti itu, panti apa namanya?”
“Panti Gemintang.”
***
Tengah malam, Dea terbangun dan melihat Angel tertidur lelap di sampingnya. Dea sudah tak bisa tidur karena kepalanya mendadak pening, sepertinya ia memang harus menghirup udara segar. Akhirnya Dea bangun dari tempat tidurnya pelan-pelan, lalu membuka perlahan sekali pintu kamarnya. Hanya 1 tempat yang ingin ia kunjungi saat ini, taman belakang Panti. Tempat terakhir kali ia bertemu dengan Alvin.
Suasana Panti malam itu sangat tenang, udara dingin sudah banyak masuk ke dalam panti. Beberapa kali Dea menggosokan kedua telapak tangannya untuk mengurangi hawa dingin di sekitarnya. Ia pun membuka pintu panti pelan-pelan karena ia tak mau membuat seisi rumah bangun karena mereka mengira pencuri sudah masuk ke panti ini.
Dea merapatkan jaketnya dan memasukan tangannya ke dalam kantung jaket. Ia menatap langit, sangat mendung. Seperti perasaannya mungkin. Dea terus berjalan dan ia bisa mendengar langkahnya yang agak menyeret dengan jelas. Jantungnya berdetak cukup teratur, dan Dea lega karena peningnya sudah hilang. Ia hirup udara sedalam-dalamnya dan menghembuskannya.
Setelah lama berjalan, ia pun tiba di bangku itu. Bangku yang akan menjadi benda kenangan baginya yang sangat berarti. Dea elus bangku itu, lalu ia kembali menatap langit.
“Aku bisa melihat bintang…ia ada di hatiku, dan akan selamanya di sini.”
Tanpa ia sadari, seseorang terus memerhatikannya dari jauh. Tatapan yang tajam tapi lembut, memiliki banyak makna tersirat. Hatinya menyuruh pemilik tatapan itu untuk mendekati Dea, tapi otaknya mengatakan ia takut.

Jumat, 25 November 2011

Star from Heaven - SEBELAS

Sebelas

ENAM bulan berlalu…
“Ya, tak cukup buruk untuk pemula sepertimu.”
“Terimakasih, Kak. Kalau boleh tahu, kita latihan setiap jam berapa, Kak?”
“Dea, kamu masih pemula untuk belajar bidang ini. Tak usah terburu-buru.”
“Uhm, baiklah. Mungkin aku memang bersemangat, tak ada kegiatan lain habisnya.”
“Ohya? Sewaktu SMA dulu kegiatanmu selain belajar apa?”
“Hanya bermain bersama teman-temanku, dan… berlatih karate.”
“Karate? Kamu bisa karate?”
“Bisa. Ups, sudah jam 4. Aku harus pulang, Kak.”
“Yasudah, latihan akan diadakan seminggu sekali, tepat di aula utama setiap hari sabtu jam 10 pagi. Kami adalah klub yang tepat waktu, ingat itu.”
“Okelah, duluan ya Kak Zahra!”
“Sudah kubilang, panggil aku Rara!”
“Oke!” seru Dea seraya berlari keluar dari aula. Rara hanya tersenyum melihat Dea yang kini sudah menghilang dari pintu aula.
“Dea itu, punya kemampuan. Tapi kenapa Dea baru ikut klub seni di tingkat ini?”
Seraya mengangkat kedua bahunya, “Ia punya alasan yang kuat untuk itu. Dan sebaiknya aku tak mencampuri urusannya. Ya, sebaiknya tak usah.” Rara menata buku-bukunya lalu memasukannya ke tas, kepalanya yang tertunduk pun terangkat, tanda ia ingat sesuatu.
“Dea itu anak SMP Global! Kenapa aku bisa lupa! Dea itu gadis yang disukai Alvin! Ah, dasar pelupa! Sabtu nanti aku harus bicara banyak padanya.”
***
Sangat jarang, bahkan nyaris tak pernah 2 orang ini jalan bersama. Di dalam fakultas, lagi. Beberapa mata mencuri pandang dengan keduanya, Ami sebenarnya risih dengan kejadian ini, tapi ia mencoba tenang. Alasan Ami mau berjalan berdampingan dengan Lintar adalah, karena Lintar berjanji jika mereka bisa terlihat akur di fakultas, Lintar takkan bertanya tentang masalah pribadinya. 1 minggu yang lalu mereka memang bertengkar hebat, sebenarnya seperti biasa, hanya Ami yang marah. Hal itu terjadi karena Lintar terus bertanya tentang masa SMA Ami. Ingin sekali Ami mencekik leher Lintar kala itu, tapi ia juga punya akal, tak mungkin ia menyakiti lelaki yang sudah berbaik hati selalu mengajarinya pelajaran-pelajaran kuliah. Pantas saja Lintar menjadi mahasiswa terbaik di angkatannya, IPnya saja 3,80 3 tahun berturut-turut. Belum ada yang bisa menandingi nilai itu.
“Sepertinya semua melihat kita, Mi.”
“Ya… biarin aja. Kamu nggak suka?”
“Malah aku yang mau tanya kamu, apa masa SMA kamu sangat rahasia ya? Sampai kamu rela jalan berdampingan denganku.”
“Sangat rahasia.”
Maksud Lintar menanyakan masa SMA Ami hanya untuk tahu siapa sebenarnya Septian. Kalau ia tahu, ia akan memberi pelajaran pada Septian. Memberi pelajaran? Untuk apa?
“Ini udah sampai kelas kamu, aku duluan ya.”
“Ya, pergilah dariku.”
Lintar hanya tertawa kecil melihat tingkah Ami, walaupun Ami tak suka padanya tapi ia akan berusaha menjadi seseorang yang berarti dalam hidup Ami. Ia berjanji.
“Ohiya, Mi. Sore ini aku ingin mengenalkan seseorang padamu, dia temanku saat aku di Jakarta dulu. Ia benar-benar asyik kok orangnya, mau ya?”
“Nggak janji, ya…”
“Yah, ayolah, Mi. Anggap aja sebagai balas budi kamu karena kemarin tugas kamu dapat nilai A karena bantuanku.”
“Ini yang nggak aku suka kalau minta bantuan kamu. Oke, tunggu aku di gerbang kampus jam 3 sore, uhm… pokoknya nanti kuhubungi lagi.”
“Siap, Bos!”
***
Rio menunggu Dea keluar dari aula, ia menunggunya dengan sabar karena hari ini ia akan meminta Dea untuk mengajari tentang kejiwaan anak yang mengalami kelainan sejak lahir. Dea memang sudah mempelajari materi sejak ia masuk kuliah. Menurutnya, seseorang tidak bisa dilihat sebelah mata hanya karena ia tak seperti manusia normal pada umumnya. Dea merasa mereka bahkan lebih sempurna dari orang normal. Masih ingat dengan Hellen Keller? Seorang penderita penyakit misterius yang menyebabkannya harus buta dan tuli, tapi ia juga seorang dosen, penulis, juga aktivis politik ternama di Amerika. Dea tak pernah lupa kutipan wanita itu “Hadapilah masalah hidup dirimu dan akuilah keberadaannya, tetapi jangan biarkan dirimu di kuasainya. Biarkanlah dirimu menyadari adanya pendidikan situasi berupa kesabaran, kebahagiaan, dan pemahaman makna.” Benar-benar bermakna, wanita itu bisa karena ada yang membimbingnya, Dea ingin suatu saat nanti ia bisa jadi psikolog sekaligus guru yang dapat membantu orang lain layaknya Anne Sullivan, guru Helen.
Langkah Dea akhirnya terdengar oleh Rio, Rio berdiri dan menyambut Dea dengan senyuman. Gadis itu mengambil sesuatu dari tasnya, sebuah buku setelah Alqur’an ia angkat sekuat tenaga.
“Ini, kita akan memperlajari buku ini.”
“Hah? Nggak salah, De?”
“Loe mau dapet A+ nggak buat ujian psikolog semester 2 ini?”
“Mau deh mau.”
“Gua nggak nyangka tema ujian dengan proporsi nilai tertinggi bakal ngambil tema ini, gua seneng banget.”
“He’eh.”
“Jadi kita mau belajar dimana?”
“Perpus udah tutup, ya?”
“Seinget gua sih udah, ini kan hari sabtu.”
“Hum, kita ke taman aja yuk? Kuliahan juga nggak terlalu rame kalau sore begini.”
“Oke.”
“Sini gua bawain.”
Tanpa ba-bi-bu Rio mengambil buku tebal itu dari Dea, cukup berat hingga membuat Rio hampir terjatuh karena keberatan.
“Loe yakin kita bisa pelajarin semua dari sini dalam waktu 1 minggu?”
“Sebenernya bab yang penting udah gua rangkum di buku lain.”
“Yah… bilang dong! Mending pakai rangkuman loe aja, De.”
“Hehehe, iya-iya.”
“Dasar jahil.”
Dea masih saja terkekeh, sedangkan Rio sudah meletakan buku itu di bangku.
“Lho? Kok ditaro situ?”
“Katanya pakai buku loe.”
“Rio tulalit!!”
***
Angel sudah bilang pada Kiki untuk tidak membuat puisi bertemakan dirinya, tapi Kiki terus mengirimi Angel puisi buatannya. Sepertinya kemarahan Angel beberapa bulan yang lalu berpengaruh besar pada sikap Kiki pada Angel. Kiki bisa dibilang… jadi tergila-gila pada Angel, kok bisa? Ini karena usaha Angel merubah dirinya agar Kiki tak lagi mengerjainya. Pernah suatu waktu Kiki kembali mengerjai Angel (dengan mencampurkan bubuk cabe di minuman Angel), dan dewi fortuna (lambang keberuntungan) sepertinya sedang bersama Angel, minuman yang diberikan oleh Kiki langsung diminum temannya sendiri yang kepedasan. Dengan santai Angel berkata pada Kiki,”Jika kau terus begini padaku, sepertinya kau takkan punya teman.” Walaupun Angel hanya sekali mengatakannya, tapi Kiki percaya itu, buktinya sejak Angel marah-marah padanya di aula, beberapa anak menjauhi Kiki sampai akhirnya Kiki meminta maaf pada Angel dan semuanya kembali normal. Kejadian kedua itu makin memperkuat Kiki untuk tidak lagi mengganggu Angel.
“Hoi, apa loe nggak ada kerjaan lain selain ngebuntutin gua, apa?”
“Gua kan cuman mau cari inspirasi, Njel.”
“Ish, kalau mau inspirasi kenapa harus deket-deket gua sih?”
“Kan loe tahu, sebagian besar puisi gua temanya loe.”
“Cari tema lain, kenapa!”
“Yaampun, pelit banget, Njel. Gaby sama Zeze aja nggak keberatan gua gabung sama loe pada.”
“Tapi gua risih, Kiki.”
“Masa’ sama cowoknya sendiri risih?”
“Oiya, gua lupa kita udah jadian.”
“Yah. Cape deh, padahal udah 3 bulan jadiannya.”
“Iya, sorry-sorry. Tapi besok gua mau ke Jakarta.”
“Mau ngapain, Njel? Gua ikut, ya?”
“Nggak usah, gua sama Ayah gua, kok.”
“Iya nggak apa-apa, biar gua bisa lebih deket sama Ayah.”
“Heh, loe panggil Ayah gua apa?”
“Ayah.”
“Kiki!!”
***
Hari ini hujan terus mengguyur Bandung sejak pagi tadi, Sivia hanya memandangi pemandangan luar dari balkon kamarnya, sebenarnya alasan Sivia memilih kamar di lantai 2 adalah untuk merasakan indahnya pemandangan alam, dari atas akan terlihat lebih indah. Sesekali ia bersenandung, tapi ia terlihat cemas. Jika merpati itu datang, apa yang akan ia jawab pada Iel? Tapi bagaimana merpati itu datang? Hujan semakin deras saja, dan jam sudah menujukan pukul 4 sore, waktu dimana merpati itu harusnya datang. Sivia tahu bahwa Iel tak mungkin datang ke tempat biasa mereka bersama. Tapi berharap apa salahnya?
Setengah jam kemudian Sivia mulai putus asa menunggu, telat artinya Iel tak datang. Atau lebih buruk lagi jika Iel menunggu hujan reda di tempat itu untuk menerbangkan merpati kesayangannya. “Arghh!” Geram Sivia.
Sivia pun menyerah dan masuk ke kamarnya, tapi baru saja ia memegang buku pelajaran jendela kamarnya berbunyi. Seperti bunyi ketukan yang diakibatkan benda keras.
“Iel!!”
Sivia girang saat melihat Iel berada di depan gerbang rumahnya, Iel melambai pada Sivia dan Sivia membalasnya. Tak lama Angel, merpati Iel menghampiri Sivia dengan sebuah surat tentunya. Sivia menangkap merpati itu sambil sesekali ia belai. Lalu baru ia ambil suratnya.

Ayo kita bermain hujan-hujanan! Aku yakin kau tak pernah berhujan-hujanan kan?

Lidah Sivia keluar sedikit seperti mengejek, tanpa membalas, Sivia segera turun menemui Iel. Untung saja Ayah Sivia sedang tak ada, jadi Sivia bisa bebas keluar saat hujan.
“Ayo! Aku memang tidak pernah hujan-hujanan!”
Iel langsung menggapai tangan Sivia dan menarik Sivia untuk berlari menembus terpaan air, Sivia memejamkan matanya saat berlari, karena ia yakin Iel akan terus menjaganya. Ia merasakan air itu sudah membasahi sekujur tubuhnya, dingin, tapi menyenangkan. Ia terus berlari sampai Iel berhenti. Mereka ada di tempat biasa mereka bertemu, di dekat pohon apel milik seorang nenek tua yang kesepian. Nenek itu tak keberatan dengan kedatangan Sivia dan Iel, ia malah senang jika makin banyak orang yang bermain di pohon itu. Di dekat pohon itu sudah di dirikan sebuah gubuk kecil agar Sivia dan Iel makin nyaman bermain di sini. Iel sendiri yang membuatnya semalaman saat beberapa minggu lalu ia tak bisa datang karena banyak ujian.
Saat mereka tiba di gubuk, ternyata nenek tua yang mereka panggil Oma Rina itu sudah menunggu keduanya. Ia sedang duduk sambil membaca buku dongeng yang entah sudah berapa tahun ia baca. Ia bilang ia tak bosan membacanya.
“Oma, kami datang lagi.”
“Kalian lama sekali datangnya, sebentar ya Oma bawakan makanan kesukaan kalian.”
“Oma, kami ingin di sini untuk menemani Oma sampai malam, kami… kami pasti akan merindukan Oma…”
Gabriel dengan cepat menulis,

Ya, apalagi dengan apel-apel Oma.

“Da…darimana kalian tahu kalau besok Oma akan pindah?”
“Semua orang di desa ini tahu, Ma.”
“Terimakasih banyak sudah menemani Oma selama 6 bulan ini. Oma sangat senang.”
Sivia dan Gabriel langsung memeluk Oma Rina. Besok cucu Oma Rina akan menjemput Oma agar tinggal bersamanya.
“Oma akan memberikan pohon apel ini untuk kalian, kalian harus menjaganya.”
“Dengan senang hati, Oma.”
“Kalau tidak keberatan, apakah kalian bersedia tetap menganggap Oma menjadi Oma kalian, sampai kapanpun.”
“Bolehkah?”
Sivia melirik Iel, seperti dugaannya, Iel terdiam mendengar hal itu. Ia melangkah mundur, tapi Sivia berhasil menahannya dengan ia menggenggam tangan Iel. Sangat dingin, bukan karena hujan, tapi karena keterjutan itu.
“Iya, tapi Oma hanya bisa membiayai sekolah kalian, Oma tidak bisa mengajak kalian ke rumah anak Oma. Mereka takkan setuju.”
“Jangan biayai sekolahku, Oma. Ayahku akan marah bila tahu, tapi Iel dan teman-temannya mungkin membutuhkan itu.”
“Baiklah, Oma akan menjadi donatur tetap di Panti Asuhanmu, Iel. Kamu tidak keberatan, kan?”
Iel tak bisa menulis, tubuhnya bergetar, ia sangat gugup. Tapi dengan cepat Sivia mengambil bukunya yang basah, lalu menulis,

Iel akan menjadi cucu Oma yang paling baik. Terimakasih, Oma.

Iel langsung menatap Sivia–apa maksudmu? Dan Sivia membalas dengan tatapan–apa salahnya?
Oma mengelus rambut Iel yang basah. Elusan seorang Ibu yang diinginkan Iel, Iel pun tak kuasa langsung memeluk Oma Rina. Iel memang sudah kuliah, di sekolah umum malah. Maka dari itu Sivia yakin keputusan ini baik untuk Iel. Sebenarnya Iel punya cita-cita menjadi penulis lagu, tapi ia bingung bagaimana menyampaikan isi lagu itu pada orang lain. Dan sejak ia bertemu Sivia, ia bisa melakukan segalanya layaknya anak normal.
Gabriel menulis sesuatu untuk Sivia,

Kata terimakasih itu juga kupersembahkan untukmu. Sebuah bintang yang kuimpikan, sebuah bintang yang dikirim Tuhan dari Surga untukku. Terimakasih, Via.

Sivia hanya tersenyum lembut.
***
Dea menjelaskan semua yang sudah ia pelajari pada Rio, Rio juga mencatat poin penting yang Dea ajarkan. Sudah 1 jam mereka belajar, dan Dea akan segera menutupnya.
“Jadi intinya kita nggak boleh membedakan antara anak normal dan anak yang punya kelainan, atau kata lain yang tepat kita nggak boleh memandang rendah anak-anak itu, karena aku yakin Allah punya rahasia sendiri untuk mereka.”
“Iya, makasih ya, De, buat pelajaran hari ini. Dan sebagai tanda terimakasih gua, gua mau ajak loe makan.”
“Benarkah? Traktir nggak?”
“Traktir dong!”
“Let’s go!!”
---
Rio dan Dea tiba di kafe dekat indekos mereka, sederhana tapi menyejukan. Kafe ini bernuansa putih seperti warna kesukaan Dea. Dan itu juga sebabnya Rio sering mengajak Dea kesini. Dea dan Rio sama-sama memesan bakso dan jus apel.
“De, loe bener-bener nggak hubungan lagi sama 3 sahabat loe itu?”
“Belum, bukannya nggak.”
“Oh, kalau sama cowok itu?”
“Cowok siapa?”
“Itu lho, yang dulu pernah gantiin Pak Haru selama seminggu.”
Dea tak menggubris pertanyaan Rio, dan Rio sadar akan kegelisahan Dea. Mereka pun melanjutkan makan dalam diam.
“De, Dea.”
“Hem?”
“Loe mau nambah?”
“Nggak, makasih.”
“Loe marah?”
“Nggak.”
“Kalau loe nggak marah, loe mau nggak temenin gua ke taman dimana kita lihat bintang dulu?”
“Uhm…”
“Mumpung besok hari minggu, De.”
“Gua juga mau sekalian balik ke rumah, mau minta doa restu.”
“Buat apa?”
“Kelancaran ujian gua.”
“Wah, sama deh kalau begitu.”
“Sekalian mau ke SMA Global, yuk?”
“Emang malem buka?”
“Inget Pak Gino, kan?”
“Iya. Malam ini, ya?”
“He’eh. Sama Yuki dan Kevin boleh?”
“Mereka kan bukan orang Bogor, De.”
“Yuki nginep di rumah gua, Kevin di rumah loe. Gimana?”
“Boleh deh.”
Sebenarnya masih ada 1 lagi alasan, kenapa Dea takut menyukai Rio. Ia takut, hal yang terjadi padanya dan Alvin terulang. Jadi untuk saat ini sepertinya Dea belum bisa membuka hatinya pada siapapun.
***
Tepat jam 3, dan sesuai permintaan Ami, ia menunggu gadis itu di gerbang. Tak berapa lama Ami muncul. Setelah Say good bye pada kawannya, Ami menghampiri Lintar.
“Ketemuan dimana?”
“Di taman ria.”
“Aku lagi nggak semangat ke taman ria, Kak.”
“Ayolah, Mi. Daripada malam minggu nggak melakukan apapun.”
“Yaudah deh. Tapi kenapa sih teman kamu pengen ke taman ria?”
“Katanya dia udah lama nggak liburan bareng temen-temennya, biasa orang sibuk.”
“Orang sibuk?”
“Iya, dia belajar mati-matian deh buat dapet beasiswa itu.”
“Beasiswa kemana?”
“Jepang.”
“Waw, keren!”
“Bahkan kamu nggak pernah bilang keren ke aku, padahal aku kan asisten dosen, di UGM, lagi.”
“Hahahaha.”
“Baru sekarang aku denger kamu ketawa.”
Ami terdiam, getaran itu datang lagi. Sudah beberapa bulan terakhir Ami merasa ada yang aneh di dirinya, ia jadi lebih sering berdandan jika Lintar akan menemuinya. Jantungnya juga berdegup kencang ketika Lintar ada di dekatnya. Tapi Ami menolak perasaan itu, ia tak mau terlalu gampang menyukai orang seperti dulu.
“Mi? Kamu bengong?”
“Eh, nggak kok.”
“Yaudah, ayo naik.”
---
Setibanya di taman ria, Lintar dengan sigapnya menggenggam pergelangan tangan Ami. Dan anehnya Ami tak menepis itu. Mereka masuk ke taman ria, dan Lintar melepas genggamannya. Ia mengambil ponsel, mungkin mau menghubungi temannya. Ami menatap sekeliling, tapi tiba-tiba matanya langsung membesar. Karena ia melihat seseorang yang ia kenal. Mimik wajahnya berubah menjadi orang heran, kesal? Tercampur begitu saja.
“Oh, kau di sana to!” seru Lintar. Dengan cepat Ami mengalihkan pandangannya ke Lintar dan dengan cepat pula beralih kembali.
“Hai… hah? Loe?”
“Kenapa loe bisa di sini?”
“Loe juga, kenapa loe bisa sama temen gua?”
“Jadi kalian udah kenal, ya?”
“Udah!” seru keduanya.

Minggu, 04 September 2011

Star from Heaven - SEPULUH

Sepuluh


Angel…
Kenapa penampilanmu begitu kuno?
Kenapa prilaku seaneh penampilanmu?
Kenapa kau begitu lemah tanpa sahabat-sahabatmu?
Jawab aku dengan lantang.
Angel…

By Kiki_Egetan

Angel tak kuasa menahan amarahnya pagi itu, walaupun Gaby dan Zeze sudah menahannya, tapi Angel tetap berlari ke aula tempat Kiki biasa berlatih karate. Benar saja, di aula, anak-anak karate sedang berlatih untuk pertandingan Jabodetabek minggu depan.
Angel mempercepat langkahnya menuju Kiki, ia dengan penuh amarah menarik baju Kiki dari belakang dan mendorongnya. Angel tak pernah semarah ini.
“Udah gua bilang, nggak usah bikin puisi dengan nama gua!”
“Loe udah baca to? Gimana pendapat loe?”
“Loe itu mahluk paling buruk yang pernah gua kenal!”
“Kok nggak jawab pertanyaan gua? Oiya, bales dong puisi gua. Jawab dengan lantang.”
Gemeretak gigi Angel sedikit terdengar, wajahnya merah padam sampai mungkin bisa memasak telur diatasnya. Angel melangkah mundur hanya beberapa langkah, lalu menatap Kiki nanar.
“Kenapa penampilan gua kuno? Karena gua mau memunculkan Bunda gua yang udah nggak ada di depan Ayah gua!
“Kenapa prilaku seaneh penampilan gua? Karena gua nggak bisa ngelepasin bayangan Bunda gua dari hidup gua! Dia inspirasi gua! Untuk meyakinkan Ayah bahwa Bunda selalu ada untuknya, gua berprilaku seperti Bunda!
“Kenapa gua lemah tanpa sahabat-sahabat gua? Karena mereka jiwa gua! Gua lemah tanpa kehadiran mereka! Tapi gua berusaha kuat ngelawan loe! Mahluk paling buruk yang pernah gua kenal!”
Kiki terdiam mendengar jawaban itu, ia bungkam tak bisa membalas kemarahan Angel. Ia tak menyangka Angel akan semarah itu.
“Satu lagi, Ki. Jangan pernah loe bawa sahabat-sahabat gua dalam masalah kita!”
Angel berbalik lalu meninggalkan Kiki yang masih tertegun. Beberapa teman Kiki menyadarkan Kiki dari keterkejutannya.
“Loe nggak apa-apa, Ki?”
“Oh, nggak apa-apa, Ko.”
“Cewek itu bener-bener marah.”
“Ya, baru kali ini gua ngeliat dia semarah itu.”
***
_flashback_

“Gua kira loe nolongin gua, tulus.”
“Gua tulus kok, tapi karena duit gua ketinggalan, jadi boleh dong nebeng? Lagian kita kan sekompleks.”
“Sekompleks? Gua baru tahu kita sekompleks.”
“Apa sih yang loe tahu.”
“Hih.”
Dea langsung mengalihkan pandangan keluar, dan kesempatan itu digunakan Alvin untuk memandangi Dea.
“Kenapa loe harus buktiin ke gua sih kalau loe bisa lari 75 keliling?”
Perlahan ia memutar pandangan ke arah Alvin.
“Karena loe yang minta.”
“Jadi kalau orang lain yang minta, loe nggak akan nunjukin itu?”
“Nggak tahu deh.”
“Loe suka sama gua ya?”
Jantung Dea kembali berdegup kencang, ia tak menyangka Alvin bisa menanyakan hal seterbuka itu. Dea terdiam.
“Gu… gua…”
“Hahahahaha! Kena deh loe! Mana mungkin juga loe suka sama gua! Dasar-dasar.”
“Iya juga sih, gua nggak mungkin suka sama loe.”
Dea mengalihkan pandangan lagi, jantungnya masih berdegup kencang. Padahal ia sudah bilang tak suka pada Alvin, tapi sepertinya itu hanya ungkapan mulutnya, bukan hatinya.
***
Dea keluar dari indekosnya, ketika ia melihat Kevin yang menjemput Yuki seperti biasa Dea hanya tersenyum.
“Jadi gua akan selalu dicuekin kalau kalian lagi berduaan?”
“Ya nggaklah, De. kamu kan ada Rio.”
“Rio? Oiya, mana dia?”
“Gua lupa, De. Hari ini Rio nggak bisa kuliah, katanya dia mau balik ke Bogor. Ada urusan mendadak.”
“Kok dia nggak bilang gua?”
“Nggak tahu juga.”
Apa karena gua bohong ke dia kemarin, dan dia tahu? Batin Dea.
“De, kamu mau naik motor sama kita?”
“Wah, nggak deh makasih, Ki. Lagian loe kan pakai rok, nggak enak kalau motornya sempit.”
“Kamu nggak apa-apa berangkat sendiri?”
“Nggak papa kok.”
“Yaudah, kita duluan, ya.”
Selepas mereka pergi, Dea bergumam.
“Lagian kan kuliah-an deket, ngapain naik motor?”
Baru saja Dea melangkah, ponsel Dea bergetar tanda ada sms masuk.

De, maaf ya gua nggak sempet ngasih tahu loe tentang keberangkatan gua pagi ini, mendadak banget soalnya. Nenek gua masuk rumah sakit, doain ya supaya cepet sembuh.

Dea menghela nafas lega, ternyata Rio tidak marah padanya.
Iya, nggak apa-apa. Semoga nenek loe cepet sembuh. ^_^ . salam dari gua, ya.

Tak berapa lama Rio membalas lagi.

Makasih. Oiya, kemarin loe nggak kemana-mana kan? Kok loe bohong sih?

Dea tak lagi lega sekarang, ia harus memberikan alasan apa?

Uhm, maaf ya, Yo. Gua nggak maksud bohong sama loe kok. Tapi… ada beberapa hal yang nggak bisa gua bilang ke loe.

Benar, tidak semuanya bisa ia ungkapkan pada Rio.

Oke, no problem. Tapi loe masih nganggep gua sahabat kan?

Dea tersenyum lembut, lalu membalas.

Pasti, dan selamanya akan begini.

Rio tak bisa tersenyum lagi, setelah Dea membalas akan menganggapnya sahabat untuk selamanya. Ia merasa tak mungkin punya kesempatan mendapatkan hati gadis itu. Sebenarnya dulu Dea pernah suka pada Rio, tapi perasaan itu jauh berbeda dengan apa yang dirasakan Dea pada Alvin. Sangat berbeda.
***
Rio meletakan ponselnya di meja belajarnya, pagi ini ia ingin sedikit berbohong pada Dea. Sekali ini saja, kebohongan yang mungkin akan mengantarkannya pada kebenaran. Ia berbohong bahwa ia pergi ke Bogor, ia juga bohong kalau ia tahu bahwa Dea tidak kemana-mana kemarin sore. Dan ia menemukan kebenaran itu. Dea membohonginya kemarin, tapi kenapa?
Rio langsung sadar, ini pasti ada hubungannya dengan sikap Rio yang tiba-tiba lari menghampiri Dea lalu mengajaknya jalan. Ya, pasti ada hubungannya, pikir Rio. Lelaki itu hanya bisa berspekulasi tanpa mempunyai bukti kuat.
“Maafkan gua, De. Yang nggak bisa sebaik orang itu.”
***
_flashback_

Sejak Dea pingsan, Alvin berfikir bahwa ia harus menjaga Dea bagaimanapun caranya. Ia tak mau melihat gadis itu sakit lagi. Apalagi karena dirinya. Cara Alvin menjaga Dea yang terkadang salah membuat Dea justru menyukainya. Seperti siang ini.
“2 minggu lagi… loe pergi ya, Kak.”
“Nggak sepenuhnya pergi.”
“Loe mau masuk SMA mana?”
“Kenapa? Loe mau ngikutin gua?”
“Ih, mulai lagi.”
“Hehe, iya-iya. Gua sih pengennya masuk SMA Global.”
“Global lagi?”
“Iya, soalnya Global itu menyenangkan sih.”
“Loe pasti masuk situ?”
“Mudah-mudahan, kalau loe mau masuk mana?”
“Gua belum tahu mau masuk mana.”
“Loe gimana sih, De! Loe harus punya rencana! Hidup harus penuh planning!”
Dea terdiam melihat Alvin yang membentaknya, ia tahu ini adalah cara Alvin menasihatinya. Tapi kali ini Dea benar-benar kesal.
“Biasa aja kali.”
“Ups, sorry, De. gua nggak maksud bentak loe kok, loe kan tahu gua kayak gimana.”
Sekali lagi, Alvin mengelus rambut Dea. ‘Untung gua udah keramas, jadi nggak malu-maluin amat,’ gumam Dea dalam hati.
“Ya ya ya, nggak apa-apa. Tapi menurut loe gua harus masuk mana ya?”
“Gua saranin sih loe masuk SMA Global aja, De. bagus kok di sana. Yakin deh sama gua.”
“Oke, gua usahain.”
“Tapi abis wisuda, apa kita bisa ketemu lagi, ya?”
“Bisa, di pertandingan karate misalnya? Loe pasti ikutan, kan?”
“Pasti.”
“Oiya, kalau nggak ada loe sama anak-anak kelas 3, nanti di klub karate pasti sepi.”
“Kan ada loe sama anak-anak.”
“Beda kali, Kak.”
“Sama kok, gua yakin sama aja. Bahkan gua yakin loe bisa lebih baik dari gua.”
“Yakin banget sih loe.”
“Karena gua percaya sama loe, De.”
Sejenak mereka terdiam, Dea tersenyum lembut walau hatinya tak tersenyum. Ia ingin menangis, tapi tak mungkin karena itu akan menyakiti Alvin. Ia tak tahu kapan lagi akan bertemu dengan Alvin setelah ini. Bagaimana jika mereka berdua tidak 1 sekolah lagi? Benar. Hanya Tuhan yang bisa menjawab semua itu.
“De, loe mau nangis?”
“Dih, kenapa harus nangis?”
“Karena gua sama angkatan gua harus ninggalin sekolah ini.”
“Gua emang sedih, tapi gua nggak akan nangis.”
“Kenapa? Gua nggak pernah liat loe nangis lagi sejak loe pingsan, loe bisa nangis sekarang.”
“Nggak.”
“Kenapa, De?”
“Karena gua tetep pengen kuat di depan loe, gua nggak mau cengeng lagi kayak dulu.”
“Bagus, tetep kayak gini, ya.”
Dea tersenyum penuh kemenangan. Entah kenapa.
“Gua punya hadiah perpisahan, De.”
“Apa tu?”
“Tutup mata, deh.”
Dea menutup matanya, jantungnya berdegup kencang lagi. Ia merasakan Alvin mengangkat tangannya, lalu mendaratkannya tepat di dada Alvin.
“Buka.”
Dea bingung, dan Alvin hanya tersenyum.
“Apa maksudnya?”
“Hadiah buat loe adalah permintaan gua.”
Alvin tersenyum lebih lembut, dan tangan kiri yang tidak memegangi tangan Dea mengelus rambut Dea.
“Gua minta loe jangan lupain gua, walaupun suatu saat nanti gua harus pergi. Tapi gua minta, loe harus simpen gua di hati loe.”
Dea terdiam, matanya berkaca-kaca. Ia sangat ingin menangis, ia menahannya dengan memgigit bibirnya.
“Seperti gua yang akan menyimpan loe di hati gua,” Alvin terdiam sejenak, lalu melanjutkan. “Loe bisa rasain detak jantung gua? Ini yang selalu gua rasain setiap loe di samping gua. Pertama kali loe masuk klub, sampai sekarang.”
“Gua masih nggak ngerti.”
“Gua… gua udah nganggep loe sebagai sahabat terbaik di hidup gua, gua nggak mau kehilangan loe, De.”
“Baik, gua nggak akan ngelupain loe. Apapun yang terjadi.”
***
Lihat ke langit luas, dan semua musim terus berganti
Tetap bermain awan, merangkai mimpi dengan khayalku, selalu bermimpi dengan hariku
Pernah kau lihat bintang, bersinar putih penuh harapan
Tangan halusnya terbuka, coba temani dekati aku
S’lalu terangi gelap malamku
Dan rasakan semua bintang, memanggil tawamu terbang ke atas
Tinggalkan semua, hanya kita dan bintang

Lihat ke langit luas, dan semua musim terus berganti
Tetap bermain awan, merangkai mimpi dengan khayalku, selalu bermimpi dengan hariku
Pernah kau lihat bintang, bersinar putih penuh harapan
Tangan halusnya terbuka, coba temani dekati aku
S’lalu terangi gelap malamku
Dan rasakan semua bintang, memanggil tawamu terbang ke atas
Tinggalkan semua, hanya kita dan bintang yang terindah
Meski terlupa akan selalu terangi dunia
Mereka-reka, hanya aku dan bintang

Sivia bernyanyi lagu “aku dan bintang” untuk Iel, lagi, di tempat yang sama. Dan lagi, Iel bertepuk tangan sekencang ia bisa, Iel mengagumi suara Sivia. Selama 3 hari ini mereka bersama, Sivia dapat sedikit melupakan kesedihannya tentang peralatan lukis yang dibuang Ayahnya.
“Sebenarnya aku mau tanya ini sejak awal kita bertemu, tapi aku takut menyinggung perasaanmu.”
Gabriel menggeleng dan menulis…

Tanyakanlah apa saja, aku takkan marah.

Dengan ragu, Sivia pun bertanya. “Sebenarnya kau berasal darimana? Maksudku, dimana tempat tinggalmu?”
Gabriel masih tersenyum mendengar pertanyaan Sivia.

Aku tinggal di Panti Asuhan Gemintang, kau tahu, Panti Asuhan yang berada beberapa blok dari sini? Ya, di situlah aku tinggal.

“Apakah anak-anak di sana tak mennyenangkan, jadi setiap sore kau selalu ke sini?”

Bukannya tidak menyenangkan, tapi terkadang aku jenuh di sana. 3 bulan yang lalu aku menemukan tempat ini, dan bertepatan dengan itu kau juga sering ke sini untuk melukis. Jadinya aku terbiasa sampai sekarang.

“Karena aku?”

Tidak juga, tapi sebagian karena kamu sih.

“Apa… tidak ada orang tua yang mengadopsimu?”

Para orangtua itu jarang memandang bagian anak-anak cacat, jikala mereka harus memilih, mereka lebih memilih anak normal paling badung daripada kita yang jelas-jelas penurut. Aku tak tahu alasan mereka mengesampingkan kami.

“Maaf jika aku menyinggung perasaanmu.”

Tidak kok, tidak sama sekali. Aku malah senang ada yang peduli padaku. Apalagi dia itu gadis cantik dan pandai bernyanyi sepertimu.

“Kau sebenarnya mengingatkanku pada 3 sahabatku.”

Ohya? Kau hanya punya 3 sahabat?

“Sebenarnya banyak, kau juga sahabatku. Tapi mereka bertiga memang segalanya untukku. Mereka tahu apa yang kurasa, aku pun bisa tahu apa yang mereka rasa. Yang pasti aku rindu mereka.”

Kenapa tak kau hubungi saja mereka?

“Tidak bisa, kami berjanji akan bertemu 5 tahun lagi, dan selama itu… aku harus hidup sendiri dulu.”

Jadi kau anggap apa aku? Sendiri?

“Oh, bukan itu maksudku! Maksudku, aku merasa sendiri karena mereka tak ada. Aku tetap senang kalau kau di sampingku.”

Terimakasih ya, sudah mau menemani seorang tuna wicara sepertiku.

“Sama-sama, terimakasih juga karena kau mau menemani gadis cengeng dan manja sepertiku.”

Kau tidak cengeng dan manja, kau kuat dan mandiri.

“Kau juga bukan seorang tuna wicara, buktinya kita selalu mengobrol setiap sore. Aku tak pernah menganggapmu tuna wicara, Iel.”

Terimakasih, oiya. Ngomong-ngomong Angel bilang padaku, bahwa hari ini kau cantik sekali dengan jepitan itu.

“Angel atau kau yang bilang begitu?”
Gabriel hanya terkekeh mendengar pertanyaan itu, kalau saja langit sore ini masih biru, pastilah warna semu merah di pipi Gabriel bisa terlihat.
***
Sore ini, sepulang kuliah rencananya Lintar ingin mengajak Ami ke taman ria yang baru dibuka. Ami sudah lama mengutarakan keinginannya untuk bermain di sana, tapi tak ada yang mau menemani Ami. Sibuk, alasan standar orang dewasa. Dan yang pasti, Ami takkan mengajak Lintar. Jadi Lintar-lah yang harus mengajak Ami. Lagipula momennya tepat, hari ini adalah hari terakhir Ujian Tengah Semester dan pastinya Ami ingin sekali jalan-jalan.
Lintar menunggu Ami muncul dari balik gerbang fakultas, dan setelah menunggu selama 15 menit barulah Ami muncul. Masih dengan tatapan ketus Ami bertanya,
“Ada apa menungguku?”
“Kamu mau ke taman ria bersamaku?”
Ami terdiam, ia melihat temannya yang tadi bersamanya sudah kabur entah kemana. Ami memang sangat ingin pergi ke taman ria, tapi bersama orang ini? Sepertinya bukan ide yang buruk juga.
“Oke, tapi jangan berfikir macam-macam, ya!”
“Macam-macam apanya?”
“Ah, lupakan saja. Ayo berangkat.”
“Hei, hari ini aku bawa motor, kita naik motor, yuk?”
“Sepertinya kau niat sekali mengajakku ke taman ria.”
“Memang.”
Lintar berlalu sebentar untuk mengambil motornya, sedangkan Ami hanya menggigit bibirnya karena gugup. “Ia benar-benar niat mengajakku ke taman ria?”
***
Kiki mengulurkan tangannya di hadapan Angel, semudah itukah Kiki meminta maaf pada Angel. Mungkin ia berfikir ia memang keterlaluan.
“Sorry ya soal puisi tadi,” ucapnya penuh aroganisasi.
“Masih bisa ketemu gua rupanya.”
“Sorry, dimaafin nggak?”
Angel melihat tangan Kiki menggantung di udara, demi permintaan maaf ia rela berlama seperti itu. Angel juga sebenarnya bukan gadis pendendam, walaupun ia sudah berkata bahwa Kiki adalah “Mahluk paling buruk yang ia kenal.” Tapi itu hanya angin lalu baginya.
“Iya deh.”
“Eh, yang ikhlas dong.”
“Iya-iya, gua maafin.”
“Thank’s.”
“Ya, sama-sama.”
“Lain kali, gua akan bikinin puisi yang lebih bagus dan menantang dibanding yang tadi, hahahahaha!!” Setelah berkata, Kiki langsung kabur meninggalkan Angel yang berfikir sebentar.
“Kiki!!”

Star from Heaven - SEMBILAN

Sembilan

LANGKAH kaki Ami terdengar nyaring di lorong fakultas. Membuat lorong sepi itu mengeluarkan bunyi gema yang cukup kencang. Sebenarnya jika langkah itu biasa saja, suaranya tak terlalu kencang, tapi ini karena langkahnya cukup cepat dan menunjukan kemarahannya. Dibelakang Ami, seorang lelaki mengejarnya, Lintar.
“Ami, tolong berhenti! Saya ingin menjelaskan semuanya!”
Tapi Ami terus berjalan, lebih cepat nyaris berlari. Semakin Ami mempercepat langkahnya, Lintar juga mempercepat langkahnya. Tangan Ami mengepal, urat-urat di lehernya muncul tanda ia benar-benar marah.
Setelah melewati gerbang fakultas, Ami berhenti begitu juga Lintar.
“Saya hanya ingin mengajak Anda keluar fakultas, agar Anda tidak mempermalukan saya di sana.”
“Tolong dengarkan penjelasan saya, saya tidak bermaksud untuk mengajar lagi. Tapi Ayah sedang sakit, ia terlihat sangat lemah. Saya tidak tega membiarkannya mengajar.”
“Saya tahu itu, tapi kenapa pengajaran Anda hari ini lebih membosankan, Ya? Apa karena Anda selalu menatap saya? Menunjuk saya jika Anda mengajukan pertanyaan, dan mencoba menenangkan teman-teman saya jika saya berbuat kesalahan? Anda ingin cari muka?”
“Saya hanya mengajar sebagai seorang asisten dosen, tidak ada yang salah dengan pengajaran saya hari ini.”
“Anda bisa bilang kalau itu tidak salah, tapi menurut saya, semua yang Anda lakukan salah!”
Lintar menatap Ami yang menatapnya nanar, gadis itu sangat marah.
“Ma… maafkan saya, berikan saya kesempatan untuk menebus semua yang salah di mata kamu tentang saya.”
“Anda mau tahu, kenapa saya tak pernah suka Anda?”
“Katakan, jika itu bisa membayar semuanya.”
***
Angel mengalihkan pandangannya dari lapangan basket ke arah dimana kawan-kawannya datang. Ia langsung berdiri dari kursi penonton lalu berlari menghampiri Gaby dan Zeze.
“Pagi,” sapa Angel berusaha mengalihkan pembicaraan yang tidak ia inginkan.
“Pagi, Njel. Tumben pagi-pagi udah di dekat lapangan?”
“Ze, jangan mulai deh,” ucap Angel.
“Jangan-jangan loe emang suka sama Kiki, Njel,” tebak Gaby.
“Kalian berdua ini, kayak tahu aja isi hati orang lain.”
“Kita emang tahu, apalagi pas Kiki ketahuan bikin puisi tentang loe.”
“Tentang gua?”
Zeze dan Gaby saling bertatap, baru kali ini kedua kawan Angel itu kompak.
“Iya, seperti yang di mading itu. Puisi buatan Kiki yang berjudul ‘Angel’.”
“So sweet banget…,” goda Zeze.
Angel langsung berlari menuju mading, tapi tak ada puisi berjudul Angel. Ia menatap kedua kawannya geram.
“Kalian ngerjain gua?”
“Tu kan, loe beneran suka kan sama Kiki?”
“Ya siapa yang nggak kaget kalau ada orang yang bikin puisi pakai nama orang lain?”
“Masuk akal,” setuju Gaby.
“Ish, loe gimana sih, Gab. Bales dong, nggak kompak banget.”
“Uhm, loe tahu nggak ekspresi muka loe pas kita bilang Kiki buat puisi pakai nama loe?”
“Emang gimana?”
Gaby memberikan tatapan pada Zeze–kau yang lanjutkan.
“Wajah loe itu bersemu merah, kayak orang seneng banget.”
“Masa’? Gua nggak ngerasa seneng.”
“Tapi kelihatan Angel,” tegas Gaby.
“Bohongan aja seneng, apalagi kalau beneran ya…,” ledek Zeze.
Kedua kawan Angel tertawa sepuasnya, sampai seseorang menghentikan tawa mereka.
“Gimana kalau beneran?”
***
Sepertinya permintaan Ayah Sivia tempo lalu menunjukan kebenarannya. Sivia sangat kaget saat melihat ruang lukisnya kosong, yang tersisa hanya beberapa lukisan pemandangan yang menurut Sivia kurang berkesan.
“Kemana Ayah keluarkan semua peralatan lukisku?!”
“Ke tempat yang kau tidak bisa menjangkaunya.”
“Ayah, tolong kembalikan semuanya. Aku tidak bisa hidup tanpa melukis.”
“Kau bisa hidup tanpa semua lukisan itu, mereka hanya khayalanmu, Via!”
“Ayah bahkan tak tahu, apa arti khayalan itu untukku.”
Bibir Sivia bergetar, ia hampir menangis.
“Kalau kau masih begini, sebaiknya kau pulang ke Bogor, tinggal bersama Tante Wanda.”
“Apa Ayah membuangku?”
“Tolong mengerti keadaan Ayah, Sivia.”
“Bagaimana keadaan Ayah?”
“Ayah tak bisa melihatmu terus melukis, karena jika kau seperti itu, akan mengingatkan Ayah pada Bundamu.”
“Lalu kenapa jika Ayah ingat Bunda? Ayah ingin menikah lagi? Jadi ingin cepat-cepat melupakan Bunda?”
Air mata Sivia mengalir begitu saja, ia tak kuat jikala mendengar pernyataan Ayahnya yang menakutkan.
“Ayah tak bisa mengatakannya sekarang, tapi cobalah hidup tanpa melukis.”
“Katakan sekarang, Ayah! Berikan aku kejelasan! Agar aku tak berharap seumur hidupku.”
“Suatu saat nanti, jika kau sudah melupakan lukisan sebagai prioritas hidupmu.”
***
_flashback_

Keesokan harinya…
“Nona Dea mau sekolah hari ini?”
“Iya, Mbok. Nggak betah di kamar terus.”
“Sekolah di sekolah umum itu berbeda banget ya, Non, dari sekolah keputrian.”
“Iya, lebih menyenangkan.”
“Apalagi kalau punya cowok seganteng yang kemarin gendong Non, ya.”
“Ih, panggilin Pak Aji dong, Mbok, nanti aku telat.”
---
Saat Dea berjalan, semua mata seakan tertuju padanya. Ia sampai berfikir apakah kejadian kemarin benar-benar heboh? Ia tahu sih, kalau Alvin itu cukup mengagumkan dan tak heran jika banyak gadis iri pada Dea yang digendong Alvin.
“Pagi, Dea!”
“Pagi, Gita.”
“Gimana keadaan loe?”
“Baik, kok.”
“Baguslah, berarti hari ini bisa dong full sekolahnya?”
“Ya biasanya kalau sehat pasti gua bisa full sekolah.”
“Bukan itu, hari ini kan ada pemilihan ketua osis.”
“Pemilihan ketua osis?”
“Iya.”
***
Bibir Ami bergetar, tanda ia sedang menahan tangis. Ia terus menggigit bibir untuk menahan perasaannya.
“Karena Anda selalu datang di kala yang tidak tepat. Saya membenci materi tentang alam, dan Anda mengajar Kimia Lingkungan. Ditambah, kenapa Ayah saya ingin menjodohkan Anda dengan saya? Saya punya jalan hidup sendiri!”
“Asalakan kamu tahu, saya juga tidak tahu kenapa Ayah kita ingin menjodohkan kita. Kalau disuruh memilih, saya juga tidak mau dijodohkan jika orang yang akan dijodohkan dengan saya nantinya membenci saya.”
“Bisakah Anda membicarakan ini dengan Ayah saya dan Ayah Anda?”
“Nanti malam, mari kita bicarakan.”
“Bagus.”
“Tapi… kenapa kamu tidak ingin dijodohkan dengan saya?”
“Karena kau bukan satu-satunya lelaki di dunia ini yang bisa kucintai.”
***
Dea membalik halaman buku ke halaman berikutnya, ia sedang menekuni buku tentang kejiwaan seorang anak dengan segala kelainan sejak bayi. Tapi ketekunannya terhenti saat Rio dengan berisiknya memanggil “Dea Dea!!”
“Loe nggak bisa santai aja, apa?”
“Sorry ya sorry, hehehehe.”
“Ada apa?”
“Hari ini… maksud gua, sore ini loe ada acara nggak?”
“Kayaknya ada.”
“Yah.”
“Emang mau ngapain? Gua bisa cancel semua kegiatan gua kalau loe mau.”
“Benarkah? Loe mau batalin kegiatan loe buat gua?”
“Apa sih yang nggak buat sahabat gua?”
Senyum yang tadi merekah hilang.
“Loe kenapa, Yo? Kok tiba-tiba murung?”
“Nggak apa-apa, masalah sore nanti… nggak jadi deh.”
“Lho? Kenapa?”
“Tenang aja, nggak ngaruh buat hidup loe kok.”
Sambil kembali tersenyum Rio memaksakan mengatakan keputusan itu. Menurutnya, ia tidak lebih baik dari orang itu.
***
_flashback_

“Kayaknya gua nggak bisa dateng ke acara itu deh, Git.”
“Kenapa emangnya, De? Loe ada acara sore ini?”
“Bukan gitu, tapi gua ngerasa nggak enak badan.”
Sore ini Dea memang tak enak badan, sepertinya ini karena ia tak makan sejak malam. Bubur ayam yang dibawakan oleh Mama Dea ternyata sudah tak bisa dimakan. “Bagaimana Mama bisa tak tahu?” gumamnya dalam hati.
“Muka loe pucat, De.”
Dea memegang pipinya, lebih hangat dari biasanya. Sepertinya ia benar-benar sakit.
“Gua anterin ke rumah yuk, De.”
“Nggak usah, Git. Bentar lagi juga Pak Aji datang.”
“Tapi gua mau nemenin loe, De.”
“Gua aja yang nemenin Dea.”
“Eh, Kak Alvin?”
Tangan Alvin menggenggam pergelangan tangan kiri Dea, Dea terkejut dan langsung menarik tangannya.
“Loe mau ngapain?!”
“Gua mau nebus kesalahan gua yang kemarin, De. Boleh, kan?”
“Dengan loe nganterin gua kemarin aja udah cukup kok.”
“Tetep aja, udah yuk gua temenin ke gerbang nunggu jemputan loe.”
Alvin kembali menggandeng Dea, kini tangannya tepat berada di telapak tangan Dea. Dan itu cukup membuat jantung Dea berdegup kencang.
“Aduh Pak Aji, cepetan dong…”
Dea cemas jika ia terus bersama Alvin, perasaannya akan semakin tak menentu.
“Mana? Kok nggak dateng?”
“Belum, bukannya nggak.”
“Loe udah nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa kok.”
“Tapi kenapa loe nggak mau ke acara itu?”
“Mungkin gara-gara gua nggak makan dari kemarin, jadi gua lemes.”
“Kan kemarin loe sakit, kenapa nggak makan?”
Alvin bertanya, tapi agak membentak dan itu membuat Dea kesal.
“Apa urusan loe?”
“Oh, bukan urusan gua. Sorry.”
“Jemputan gua udah dateng, thank’s ya udah mau nemenin gua.”
“Gua nebeng dong buat balesannya.”
“Hah?”
***
“Alvin, apakah kamu merasa lebih baik?”
“Belum, Mam. Kepalaku bertambah sakit setiap waktu, apalagi mataku, Mam.”
“Bertahanlah, Nak.”
“Mam, apa boleh aku … uhm, kembali ke Indonesia?”
“Tapi kamu sedang menjalani pengobatan, Nak.”
“Bisakah Mami merelakan Alvin? Jika memang ini jalan Tuhan, apa Mami akan ikhlas?”
“Kamu ngomong apa sih? Tentu kamu akan sembuh, Vin.”
“Jika setahun ini Alvin belum sembuh, bolehkah Alvin kembali ke Indonesia?”
“Untuk apa?”
“Untuk sebuah urusan yang ingin Alvin selesaikan.”
***
Sivia pergi dari rumah sore itu, ia tak bisa lebih lama di rumah itu, segalanya terasa berbeda karena Ayahnya membuang semua peralatan lukisnya.
“Dea, Ami, Angel… aku kangen kalian.”
Pandangan Sivia kosong, ia melamun.
‘Brakk’
Suara itu membuat ia sangat terkejut hingga terlompat sedikit.
“Si… siapa kamu?”
Orang yang baru saja loncat dari pohon itu hanya tersenyum, lalu ia duduk di samping Sivia.
“Kamu siapa?”
Orang itu mengambil buku yang ada di tasnya, lalu menulis…

Namaku Gabriel, namamu?

“Ka… kamu?”
Lelaki bernama Gabriel itu hanya mengangguk sambil terus tersenyum.
“Namaku Via, Sivia. Kamu udah lama di atas sana?”
Gabriel kembali menulis

Sudah, aku sering melihatmu di sini. Ketika kamu melukis di sini, aku sering melihat lukisanmu. Sangat indah, tapi kenapa kamu tidak melukis sore ini?

“Ayahku menyembunyikan peralatan melukisku, dia bilang aku tak boleh terobsesi keterlaluan pada lukisan.”
Gabriel mengeryitkan dahinya, heran

Bukankah seorang Ayah seharusnya mendukung bakat anaknya? Kecuali beliau punya alasan yang kuat untuk melarangmu.

“Ya, kupikir Ayah punya alasan yang kuat. Aku tak pernah melihatnya semarah itu.”
Gabriel hanya mengangguk sesekali, kemudian ia mengeluarkan secarik kertas. Berisi sebuah lagu.

Aku punya sebuah lagu, aku sangat suka lagu ini. Tapi aku tak bisa menyanyikannya, bisakah kau nyanyikan untukku?
“Bukankah ini lagu anak kecil? Kau suka lagu anak kecil?”
Gabriel mengangguk girang. Sivia tak punya pilihan lain selain bernyanyi.

Bintang di langit, kerlip engkau di sana.
Memberi cahayanya di setiap insan.
Malam yang dingin, kuharap engkau datang.
Memberi kerinduan di sela-sela mimpinya.

Gabriel bertepuk tangan dengan semangat, lalu menulis lagi…

Suaramu sangat indah! Benar-benar bagus! Seharusnya sejak awal aku mau berkenalan denganmu tanpa malu. Hehe. Bolehkah aku tahu kenapa kau sangat suka melukis?

“Aku melukis… karena dari situ aku dapat melihat sebuah dunia yang berbeda, dunia yang sangat ingin kumiliki. Dunia yang siapapun ingin menempatinya. Sebuah dunia yang abadi. Ada Ayah, Bunda, sahabat-sahabatku. Dan mereka semua tersenyum.”

Berharap pada lukisan? Bukankah itu aneh? Bahkan Allah juga melarangnya.

“Hanya berharap sejenak, karena aku tahu tak ada yang abadi di dunia ini.”

Jika Ayahmu melarangmu melukis, apa yang kau lakukan untuk menggantikannya?

“Aku belum tahu, kau punya pendapat?”

Bagaimana kalau kau bernyanyi saja? Datanglah ke sini setiap sore, aku akan membawa gitarku dan kita bernyanyi bersama!

“Ide yang bagus, tapi apakah kau akan menungguku setiap sore?”

Tentu, aku akan mengirim merpatiku untuk menjemputmu. Jika kau tak bisa datang tinggal balas saja suratku.

“Kau punya merpati?!”

Ya, dia adalah hewan yang sangat cantik. Namanya Angel, karena dia selalu menemaniku bagai bidadari.

“Nama yang indah, lalu mana merpati itu?”

Ia sedang sakit, tapi malam ini kuperkirakan ia sudah sembuh. Merpati itu walaupun cantik tapi ia tangguh. Oiya, panggil aku Iel saja.

“Baiklah, senang berkenalan denganmu.”
Sivia menjulurkan tangannya, sekarang ia bisa tersenyum setelah bertemu dengan Gabriel.
***
Sore ini sebenarnya Dea tak punya acara apapun, tapi ia sedang menghindari Rio. Ia tahu percakapan Yuki dan Rio tadi pagi, kalau tidak salah menyimpulkan. Rio sepertinya ingin menanyakan kebenaran pernyataan Yuki.
“Benar-benar deh anak itu.”
Rio… ia hanya menganggap Rio sebagai sahabatnya, tak lebih. Karena hanya seorang yang bisa ia cintai, Alvin. Tak pernah terpikir jika suatu saat nanti ia menyukai Rio, ia tak bisa. Hatinya memang tidak memaksa bahwa laki-laki itu hanyalah sahabat baginya. Tapi… Dea tak bisa menjelaskannya.
“Tadi pagi kamu ketemu Rio, nggak?”
“Gua kan 1 jurusan sama dia, Ki. Mana mungkin gua nggak ketemu dia.”
“Terus dia bilang apa?”
“Dia nggak bilang apa-apa.”
“Huh… kamu kok begitu sih sama aku, De? Kamu nggak terbuka sama aku layaknya sahabat. Padahal aku sayang banget sama kamu, De. Please percaya sama aku, sekali aja.”
Dea tertegun, ia ingat kata-kata itu. Persis dengan kata-kata yang ia lontarkan pada Angel di depan café four season.
“Gua sayang banget sama loe, Njel. Please percaya sama gua, sekali aja.”
Dea menatap Yuki, ia teringat 3 sahabatnya.
“Maafin gua, Ki. Tapi ini belum saatnya loe tahu masalah gua.”
“Tapi kapan, De?”
“Suatu saat nanti, oke?”
“Oke. Dan sekarang aku mau cerita, De.”
Tiba-tiba tingkah Yuki berubah menjadi seorang gadis yang sedang malu-malu. Dea langsung menangkap tingkah itu sebagai tingkah seorang gadis yang ditembak lawan jenisnya.
“Kevin?”
“Iya, dia nembak aku lagi.”
“Terus?”
“Aku terima.”
“Ohya?! Kalian udah jadian dong?!”
“I…iya,” ucap Yuki ragu.
Baru saja Dea mau senang, tapi ia langsung sadar bahwa Yuki masih ragu.
“Kok kelihatannya kamu masih ragu, Ki?”
“Bukan ragu, De. aku takut ngecewain Kevin.”
“Kok ngecewain Kevin?”
“Soalnya aku nggak tahu gimana itu pacaran, aku takut hubungan kita nggak awet.”
“Ya jangan berfikir kayak gitu, Ki. Ucapkanlah sesuatu yang bisa bikin hubungan kalian awet. Juga, kamu harus peka sama perasaan dia. Tapi nggak usah terlalu posesif, oke?”
“Kayaknya kamu udah berpengalaman, De.”
“Belum sebenarnya, tapi kalau liat temen-temen cowokku yang suka curhat, begitulah kuncinya kalau mau awet.”
“Makasih ya, De.”
‘Maafin gua ya, Ki. Gua belum bisa terbuka sama loe,’ sesal Dea dalam hati.
***
Angel dan kedua kawannya terkejut melihat Kiki dan teman-temannya berdiri di belakang mereka. Dengan tatapan mengejek, Kiki melihat puisi terbarunya.
“Gua bisa kok bikin puisi judulnya, Angel. Besok gua akan publis di mading.”
“Beneran, Ki?” Tanya Zeze dan Gaby bersamaan.
“Bener, tunggu aja besok pagi.”
“Nggak usah,” ucap Angel tiba-tiba.
“Lho? Nggak apa-apa to, Njel,” ucap Gaby.
“Kalau bukan karena Dea nggak ada di sini, apalagi alasan loe bisa ngerjain gua?”
“Gua nggak pernah takut sama sahabat loe itu.”
Angel tertawa meremehkan, lalu ia memandang Kiki seketus-ketusnya.
“Jadi loe bener nggak takut sama Dea? Atau liburan nanti gua undang Dea ke Bogor buat ngelawan loe?”
“Loe itu cuman cewek lemah yang bisanya berlindung sama temen-temen loe.”
“Daripada loe, pecundang yang takut sama cewek.”
Zeze dan Gaby langsung menarik Angel menjauh agar tak terjadi kejadian yang tak diinginkan.
***
Rio berjalan melewati koridor indekosnya sambil melamun, memikirkan kata-kata Yuki tadi pagi. “Gua lebih baik dari dia?” Sesekali ia menabrak kawan indekosnya. Setelah dimarahi ia kembali melamun. Sampai Kevin mengagetkannya.
“Rio!”
“Eh! Apa-apa?!”
“Loe bengong, ya?”
“Iya kayaknya.”
“Pantes aja, karena loe nggak sadar udah ngelewatin kamar loe.”
“Hah? Yaampun.”
Rio hendak kembali ke kamarnya sebelum Kevin menarik Rio untuk duduk di teras kamar Kevin.
“Jangan buru-buru, dong.”
“Mau ngapain loe? Gua ngantuk banget.”
“Ngantuk kok masih bisa bengong.”
“Yaudah, cepetan deh.”
“Sabar dikit kenapa sih,” keluh Kevin.
Rio hanya menggerutu sambil terus menguap.
“Gua udah jadian sama Yuki.”
Mata Rio langsung melebar, senyumnnya merekah.
“Akhirnya! Penantian loe selama 3 tahun kesampaian juga!”
“Tapi…”
“Tapi apa lagi sih, Vin? Jelas-jelas Yuki udah nerima cinta loe.”
“Bukan masalah terima nggak terima, Yo. Kalau itu sih gua yakin udah dari kemarin-kemarin Yuki nerima gua. Cuman masalahnya…”
“Please deh, Vin. Jangan kayak cewek gitu, bilang apa aja ke gua, yang penting jangan bikin gua penasaran.”
“Gua tahu dia masih takut nerima cinta gua.”
“Ah, sok tahu.”
“Rio!”
“Iya, Bos. Maaf-maaf, tapi darimana loe tahu?”
“Dari tatapannya ke gua, saat dia nerima cinta gua. Gua juga sebenernya takut, kalau misalnya nanti kita nggak bisa kayak sahabatan.”
“Loe harus yakin sama diri loe sendiri, Vin.”
“Apa gua bisa jagain Yuki…”
“Yuki pasti udah cerita ke Dea, dan Dea pasti udah kasih solusi kalau dia sama takutnya kayak loe. Loe kan anak jurusan psikologi, tentunya loe bisa kasih solusi buat diri loe sendiri, Vin.”
“Kalau tentang beginian gua nggak ahli, Yo. Loe ahli nggak?”
“Gua… uhm, nggak terlalu ahli, bukan berarti nggak ahli, Ya.”
“Terus gimana solusinya, Yo?”
Rio tampak berfikir keras, ia sebenarnya tak tega menasihati Kevin. Karena ia pun selalu berfikir ulang ketika ia berniat mengutarakan perasaannya lagi pada Dea. Ia juga berfikir, apakah ketika pacaran nanti keadaan mereka tak berubah seperti mereka masih bersahabat?
“Arghh! Jangan tanya gua dulu deh, Vin! Gua ngantuk!” Rio langsung lari ke kamarnya tanpa memerdulikan Kevin yang sepertinya ingin menahannya.
“Dasar kutu,” gerutu Kevin.
***
Lintar menatap gadis berkerudung di hadapannya dengan seksama. Gadis itu duduk di samping Ayah dan Ibunya. Begitu juga dirinya. Kedua orang tua mereka masih berbincang ria, Ami rupanya tak sabar melihat Lintar yang diam saja. Ia menunjukan tatapan–kau yang mulai. Lintar menghelakan nafas, lalu menelan ludah karena gugup.
“A…Ayah,” panggil Lintar dengan suara parau.
“Iya, Nak?”
“Li…Lintar ingin bicara tentang… perjodohan Lintar dengan Ami.”
“Oh tentu saja, ada apa, Nak?”
Lintar tak berani menatap wajah Ayahnya yang lembut, jadi ia mengalihkan pandangannya ke Ami. Sekali lagi ia menelan ludah.
“Ami mau bicara.”
Akhirnya Lintar mengalihkannya pada Ami. Ami yang ditunjuk pun terkejut, sambil salah tingkah ia mengambil cangkir tehnya, meneguk isinya lalu kembali menatap sekeliling.
“Se…sepertinya perjodohan ini bukan i…ide yang bagus.”
“Lho? Kenapa? Kalian tidak cocok?” Heran Ibu Ami.
“Bu…bukan begitu, Bu. Tapi aku sudah mempunyai orang lain yang kusukai.”
“Siapa? Kenapa kamu tidak bilang dari awal?” Tanya Ayah Ami. Makin membuat Ami gugup.
“Orang yang dulu 1 SMA dengan Ami, iya kan, Mi?”
Ami menatap Lintar yang membelanya.
“Iya, sebenarnya Lintar sudah tahu kalau Ami sudah punya pacar, tapi Lintar dan Ami tidak berani bilang,” jelas Lintar.
“Siapa namanya, Ami?”
“Septian, ya. Lintar nggak sengaja membacanya di salah satu figura foto di kamar Ami.”
Mata Ami membesar, nafasnya sesak saat mendengar nama itu, matanya berkaca-kaca.
“Bukan, namanya bukan Septian. Tidak, sebenarnya aku tidak punya pacar sama sekali, dan sebenarnya ini hanya candaan kami. Iya kan, Lintar?”
Tatapan Ami memohon agar Lintar meng-iyakan ucapannya.
“Iya, ini hanya candaan kami.”
“Kalian ini tidak boleh bercanda seserius ini, hahahahaha.” Para orang tua tertawa, Lintar dan Ami pun berpura-pura tertawa.
“Ayah-ayah dan Ibu-ibu, Lintar ingin bicara dengan Ami di luar, boleh?”
“Boleh, Nak.”
Lintar berdiri dan langsung menarik Ami ke teras. Setelah beberapa menit berdiam diri, akhirnya Lintar membuka mulut.
“Apa yang kamu lakukan? Bukankah ini yang kamu inginkan? Membatalkan perjodohan kita.”
“Anda nggak pernah tahu, betapa sakitnya saya mendengar nama itu.”
“Siapa? Septian?”
“Dimana Anda menemukan nama itu?”
“Di figura yang berisi fotomu bersama seorang gadis bermata sipit.”
“Sivia…”
Ami berdiri lalu berlari ke kamarnya, mengambil figura itu lalu membawanya keluar. Di dekat Lintar ia mengambil fotonya bersama Sivia, kemudian memberikan bingkainya pada Lintar.
“Bisakah kamu membuangnya untukku?”
“Sekarang bisa berkata aku-kamu padaku?”
“Ini sebagai tanda terimakasihku karena kamu sudah membantuku tadi.”
“Jika kamu mau bercerita padaku, kapan saja aku siap menampungnya.”
“Terimakasih, jangan senang dulu. Yang pasti kamu tidak boleh mengajar di kelasku lagi.”
“Oke.”
Lintar menangkap sosok lain Ami, gadis yang suka marah-marah padanya itu bisa murung karena mendengar 1 nama. Tapi siapa Septian itu? Batin Lintar.

Star from Heaven - DELAPAN

Delapan

YUKI memandangi lampunya yang berbentuk bintang. Lampu yang dihadiahkan Kevin untuknya, beberapa tahun yang lalu. Sudah setengah jam ia memandangi lampu itu. Dea yang tak tahan melihatnya pun menepuk pundaknya.
“Yuki, loe mau sampai kapan mandangin lampu itu?”
“Emang udah berapa jam aku di sini, De?”
“Berapa jam? Jangan-jangan kalau gua nggak ingetin loe, loe bisa di sini lebih lama?”
“Iya, paling lama 2 jam.”
Mata Dea terbelalak, tapi ia langsung tenang. Dea duduk di samping Yuki dan ikut memandangi lampu bintang Yuki.
“Dari siapa, Ki?”
“Kevin…”
“Pantesan.”
“De, aku mau tanya. Tapi kamu jawab yang jujur, ya?”
Dea hanya mengangguk.
“Menurut kamu, Kevin bener-bener suka sama aku… eh, cinta sama aku nggak?”
“Wah, kalau ditanya kayak gitu sih gua nggak bisa langsung nyimpulin, Ki.”
“Menurut penglihatan kamu selama ini aja deh, De.”
“Sekarang gua aja deh yang tanya, yang loe rasain apa saat dia mandang mata loe?”
“Aku merasa, dia mau jagain aku.”
“Dan loe merasa dia sanggup?”
Wajah Yuki bersemu merah, tangannya bergetar ketika ia gugup.
“Aku maunya begitu, De, dan menurutku dia sanggup.”
“Jadi, jalanilah apa yang loe rasa, Ki.”
“Tapi nggak tahu kenapa, aku masih ragu.”
“Ragu kenapa?”
“Aku udah menganggap Kevin sebagai kakakku sendiri, mana mungkin aku bisa mencintai kakakku sendiri?”
“Turunkan sedikit rasa itu, anggap Kevin sebagai sahabat loe. Mungkin itu bisa membuat hati loe lebih terbuka menerimanya.”
“Apa begitu sebaiknya?”
“Gua mau tahu dong, apa aja pengorbanan dia buat loe?”
“Kevin belajar mati-matian demi masuk Universitas ini, dia bilang semua itu demi aku. Padahal semasa SMA, 20 besar pun dia tak pernah masuk.”
Dea terdiam, ingatannya berputar. Dulu ia juga begitu, belajar mati-matian demi masuk SMA Global. Semua itu juga demi Alvin. Dea langsung menggeleng, karena ia tak ingin memikirkan lelaki itu untuk waktu yang lama.
“Yakinlah apa yang ada di hati loe, dan loe akan menemukan jawaban itu dengan sendirinya.”
“De? Kamu nggak apa-apa?” Yuki panik melihat mata Dea berkaca-kaca. Dea langsung memeluk Yuki.
“Yakin, itu kuncinya, Ki.” Suara Dea bergetar, Yuki makin bingung. Tapi ia berusaha tenang agar Dea juga tenang.
“Cup cup cup, jangan menangis, De. Aku di sini akan terus bersamamu.”
“Apa sih salahnya suka sama orang, Ki? Apa sih yang salah saat kita menganggap orang itu segalanya dalam hidup kita?”
“Nggak ada yang salah, De. Mungkin hanya belum saatnya.”
“Gua boong sama orang itu, gua nggak pernah benci sama dia. Tapi gua benci karena gua ngerasa dia akan pergi ninggalin gua selamanya. Entah darimana perasaan itu datang, tapi gua yakin banget.”
“Coba cari orang itu, dan minta maaflah karena kau telah membohonginya. Bisa?”
“…”
***
_flashback_

“Satu, dua, satu, dua!”
“Lari 50 keliling lagi! Ini karena lari kalian melambat! 50 keliling lagi!”
Mendengar perintah itu, Dea menghentikan langkahnya. Mukanya geram, ia prihatin melihat wajah lelah adik-adik kelasnya. Dengan cepat ia memutar balik langkahnya menuju sang ketua klub.
“Loe gila atau sinting sih? Loe nggak bisa liat anak-anak baru itu? Mereka udah lari 25 keliling, dan sekarang loe tambah lagi? Gua nggak terima!”
“Loe atau anak-anak itu yang nggak terima? Sejak kelas 1 udah gua bilang, karate itu keras. Buat apa juga cewek ikutan.”
“Loe emang nggak pernah peka sama perasaan orang lain, ya!”
“Kalau loe mau keluar sekarang, keluar aja!”
Dea terdiam, tangannya mengepal hingga semua kekuatannya tertuju pada 1 titik. Ia ingin meninju anak lelaki di depannya ini, seandainya itu terjadi apakah anak itu akan menghargainya? Akhirnya ia urungkan niatnya dan kembali berlari. Alvin tersenyum tipis, tentu bukan senyum kemenangan.
Seperti yang diperkirakan Dea, beberapa anak tumbang di putaran ke 10. Bukannya lemah, tapi Alvin memang keterlaluan jika menyuruh anak SMP berlari 75 keliling, apalagi areanya adalah lapangan terbesar di SMP Global. Dari 20 peserta klub yang terdiri dari kelas 1 sampai kelas 3, kini tinggal 15 yang bertahan. Dea masih bertahan, ia ingin membuktikan pada anak lelaki itu bahwa dirinya tidak lemah. 30 putaran tinggal 12 orang, dan Dea masih bertahan.
“Vin, loe tega banget nyuruh kita lari 75 keliling. Sumpah parah banget,” ucap teman Alvin.
“Kita lihat, setangguh apa tu cewek.” Seraya menunjuk Dea yang wajahnya sudah pucat.
“Gua nggak habis pikir, katanya loe butuh anak cewek di klub kita, pas udah ada yang minat, loe malah perlakuin dia kayak gini.”
“Loe tahu kan, pas kelas 1, angkatan tu cewek banyak banget yang daftar, eh di tengah jalan malah berhenti. Gua heran kenapa tu cewek betah di klub ini, apa gara-gara dia suka sama gua, ya.”
“Dih, pede banget.”
“Biarin ajalah, menghibur diri.”
45 putaran, tersisa 9 orang. Nafas Dea semakin berat, ia melambatkan langkahnya, Dea mencoba untuk terus menstabilkan nafasnya yang mulai sesak. Dea memang penderita asma walau tidak parah.
“Tinggal 5 putaran, ayo Dea buktikan pada orang itu bahwa kau layak masuk klub ini,” ucapnya dalam hati untuk sekedar memotivasi niatnya.
“Vin, kayaknya tu cewek udah nggak kuat, udahan aja sih. Tinggal 5 putaran lagi ini.”
“Buktinya dia masih lari, kan?”
“Kalau anak orang kenapa-kenapa, gua nggak mau ikut campur!”
Alvin memerhatikan Dea, bukan sekedar memandang, tapi juga berfikir. “Dea pasti bisa. Gua tahu dia cewek yang kuat, itulah kenapa gua suka sama loe.”
***
Langit Singapura pagi ini agak mendung, Alvin memandang langit itu dengan senyuman. Alvin pun membenarkan letak kacamatanya, kacamata yang bulan lalu dibelikan orangtuanya karena mata Alvin perlu penyembuhan dengan kacamata itu.
“Gua jadi inget Dea, anak itu kan suka banget sama hujan dan bintang. Gua jadi bingung sendiri, bukannya kalau langit lagi mendung nggak akan ada bintang? Aneh…”
Alvin mengambil gitarnya, lagu ‘since I found you’ menghiasi ruangan itu, ruangan serba putih yang sudah ia tinggali beberapa bulan ini. Bau obat menyeruak setiap Alvin baru membuka mata, walau sudah diberi pengharum ruangan baunya tetap tak berubah, malah Alvin mual jika bau pengharum ruangan dengan obat bercampur.

since i found you my world seems so brand new
you’ve show me the love i never knew
your presence is what my whole life through
since i found you my life begin so new
now who needs a dream when there is you
for all of my dreams came true
since i found you

Lagu ini menjadi kesukaannya bersama kawan-kawannya di Universitas, juga dengan Dea.
“Aish, kenapa gua mikirin cewek itu terus sih! Belum tentu Dea mikirin gua juga!”
Alvin kembali bernyanyi, tapi berhenti lagi karena tak bisa menghilangkan wajah Dea dari pikirannya.
“Apa dia bener-bener nggak mikirin gua, ya?”
Kepala Alvin mulai pusing, matanya terasa berdenyut. Ia berjalan gontai menuju kasurnya, lalu ia ambil sebuah obat yang bisa meredakan peningnya.
“Sampai kapan gua harus menderita kayak gini, kalau begini terus… apa gua masih bisa ketemu Dea?”
***
_flashback_

Dea terus berlari, “1 putaran lagi, Dea. Jika kau mengacaukan ini, Alvin akan terus mengejekmu!” tersisa 1 pemenang, ia Dea. Gadis itu terus berlari, padahal nafasnya sudah benar-benar sesak. Tekad mengalahkan semuanya, setelah mengalahkan penyakitnya, ia bertekad akan meninju Alvin.
“Cewek itu bersungguh-sungguh mau ngalahin loe.”
“Ya.” Alvin tersenyum, ia senang gadis itu sudah menjadi gadis yang kuat. Berbeda saat Dea pertama kali masuk klub karate, Alvin sangat kesal pada Dea yang sedikit-sedikit menangis, atau mengeluh lelah.
Putaran terakhir, dan Dea berhenti di titik dimana ia memulainya. Kakinya serasa akan lepas, kepalanya sangat pening, dan nafasnya masih sesak.
“Gua menang? Karena gua…” belum selesai Dea menyelesaikan kata-katanya, ia ambruk. Wajahnya yang pucat membuat Alvin sangat cemas, ia langsung menggendong Dea ke Poliklinik sekolah.
***
Tak seperti biasa, Dea ingin memandangi langit malam Jakarta. Ia duduk di teras indekosnya, membawa gitar dan beberapa kertas berisi lagu kesukaannya. Suasana yang sangat sunyi, dalam khayalan tentunya. Kalau sepi bukan Jakarta namanya. Dea coba memejamkan mata untuk merasakan udara di sekitar menyentuh lembut kulitnya. Ia coba menyamakan sentuhan udara itu dengan udara di Bogor. Sama, walau berbeda.
Setelah merasakan udara itu di kulitnya, kini ia menghirup udara itu sedalam-dalamnya, hingga ia tak bisa menghirupnya. Lalu ia hembuskan perlahan. “Dingin…,” desisnya. Tiba-tiba Dea tertawa kecil, mengingat Rio yang memberikan roti basi untuknya. Ia tak menyangka Rio bisa mengerjainya dengan roti basi, untung saja Kevin memboikot tangan Rio saat Rio memberikan roti itu pada Dea. Sambil berteriak “Basi-basi!!”.
“Dasar anak itu,” ucap Dea sambil menahan tawanya yang mulai pecah.
Teringat tentang Rio, ia mengambil sebuah benda dari saku bajunya. Sebuah pin winni the pooh yang Rio berikan bersamaan setelah Rio memberikan roti basi itu.
“Kadang aku berfikir… Rio lebih baik dari Kak Alvin. Setidaknya ia tak pernah menyuruhku melakukan hal yang tidak kusukai.”
Dentingan senar gitar mulai mengalun, mulut Dea membuka hendak melantunkan beberapa nada yang berarti.

since i found you my world seems so brand new
you’ve show me the love i never knew
your presence is what my whole life through
since i found you my life begin so new
now who needs a dream when there is you
for all of my dreams came true
since i found you

“Lagu ini? Ah! Kenapa gua harus mikirin lelaki itu lagi! Belum tentu dia mikirin gua juga!”
Ia kembali bernyanyi, masih dengan lagu yang sama.
“Aish, apa dia nggak mikirin gua, ya? Arggh! Gua bisa gila!”
“Gila kenapa, De?”
“Eh, Yuki. Nggak apa-apa kok.”
“Wajahmu bersemu merah, kamu sakit?”
“Ohya? Muka gua beneran merah?”
“Tapi bohong. Hihi, abisnya kamu bilang lelaki-lelaki terus.”
Dea mengibaskan tangan kanannya–tak usah dipikirkan. Tapi Yuki tak semudah itu menyerah.
“Oiya, tadi siang kok pas aku dateng, kalian bertiga heboh banget?”
“Oh, itu… Rio mau ngerjain gua pakai roti basi, tapi dicegah Kevin. Eh, ternyata habis itu dia ngasih gua pin ini.” Seraya menunjukan pin beruang madu pada Yuki.
“Jadi lelaki itu Rio? Tadi sih aku denger ada nama Rio, tapi juga… siapa? Kak siapa?”
“Please jangan mulai lagi, Yuki.”
“Oke, tapi jawab ya pertanyaanku sejujur-jujurnya? Janji?”
“Nggak janji.”
“Dea.”
Dea diam saja sambil memetik senar gitarnya asal. Yuki hanya tersenyum jahil.
“Orang yang tadi pagi kita bicarakan itu siapa?”
“Yang mana?”
“Yang kamu suka.”
“Oh, itu. Bukan siapa-siapa.”
“Mata kamu bicara lho, De, serem. Dia bilang kalau kamu benar-benar merindukannya.”
“Loe sok tahu banget sih!”
Nada bicara Dea meninggi, karena ia tak suka membicarakan Alvin sejak pertandingan itu. Yuki tahu, bahkan sangat tahu Dea sedang marah.
“Ma… maaf, Dea.”
“Sorry, gua emosi.”
“Ba…baik, sekarang aku nggak akan mengungkit kejadian tadi pagi lagi.”
“Thank’s.”
Ternyata rasa ingin tahu Yuki harus kalah karena bentakan Dea. Ia tak menyangka gadis itu akan sangat marah. Tapi entah kenapa, Yuki masih menemukan hal tersirat dari perkataan Dea tadi.
“Ia benar-benar rindu pada lelaki itu,” gumam Yuki.
***
_flashback_

Dea tersadar dari pingsannya, sinar matahari yang hendak terbenam menembus jendela kamarnya dan membuat matanya sipit. Ia mencoba untuk turun dari tempat tidurnya, ia menggeleng sekali untuk menyadarkan pikirannya.
“Kok gua di sini?”
Kini yang ia ingat hanya, ia berlari 75 keliling di lapangan terbesar SMP Global, dan ketika ia berhenti di depan… “Oh, anak itu! Mana dia? Gua tinju juga tu orang!”
“Mau ninju siapa, De?” suara lembut Mamanya terdengar saat pintu kamarnya terbuka.
“Suara Dea gede banget ya, Ma? Sampai Mama bisa denger dari luar?”
“Iya.”
Mama Dea meletakan segelas air putih dan bubur ayam di meja belajar Dea.
“Oiya, Ma. Kenapa Dea bisa di sini ya? Seinget Dea, tadi Dea masih di sekolah?”
“Teman-teman kamu yang mengantar, pakaiannya kayak anak karate.”
“Mungkin itu anak klub karate, Ma. Lalu mereka bilang apa?”
“Nggak banyak, mereka bilang kamu terserang asma, dan setelah ditangani di UKS kamu langsung dibawa kesini.”
“Nggak banyak, Ma?”
“Iya, tapi ada 1 anak yang wajahnya paling pucat saat nganter kamu.”
“Pucet? Emangnya dia juga sakit?”
“Mungkin cemas, namanya siapa itu ya, pokoknya yang kulitnya paling putih dan matanya paling sipit.”
“Alvin?”
“Iya itu dia!”
“Dih.”
“Kenapa, De? Itu pacar kamu, ya?”
“Nggak mungkin…”
“Lho? Kenapa nggak mungkin? Buktinya kamu digendong sama dia ke kamar, dan dia ngasih nomor teleponnya ke Mama, dia bilang kalau ada apa-apa sama kamu langsung kabarin dia aja. Mungkin dia maklum karena di sini hanya ada perempuan. Paling cowok di rumah ini ya supir kamu itu, De. Tapi tadi pas kamu diantar ke rumah bukan Mama yang nerima, tapi Mbok.”
“Lalu kenapa Mama tahu kalau Alvin yang gendong Dea?”
“Mama langsung pulang saat Mbok menghubungi Mama, dan masih sempat ketemu Alvin. Masalah gendong itu sih diceritain Mbok. Saat Mama tiba, hanya Alvin lho yang setia nunggu Mama.”
“Jangan tertipu sama muka manisnya, Ma. Dia itu serigala berbulu domba.”
“Hahahaha, kamu masih aja inget dongeng itu. Oiya, ini nomor temanmu itu, Mama taruh di sini ya. Mama harus ke kantor lagi.”
“Lho? Kan Dea baru sebentar ketemu Mama.”
“Ada meeting sebentar lagi, Sayang.”
Setelah mengecup Dea, Mama Dea pun meninggalkan Dea sendiri lagi. Padahal Dea sangat senang saat melihat Mamanya menyiapkan makanan untuknya.
“Apa sih yang bikin Mama bisa nemenin gua?”
***
Keesokan paginya di tempat biasa Dea dan teman-temannya berkumpul, Yuki menyuruh Rio untuk datang lebih awal. Yuki ingin bertanya tentang lelaki yang dimaksud Dea.
“Yang bener loe, Ki? Dea bilang gua lebih baik dari cowok yang namanya siapa?”
“Aku juga nggak inget, Yo. Mungkin kamu tahu siapa cowok yang deket sama Dea selain kamu.”
“Dea sih deket sama semua cowok pas di SMA. Heum, masa’ Kiki? Nggak mungkin.”
Rio berpikir, mencoba mengingat lelaki yang dekat lebih dari teman biasa dengan Dea.
“Oh, cowok karate itu. Tapi gua juga nggak tahu namanya, seinget gua dia itu kakak kelas Dea pas SMP.”
“Hubungan Dea sama cowok itu gimana, Yo?”
Rio langsung teringat hari itu, sehari sebelum Dea tak masuk untuk latihan festival. Lelaki itu mengajak Dea pulang bersama, dan Rio tahu pasti ada yang tidak beres dengan hal itu. Pasalnya, aneh juga jika Dea tak masuk untuk menghindar dari lelaki itu? Kalaupun karena lelaki itu menyatakan cintanya pada Dea, Dea tak mungkin sampai menghindarinya.
“Yo?”
“Apa benar, Dea bilang gua lebih baik dari cowok itu?”
“Iya, Rio.”
“Oke, sampai jumpa!”
“Lho? Kok sampai jumpa?”
Rio tak menjawab kebingungan Yuki, ia terus berlari melewati anak-anak fakultasnya menuju kelas pertama.
***
_flashback_

Dea terus memandangi kertas putih berisikan nomor ponsel Alvin.
“Apa bener, ini nomor dia?”
Tak berapa lama dering sms ponsel Dea berbunyi, dengan cepat Dea lihat pengirimnya.
“Gita?”

Lu udah baikan, De?

Lalu Dea membalas

Udah, Ta.

Gita membalas lagi

Alhamdullilah ^^ gua pikir lu luka parah gara-gara tu cowok.

Dahi Dea mengeryit, tapi Dea terus membalas

Ah, gua dilawan. Dia pikir gampang ngeluarin gua dari klub? Ngomong-ngomong, lu liat gua digendong Alvin?

Dea menunggu Gita membalas sms-nya dengan was-was, was-was?

Iya, gua liat kok. Tu cowok langsung gendong lu ke UKS, terus dia tanya ke gua tentang alamat rumah lu, ya gua jawab. Dia bener nganter lu ke rumah? Soalnya gua pulang agak cepet tadi. Maaf ya, De, nggak bisa nganter lu pulang.

Jantung Dea berdegup kencang, ia tak bisa membayangkan kalau Alvin menggendongnya sampai ke UKS, bahkan mengantarkannya ke rumah. Mungkin Alvin bersama teman-temannya, tapi menggendong?

Gua mau tidur dulu ya, Git. Kepala gua pusing banget, bye.

Gita membalas lagi, cukup singkat.

Oke, cepet sembuh ya ^^

Dea hanya bisa tersenyum tanpa membalas sms itu. Kepalanya sekarang memang sedang pusing. Ia tak menyangka lelaki dingin itu bisa berbuat baik juga. Apa karena ia sudah memenangkan 75 putaran itu? Mungkin.

Daftar Blog Saya

Cari Blog Ini