Love is Promise
Indonesia, 14 Juni 2010
Hari kelulusanku dari UI sudah lewat beberapa hari yang lalu, Chan Di berencana kembali ke Korea minggu depan, kami akan berpisah lagi tapi Chan Di berjanji akan sering berkunjung bersama keluarganya. Sebenarnya ia sudah nyaman tinggal di Indonesia selama 5 tahun ini, tapi ia tak bisa memaksa orangtuanya untuk tinggal di sini.
Siang itu, kubuka laptopku dan mulai mencari info tentang perkembangan Super Junior, aku masih ingat berita besar di kalangan penggemar SuJu, yang mengatakan
MANAGER SUPER JUNIOR “NA HYO RIN” MENGUNDURKAN DIRI KARNA MERASA TUGASNYA TELAH SELESAI UNTUK MEMBANGKITKAN SEMANGAT SUPER JUNIOR
Aku cukup kaget membaca berita besar tersebut, tapi coba kutahan demi kebaikan SuJu. Setelah kulihat perkembangan SuJu yang tergolong sangat pesat membuatku juga sangat gembira, mereka bisa bangkit tanpa aku. Walau di awal pemberhentianku mereka sempat vakum beberapa bulan, lalu entah bagaimana, Eul Ra bisa membangkitkan mereka lagi.
Dalam kurun waktu 5 tahun SuJu sudah mengeluarkan 4 album, penampilan mereka juga semakin matang. Penggemar mereka berada di seluruh belahan dunia, aku semakin bangga melihatnya.
Oh iya! Hari ini hari ulang tahun Ryeowook! Dan aku akan memberi kado special lagi untuknya, selama 5 tahun ini aku selalu mengirimi semua member SuJu hadiah ulang tahun. Aku menyamar sebagai penggemar dari Indonesia agar mereka tak tahu identitasku, sebagai big fan aku harus giat menyirami idolaku dengan hadiah, hi hi hi. Masalah mereka membuka hadiah dariku atau tidak, itu masalah nanti, yang penting rasa legaku untuk membahagiakan mereka bisa terlaksana.
Kali ini hadiahku adalah rekaman suara saja, tentang perasaanku sebagai fansnya.
“Annyeong Haseyo Wookie! Aku ingin menyanyikan 1 lagu untukmu, mungkin kau tahu lagu ini, “One spring day” lagu yang kau nyanyikan di album ke-4 SuJu. Aku sangat suka lagu itu, jadi aku akan menyanyikannya untukmu. Maaf ya jika suaraku kurang bagus, lagu ini akan kumainkan dengan permainan pianoku.”
Aku mulai bernyanyi dan bermain piano, lagu itu sungguh menggambarkan pengungkapan perasaanku pada Wookie genap 6 tahun yang lalu, di bukit hijau dengan langit penuh bintang.
^^
“Rinna, Chan Di sudah pulang?” Tanya teman indekosku, Dita.
“Sudah, Dit. Ada apa?”
“Chan Di bilang padaku bahwa ia akan mengajakku ke Korea dan bertemu dengan Super Junior… heum.”
Dita memang sangat menggilai SuJu, aku jadi ingat bagaimana meriahnya saat SuJu konser, mungkin Dita hanya sepersejuta fans SuJu yang kini sudah mendunia, dan Dita termasuk sepersejuta fans yang fanatik terhadap SuJu. Semua informasi dapat miudah ku peroleh dari Dita, gadis 22 tahun itu punya impian untuk bertemu dengan member SuJu terutama Leeteuk sang leader.
“Agustus nanti kita liburan ke Korea, yuk? Bukankah SuJu akan mengadakan Super Show mereka yang ketiga?”
“Benarkah?!”
“Benar,” yakinku.
“Ya Allah, baru kali ini ada orang yang bisa membuatku sangat gembira walau semua ini hanya khayalan.”
“Lho? Khayalan? Bukan, Dita. Aku serius, lagipula bukan hanya menonton SS3 kok, aku ingin mengunjungi teman-temanku di Korea.”
“Ka…kau serius?”
“Duarius deh, menabunglah dari sekarang, kekurangannya akan kutambah, kau nikmati saja liburanmu.”
Dita langsung memelukku, ia menangis bahagia karna impiannya menonton SuJu akan menjadi kenyataan, dan impianku bertemu Ryeowook juga terwujud.
^^
Korea, 14 Juni 2010 – malam
Ryeowook duduk di depan perapian apartemen dan membuka laptopnya, seperti biasa ia selalu men-cek kiriman dari fansnya, terkadang jika kiriman itu menarik untuknya ia akan menyimpan file tersebut bahkan membalasnya. Bukan untuk yang menarik saja, tentu ia berusaha membalas semua kiriman fansnya itu. Ryeowook menunggu sebuah kiriman yang berharga untuknya, kiriman yang mempunyai nama pengirim, ‘R’. Inisial itu membuatnya ingat pada Rinna, cinta yang belum bisa ia ganti hingga kini. Sejak kepergian Rinna ia merasa semua begitu gelap, tak ada putri salju yang senantiasa membangunkannya setiap pagi, membuat sarapan bersamanya, bercerita keluh kesah dengannya. Kali ini pengirim bernama R itu mengirim sebuah rekaman suara berisi lagu “One Spring Day” single pertamanya di album SuJu. Ia mendengar suara R sambil memejamkan mata, membayangkan bahwa R adalah Rinna yang sedang bermain piano dan bernyanyi untuknya. Ia merasa sangat mengenal suara ini, dan ia yakin R adalah Rinna!
“Kyu, boleh aku meminta bantuanmu?” ditemuinya Kyuhyun yang sedang duduk di balkon apartemen.
“Tentu boleh, Wookie.”
“Dengarkan rekaman suara ini dan buat kesimpulan, apakah kau mengenal suara ini?”
Kyuhyun mulai mendengar dan menerka suara siapakah yang menyanyi, dan matanya langsung membesar. Ia terdiam dan perlahan menatap Ryeowook.
“Rinna?”
“Anak itu masih berhubungan dengan kita, ia menjadi big fans SuJu dari Indonesia, setiap tahun ia selalu mengirimi kita hadiah special, ingatkah dengan kotak music yang kau terima dari Indonesia dengan inisial R? Itu dari Rinna! Ia masih bersama kita!”
“Apa lagi rencana anak itu, padahal ia sudah menghilang selama 5 tahun.”
“Kau tidak senang?”
“Aku tak tahu, perasaanku membaur antara senang, sedih, dan kesal. Gadis tidak bertanggung jawab yang telah membangkitkan semangat kita sekaligus mencuri hati 2 personil SuJu itu kini bersama kita? Aku masih ragu.”
“Jangan ragu, Kyu. Ini pasti rencananya agar ia bisa memberi tahu bahwa ia akan kembali bersama kita.”
“Aku jadi ingat kata-kata Eul Ra setelah 2 bulan kita vakum.”
“SuJu harus lebih bersinar agar Rinna bisa melihat usahanya yang berbahaya itu tidak sia-sia, dan kini kita membuktikannya.”
“Menurutmu, apa Rinna akan datang ke SS3?”
“Aku tak tahu, kita sudah menunggunya dari SS1, tapi mudah-mudahan ia datang.”
“Ya, semoga saja. Um, lalu masalahmu dengan Sungmin tentang biola itu bagaimana?”
“Sungmin ingin aku yang memberikan biola itu pada Rinna,” lirih Ryeowook.
Kyuhyun menepuk pundak Ryeowook lalu mengangguk untuk memberi semangat pada Ryeowook.
“Gomawo.”
^^
Agustus pun tiba, Dita dan aku berangkat ke Korea dan tinggal di rumah lamaku. Kami langsung membeli tiket VIP konser SS3. Kini aku tak perlu takut berada di tempat ramai, karna Umma membelikanku sebuah alat yang bisa meminimalkan suara yang masuk ke telingaku saat di tempat ramai. Dan juga di Indonesia Appa mendapat pekerjaan yang cukup baik membuat kami berkecukupan tidak seperti dulu. Setelah membeli tiket, kami mengelilingi bagian luar studio yang akan menjadi tempat konser besar itu. Banyak ELF yang berkumpul di sini, karna nanti sore Super Junior akan mulai latihan di studio. Aku melihat teman-teman SMA berada di antara kerumunan penggemar.
“Shinhyu!” panggilku pada orang yang selama 1 tahun menjadi wakilku sebagai Presiden SMA.
“RInna? Benarkah itu kau?”
Aku mengangguk, Shonhyu memelukku dan mengacak-acak poniku, gadis ini jadi lebih tinggi dariku, padahal dulu ia gempal dan pendek.
“Kenalkan ini Dita temanku dari Indonesia, oh iya tentu ia kurang mengerti bahasa Korea kau bicaralah menggunakan bahasa Inggris.”
“Sip, Hi Unni, my name is Shinhyu, Kim Shinhyu. What’s your name?”
“Hi, namaku Andita Maharani (dalam bahasa Korea), salam kenal.”
“Hah? Katanya Dita tak bisa bahasa Korea, kau ini bagaimana sih Rinna?”
“Hahahaha, aku hanya ingin men-cek bahasa Inggrismu.”
“Dasar kau ini, o iya, kau juga penggemar SuJu, ya?”
“Aku hanya mengantar Dita, karna ia ELF sejati.”
“Kau juga, Rinna. Semua video dan music SuJu ada di laptopmu, bahkan kau selalu memberi kado special setiap ulang tahun member SuJu.”
“Hahaha, itu bukan karna aku suka mereka.”
“Lalu apa?”
“Karna aku ingin terus bersama mereka…”
“Hah? Kau lebih addict!” seru Shinhyu.
“Sudah ah, ngomong-ngomong apa benar SuJu akan datang untuk latihan?”
“Iyap, mungkin sebentar lagi, mereka akan rajin ke sini setiap sore jam 4.”
“Dan kau akan selalu ke sini?”
“Pastinya. Dita, kau temani aku ya setiap sore?”
“Sip! Bagaimana denganmu Rinna?”
“Aku tidak janji.”
Benar saja, tepat jam 16.05 sebuah mobil dengan label Super Junior memasuki lapangan parkir, ELF langsung menyerbu mobil itu begitu juga dengan Shinhyu dan Dita, sedangkan aku? Aku belum siap menemui mereka lagi.
Suasana lapangan parkir sangat ramai, aku rindu saat-saat seperti ini, jika mereka sudah di kerumuni ELF aku selalu melarikan diri dan jika sudah begitu Heecul sering kesal padaku, karna aku tidak menjaga SuJu. 6 bulan yang penuh kenangan, aku kenal mereka sejak mereka merajut kesuksesan mereka masing-masing. Benar-benar berat perjuangan mereka hingga jadi seperti ini. Super Junior pun dijaga oleh beberapa petugas keamanan untuk sampai ke pintu masuk studio, tanpa sadar mataku bertemu dengan mata Leeteuk, ia sontak kaget dan aku langsung lari menjauh. Aku bersembunyi di kerumunan ELF hingga Super Junior masuk ke studio. Aigoo, Leeteuk melihatku, bagaimana ini? Walau aku ingin sekali bertemu mereka, tapi belum saatnya. Aku yakin Eul Ra sudah memberi tahu masalahku pada SuJu, maka dari itu aku tak berani menjelaskan lebih rinci lagi.
^^
“Tadi aku melihat Rinna!”
“Ah, yang benar Teuki?” Tanya Heechul agak tak percaya.
“Benar! Dan kuyakin ia akan menonton SS3!”
Ryeowook terdiam, ia kembali teringat pada senyum Rinna. Kemudian ia melirik Sungmin yang sedang menunduk.
“Hyung, ada apa?”
“Rinna kembali, aku yakin ia telah kembali untuk menepati janjinya pada kita, janjinya untuk terus bersama dan menyayangi SuJu.”
“Janjinya tentang cinta, akan ia tepati setelah 5 tahun. Sungguh waktu yang lama,” gumam Shindong.
“Kita harus tampil semaksimal mungkin 14 Agustus nanti!” seru Leeteuk.
“Yeah! Super JuniOR!” seru semua member Super Junior.
Di balik ruangan tersebut Eul Ra tersenyum karna tahu Rinna telah kembali, ia yakin urusan Rinna telah selesai dan Rinna siap menjadi manager Super Junior lagi.
^^
Malam sehari sebelum konser besar SS3, Kyuhyun diam-diam mengunjungi rumah lama Rinna, mungkin saja Rinna masih tinggal di rumah lamanya. Ia ingin mengatakan sesuatu pada Rinna.
^^
‘tok-tok-tok’
Betapa terkejutnya aku melihat Kyuhyun dengan mantel tebal, syal yang menuutupi sebagian wajahnya dan topi yang menjaga rambutnya agar tak ternoda salju.
“Kyu?”
“Rinna, ini benar-benar kau?”
“I…iya,” lirihku.
Kyu memelukku agak lama, kurasakan air matanya menetes di pundakku, kenapa ia menangis?
“Kyu? Kenapa kau menangis?”
Kyuhyun melepas pelukannya lalu menggenggam tanganku.
“Aku dan teman-teman merindukanmu, kenapa kau menghilang di saat kami sedang gemilang?”
“Bukankah Eul Ra sudah menceritakannya?”
“Eul Ra hanya bilang semua urusanmu sudah selesai, tapi aku tak percaya.”
“Percayalah, karna Eul Ra berkata jujur, masuk dulu Kyu, kita mengobrol di dalam.”
Kyuhyun pun masuk ke rumah masih menggenggam tanganku, kami duduk di ruang tengah, untunglah Dita sudah tidur, jika tidak, ia akan sangat terkejut melihat Kyu di sini.
“Kau kenapa bisa kesini?”
“Apa benar besok kau akan menonton SS3?”
“Iya.”
“Leeteuk tahu kau akan datang, karna ia melihatmu saat hari pertama latihan di studio tempat kami akan tampil.”
“Aku memang kesana, awalnya hanya untuk membeli tiket, tapi temanku yang sangat menggilai Super Junior memintaku untuk menunggu hingga kalian tiba, aku juga melihat Leeteuk, ia terkejut melihatku tapi aku langsung melarikan diri.”
“Bagaimana dengan Appamu? Apa ia sudah di operasi?”
“Sudah.”
“Bagaimana dengan Chan Di?”
“Suatu hal yang mengejutkan, ia memakai identitasku untuk masuk ke Universitas Tokyo, tapi tak semata-mata untuk keberhasilannya, ia ingin memberikanku hadiah beasiswa itu. Dan sebenarnya ia kesal pada dirinya sendiri hingga tak mau bertemu denganku.”
“Lalu, apa kau akan menjadi manager kami lagi?”
“Tidak, aku harus kembali ke Indonesia setelah menonton konser kalian, cukuplah menjadi fans kalian.”
“Tapi kami ingin kau menjadi manager kami lagi, Rinna.”
“Mian, Kyu. Aku tak bisa.”
“Tapi kau harus janji besok setelah konser selesai, kau harus menemui kami. Ini nomorku, jika kau kesulitan mencari kami.”
“Baik.”
“Kau harus berjanji dulu.”
“Ya, aku janji.”
Kyu mengelus rambutku lalu pamit.
^^
Super Show pun dimulai! Dita dan aku duduk di kursi VIP. Kami bisa dengan jelas melihat panggung megah SS3 yang telah kami dambakan untuk melihatnya. Pertunjukan dibuka dengan megah, lagu Sorry Sorry dari album ke2 Super Junior menambah keramaian panggung SS3. Saat lagu Good Person, member SuJu menyebar sesuka hati. Eunhyuk dan Ryeowook menuju ke bagian tempat dudukku. Sontak mereka berdua terkejut melihatku, tapi aku menyuruh mereka tetap bernyanyi untuk ELF. Hingga lagu selesai, mereka masih melihatku, baru saat Yesung memanggil keduanya, mereka pun pergi. Pertunjukan hari ini hampir selesai, aku pun bangkit untuk menepati janjiku pada SuJu. Untuk tetap bersama dan menyayangi mereka, walau tak bisa selalu bersama.
“Kau mau kemana Rinna?”
“Aku ada urusan sebentar, Shinyu, aku titip Dita, ya.”
“Sip.”
Tiba di luar studio, aku langsung mencari kamar berlabel Super Junior. Seorang petugas keamanan menghadangku.
“Fans dilarang masuk,” ucapnya.
Kubuku topi dan syalku, ia petugas keamanan yang sama seperti 5 tahun yang lalu.
“Apa kau lupa padaku?”
“Noo…noona Rinna!?”
“Maaf, Pak. Tapi aku harus segera menemui Super Junior, bisa tunjukan dimana ruangan mereka?”
“Baik, ayo saya antar Noona.”
Petugas itu lalu mengantarkanku hingga tiba di depan ruang rias Super Junior. Ketika hendak memutar gagang pintu, tanganku ditahan seseorang.
“Eul Ra?”
“Kau datang.”
“Ya.”
“Kau siap menjadi manager SuJu lagi?”
“ Tidak, aku harus kembali ke Indonesia setelah konser ini berakhir.”
“Itukah keputusanmu?”
“Iya,” yakinku sambil mengangguk.
“Baiklah.”
Ku putar gagang pintu, Super Junior yang sedang beristirahat langsung diam. Mereka tak percaya jika yang sedang berdiri ini adalah aku.
“Ri…Rinna?” Tanya Leeteuk. Aku mengangguk.
Ryeowook berlari dan langsung memelukku, member lain ikut memelukku, aku sampai susah nafas. Tapi aku bahagia hingga airmataku meleleh.
“Rinna!! Kau kembali!!” seru Sungmin.
“Maafkan aku karna aku tiba-tiba saja menghilang.”
“Tak apa, yang penting sekarang kau kembali!” seru Eunhyuk.
“Dan sekarang kau siap menjadi manager kami lagi?” Tanya Shindong.
“Maaf lagi, aku tak bisa bersama kalian seperti dulu, sekarang aku tinggal di Indonesia, dan di Indonesia aku bisa berkumpul dengan keluargaku.”
“Jadi kau akan meninggalkan kami lagi?” Tanya Yesung.
“Tidak sepenuhnya, kita masih bisa berhubungan lewat internet.”
“Lalu ada 1 masalah lagi, kau belum menjawab pertanyaanku saat kita di Villa,” ucap Sungmin. Tentu aku masih ingat pertanyaan itu, karna 2 kali Sungmin bertanya hal tersebut.
“Maafkan aku, Sungmin. Aku tidak bisa mencintaimu lebih dari sahabat, begitu juga dengan semua member Super Junior.”
“Apa karna kau sudah punya orang lain di Indonesia?” Tanya Eunhyuk.
“Ya, di Indonesia aku sudah bertunangan dengan seseorang, maafkan aku.”
“Lalu Wookie? Cinta pertamamu?” Tanya Sungmin.
“Aku juga akan berusaha mencintai Wookie sama seperti kalian.”
Walau berat, akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutku. Di dalam hatiku, aku masih mencintai Wookie, tapi aku sudah mengikat hatiku pada orang yang telah kupilih di Indonesia.
“Tak apa! Kami tetap bahagia karna melihatmu masih sehat dan bertambah dewasa,” ucap Donghae.
“Kalian harus tetap bersinar seperti ini, aku akan terus bersama kalian di sini,” ucapku seraya menunjuk bagian tubuh penyimpan hati.
Kyuhyun merangkulku, kami pun mulai bernyanyi bersama, lagu “Miracle”. Sama seperti saat kami liburan di Villa. Semua kenangan pun seperti tergambar lagi di benak kami. Mungkin ini pertemuan terakhir kami, karna aku tak tahu kapan kembali ke Korea. Tapi yang kutahu, kami telah menetapkan hati kami untuk terus bersama. Bersama cinta yang telah kami ikat dengan janji.
Minggu, 15 Mei 2011
Love is Promise chap.9 (Endless Friendship II)
Endless Friendship II
Beberapa jam kemudian, akhirnya aku tiba di depan rumah Chan Di. Ku helakan nafas cukup panjang dan memandang sebuah taman yang cukup besar di samping rumah Chan Di. Aku masih ingat saat kami bermain dengan air hujan yang mampu menghapus seluruh kesedihan kami. Aku ingat air mataku yang jatuh di hari perpisahan kami, pelukan hangat yang kuberikan pada Chan DI sekarang begitu terasa hampa. Semua terasa sepi, gelap dan sakit, sakit sekali di hati ini.
Lagi, kulangkahkan kakiku ke rumah ini, rumah yang sering kukunjungi untuk bertemu dengan sahabatku.
‘tok-tok-tok’ kuketuk pintu rumah Chan Di.
Pintu pun dibuka, seorang lelaki paruh baya yang kuyakini Ayah Chan Di menyambut kedatanganku.
“Rinna? Benarkah itu kau?”
Ku lepas kacamata hitamku.
“Benar, Paman. Ini aku Rinna. Chan Di ada?”
“A…ada, mari masuk.”
Ayah Chan Di terlihat gugup saat mengantarku, beliau mengantarku ke taman belakang rumahnya. Terlihat Chan Di sedang melukis seperti hobinya. Ayah Chan Di menyuruhku sendirian mendekati Chan Di. Aku melangkah perlahan, aku sangat merindukannya karna berbulan-bulan tak bertemu dengannya. Ia tak sadar akan kedatanganku, sedikit kuintip lukisannya. Aku tahu lekuk wajah itu, gaya rambut itu, seragam itu. Karna lukisan itu adalah aku. Chan Di menggambarku? Untuk apa?
“Gi… Gil Chan Di.”
Tangan Chan Di terhenti, ia terdiam dan perlahan menoleh ke arahku. Matanya sayu, ia terlihat sangat lelah.
“Ri…Rinna? Apa itu kau?”
Aku mengangguk pelan, ia langsung menjatuhkan kuasnya dan berlari memelukku. Sangat erat.
“Jangan, jangan pernah pergi dariku.”
Gadis itu mulai terisak.
“Ada apa denganmu, Chan Di?”
“Tak ada yang dapat kubenci selain diriku sendiri.”
“Maksudmu apa, Chan Di?”
“Kau bukan pecundang, akulah yang pecundang.”
Chan Di meregangkan pelukannya, ia menatap mataku dalam hingga hatiku. Ia lalu mengenggam tanganku dan mengajakku duduk di depan lukisannya.
“Perkataanku beberapa bulan yang lalu bukanlah untukmu, tapi untukku. Aku telah gagal memberikan hadiah terakhir untukmu sebelum kita berpisah.”
“Hadiah apa itu?”
“Beasiswa ke Jepang.”
Jantungku seperti berhenti berdetak, apa maksudnya Chan Di?
“Sebenarnya aku ingin terus terang padamu di hari pengumuman tempo lalu, tapi hatiku terlanjur hancur ketika sadar aku tak bisa membahagiakanmu. Setelah upacara perpisahan, kau memberiku hadiah dengan naik ke panggung dan memberiku semangat untuk beasiswa itu. Tapi aku sadar, mimpiku terlalu tinggi jika bisa mendapatkan beasiswa itu, aku pun tak berniat masuk ke Universitas Tokyo, semua seruanku tersirat untukmu. Aku yang sebenarnya ingin memberi semangat untukmu, tapi kau masih memberiku kesempatan untuk ikut terlebih dahulu. Di sana aku sadar, aku tak bisa diam membiarkan potensimu, jadi aku memakai identitasmu dan prestasimu untuk masuk Universitas Tokyo. Dan jika berhasil, aku ingin kau yang melanjutkan perjuanganku. Itu hadiah untukmu Rinna. Maafkan aku karna aku gagal mendapatkannya untukmu. Sampai kapanpun aku tak bisa percaya pada siapapun selain keluargaku dan kau. Ingatlah, kata pecundang itu bukan untukmu. Tapi untukku.”
“Kau bukan pecundang, Chan Di. Akulah yang pecundang, membiarkan sahabatku depresi hanya untuk kebodohanku yang tidak sadar akan seruanmu.”
“Jangan menghilang lagi, Rinna. Jika kau ingin pergi kau harus pamit padaku!”
“Aku akan selalu disampingmu, dan kita akan masuk ke Universitas yang sama tahun depan.”
“Terimakasih, Rinna.”
“You are my Endless friend.”
“So you’re.”
Sesuai janjiku pada Eul Ra, jika aku sudah menemukan kata itu lagi, aku akan berhenti dan membiayai operasi Appa dengan uangku sendiri. Tapi aku sangat mengenal Eul Ra, ia orang yang keras kepala. Ia masih saja membiayai pengobatan Appa.
Akhirnya beberapa hari setelah operasi Appa, Appa mengajakku ke Indonesia untuk tinggal di sana, maksud Appa agar aku juga bisa dekat dengan Umma. Aku dan Chan Di juga akan kuliah di Indonesia, kuajari Chan Di bahasa Indonesia yang baku, ia cepat belajar karna hanya 2 bulan saja ia sudah lancar menerjemahkan huruf hangul menjadi huruf alphabet dan fasih berbahasa Indonesia. Kami juga kursus Bahasa Inggris lebih dalam selama 3 bulan baru di bulan terakhir kami focus untuk belajar pelajaran di Indonesia, kami akan mengambil bidang MIPA di Universitas Indonesia. Oiya, Hanna juga telah menjadi bagian keluarga kami, Appa mengangkat Hanna sebagai anak angkat, dan kami akan pindah ke Indonesia bersama.
Di tengah kesibukan kami, ada 1 hal yang selalu kuingat. Janjiku pada Super Junior untuk tidak meninggalkan mereka.
Beberapa jam kemudian, akhirnya aku tiba di depan rumah Chan Di. Ku helakan nafas cukup panjang dan memandang sebuah taman yang cukup besar di samping rumah Chan Di. Aku masih ingat saat kami bermain dengan air hujan yang mampu menghapus seluruh kesedihan kami. Aku ingat air mataku yang jatuh di hari perpisahan kami, pelukan hangat yang kuberikan pada Chan DI sekarang begitu terasa hampa. Semua terasa sepi, gelap dan sakit, sakit sekali di hati ini.
Lagi, kulangkahkan kakiku ke rumah ini, rumah yang sering kukunjungi untuk bertemu dengan sahabatku.
‘tok-tok-tok’ kuketuk pintu rumah Chan Di.
Pintu pun dibuka, seorang lelaki paruh baya yang kuyakini Ayah Chan Di menyambut kedatanganku.
“Rinna? Benarkah itu kau?”
Ku lepas kacamata hitamku.
“Benar, Paman. Ini aku Rinna. Chan Di ada?”
“A…ada, mari masuk.”
Ayah Chan Di terlihat gugup saat mengantarku, beliau mengantarku ke taman belakang rumahnya. Terlihat Chan Di sedang melukis seperti hobinya. Ayah Chan Di menyuruhku sendirian mendekati Chan Di. Aku melangkah perlahan, aku sangat merindukannya karna berbulan-bulan tak bertemu dengannya. Ia tak sadar akan kedatanganku, sedikit kuintip lukisannya. Aku tahu lekuk wajah itu, gaya rambut itu, seragam itu. Karna lukisan itu adalah aku. Chan Di menggambarku? Untuk apa?
“Gi… Gil Chan Di.”
Tangan Chan Di terhenti, ia terdiam dan perlahan menoleh ke arahku. Matanya sayu, ia terlihat sangat lelah.
“Ri…Rinna? Apa itu kau?”
Aku mengangguk pelan, ia langsung menjatuhkan kuasnya dan berlari memelukku. Sangat erat.
“Jangan, jangan pernah pergi dariku.”
Gadis itu mulai terisak.
“Ada apa denganmu, Chan Di?”
“Tak ada yang dapat kubenci selain diriku sendiri.”
“Maksudmu apa, Chan Di?”
“Kau bukan pecundang, akulah yang pecundang.”
Chan Di meregangkan pelukannya, ia menatap mataku dalam hingga hatiku. Ia lalu mengenggam tanganku dan mengajakku duduk di depan lukisannya.
“Perkataanku beberapa bulan yang lalu bukanlah untukmu, tapi untukku. Aku telah gagal memberikan hadiah terakhir untukmu sebelum kita berpisah.”
“Hadiah apa itu?”
“Beasiswa ke Jepang.”
Jantungku seperti berhenti berdetak, apa maksudnya Chan Di?
“Sebenarnya aku ingin terus terang padamu di hari pengumuman tempo lalu, tapi hatiku terlanjur hancur ketika sadar aku tak bisa membahagiakanmu. Setelah upacara perpisahan, kau memberiku hadiah dengan naik ke panggung dan memberiku semangat untuk beasiswa itu. Tapi aku sadar, mimpiku terlalu tinggi jika bisa mendapatkan beasiswa itu, aku pun tak berniat masuk ke Universitas Tokyo, semua seruanku tersirat untukmu. Aku yang sebenarnya ingin memberi semangat untukmu, tapi kau masih memberiku kesempatan untuk ikut terlebih dahulu. Di sana aku sadar, aku tak bisa diam membiarkan potensimu, jadi aku memakai identitasmu dan prestasimu untuk masuk Universitas Tokyo. Dan jika berhasil, aku ingin kau yang melanjutkan perjuanganku. Itu hadiah untukmu Rinna. Maafkan aku karna aku gagal mendapatkannya untukmu. Sampai kapanpun aku tak bisa percaya pada siapapun selain keluargaku dan kau. Ingatlah, kata pecundang itu bukan untukmu. Tapi untukku.”
“Kau bukan pecundang, Chan Di. Akulah yang pecundang, membiarkan sahabatku depresi hanya untuk kebodohanku yang tidak sadar akan seruanmu.”
“Jangan menghilang lagi, Rinna. Jika kau ingin pergi kau harus pamit padaku!”
“Aku akan selalu disampingmu, dan kita akan masuk ke Universitas yang sama tahun depan.”
“Terimakasih, Rinna.”
“You are my Endless friend.”
“So you’re.”
Sesuai janjiku pada Eul Ra, jika aku sudah menemukan kata itu lagi, aku akan berhenti dan membiayai operasi Appa dengan uangku sendiri. Tapi aku sangat mengenal Eul Ra, ia orang yang keras kepala. Ia masih saja membiayai pengobatan Appa.
Akhirnya beberapa hari setelah operasi Appa, Appa mengajakku ke Indonesia untuk tinggal di sana, maksud Appa agar aku juga bisa dekat dengan Umma. Aku dan Chan Di juga akan kuliah di Indonesia, kuajari Chan Di bahasa Indonesia yang baku, ia cepat belajar karna hanya 2 bulan saja ia sudah lancar menerjemahkan huruf hangul menjadi huruf alphabet dan fasih berbahasa Indonesia. Kami juga kursus Bahasa Inggris lebih dalam selama 3 bulan baru di bulan terakhir kami focus untuk belajar pelajaran di Indonesia, kami akan mengambil bidang MIPA di Universitas Indonesia. Oiya, Hanna juga telah menjadi bagian keluarga kami, Appa mengangkat Hanna sebagai anak angkat, dan kami akan pindah ke Indonesia bersama.
Di tengah kesibukan kami, ada 1 hal yang selalu kuingat. Janjiku pada Super Junior untuk tidak meninggalkan mereka.
Love is Promise chap.8 (Tell me About Faithful)
Tell me about Faithful
Paginya…
“Kau ini kenapa, Sungmin?!” seru Wookie yang terjatuh karna Sungmin meninju wajahnya. Aku ingin menghentikan keduanya, tapi Yari menghalangi.
“Aku ingin melerai mereka!”
“Jangan dulu, Rinna. Ini bahaya.”
Sungmin dan Wookie terus berkelahi, mendadak tubuhku lemas, telingaku terasa sakit luar biasa, aku langsung memegangi kedua telingaku, tapi bukan saja telinga, pandanganku juga memudar dan akhirnya semua gelap.
“Yari, tolong antar aku ke rumah sakit,” bisikku.
“Kau kenapa Rinna?” panik Yari.
“A…ayo, cepat.”
Aku benar-benar sudah tak kuat, Yari memapahku ke mobil, suasana menjadi hening, entah karna telingaku sudah tak berfungsi atau mereka sudah berhenti. Aku sudah mati rasa, aku hanya bisa berharap semua akan baik-baik saja.
^^
Yari memapah Rinna ke mobil, Sungmin dan Wookie berhenti berkelahi dan mengejar Rinna.
“Yari, mau kau bawa kemana Rinna?” Tanya Wookie.
“Kami akan ke rumah sakit, sebaiknya kalian jangan ikut!” marah Yari.
Selepas kepergian Rinna dan Yari.
“Sungmin, kenapa kau memukulku tiba-tiba seperti itu?”
“Karna aku takkan membiarkan siapapun mendekati Rinna, walau ia sahabatku.”
“Appa maksudmu?”
“Kemana kalian semalam?”
“I…itu.”
“Kau kan tahu aku menyukai Rinna, tapi kenapa?”
“Kemarin Rinna dan aku merayakan ulang tahunku, aku pun tak tahu sebelumnya ia punya kejutan seperti tadi malam.”
“Benarkah? Walaupun itu benar, aku akan terus mengawasimu.”
^^
Setibanya di rumah sakit, Yari segera kuarahkan ke ruang dokter yang biasa menanganiku. Dokter tersebut segera menanganiku, ia memberikan obat yang rasanya sangat pahit. Setelah meminum obat itu, beberapa menit kemudian mataku mulai berfungsi tapi telingaku masih tuli. Alhasil dokter berkomunikasi denganku lewat tulisan.
“Ada apa denganmu Rinna? Bukankah beberapa hari yang lalu keadaanmu membaik?”
“Aku juga tidak tahu, Dokter. Tiba-tiba saja telingaku sangat sakit dan mataku tak berfungsi.”
“Sebaiknya kau jaga kesehatanmu dan jangan terlalu banyak stress, itu akan mempengaruhi kesehatanmu juga.”
“Baik, Dokter.”
Yari dan aku keluar lalu menuju mobil, Yari langsung mengintrogasiku dengan berbagai pertanyaan. Ia mulai menulis beberapa pertanyaan, dan dengan agak segan aku menjawabnya.
“Rinna, sebenarnya ada apa denganmu?”
“Aku memang memiliki kelainan di organ dalam telingaku.”
“Penyakit ini pasti kambuh karna tekanan tadi pagi, kan?”
“Mungkin, Yari. Aku mohon jangan beritahu siapapun tentang penyakitku.”
“Baik, yang penting aku akan menjagamu.”
“Gomawo, Yari.”
Yari mengelus rambutku, lalu mulai menjalankan mobilnya menuju Villa.
^^
Kami akhirnya sampai di Villa, kulihat isi Villa sangat bersih. Sungmin menghampiriku.
“Maafkan aku dan Ryeowook, kami tidak akan bekelahi lagi.”
“Ingat, kalian adalah 1.”
“Kami akan tetap bersahabat,” yakin Sungmin. Aku tak sedikitpun merasa lega, karna apa? Karna aku merasa masalah ini akan semakin rumit, dan mungkin aku harus menyelesaikannya. Rinna, tinggal 6 bulan lagi dan kau akan pergi dari kehidupan mereka. Selama 6 bulan ini aku harus menjauh dari keduanya, aku harus bisa! Jangan pecah hanya karna hal konyol ini SuJu!
^^
Masa liburan pun berakhir, member SuJu kembali harus mendalami profesi mereka, kejadian sehari setelah ulang tahun Ryeowook itu telah terlupakan hampir seluruhnya. Dan sekarang aku harus lebih focus untuk membuat mereka terkenal.
^^
“Rinna, kau dipanggil Eul Ra.”
“Terimakasih.”
Malam itu adalah hari tampil SuJu di Jepang, apakah Eul Ra akan memarahiku karna pekerjaanku tidak baik? Ah, tidak mungkin. Semua orang bilang penampilan SuJu semakin membaik dari hari ke hari. Apa Eul Ra akan memujiku? Mungkin juga, tapi aku tak boleh berharap banyak. Beberapa langkah dan akhirnya aku tiba di ruangan Eul Ra.
“Unni memanggil saya?”
“Ya, masuklah. Ada hal penting yang harus kita bicarakan.”
Aku masuk dan duduk di hadapannya. Eul Ra langsung mengeluakan sebuah formulir masuk Universitas tahun ini. Dan… apa itu?! Identitasku?
“Park Seo Rin? Kau punya nama berapa sih? Dan identitasmu di sini, palsu ya?”
“U…unni, aku benar-benar tak tahu tentang hal ini. Aku tak pernah mendaftar untuk masuk universitas tahun ini, kau pun tahu aku ini sudah S1 di salah satu Universitas Korea. Bagaimana bisa aku membuang waktuku untuk ikut pendaftaran itu.”
“Bisa, dengan kegagalanmu masuk ke universitas Tokyo, kau berusaha mendapatkan uang untuk masuk ke universitas Tokyo dengan biayamu sendiri, bahkan lewat uang suapan. Ini kejahatan yang tak termaafkan.”
“Tidak, Unni! Aku tak pernah punya maksud seperti itu! Aku juga tak mengerti kenapa ada formulir berisi identitas seperti itu! Namanya saja sudah beda, kenapa kau berkesimpulan itu aku?”
“Karna aku mencari anak 17 tahun yang bernama Park Seo Rin, lulusan SMA Kita dengan prestasi berlimpah. Kau tidak ingat bahwa aku adalah panitia lomba puisi saat kau kelas 2, dank au menjadi juara 1.”
“Eul Ra, aku mohon. Jangan pecat aku, aku melakukan ini demi Appa dan Chan Di sahabatku, aku tak pernah mendaftar ke Universitas Tokyo, aku berani bersumpah.”
“Aku tahu semua tentangmu, maka aku akan menyelamatkanmu.”
“Maksudmu?”
“Aku tahu tentang Chan Di, ialah yang memalsukan identitasnya demi masuk ke Universitas Tokyo. Dan Appamu, aku tahu ia sedang sakit jantung dan harus di operasi secepatnya. Maka, untuk masalah Appamu aku saja yang menangani. Sekarang kau harus berhenti dari SM Entertainmen sebelum kebohonganmu terbongkar media massa.”
“Ta…tapi, apa tidak sebaiknya kau sembunyikan saja identitasku? Aku masih ingin mendengar Chan Di percaya padaku.”
“Kau ini manusia atau malaikat sih, Rinna! Chan Di itu sudah memanfaatkan prestasimu! Bayangkan jika ia diterima, bagaimana denganmu tahun depan? Tak ada satupun universitas yang akan menerimamu, bahkan masalah akan semakin runyam.”
“Unni, kau tak pernah tahu perasaanku. Aku ingin sekali mendengar Chan Di berkata padaku, ‘aku percaya kamu’. Hanya itu, tak lebih.”
“Aku beri waktu padamu 1 minggu, selesaikan masalahmu dengan Chan Di, setelah masalah itu selesai kau kembali padaku dan putuskan jalan kerjamu, apakah lanjut atau selesai di sini.”
“Baik, aku akan berusaha keras, setelah kata percaya itu kembali padaku, aku akan berhenti. Dan Unni tak usah membiayai operasi Appa, aku sudah punya cukup uang untuk operasi Appa. Gomawo untuk semuanya. Dan satu lagi, jika aku harus berhenti dari sini, tolong katakan pada member SuJu, pekerjaanku sudah selesai untuk membangkitkan semangat mereka.”
“Kau tidak apa-apa?”
“Ani, aku tadi sudah bilang, aku akan berusaha keras mendapatkan kata itu. Percaya.”
“Rinna, tanyakan pada Chan Di, apa arti kesetiaan.”
Aku hanya mengangguk, karna pertanyaan itu pula yang ingin kutanyakan pada Chan Di. Langkahku melaju cepat meninggalkan studio, dan segera kembali ke Korea untuk mendapat kesetiaan.
Paginya…
“Kau ini kenapa, Sungmin?!” seru Wookie yang terjatuh karna Sungmin meninju wajahnya. Aku ingin menghentikan keduanya, tapi Yari menghalangi.
“Aku ingin melerai mereka!”
“Jangan dulu, Rinna. Ini bahaya.”
Sungmin dan Wookie terus berkelahi, mendadak tubuhku lemas, telingaku terasa sakit luar biasa, aku langsung memegangi kedua telingaku, tapi bukan saja telinga, pandanganku juga memudar dan akhirnya semua gelap.
“Yari, tolong antar aku ke rumah sakit,” bisikku.
“Kau kenapa Rinna?” panik Yari.
“A…ayo, cepat.”
Aku benar-benar sudah tak kuat, Yari memapahku ke mobil, suasana menjadi hening, entah karna telingaku sudah tak berfungsi atau mereka sudah berhenti. Aku sudah mati rasa, aku hanya bisa berharap semua akan baik-baik saja.
^^
Yari memapah Rinna ke mobil, Sungmin dan Wookie berhenti berkelahi dan mengejar Rinna.
“Yari, mau kau bawa kemana Rinna?” Tanya Wookie.
“Kami akan ke rumah sakit, sebaiknya kalian jangan ikut!” marah Yari.
Selepas kepergian Rinna dan Yari.
“Sungmin, kenapa kau memukulku tiba-tiba seperti itu?”
“Karna aku takkan membiarkan siapapun mendekati Rinna, walau ia sahabatku.”
“Appa maksudmu?”
“Kemana kalian semalam?”
“I…itu.”
“Kau kan tahu aku menyukai Rinna, tapi kenapa?”
“Kemarin Rinna dan aku merayakan ulang tahunku, aku pun tak tahu sebelumnya ia punya kejutan seperti tadi malam.”
“Benarkah? Walaupun itu benar, aku akan terus mengawasimu.”
^^
Setibanya di rumah sakit, Yari segera kuarahkan ke ruang dokter yang biasa menanganiku. Dokter tersebut segera menanganiku, ia memberikan obat yang rasanya sangat pahit. Setelah meminum obat itu, beberapa menit kemudian mataku mulai berfungsi tapi telingaku masih tuli. Alhasil dokter berkomunikasi denganku lewat tulisan.
“Ada apa denganmu Rinna? Bukankah beberapa hari yang lalu keadaanmu membaik?”
“Aku juga tidak tahu, Dokter. Tiba-tiba saja telingaku sangat sakit dan mataku tak berfungsi.”
“Sebaiknya kau jaga kesehatanmu dan jangan terlalu banyak stress, itu akan mempengaruhi kesehatanmu juga.”
“Baik, Dokter.”
Yari dan aku keluar lalu menuju mobil, Yari langsung mengintrogasiku dengan berbagai pertanyaan. Ia mulai menulis beberapa pertanyaan, dan dengan agak segan aku menjawabnya.
“Rinna, sebenarnya ada apa denganmu?”
“Aku memang memiliki kelainan di organ dalam telingaku.”
“Penyakit ini pasti kambuh karna tekanan tadi pagi, kan?”
“Mungkin, Yari. Aku mohon jangan beritahu siapapun tentang penyakitku.”
“Baik, yang penting aku akan menjagamu.”
“Gomawo, Yari.”
Yari mengelus rambutku, lalu mulai menjalankan mobilnya menuju Villa.
^^
Kami akhirnya sampai di Villa, kulihat isi Villa sangat bersih. Sungmin menghampiriku.
“Maafkan aku dan Ryeowook, kami tidak akan bekelahi lagi.”
“Ingat, kalian adalah 1.”
“Kami akan tetap bersahabat,” yakin Sungmin. Aku tak sedikitpun merasa lega, karna apa? Karna aku merasa masalah ini akan semakin rumit, dan mungkin aku harus menyelesaikannya. Rinna, tinggal 6 bulan lagi dan kau akan pergi dari kehidupan mereka. Selama 6 bulan ini aku harus menjauh dari keduanya, aku harus bisa! Jangan pecah hanya karna hal konyol ini SuJu!
^^
Masa liburan pun berakhir, member SuJu kembali harus mendalami profesi mereka, kejadian sehari setelah ulang tahun Ryeowook itu telah terlupakan hampir seluruhnya. Dan sekarang aku harus lebih focus untuk membuat mereka terkenal.
^^
“Rinna, kau dipanggil Eul Ra.”
“Terimakasih.”
Malam itu adalah hari tampil SuJu di Jepang, apakah Eul Ra akan memarahiku karna pekerjaanku tidak baik? Ah, tidak mungkin. Semua orang bilang penampilan SuJu semakin membaik dari hari ke hari. Apa Eul Ra akan memujiku? Mungkin juga, tapi aku tak boleh berharap banyak. Beberapa langkah dan akhirnya aku tiba di ruangan Eul Ra.
“Unni memanggil saya?”
“Ya, masuklah. Ada hal penting yang harus kita bicarakan.”
Aku masuk dan duduk di hadapannya. Eul Ra langsung mengeluakan sebuah formulir masuk Universitas tahun ini. Dan… apa itu?! Identitasku?
“Park Seo Rin? Kau punya nama berapa sih? Dan identitasmu di sini, palsu ya?”
“U…unni, aku benar-benar tak tahu tentang hal ini. Aku tak pernah mendaftar untuk masuk universitas tahun ini, kau pun tahu aku ini sudah S1 di salah satu Universitas Korea. Bagaimana bisa aku membuang waktuku untuk ikut pendaftaran itu.”
“Bisa, dengan kegagalanmu masuk ke universitas Tokyo, kau berusaha mendapatkan uang untuk masuk ke universitas Tokyo dengan biayamu sendiri, bahkan lewat uang suapan. Ini kejahatan yang tak termaafkan.”
“Tidak, Unni! Aku tak pernah punya maksud seperti itu! Aku juga tak mengerti kenapa ada formulir berisi identitas seperti itu! Namanya saja sudah beda, kenapa kau berkesimpulan itu aku?”
“Karna aku mencari anak 17 tahun yang bernama Park Seo Rin, lulusan SMA Kita dengan prestasi berlimpah. Kau tidak ingat bahwa aku adalah panitia lomba puisi saat kau kelas 2, dank au menjadi juara 1.”
“Eul Ra, aku mohon. Jangan pecat aku, aku melakukan ini demi Appa dan Chan Di sahabatku, aku tak pernah mendaftar ke Universitas Tokyo, aku berani bersumpah.”
“Aku tahu semua tentangmu, maka aku akan menyelamatkanmu.”
“Maksudmu?”
“Aku tahu tentang Chan Di, ialah yang memalsukan identitasnya demi masuk ke Universitas Tokyo. Dan Appamu, aku tahu ia sedang sakit jantung dan harus di operasi secepatnya. Maka, untuk masalah Appamu aku saja yang menangani. Sekarang kau harus berhenti dari SM Entertainmen sebelum kebohonganmu terbongkar media massa.”
“Ta…tapi, apa tidak sebaiknya kau sembunyikan saja identitasku? Aku masih ingin mendengar Chan Di percaya padaku.”
“Kau ini manusia atau malaikat sih, Rinna! Chan Di itu sudah memanfaatkan prestasimu! Bayangkan jika ia diterima, bagaimana denganmu tahun depan? Tak ada satupun universitas yang akan menerimamu, bahkan masalah akan semakin runyam.”
“Unni, kau tak pernah tahu perasaanku. Aku ingin sekali mendengar Chan Di berkata padaku, ‘aku percaya kamu’. Hanya itu, tak lebih.”
“Aku beri waktu padamu 1 minggu, selesaikan masalahmu dengan Chan Di, setelah masalah itu selesai kau kembali padaku dan putuskan jalan kerjamu, apakah lanjut atau selesai di sini.”
“Baik, aku akan berusaha keras, setelah kata percaya itu kembali padaku, aku akan berhenti. Dan Unni tak usah membiayai operasi Appa, aku sudah punya cukup uang untuk operasi Appa. Gomawo untuk semuanya. Dan satu lagi, jika aku harus berhenti dari sini, tolong katakan pada member SuJu, pekerjaanku sudah selesai untuk membangkitkan semangat mereka.”
“Kau tidak apa-apa?”
“Ani, aku tadi sudah bilang, aku akan berusaha keras mendapatkan kata itu. Percaya.”
“Rinna, tanyakan pada Chan Di, apa arti kesetiaan.”
Aku hanya mengangguk, karna pertanyaan itu pula yang ingin kutanyakan pada Chan Di. Langkahku melaju cepat meninggalkan studio, dan segera kembali ke Korea untuk mendapat kesetiaan.
Love is Promise chap.7 (Only for You)
Only for You
3 hari berlalu sangat cepat, hari ini aku harus menyusul teman-teman SuJu di Villa. Sebelum pergi aku menceramahi Appa agar ia menurut pada perintah Han yang positif, lalu kupeluk tubuh Appa erat, karna aku akan meninggalkannya lagi. 3 hari yang sungguh berarti untukku, Appa, dan Han.
Aku berjalan ke jalan raya, sesekali menengok ke belakang malihat bayangan Appa dan Han yang mengecil, seketika aku lupa pada penyakitku, tubuhku makin bugar, heum… mungkin aku sudah sembuh, dan akan kupastikan itu semua.
Sebelum ke Villa, ku sempatkan untuk memeriksakan perkembangan telingaku.
“Luar biasa, kau cukup baik menjaga telingamu, Rin.”
“Benarkah dokter? Apa bisa sembuh?”
“Walau tidak sepenuhnya, tapi ini lebih baik, kau harus terus menjaganya, dan bersemangatlah.”
“Gomawo, Dokter!”
^^
Kimkim dan Yari akhirnya datang juga, kami memang berencana akan ke Villa bersama, untung saja Kimkim membawa mobilnya jadi kami tak usah mengeluarkan ongkos.
Setelah 15 menit perjalanan, akhirnya kami tiba di Villa. Di teras Hankyung dan Eunhyuk sedang mengobrol, mereka terkejut dengan kedatangan kami dan langsung melonjak senang.
“Rinna, Yari, Kimkim! Kalian akhirnya datang!” seru Eunhyuk.
“Hei teman-teman, manager kita sudah datang!” teriak Hankyung.
Member SuJu yang lain langsung keluar, mereka membawakan tas kami lalu Sungmin mendekatiku.
“Ternyata kau datang, hari sungguh membosankan tanpamu.”
“Benarkah? Aku juga bosan tak ada kalian, banyakkah yang telah kulewatkan, Sungmin?”
“Tidak banyak, setiap pagi kami hanya joging menikmati pemandangan gunung, lalu makan bersama, menikmati waktu luang masing-masing, dan seperti itu selama 3 hari ini. Membosankan,” keluh Sungmin, wajahnya yang lugu itulah yang bisa membuatku luluh.
“Bagaimana jika aku malah membuatnya bertambah buruk?”
“Tidak mungkin, kau kan putri salju kami.”
“Putri salju?”
“Ya, kami sepakat menamaimu putri salju karena kau punya kasih sayang seputih salju.”
“Kalian ini ada-ada saja, sudahlah ayo masuk.”
Sungmin menggenggam tanganku, mungkin wajahku saat ini merona, tapi tak apa karena aku merasakan perasaan damai yang tak biasa.
^^
Villa yang kami tempati cukup besar, kamar pun ada lebih dari 5, ada 2 lantai di rumah ini, aku memilih kamar di lantai 1, karna aku kurang suka pada ketinggian. Yari memilih sekamar denganku.
“Kau begitu beruntung bisa tinggal dengan lelaki-lelaki tampan itu, apa ada yang kau suka?”
“Haha, aku suka mereka semua, mereka sahabat yang sangat baik untukku.”
“Bukan sebagai sahabat, Rinna. Tapi sebagai… em, pacar?”
Aku terdiam, seraya melanjutkan pekerjaanku merapihkan baju di lemari, ku tatap Yari seksama. Ia yang sedang membaca novel beralih pandang ke arahku, menunggu jawabanku yang tepat dan sesuai dengan hatinya. Terkadang jika melihat kejadian ini darahku mengalir dengan deras karna gugup.
“Untuk sekarang mungkin tidak, aku ingin fokus dulu pada pekerjaanku.”
“Huh, kau memang wanita karir yang sibuk, tak pernahkah kau merasakan asmara? Semasa kau muda mungkin?”
Pikiranku melayang saat masih kelas 1 SMA, saat itu aku bertemu dengan seorang lelaki yang menurutku sangat sempurna di mataku, bukan hanya di mataku, tapi juga pandangan seluruh gadis di SMAnya. Aku menyukainya diam-diam, karna aku pasti menjadi sasaran kemarahan fansnya saat itu. Kutunjukan sikap sukaku padanya dari mengiriminya surat berisi lagu-lagu yang ia suka, juga puisi buatanku. Mungkin suratku itu surat keseribu yang ada di kotak pesannya, dan mungkin juga tak terbaca olehnya. Ia sangat pendiam walau populer, tapi dari kediamannya itulah yang membuatnya berbeda. Aku mencari tahu semua hal tentangnya, dan aku tahu ia ingin menjadi penyanyi. Rasa sukaku pada lelaki itu membuatku ingin sekali saja ia melihatku, walau aku tak bisa dekat dengannya, aku ingin ia tahu bahwa aku ada. Maka dari itu seluruh organisasi inti sekolah aku selalu mengikutinya, hingga aku bisa menjadi presiden sekolah selama 3 tahun berturut-turut. Karna aku sangat sibuk, aku jadi jarang memikirkannya dan tak peduli ia memikirkanku atau tidak. Dan jika sekarang aku bisa dekat dengannya itu adalah hal yang membuat pipiku selalu merona, membuat pikiranku selalu kacau, membuatku ingin terus bersama dengannnya.
“Rinna? Kau belum jawab pertanyaanku.”
“Oh, pertanyaan yang mana?”
“Kau melamun, ya?”
“Tidak juga, um… mungkin sedikit, mian.”
“Tidak apa-apa, sebaiknya aku juga tak mengganggu perasaanmu.”
“Santai saja, Yari. Kau bertanya tentang asmara, ya? Sebenarnya dulu semasa SMA aku pernah menyukai seseorang, tapi karna jarang bertemu lagi aku sudah mulai lupa padanya.”
“Lho? Kenapa kau tidak mencari tahu keberadaannya?”
“Aku belum memikirkan itu lagi.”
“Sekarang kau tinggal memilih saja, Rinna.”
“Maksudmu?”
“Maksudku, bukankah mereka para member SuJu menyukaimu? Menurutku kamu yang mana lelaki yang paling menarik?”
“Semua menarik.”
“Satu saja,” pinta Yari.
“Menurutku, Ryeowook.”
^^
Malamnya…
Member Super Junior membuatkan makan malam special, entah untuk siapa. Tapi kenapa hanya ada 2 kursi di ruang makan? Heechul menarik tanganku dan menarik kursi untukku.
“Silahkan duduk, Putri. Sebentar lagi pangeranmu datang.”
“Oppa, apa maksudmu?”
“Tunggu saja.”
Heechul pergi dan keadaan hening, aku sedikit takut dan akhirnya berdiri ingin pergi. Tapi sebuah lagu yang kutahu berjudul “The one I Love” terdengar. Begitu romantis, aku pun duduk kembali, menunggu kejutan yang akan diberikan Super Junior untukku.
Beberapa saat kemudian terlihat sesosok mendekatiku, ia Sungmin.
“Sungmin? Apa itu benar kau?”
Sungmin mendekat lagi, lalu ia duduk di hadapanku. Wajahnya bersinar karna terpantul sinar lilin, ia tersenyum padaku.
“Pangeranmu telah datang, Putri.”
“Daritadi kalian memanggilku putri, sebenarnya ada apa?”
“Kau masih ingat perkataanmu beberapa bulan yang lalu?”
“Perkataan yang mana?”
“Kau mengatakan suatu saat nanti mungkin mencintaiku, apa suatu saat nanti itu sekarang?”
Aku tertegun, ternyata ia bersungguh-sungguh mencintaiku. Ia menggenggam tanganku, lagu “The one I Love” terus mengalun membenami perasaanku.
“Rinna, maukah kau menjadi kekasihku?”
Pertanyaan itu lagi, sampai sekarang sebenarnya aku belum bisa menjawabnya, tapi aku juga tak bisa menyakiti perasaan Sungmin untuk kedua kalinya.
“A…aku,” belum sempat kujawab, tiba-tiba terjadi kekacauan dari ruang sebelah, tak sengaja kutepis tangan Sungmin dan berlari mencari tahu penyebab kekacauan. Ternyata terjadi kebakaran kecil akibat member SuJu yang sedang menjahili rambut Shindong, aku tertawa terbahak-bahak melihat rambut Shindong yang sedikit terkikis karna api. Secara tidak langsung aku berterimakasih pada mereka karna menyelamatkanku dari rasa gugup pada Sungmin.
“Kalian ini apa-apaan sih?” omel Sungmin.
“Maaf Sungmin, karna bosan menunggumu kami menjahili Shindong.”
“Huh, Rinna. Lain kali saja, moodku jadi jelek.”
“Oke,” setujuku.
Sungmin pergi ke kamarnya, aku ikut bercanda dengan member SuJu dan bernyanyi lagu ‘miracle’ bersama SuJu. Ryeowook mengedipkan matanya padaku, sepertinya ia dalang semua ini, terimakasih Wookie. Lalu ia mendekatiku dan berbisik.
“Only for you.”
Ku kedipkan sebelah mataku padanya, ia langsung menunduk. Sama seperti semasa SMA dulu, ia masih saja pemalu seperti dulu.
^^
Hari ini adalah hari ulang tahun Ryeowook! 14 Juni, heum. Aku harus memberi kejutan untuk Ryeowook. Jadilah malam ini ke bukit di dekat Villa. Tak ada yang ingat akan ulang tahun Wookie, jadi aku merayakan ulang tahun ini hanya berdua dengannya. Tak lupa kusiapkan hadiah dan kue kecil untuk Wookie. Semoga ia senang.
“Sebenarnya kita mau apa sih kesini, Unni?”
“Cari angin saja, bintang malam ini juga sangat indah.”
Ryeowook mendongak, matanya berbinar melihat hamparan pesona langit berbintang, aku memejamkan mata dan mulai berdoa.
“Tuhan, aku punya sahabat yang hari ini genap 18 tahun, ia begitu ramah dan perhatian. Tuhan, tolong jaga sahabatku ini dengan cintamu, karna aku ingin melihatnya selalu tersenyum, tanpa beban, tanpa paksaan, dan yang terpenting penuh keyakinan.”
Kubuka mataku, lalu menatap Ryeowook dan tersenyum.
“Selamat ulang tahun, Wookie.”
Airmata Ryeowook meleleh, ia terus menatapku, lalu tak kuasa memelukku. Tubuhnya hangat dan penuh kasih. Ku elus punggung Wookie, dan ia melepas pelukannya.
“Terimakasih, Rinna. Malam ini adalah malam terindah di hidupku.”
Kue yang sudah kusiapkan, kuberikan pada Ryeowook. Dan kunyalakan lilin berbentuk 18 tersebut. Ryeowook memejamkan matanya beberapa saat, lalu meniup lilin tersebut. Aku menyendok sedikit kuenya, lalu kusuapkan padanya.
“Rinna…”
“Ya?”
“Aku menyukaimu…”
Lirih tapi menyentuh, itu kata-kata yang selama ini kutunggu sejak kelas 1 SMA, sebagai seorang Park Seo Rin, bukan Na Hyo Rin. Tapi aku yang sekarang dan dulu adalah sama, apa salahnya jika Ryeowook menyukai Na Hyo Rin? Tak ada salahnya memang, tapi yang salah adalah jika aku membalas cinta Ryeowook, bagaimana dengan perasaan Sungmin? Apa aku tega membiarkannya?
Aku masih diam, kurasakan tubuh Ryewook kembali mendekapku. Jantungnya berdetak sangat dekat denganku, cinta itu muncul lagi, cinta yang kupendam selama 3 tahun itu kini berbuah.
“Aku mencintaimu, bahkan mungkin lebih besar dan lebih lama dari cinta Sungmin padamu, Park Seo Rin.”
Aku langsung menoleh ke arah Ryeowook, tatapannya yang lembut membuatku terpana. Ia sudah tahu identitasku sebelumnya.
“Kau tahu identitasku?”
“Ya, aku menyembunyikan rahasia ini karna aku ingin terus di dekatmu, apalagi saat kita di balkon beberapa bulan yang lalu. Sebenarnya aku ingin mengatakannya padamu, tapi saat kau berkata ingin menjadi sahabatku, kutahan semuanya. Semua yang ingin kusampaikan padamu, termasuk cinta yang kupendam sejak SMA dulu.”
“A..apa maksudmu? Jadi sejak kita SMA, kau tahu aku? Walau kita berbeda sekolah?”
“Ya, aku tahu kau sejak aku menerima sebuah surat berisi puisi yang indah, puisi yang berkali-kali kubaca tanpa bosan, hingga aku hapal isinya.”
“Benarkah? Kau bisa membacanya untukku sekarang?”
“Bintang itu tersenyum padaku, bintang itu bernyanyi untukku, bintang itu mendekap cintaku, walau kutahu itu hanya ilusiku. Tapi tak apa, karna aku sungguh beruntung bertemu dengannya. Bintang yang telah kupilih dari beribu bintang di angkasa. Tuhan, sungguh aku mencintai bintang itu, lebih dari semua yang ada di dunia fana ini.”
“Ya, itu puisiku, aku pernah menangis saat membaca puisi itu, karna aku tahu aku takkan mendapatkan cinta dari Oppa, aku tahu hidup kita sangat berbeda, jadi cinta itu hanya kupendam sampai sekarang,”
“Setelah membaca puisi itu, aku sadar bahwa aku telah menemukan gadis yang tepat. Tapi aku ini memang pengecut, aku takut mendekati Presiden SMA Kita yang terkenal tegas dan galak. Hi hi, masa-masa yang takkan kulupakan. Saat aku lulus, aku berfikir takkan bertemu lagi denganmu walau sekilas, tapi takdir memang tak bisa diduga, sekarang kau bersamaku, dan mulai sekarang tak ada lagi yang dapat memisahkan kita sampai kapanpun.”
Pelukan Wookie makin erat, mataku terpejam hingga sentuhan hangat kurasakan di keningku. Ia mengecup keningku lembut. Dan malam itu aku melepas 1 beban berat yang terpendam, dan juga mendapat kepastian cinta dari orang yang selama ini kucintai.
3 hari berlalu sangat cepat, hari ini aku harus menyusul teman-teman SuJu di Villa. Sebelum pergi aku menceramahi Appa agar ia menurut pada perintah Han yang positif, lalu kupeluk tubuh Appa erat, karna aku akan meninggalkannya lagi. 3 hari yang sungguh berarti untukku, Appa, dan Han.
Aku berjalan ke jalan raya, sesekali menengok ke belakang malihat bayangan Appa dan Han yang mengecil, seketika aku lupa pada penyakitku, tubuhku makin bugar, heum… mungkin aku sudah sembuh, dan akan kupastikan itu semua.
Sebelum ke Villa, ku sempatkan untuk memeriksakan perkembangan telingaku.
“Luar biasa, kau cukup baik menjaga telingamu, Rin.”
“Benarkah dokter? Apa bisa sembuh?”
“Walau tidak sepenuhnya, tapi ini lebih baik, kau harus terus menjaganya, dan bersemangatlah.”
“Gomawo, Dokter!”
^^
Kimkim dan Yari akhirnya datang juga, kami memang berencana akan ke Villa bersama, untung saja Kimkim membawa mobilnya jadi kami tak usah mengeluarkan ongkos.
Setelah 15 menit perjalanan, akhirnya kami tiba di Villa. Di teras Hankyung dan Eunhyuk sedang mengobrol, mereka terkejut dengan kedatangan kami dan langsung melonjak senang.
“Rinna, Yari, Kimkim! Kalian akhirnya datang!” seru Eunhyuk.
“Hei teman-teman, manager kita sudah datang!” teriak Hankyung.
Member SuJu yang lain langsung keluar, mereka membawakan tas kami lalu Sungmin mendekatiku.
“Ternyata kau datang, hari sungguh membosankan tanpamu.”
“Benarkah? Aku juga bosan tak ada kalian, banyakkah yang telah kulewatkan, Sungmin?”
“Tidak banyak, setiap pagi kami hanya joging menikmati pemandangan gunung, lalu makan bersama, menikmati waktu luang masing-masing, dan seperti itu selama 3 hari ini. Membosankan,” keluh Sungmin, wajahnya yang lugu itulah yang bisa membuatku luluh.
“Bagaimana jika aku malah membuatnya bertambah buruk?”
“Tidak mungkin, kau kan putri salju kami.”
“Putri salju?”
“Ya, kami sepakat menamaimu putri salju karena kau punya kasih sayang seputih salju.”
“Kalian ini ada-ada saja, sudahlah ayo masuk.”
Sungmin menggenggam tanganku, mungkin wajahku saat ini merona, tapi tak apa karena aku merasakan perasaan damai yang tak biasa.
^^
Villa yang kami tempati cukup besar, kamar pun ada lebih dari 5, ada 2 lantai di rumah ini, aku memilih kamar di lantai 1, karna aku kurang suka pada ketinggian. Yari memilih sekamar denganku.
“Kau begitu beruntung bisa tinggal dengan lelaki-lelaki tampan itu, apa ada yang kau suka?”
“Haha, aku suka mereka semua, mereka sahabat yang sangat baik untukku.”
“Bukan sebagai sahabat, Rinna. Tapi sebagai… em, pacar?”
Aku terdiam, seraya melanjutkan pekerjaanku merapihkan baju di lemari, ku tatap Yari seksama. Ia yang sedang membaca novel beralih pandang ke arahku, menunggu jawabanku yang tepat dan sesuai dengan hatinya. Terkadang jika melihat kejadian ini darahku mengalir dengan deras karna gugup.
“Untuk sekarang mungkin tidak, aku ingin fokus dulu pada pekerjaanku.”
“Huh, kau memang wanita karir yang sibuk, tak pernahkah kau merasakan asmara? Semasa kau muda mungkin?”
Pikiranku melayang saat masih kelas 1 SMA, saat itu aku bertemu dengan seorang lelaki yang menurutku sangat sempurna di mataku, bukan hanya di mataku, tapi juga pandangan seluruh gadis di SMAnya. Aku menyukainya diam-diam, karna aku pasti menjadi sasaran kemarahan fansnya saat itu. Kutunjukan sikap sukaku padanya dari mengiriminya surat berisi lagu-lagu yang ia suka, juga puisi buatanku. Mungkin suratku itu surat keseribu yang ada di kotak pesannya, dan mungkin juga tak terbaca olehnya. Ia sangat pendiam walau populer, tapi dari kediamannya itulah yang membuatnya berbeda. Aku mencari tahu semua hal tentangnya, dan aku tahu ia ingin menjadi penyanyi. Rasa sukaku pada lelaki itu membuatku ingin sekali saja ia melihatku, walau aku tak bisa dekat dengannya, aku ingin ia tahu bahwa aku ada. Maka dari itu seluruh organisasi inti sekolah aku selalu mengikutinya, hingga aku bisa menjadi presiden sekolah selama 3 tahun berturut-turut. Karna aku sangat sibuk, aku jadi jarang memikirkannya dan tak peduli ia memikirkanku atau tidak. Dan jika sekarang aku bisa dekat dengannya itu adalah hal yang membuat pipiku selalu merona, membuat pikiranku selalu kacau, membuatku ingin terus bersama dengannnya.
“Rinna? Kau belum jawab pertanyaanku.”
“Oh, pertanyaan yang mana?”
“Kau melamun, ya?”
“Tidak juga, um… mungkin sedikit, mian.”
“Tidak apa-apa, sebaiknya aku juga tak mengganggu perasaanmu.”
“Santai saja, Yari. Kau bertanya tentang asmara, ya? Sebenarnya dulu semasa SMA aku pernah menyukai seseorang, tapi karna jarang bertemu lagi aku sudah mulai lupa padanya.”
“Lho? Kenapa kau tidak mencari tahu keberadaannya?”
“Aku belum memikirkan itu lagi.”
“Sekarang kau tinggal memilih saja, Rinna.”
“Maksudmu?”
“Maksudku, bukankah mereka para member SuJu menyukaimu? Menurutku kamu yang mana lelaki yang paling menarik?”
“Semua menarik.”
“Satu saja,” pinta Yari.
“Menurutku, Ryeowook.”
^^
Malamnya…
Member Super Junior membuatkan makan malam special, entah untuk siapa. Tapi kenapa hanya ada 2 kursi di ruang makan? Heechul menarik tanganku dan menarik kursi untukku.
“Silahkan duduk, Putri. Sebentar lagi pangeranmu datang.”
“Oppa, apa maksudmu?”
“Tunggu saja.”
Heechul pergi dan keadaan hening, aku sedikit takut dan akhirnya berdiri ingin pergi. Tapi sebuah lagu yang kutahu berjudul “The one I Love” terdengar. Begitu romantis, aku pun duduk kembali, menunggu kejutan yang akan diberikan Super Junior untukku.
Beberapa saat kemudian terlihat sesosok mendekatiku, ia Sungmin.
“Sungmin? Apa itu benar kau?”
Sungmin mendekat lagi, lalu ia duduk di hadapanku. Wajahnya bersinar karna terpantul sinar lilin, ia tersenyum padaku.
“Pangeranmu telah datang, Putri.”
“Daritadi kalian memanggilku putri, sebenarnya ada apa?”
“Kau masih ingat perkataanmu beberapa bulan yang lalu?”
“Perkataan yang mana?”
“Kau mengatakan suatu saat nanti mungkin mencintaiku, apa suatu saat nanti itu sekarang?”
Aku tertegun, ternyata ia bersungguh-sungguh mencintaiku. Ia menggenggam tanganku, lagu “The one I Love” terus mengalun membenami perasaanku.
“Rinna, maukah kau menjadi kekasihku?”
Pertanyaan itu lagi, sampai sekarang sebenarnya aku belum bisa menjawabnya, tapi aku juga tak bisa menyakiti perasaan Sungmin untuk kedua kalinya.
“A…aku,” belum sempat kujawab, tiba-tiba terjadi kekacauan dari ruang sebelah, tak sengaja kutepis tangan Sungmin dan berlari mencari tahu penyebab kekacauan. Ternyata terjadi kebakaran kecil akibat member SuJu yang sedang menjahili rambut Shindong, aku tertawa terbahak-bahak melihat rambut Shindong yang sedikit terkikis karna api. Secara tidak langsung aku berterimakasih pada mereka karna menyelamatkanku dari rasa gugup pada Sungmin.
“Kalian ini apa-apaan sih?” omel Sungmin.
“Maaf Sungmin, karna bosan menunggumu kami menjahili Shindong.”
“Huh, Rinna. Lain kali saja, moodku jadi jelek.”
“Oke,” setujuku.
Sungmin pergi ke kamarnya, aku ikut bercanda dengan member SuJu dan bernyanyi lagu ‘miracle’ bersama SuJu. Ryeowook mengedipkan matanya padaku, sepertinya ia dalang semua ini, terimakasih Wookie. Lalu ia mendekatiku dan berbisik.
“Only for you.”
Ku kedipkan sebelah mataku padanya, ia langsung menunduk. Sama seperti semasa SMA dulu, ia masih saja pemalu seperti dulu.
^^
Hari ini adalah hari ulang tahun Ryeowook! 14 Juni, heum. Aku harus memberi kejutan untuk Ryeowook. Jadilah malam ini ke bukit di dekat Villa. Tak ada yang ingat akan ulang tahun Wookie, jadi aku merayakan ulang tahun ini hanya berdua dengannya. Tak lupa kusiapkan hadiah dan kue kecil untuk Wookie. Semoga ia senang.
“Sebenarnya kita mau apa sih kesini, Unni?”
“Cari angin saja, bintang malam ini juga sangat indah.”
Ryeowook mendongak, matanya berbinar melihat hamparan pesona langit berbintang, aku memejamkan mata dan mulai berdoa.
“Tuhan, aku punya sahabat yang hari ini genap 18 tahun, ia begitu ramah dan perhatian. Tuhan, tolong jaga sahabatku ini dengan cintamu, karna aku ingin melihatnya selalu tersenyum, tanpa beban, tanpa paksaan, dan yang terpenting penuh keyakinan.”
Kubuka mataku, lalu menatap Ryeowook dan tersenyum.
“Selamat ulang tahun, Wookie.”
Airmata Ryeowook meleleh, ia terus menatapku, lalu tak kuasa memelukku. Tubuhnya hangat dan penuh kasih. Ku elus punggung Wookie, dan ia melepas pelukannya.
“Terimakasih, Rinna. Malam ini adalah malam terindah di hidupku.”
Kue yang sudah kusiapkan, kuberikan pada Ryeowook. Dan kunyalakan lilin berbentuk 18 tersebut. Ryeowook memejamkan matanya beberapa saat, lalu meniup lilin tersebut. Aku menyendok sedikit kuenya, lalu kusuapkan padanya.
“Rinna…”
“Ya?”
“Aku menyukaimu…”
Lirih tapi menyentuh, itu kata-kata yang selama ini kutunggu sejak kelas 1 SMA, sebagai seorang Park Seo Rin, bukan Na Hyo Rin. Tapi aku yang sekarang dan dulu adalah sama, apa salahnya jika Ryeowook menyukai Na Hyo Rin? Tak ada salahnya memang, tapi yang salah adalah jika aku membalas cinta Ryeowook, bagaimana dengan perasaan Sungmin? Apa aku tega membiarkannya?
Aku masih diam, kurasakan tubuh Ryewook kembali mendekapku. Jantungnya berdetak sangat dekat denganku, cinta itu muncul lagi, cinta yang kupendam selama 3 tahun itu kini berbuah.
“Aku mencintaimu, bahkan mungkin lebih besar dan lebih lama dari cinta Sungmin padamu, Park Seo Rin.”
Aku langsung menoleh ke arah Ryeowook, tatapannya yang lembut membuatku terpana. Ia sudah tahu identitasku sebelumnya.
“Kau tahu identitasku?”
“Ya, aku menyembunyikan rahasia ini karna aku ingin terus di dekatmu, apalagi saat kita di balkon beberapa bulan yang lalu. Sebenarnya aku ingin mengatakannya padamu, tapi saat kau berkata ingin menjadi sahabatku, kutahan semuanya. Semua yang ingin kusampaikan padamu, termasuk cinta yang kupendam sejak SMA dulu.”
“A..apa maksudmu? Jadi sejak kita SMA, kau tahu aku? Walau kita berbeda sekolah?”
“Ya, aku tahu kau sejak aku menerima sebuah surat berisi puisi yang indah, puisi yang berkali-kali kubaca tanpa bosan, hingga aku hapal isinya.”
“Benarkah? Kau bisa membacanya untukku sekarang?”
“Bintang itu tersenyum padaku, bintang itu bernyanyi untukku, bintang itu mendekap cintaku, walau kutahu itu hanya ilusiku. Tapi tak apa, karna aku sungguh beruntung bertemu dengannya. Bintang yang telah kupilih dari beribu bintang di angkasa. Tuhan, sungguh aku mencintai bintang itu, lebih dari semua yang ada di dunia fana ini.”
“Ya, itu puisiku, aku pernah menangis saat membaca puisi itu, karna aku tahu aku takkan mendapatkan cinta dari Oppa, aku tahu hidup kita sangat berbeda, jadi cinta itu hanya kupendam sampai sekarang,”
“Setelah membaca puisi itu, aku sadar bahwa aku telah menemukan gadis yang tepat. Tapi aku ini memang pengecut, aku takut mendekati Presiden SMA Kita yang terkenal tegas dan galak. Hi hi, masa-masa yang takkan kulupakan. Saat aku lulus, aku berfikir takkan bertemu lagi denganmu walau sekilas, tapi takdir memang tak bisa diduga, sekarang kau bersamaku, dan mulai sekarang tak ada lagi yang dapat memisahkan kita sampai kapanpun.”
Pelukan Wookie makin erat, mataku terpejam hingga sentuhan hangat kurasakan di keningku. Ia mengecup keningku lembut. Dan malam itu aku melepas 1 beban berat yang terpendam, dan juga mendapat kepastian cinta dari orang yang selama ini kucintai.
Love is Promise chap.6 (White Love)
White Love
1 bulan kemudian…
Super Junior mendapat liburan 3 minggu dari SM, liburan bagi Super Junior itu salah satu anugerah yang tak terelakan, lepas dari semua kepenatan konser juga menenangkan pikiran sebelum konser di Jepang bulan depan. Ini juga berarti liburanku juga, dan waktunya untuk pulang, walau hanya sehari aku ingin menemani Appa.
“Kau tidak ikut dengan kami, Rinna?” tanya Yesung.
“Aku ada urusan selama 3 hari, setelah itu baru menyusul.”
“Benar, ya?” tanya Heechul.
“Iya, kalian akan menginap di Bukhansan, kan?”
“Iyap, kau langsung ke sana saja,” saran Kangin.
“Siap bos.”
Setelah berpamitan, aku melangkah agak cepat, karna sangat rindu pada Appa. Appa, tunggu aku.
^^
“Appa!” seruku.
Appa agak terlonjak, matanya membesar melihatku ada di hadapannya. Mata kami sama-sama berkaca.
“Rin!”
Tubuh Appa kupeluk sangat erat, karna aku sangat merindukannya, Appaku sayang.
“Rin rindu Appa.”
“Appa juga, Nak. Kamu kerja terlalu keras hingga tak pernah menghubungi Appa.”
“Maafkan aku, Appa. Yang penting selama 3 hari ini Rin akan menemani Appa.”
“Benarkah? Singkat sekali hanya 3 hari.”
“Ini karna pekerjaanku padat, Appa.”
“Anak-anak itu, apa baik padamu?”
Ha? Anak-anak? Aigo… bukankah sudah kubilang jangan bilang kalau aku ini manager SuJu, Hanna!!
“Ba…baik, Appa.”
“Anak SMP seperti mereka butuh perhatian lebih,” ucap Appa lembut.
Anak SMP? Sebenarnya Hanna bilang apa sih?
“Selamat siang, Ap… lho? Rin?”
“Hanna, aku liburan 3 hari.”
Langsung kutarik Han keluar untuk mengintrogasinya.
“Sebenarnya apa yang kau katakan pada Appa tentang pekerjaanku?”
“Aku bilang kau pengasuh di asrama salah satu SMP Seoul.”
“Ohahaha, kau memang pintar.”
“Siapa dulu, Geun Han,” ucapnya sambil tersenyum bangga.
^^
Sungmin mengambil biola putih Rinna dan memeluknya, lalu ia masukan ke tasnya agar Rinna bisa bermain juga di Bukhansan. Sungguh indah jika malam hari Rinna memainkan biola untuknya di bawah bintang-bintang.
“Indahnya…”
“Apa yang indah?” tanya Ryeowook yang tiba-tiba berdiri disamping Sungmin.
“Wow?! Kau mengagetkanku saja! Um, biola ini indah.”
Ryeowook hanya tersenyum tipis, ia teringat percakapannya dengan Rinna malam itu.
“Ini rahasia pertama yang akan kubuka padamu, sebenarnya aku sedikit takut padanya.”
“Ha? Kok takut? Sungmin itu baik sekali lho.”
“Iya, aku yakin ia orang yang baik, tapi kau lebih baik.”
“Ka…kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau takut pada Sungmin?”
“Em… aku takut menyukainya, ia terlalu baik untukku.”
“Tadi pagi kau berbisik apa padanya?”
“Ku katakan padanya, agar kita menjalani kehidupan mengalir saja, saat ini aku memang tak mencintainya, tapi mungkin suatu saat nanti.”
^^
Siang itu aku mengajak Appa ke restoran Indonesia di Korea, kudengar Appa sedang rindu dengan masakan Indonesia. Hanna juga ikut, ia penasaran dengan masakan Indonesia. Kami memesan nasi Padang dengan es kelapa, Appa makan dengan lahap begitu juga Hanna.
“Em, masakan Indonesia enak-enak, ya! Kapan-kapan ajak aku ke Indonesia dong, Rin!”
“Akupun tak pernah ke Indonesia.”
“What? Paman ini bagaimana sih, kenapa tak pernah ajak Rin ke Indonesia?!”
“Hei bocah, bukannya Paman tak mau mengajak Rin, tapi memang Paman belum sempat lagi ke Indonesia.”
Lho? Logat Appa selayaknya anak muda, sepertinya Hanna sudah mengajarkan hal aneh pada Appa.
“Appa, kenapa kau berbicara seperti anak muda?”
“Ha? Hehe, ini karna bocah yang kau jadikan pengasuh Appa ini.”
“Kau mengajarkan apa pada Appa?”
“Um… bukan apa-apa, kok.”
Kami pun tertawa bersama melihat perubahan Appa. Oh iya, tentu Appa tak sadar dengan perubahan identitasku, penampilanku kuubah lagi jadi anak-anak, rambut hitam lurus kuncir 2, poni pun kupenuhkan kedepan, tak memakai bedak dan lipstik, hanya lipgloss merah jambu, kacamata kuganti dengan kontak lens warna coklat tua.
“Rin, sepertinya kau agak berbeda.”
“Hah? Benarkah Appa? Apa bedanya?”
“Kau tambah manis.”
Fiuh… ku kira Appa sadar.
“Iya dong, anak Appa harus tambah manis!”
“Ha ha ha …” tawa Hanna seperti meremehkan, langsung kucubit pipi chubbynya hingga ia tersentak hampir memuntahkan makanannya yang sedang ia kunyah.
“Rinna?”
“Kyu! Kenapa kau disini?”
Kyu menarik tanganku menjauh dari Appa dan Han.
“Member SuJu akan makan siang di sini, dan aku yang bertugas memesan tempatnya.”
“Mana mereka sekarang?”
“Sebentar lagi mereka datang, cepatlah kau ajak Appamu dari sini, atau kau tetap di sini dan Appamu pergi, karna mereka akan menemukanmu jika kau keluar.”
“Yasudah, sebentar, ya.”
Akupun kembali ke meja, menyuruh Han untuk mengajak Appa pergi karna member SuJu akan segera kemari, Han cepat mengajak Appa pergi.
“Kau mau kemana dulu, Nak?”
“Aku ada urusan dengan temanku yang tadi, Pa.”
“Tapi kau akan pulang, kan? Ini belum 3 hari, lho.”
“Iya Appa, aku pasti pulang.”
“Hati-hati ya, Nak.”
Han dan Appa berlalu, dan tepat mereka keluar member SuJu masuk ke restoran. Aduh, penampilanku, bagaimana ini?
“Kyu, aku belum menjadi Rinna, bagaimana?”
Kyu terdiam, dan senyumnya terkembang lebar.
“Ini baru Rin presiden sekolah.”
“Aigo, kenapa kau malah berkata seperti itu.”
“Tidak apa-apa, walau berbeda kau tetap terlihat seperti Rinna.”
“Maksudmu apa? Wajahku terlihat tua walau dengan penampilan seperti ini?”
“Ya… begitulah.”
“Dasar!” kupukul pundak Kyu perlahan, ia tertawa.
“Bohong-bohong, kau terlihat sangat manis.”
“Rinna? Ini kamu?” tanya Siwon heran.
“I…iya,” jawabku gugup.
“Kalau begini kau benar-benar terlihat manis!” seru Kangin.
“Lucu!!” seru Leeteuk sambil menyubit pipiku. Yang lain tertawa kecil, aku hanya manyun dengan prilaku Leeteuk.
“Ngomong-ngomong aku sudah lapar, makan yuk,” ajak Heechul.
“Kau mau ikut makan dengan kami, Rinna?” tanya Yesung.
“Um…”
“Ayo ikut saja, Rinna,” ucap Sungmin sambil menggamit lenganku, akhirnya aku ikut makan dengan member SuJu, padahal baru tadi pagi kita berpisah, tapi sekarang sudah bertemu lagi, ha ha ha.
Kebanyakan dari member SuJu memesan ayam goreng atau ayam bakar, nasi putih, ikan bakar, sayur kangkung, dan lainnya. Sedang aku hanya memesan sate sapi beserta sambal terasi tanpa nasi, bagaimanapun aku sudah kenyang.
“Kau makan sedikit, Rinna. Apakah kau sakit?” tanya Ryeowook.
“Anneyo, aku tadi baru saja makan.”
“Kau kesini sendirian, Rinna?” tanya Leeteuk.
“Tidak, tadi aku bersama keluarga, tapi mereka harus segera pulang, karna bertemu dengan Kyu, aku tertahan.”
“Seharusnya jangan pulang dulu, biar orangtua Rinna memilih,” ucap Donghae.
“Memilih apa?”
“Memilih siapa yang cocok dengan Rinna, wahahaha!” canda Donghae.
Para member SuJu langsung melemparinya dengan sayur lalap, aku sedikit melirik Sungmin, dan menangkapnya sedang menatapku, tapi langsung memalingkan pandangannya ke Donghae dan ikut melempari Donghae.
Selesai makan aku pamit pada SuJu.
“Kau pulang sendiri?” tanya Siwon.
“Iya, tata.”
Fiuh… untung mereka juga tak curiga dengan perubahanku, terimakasih Kyu.
^^
Sekitar jam 3 sore aku baru tiba di rumah sakit, Appa ternyata sedang tidur, jadi aku mengisi kekosonganku dengan pulang ke rumah. Rumah Appa sekarang ditempati Hanna, ia benar-benar membantu.
“Sore, Unni.”
“Sore, kau kenapa tidak menemani Appa?”
“Appa sedang istirahat, nanti malam juga aku ke rumah sakit.”
“Rumahmu tetap bersih, kan? He he he.”
“Gamza khamida untuk semuanya Unni, kau sangat membantu.”
Kupeluk tubuh mungil Han lagi, kurasakan detak jantung Han yang indah, detak jantung yang telah member kehidupan bagi orang yang selama ini membantuku.
“Sebenarnya aku sudah menganggap Appamu sebagai Appaku, tidak apa-apa kan?”
“Dengan senang hati, kau pun boleh menjadi kakakku.”
“Benarkah? Gomawo, kau telah memberi keluarga untukku.”
Aku lupa 1 hal, Han memang hidup sebatang kara, tapi ia tetap bertahan hidup sebagai karyawan Salon, ia benar-benar sendiri selama ini. Banyak orang menyarankan agar ia ke panti asuhan, tapi seniorku ini bersikeras untuk hidup sendiri, ia tak mau mengganti posisi keluarga kandungnya dengan keluarga baru, ia membuat anggapan orang-orang padanya berganti yang awalnya meremehkannya sekarang takjub padanya. Seorang wanita 20 tahun yang selalu menjadi panutan untukku sesudah Umma. Ia mengajarkanku sebuah ilmu yang tak pernah ada di sekolah manapun, yaitu ilmu kasih sayang. Ia selalu menyayangi orang dengan tulus, tanpa memandang apapun, ramah pada siapapun, dan yang paling berharga adalah senyumnya yang tak pernah hilang.
Ternyata Han menganggapku dan Appa sebagai keluarganya, dan ia sekarang tak sendirian lagi, ia sudah punya aku dan Appa, dan aku akan menjaganya dengan baik. Kasihmu yang putih takkan kusia-siakan.
^^
Sungmin duduk di teras Villa dan membolak-balik lembaran majalah yang tersedia di Villa, matanya memang melihat majalah, tapi pikirannya tidak. Rindu pada Rinna kembali hinggap di relung hatinya.
“Huh, membosankan tidak ada Rinna.”
“Iya benar,” setuju Ryeowook yang sejak tadi menemani Sungmin.
“Em, Wookie, bukankah kau sangat dekat dengan Rinna, menurutmu Rinna orang yang seperti apa?”
“Kau juga dekat dengan Rinna, kenapa harus bertanya?”
“Iya sih, tapi aku ingin mendengar dari pandanganmu komposer.”
“Oke, Rinna itu seperti putri salju.”
“Hah? Maksudmu?”
“Ya, putri salju yang punya cinta juga seputih salju. Kasih sayangnya sangat berati untuk kita.”
“Aku setuju, maka dari itu aku berani mengungkapkan perasaanku saat pertama kali kita di apartemen.”
“Apa itu saja alasannya?”
“Nggak juga sih, alasan lainnya karna ia berbeda dari wanita lain, ia begitu pemberani, penyayang yang tulus, tapi bawel.”
“Sepertinya semua wanita seperti itu.”
“Tidak, aku merasa Rinna itu berbeda, ia tidak seperti gadis lain yang memikirkan uang-uang dan uang.”
“Sungmin, tentu ada banyak wanita seperti Rinna, tapi kita baru bertemu dengan 1 wanita itu.”
“Mungkin saja, tapi Rinna tetap yang terbaik, dan aku sudah memilih.”
“Kau serius dengan Rinna?”
“Iyap, dukung aku, ya?”
“Te…tentu.”
“Hey, kalian berdua sedang apa malam-malam begini? Tidurlah, besok kita akan lari pagi di sekitar gunung,” ucap Kyu.
“Aku masuk duluan, ya,” ucap Sungmin lalu masuk.
Ryeowook hendak masuk, tapi Kyu menahannya.
“Wookie, sinar matamu tidak bisa disembunyikan.”
“Memang sinar mata seperti apa yang kau lihat?”
“Kekecewaan.”
“Kecewa tentang apa? Aku merasa baik-baik saja.”
“Kau takut jika Sungmin bersama Rinna, kan?”
“Ah, kau mengada-ada, sudah ayo tidur.”
“Jika kau mencintai Rinna, kejarlah ia.”
“Kau ini bicara apa sih, Rinna itu hanya sahabatku, ia ingin kita hanya bersahabat.”
“Aha?”
“Sudah, aku mau tidur.”
‘Rinna memang gadis yang beruntung, dicintai banyak orang karna kasih sayangnya, yang putih seputih salju,’ gumam Kyu dalam hati.
1 bulan kemudian…
Super Junior mendapat liburan 3 minggu dari SM, liburan bagi Super Junior itu salah satu anugerah yang tak terelakan, lepas dari semua kepenatan konser juga menenangkan pikiran sebelum konser di Jepang bulan depan. Ini juga berarti liburanku juga, dan waktunya untuk pulang, walau hanya sehari aku ingin menemani Appa.
“Kau tidak ikut dengan kami, Rinna?” tanya Yesung.
“Aku ada urusan selama 3 hari, setelah itu baru menyusul.”
“Benar, ya?” tanya Heechul.
“Iya, kalian akan menginap di Bukhansan, kan?”
“Iyap, kau langsung ke sana saja,” saran Kangin.
“Siap bos.”
Setelah berpamitan, aku melangkah agak cepat, karna sangat rindu pada Appa. Appa, tunggu aku.
^^
“Appa!” seruku.
Appa agak terlonjak, matanya membesar melihatku ada di hadapannya. Mata kami sama-sama berkaca.
“Rin!”
Tubuh Appa kupeluk sangat erat, karna aku sangat merindukannya, Appaku sayang.
“Rin rindu Appa.”
“Appa juga, Nak. Kamu kerja terlalu keras hingga tak pernah menghubungi Appa.”
“Maafkan aku, Appa. Yang penting selama 3 hari ini Rin akan menemani Appa.”
“Benarkah? Singkat sekali hanya 3 hari.”
“Ini karna pekerjaanku padat, Appa.”
“Anak-anak itu, apa baik padamu?”
Ha? Anak-anak? Aigo… bukankah sudah kubilang jangan bilang kalau aku ini manager SuJu, Hanna!!
“Ba…baik, Appa.”
“Anak SMP seperti mereka butuh perhatian lebih,” ucap Appa lembut.
Anak SMP? Sebenarnya Hanna bilang apa sih?
“Selamat siang, Ap… lho? Rin?”
“Hanna, aku liburan 3 hari.”
Langsung kutarik Han keluar untuk mengintrogasinya.
“Sebenarnya apa yang kau katakan pada Appa tentang pekerjaanku?”
“Aku bilang kau pengasuh di asrama salah satu SMP Seoul.”
“Ohahaha, kau memang pintar.”
“Siapa dulu, Geun Han,” ucapnya sambil tersenyum bangga.
^^
Sungmin mengambil biola putih Rinna dan memeluknya, lalu ia masukan ke tasnya agar Rinna bisa bermain juga di Bukhansan. Sungguh indah jika malam hari Rinna memainkan biola untuknya di bawah bintang-bintang.
“Indahnya…”
“Apa yang indah?” tanya Ryeowook yang tiba-tiba berdiri disamping Sungmin.
“Wow?! Kau mengagetkanku saja! Um, biola ini indah.”
Ryeowook hanya tersenyum tipis, ia teringat percakapannya dengan Rinna malam itu.
“Ini rahasia pertama yang akan kubuka padamu, sebenarnya aku sedikit takut padanya.”
“Ha? Kok takut? Sungmin itu baik sekali lho.”
“Iya, aku yakin ia orang yang baik, tapi kau lebih baik.”
“Ka…kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau takut pada Sungmin?”
“Em… aku takut menyukainya, ia terlalu baik untukku.”
“Tadi pagi kau berbisik apa padanya?”
“Ku katakan padanya, agar kita menjalani kehidupan mengalir saja, saat ini aku memang tak mencintainya, tapi mungkin suatu saat nanti.”
^^
Siang itu aku mengajak Appa ke restoran Indonesia di Korea, kudengar Appa sedang rindu dengan masakan Indonesia. Hanna juga ikut, ia penasaran dengan masakan Indonesia. Kami memesan nasi Padang dengan es kelapa, Appa makan dengan lahap begitu juga Hanna.
“Em, masakan Indonesia enak-enak, ya! Kapan-kapan ajak aku ke Indonesia dong, Rin!”
“Akupun tak pernah ke Indonesia.”
“What? Paman ini bagaimana sih, kenapa tak pernah ajak Rin ke Indonesia?!”
“Hei bocah, bukannya Paman tak mau mengajak Rin, tapi memang Paman belum sempat lagi ke Indonesia.”
Lho? Logat Appa selayaknya anak muda, sepertinya Hanna sudah mengajarkan hal aneh pada Appa.
“Appa, kenapa kau berbicara seperti anak muda?”
“Ha? Hehe, ini karna bocah yang kau jadikan pengasuh Appa ini.”
“Kau mengajarkan apa pada Appa?”
“Um… bukan apa-apa, kok.”
Kami pun tertawa bersama melihat perubahan Appa. Oh iya, tentu Appa tak sadar dengan perubahan identitasku, penampilanku kuubah lagi jadi anak-anak, rambut hitam lurus kuncir 2, poni pun kupenuhkan kedepan, tak memakai bedak dan lipstik, hanya lipgloss merah jambu, kacamata kuganti dengan kontak lens warna coklat tua.
“Rin, sepertinya kau agak berbeda.”
“Hah? Benarkah Appa? Apa bedanya?”
“Kau tambah manis.”
Fiuh… ku kira Appa sadar.
“Iya dong, anak Appa harus tambah manis!”
“Ha ha ha …” tawa Hanna seperti meremehkan, langsung kucubit pipi chubbynya hingga ia tersentak hampir memuntahkan makanannya yang sedang ia kunyah.
“Rinna?”
“Kyu! Kenapa kau disini?”
Kyu menarik tanganku menjauh dari Appa dan Han.
“Member SuJu akan makan siang di sini, dan aku yang bertugas memesan tempatnya.”
“Mana mereka sekarang?”
“Sebentar lagi mereka datang, cepatlah kau ajak Appamu dari sini, atau kau tetap di sini dan Appamu pergi, karna mereka akan menemukanmu jika kau keluar.”
“Yasudah, sebentar, ya.”
Akupun kembali ke meja, menyuruh Han untuk mengajak Appa pergi karna member SuJu akan segera kemari, Han cepat mengajak Appa pergi.
“Kau mau kemana dulu, Nak?”
“Aku ada urusan dengan temanku yang tadi, Pa.”
“Tapi kau akan pulang, kan? Ini belum 3 hari, lho.”
“Iya Appa, aku pasti pulang.”
“Hati-hati ya, Nak.”
Han dan Appa berlalu, dan tepat mereka keluar member SuJu masuk ke restoran. Aduh, penampilanku, bagaimana ini?
“Kyu, aku belum menjadi Rinna, bagaimana?”
Kyu terdiam, dan senyumnya terkembang lebar.
“Ini baru Rin presiden sekolah.”
“Aigo, kenapa kau malah berkata seperti itu.”
“Tidak apa-apa, walau berbeda kau tetap terlihat seperti Rinna.”
“Maksudmu apa? Wajahku terlihat tua walau dengan penampilan seperti ini?”
“Ya… begitulah.”
“Dasar!” kupukul pundak Kyu perlahan, ia tertawa.
“Bohong-bohong, kau terlihat sangat manis.”
“Rinna? Ini kamu?” tanya Siwon heran.
“I…iya,” jawabku gugup.
“Kalau begini kau benar-benar terlihat manis!” seru Kangin.
“Lucu!!” seru Leeteuk sambil menyubit pipiku. Yang lain tertawa kecil, aku hanya manyun dengan prilaku Leeteuk.
“Ngomong-ngomong aku sudah lapar, makan yuk,” ajak Heechul.
“Kau mau ikut makan dengan kami, Rinna?” tanya Yesung.
“Um…”
“Ayo ikut saja, Rinna,” ucap Sungmin sambil menggamit lenganku, akhirnya aku ikut makan dengan member SuJu, padahal baru tadi pagi kita berpisah, tapi sekarang sudah bertemu lagi, ha ha ha.
Kebanyakan dari member SuJu memesan ayam goreng atau ayam bakar, nasi putih, ikan bakar, sayur kangkung, dan lainnya. Sedang aku hanya memesan sate sapi beserta sambal terasi tanpa nasi, bagaimanapun aku sudah kenyang.
“Kau makan sedikit, Rinna. Apakah kau sakit?” tanya Ryeowook.
“Anneyo, aku tadi baru saja makan.”
“Kau kesini sendirian, Rinna?” tanya Leeteuk.
“Tidak, tadi aku bersama keluarga, tapi mereka harus segera pulang, karna bertemu dengan Kyu, aku tertahan.”
“Seharusnya jangan pulang dulu, biar orangtua Rinna memilih,” ucap Donghae.
“Memilih apa?”
“Memilih siapa yang cocok dengan Rinna, wahahaha!” canda Donghae.
Para member SuJu langsung melemparinya dengan sayur lalap, aku sedikit melirik Sungmin, dan menangkapnya sedang menatapku, tapi langsung memalingkan pandangannya ke Donghae dan ikut melempari Donghae.
Selesai makan aku pamit pada SuJu.
“Kau pulang sendiri?” tanya Siwon.
“Iya, tata.”
Fiuh… untung mereka juga tak curiga dengan perubahanku, terimakasih Kyu.
^^
Sekitar jam 3 sore aku baru tiba di rumah sakit, Appa ternyata sedang tidur, jadi aku mengisi kekosonganku dengan pulang ke rumah. Rumah Appa sekarang ditempati Hanna, ia benar-benar membantu.
“Sore, Unni.”
“Sore, kau kenapa tidak menemani Appa?”
“Appa sedang istirahat, nanti malam juga aku ke rumah sakit.”
“Rumahmu tetap bersih, kan? He he he.”
“Gamza khamida untuk semuanya Unni, kau sangat membantu.”
Kupeluk tubuh mungil Han lagi, kurasakan detak jantung Han yang indah, detak jantung yang telah member kehidupan bagi orang yang selama ini membantuku.
“Sebenarnya aku sudah menganggap Appamu sebagai Appaku, tidak apa-apa kan?”
“Dengan senang hati, kau pun boleh menjadi kakakku.”
“Benarkah? Gomawo, kau telah memberi keluarga untukku.”
Aku lupa 1 hal, Han memang hidup sebatang kara, tapi ia tetap bertahan hidup sebagai karyawan Salon, ia benar-benar sendiri selama ini. Banyak orang menyarankan agar ia ke panti asuhan, tapi seniorku ini bersikeras untuk hidup sendiri, ia tak mau mengganti posisi keluarga kandungnya dengan keluarga baru, ia membuat anggapan orang-orang padanya berganti yang awalnya meremehkannya sekarang takjub padanya. Seorang wanita 20 tahun yang selalu menjadi panutan untukku sesudah Umma. Ia mengajarkanku sebuah ilmu yang tak pernah ada di sekolah manapun, yaitu ilmu kasih sayang. Ia selalu menyayangi orang dengan tulus, tanpa memandang apapun, ramah pada siapapun, dan yang paling berharga adalah senyumnya yang tak pernah hilang.
Ternyata Han menganggapku dan Appa sebagai keluarganya, dan ia sekarang tak sendirian lagi, ia sudah punya aku dan Appa, dan aku akan menjaganya dengan baik. Kasihmu yang putih takkan kusia-siakan.
^^
Sungmin duduk di teras Villa dan membolak-balik lembaran majalah yang tersedia di Villa, matanya memang melihat majalah, tapi pikirannya tidak. Rindu pada Rinna kembali hinggap di relung hatinya.
“Huh, membosankan tidak ada Rinna.”
“Iya benar,” setuju Ryeowook yang sejak tadi menemani Sungmin.
“Em, Wookie, bukankah kau sangat dekat dengan Rinna, menurutmu Rinna orang yang seperti apa?”
“Kau juga dekat dengan Rinna, kenapa harus bertanya?”
“Iya sih, tapi aku ingin mendengar dari pandanganmu komposer.”
“Oke, Rinna itu seperti putri salju.”
“Hah? Maksudmu?”
“Ya, putri salju yang punya cinta juga seputih salju. Kasih sayangnya sangat berati untuk kita.”
“Aku setuju, maka dari itu aku berani mengungkapkan perasaanku saat pertama kali kita di apartemen.”
“Apa itu saja alasannya?”
“Nggak juga sih, alasan lainnya karna ia berbeda dari wanita lain, ia begitu pemberani, penyayang yang tulus, tapi bawel.”
“Sepertinya semua wanita seperti itu.”
“Tidak, aku merasa Rinna itu berbeda, ia tidak seperti gadis lain yang memikirkan uang-uang dan uang.”
“Sungmin, tentu ada banyak wanita seperti Rinna, tapi kita baru bertemu dengan 1 wanita itu.”
“Mungkin saja, tapi Rinna tetap yang terbaik, dan aku sudah memilih.”
“Kau serius dengan Rinna?”
“Iyap, dukung aku, ya?”
“Te…tentu.”
“Hey, kalian berdua sedang apa malam-malam begini? Tidurlah, besok kita akan lari pagi di sekitar gunung,” ucap Kyu.
“Aku masuk duluan, ya,” ucap Sungmin lalu masuk.
Ryeowook hendak masuk, tapi Kyu menahannya.
“Wookie, sinar matamu tidak bisa disembunyikan.”
“Memang sinar mata seperti apa yang kau lihat?”
“Kekecewaan.”
“Kecewa tentang apa? Aku merasa baik-baik saja.”
“Kau takut jika Sungmin bersama Rinna, kan?”
“Ah, kau mengada-ada, sudah ayo tidur.”
“Jika kau mencintai Rinna, kejarlah ia.”
“Kau ini bicara apa sih, Rinna itu hanya sahabatku, ia ingin kita hanya bersahabat.”
“Aha?”
“Sudah, aku mau tidur.”
‘Rinna memang gadis yang beruntung, dicintai banyak orang karna kasih sayangnya, yang putih seputih salju,’ gumam Kyu dalam hati.
Langganan:
Postingan (Atom)