Senin, 17 Desember 2012

A Fanfiction - Paranoid (Oneshot)_BaekYeol


Paranoid



Tittle: Paranoid (terror) – sequel of Mysterious secret
Author: Fie
Genre: Horror, Shounen-ai (boys love), romance, little humor
Rated: 15+
Languange: Bahasa
Length: Oneshot
Pairing: Baekyeol/Chanbaek
Main cast:
- Byun Baekhyun
- Park Chanyeol

Support cast:
- Kim Joonmyun or Suho
- Kim Jongin or Kai
- Do Kyungsoo or D.O
- Oh Sehoon or Sehun
- Kim Minseok or Xiumin
- Shinji Mitsuki (OC)
- Shinji Ikkirou (OC)
- Kim Sangwook (OC)
- Eomma Kim Sangwook (OC)







Sesak...
Di sini benar-benar sesak...
Tolong aku...






Gedung SBS Inkigayo_24-03-2014_06.15 PM


“EXO-K EXO-K EXO-K!!”

Teriakan itu terus menggema di sepanjang pertunjukan kami. Hari ini adalah goodbye stage, jadi tidak heran kalau sambutannya benar-benar meriah.

“Kamsahamnida!!”

Aku dan teman-temanku berterimakasih dengan membungkuk cukup lama pada para fans kami dan berlari ke belakang panggung. Chanyeol melemparkan minuman padaku, dengan sigap kutangkap botol itu. Dinginnya air mineral dengan segarnya melewati tenggorokanku. Ah...lega sekali.

“Segar, kan?”

“Ne, Chanyeol.”

“Setelah ini kita akan santai sejenak. Pulihkan tenagamu, Baekhyunnie.”

“Pasti!”

Aku dan Chanyeol terus bercanda untuk melepas rasa lelah kami. Tapi saat kami sedang asyik bercanda, kami mendengar kegaduhan dari pintu utama.

“Baekhyun! I wanna meet Baekhyun!”

Calm down, Miss. If you want to give a gift for Baekhyun, you can give it to us.”

No! I want to give it directly to Baekhyun!”

Please keep your attitude, Miss!”

Chanyeol dan aku saling pandang dan sepakat untuk menghampiri kegaduhan itu.

“Ah! Baekhyun! That’s Baekhyun!”

“Ne, ada apa?”

Chanyeol mencekal tanganku seperti menyuruhku waspada.

I wanna give you this gift!”

“Ah...ne, kamsahamnida.”

Kuterima bingkisan darinya dan melemparkan senyum manis padanya. Gadis itu membungkuk tanda terimakasih dan langsung berlari meninggalkan kami.

“Lain kali biar kutangani, Baekhyun.”

“Tidak apa-apa, Manajer-hyung. Hari ini kan hari spesial untuk EXO.”

“Ne, terserah kau saja. Kau dapat apa?”

Kubuka bingkisan itu dan terpampanglah sebuah hiasan manis. Hiasan itu adalah patung chibi berbentuk wajahku. Benar-benar lucu! Aku sangat menyukainya!

“Woaa, lucu sekali, Baekhyunnie.”

“Ne, aku benar-benar menyukainya!”

“Kau menyukainya? Bagaimana denganku?”

“Hya!”

***

Dorm EXO-K_24-03-2014_07.13 PM

Woaa, rasanya tubuhku ini isinya sudah acak-acakan. Maksudku, aku benar-benar lelah malam ini. Kulihat teman-temanku juga begitu. Mereka langsung melepas jaket mereka dan berbaring di sofa ruang tengah. Suho dan Sehun langsung masuk ke kamar, mereka bilang mau langsung istirahat setelah mandi. Aku mandi tidak, ya? Heuh...malas sekali. Tapi kalau aku tidak mandi, aku akan kepanasan. Yasudah, aku mandi saja.

Kulepas jasku dan melemparnya ke ember cucian. Akan kupakai kamar mandi di kamar karena kamar mandi di dapur masih rusak. Oiya, aku baru sadar kalau Chanyeol tidak ada, di ruang tengah atau di kamar. Kemana dia?

“Chanyeol?”

“Baekhyunnie...”

“Kau dimana?”

“Aku di kamar mandi.”

“Ha? Kau jangan berbohong, jelas-jelas aku di depan kamar mandi.”

Tidak ada lagi jawaban, semuanya hening. Langsung kuambil ponselku untuk menghubungi Chanyeol.

“Yeoboseo?”

“Chanyeol! Kau di mana?!”

“Tadi kan aku bilang, kalau aku ada urusan sebentar dengan Manajer-hyung. Kau tidur duluan saja, tapi lampunya jangan dimatikan.”

“Ta-tapi tadi...”

“Sudah, ya? Aku masih sibuk.”

Tut...

Kalau Chanyeol sedang keluar, lalu siapa yang menjawab pertanyaanku tadi? Sepertinya itu hanya perasaanku. Aku sedang lelah, ne, aku hanya sedang kelelahan. Sudahlah, Baekhyun, jangan melantur seperti ini.

Ahiya, hiasan yang kudapat dari fans tadi aku taruh di mana, ya? Nah, di dekat kasurku saja. Hiasan lucu ini terlihat indah di sana dan sebaiknya aku cepat-cepat mandi karena hari mulai larut. Sebenarnya ada urusan apa sih si Chanyeol itu? Meninggalkan pacarnya ini sendirian. He? Pacar? Aku belum cerita, kami memang berpacaran sejak November tahun lalu, tepatnya saat ulang tahun Chanyeol. Aku jadi ingat bagaimana aku dan teman-teman mengerjai Chanyeol dengan mystery six bohong-bohongan. Hahaha, aku jadi ingin mengulang kejadian itu. Eh, tapi jangan deh, nanti Chanyeol bisa membunuhku kalau aku mengerjainya lagi.

***

Dorm EXO-K_26-03-2014_09.00 PM

“Saengilchukkahamnida! Saengilchukkahamnida! Saengilchukkahamnida! Saranghaneun, Minseok-hyung, Saengilchukkahamnida!”

Nyanyian selamat ulang tahun itu terus kami nyanyikan selama 5 menit untuk Minseok-hyung yang hari ini berulang tahun. Sayangnya kami hanya bisa merayakannya lewat video call karena EXO-M belum bisa pulang ke Korea. Kulihat Minseok-hyung terus tersenyum mendengar nyanyian kami yang cukup heboh, terutama aku dan Kyungsoo.

“Minseok-hyung! Kami akan mengirimkan banyak baozi untukmu!” seru Kyungsoo.

“Hei, jangan mengada-ada, hahahaha.”

“Benar, Hyung! Aku akan membantu Kyungsoo membuat banyak baozi untukmu. Aigo...semakin hari kenapa wajahmu itu semakin imut?” ucapku panjang lebar.

“Baekhyunnie, kau itu bisa saja.”

“Ayo sekarang kita berpesta!”

Aku harus menyembunyikan masalahku dari mereka, dan semoga saja setelah pesta ini perasaanku akan lebih baik.

***


Dorm EXO-K_27-03-2014_04.49 AM



Hosh...hosh...hosh...

Lagi-lagi, sudah tiga hari berturut-turut aku bermimpi buruk seperti ini. Aish, aku benar-benar harus ke psikiater. Pokoknya nanti malam setelah latihan aku akan ke psikiater dan sebaiknya teman-teman tidak tahu, karena kalau mereka tahu, aku bisa ditertawakan. Aku paling malas kalau mereka nantinya mengerjaiku karena mimpiku ini. Aku tidak menjamin kalau si Park Chanyeol bersama Sehun, si maknae kurang ajar itu, tidak mengolok-olokku. Kalau Chanyeol dan Sehun sudah mulai, Jongin, Kyungsoo, dan Joonmyun-hyung pasti ikut-ikutan. Untung saja selama tiga hari ini aku belum menceritakannya pada siapapun, jadi aku aman.

Kusikap selimut yang membuat keringatku semakin banyak saja, lalu kuseka keringatku dengan selimut itu, karena sekali lagi aku tak mau mereka mencurigaiku. Aku orang yang tidak tahan bercerita kalau ditanya terus-terusan. Huh...nasib deh menjadi orang yang mudah jujur.

Eum, sepertinya Chanyeol belum bangun, untunglah...

Melihat kesempatan ini, aku langsung merapikan tempat tidurku dan berjalan perlahan ke kamar mandi. Di kamar mandi, kuambil pembersih muka dan mulai membersihkan wajah kusutku. Aku mulai mengoleskan krim berbau mint itu pada wajahku di mulai dari pipi kanan, krim itu memberi efek dingin yang terasa seperti menusuk, bukan karena obat itu beracun, tapi karena udara pagi ini benar-benar dingin. Aih...aku tidak bisa membayangkan bagaimana dinginnya saat aku membasuh wajahku nanti.

Oles-oles

Usap-usap

Oles-o...

Hei, bau apa ini? Baunya masam sekali. Aku baru sadar ada bau masam yang menyengat di sini. Kuendus-endus bau masam itu, tapi aku tidak menemukan sumbernya. Omona! Baunya benar-benar masam! Cepat-cepat kubasuh wajahku karena mataku mulai terasa perih akibat sabun itu menyentuh kelopak mataku saat aku bergerak tadi. Brrr...dingin sekali...

Selesai membasuh, aku mencari sumber bau itu lagi, tapi tetap saja tidak kutemukan sumbernya. He? Tunggu sebentar, sepertinya...hahahaha! Ini sih bau keringatku! Aish...chincha...hahaha.

“Baekhyunnie.” Terdengar suara berat Chanyeol dari luar.

“Nde?”

“Cepat keluar, perutku sakit sekali.”

“Ne, sebentar-sebentar.”

Langsung kurapikan botol sabun dan melepas bajuku yang penuh keringat, penyebab bau masam, itu ke keranjang baju. Kubasuh sedikit tubuhku agar lebih segar walaupun rasanya dingin sekali sampai menusuk tulang.

“Byun Baekhyun!”

“Ne-ne, tunggu sebentar lagi.”

Huft, dasar Chanyeol, dia itu tidak bisa menunggu sebentar apa? Sepertinya perutnya benar-benar sakit. Sambil membawa keranjang baju, kubuka pintu kamar mandi dengan agak terburu-buru. Baru saja aku mau memarahi Chanyeol, tapi...

Sing...

Tidak ada siapa-siapa. Semua hening, hanya desah angin dingin pagi yang bisa kudengar. Tempat tidur Chanyeol juga kosong. Sontak keranjang baju yang kubawa terjatuh, tapi aku tidak menggubrisnya. Aku mulai berjalan perlahan, mencoba berpikir positif, bisa saja Chanyeol pergi ke kamar mandi luar karena tidak tahan, kan? Ne, Chanyeol pasti tidak sabar menungguku. Aku langsung berlari melewati kamar gelapku menuju ruang tengah, tapi sepi, semuanya sepi karena yang lain belum bangun. Tujuanku yang sebenarnya adalah kamar mandi yang terletak di dekat dapur, jadi aku berlari lagi. Aku tidak tahu kenapa aku harus berlari seperti ini, yang pasti ini seperti de javu, aku merasa pernah mengalami ini, tepatnya di mimpiku.

Tep...

Aku berhenti saat kulihat pintu kamar mandi masih terbuka dan gelap, tanda belum ada yang memakainya. Kutelan ludahku untuk membasahi tenggorokanku yang mulai kering karena gugup, kepalaku mulai terasa sakit, dan tubuhku melemas. Aku berjalan dengan tubuh gemetar menuju ruang tengah. Aku duduk di sofa dan baru sadar lampu ruang tengah juga masih mati. Oke, ini benar-benar menakutkan. Apakah kejadian di dalam mimpiku akan menjadi nyata? Apakah bisa? Apakah...

“Byun Baekhyun!”

Keringat dingin mulai membasahi dahi dan tengkukku saat kudengar suara Chanyeol dari arah kamar kami yang berada tepat di belakangku. A-aku tidak berani menoleh.

“Hya! Byun Baekhyun!”

Greb

Kurasakan tangannya menggenggam pundakku dan aku langsung terlonjak sekaligus lega. Akhirnya aku menoleh dan tersenyum bahagia saat kupastikan kalau orang yang menggenggam pundakku ini adalah Chanyeol.

“Chanyeollie! Aigo...aku senang sekali!!”

“Senang? Kau senang bertemu denganku yang selalu kau temui?”

“Anyeo, bukan seperti itu. Eum...sudahlah lupakan saja. Kau kemana tadi?”

“Aku dari kamar mandi Suho-hyung, kau lama sekali, kau mandi?”

“Oh, pantas saja aku tidak menemukanmu di kamar mandi dapur.”

“Hahaha, kau lupa, ya? Keran kamar mandi itu kan sedang rusak. Sepertinya si Sehun melepas tandanya untuk mengerjai yang lain.”

“Mengerjai seperti apa?”

“Bisa saja kau panik ingin buang air dan lupa kalau keran kamar mandinya rusak.”

“Ooh...benar juga.”

“Tumben bangun pagi sekali, Baekhyun?”

“Aku mimpi buruk...”

“Nde? Mimpi buruk?”

“A-ah, anyeo, aku hanya bercanda,” ucapku gugup karena hampir saja aku mengatakannya pada Chanyeol. Habislah aku kalau ketahuan.

“Yasudah, aku tidur lagi, ya. Bangunkan aku kalau sarapannya sudah jadi.”

“Ne.”

“Oiya, keranjang bajunya jatuh, kau tadi buru-buru, ya?”

“Ne.”

“Kau mencemaskanku?”

“Tidak juga, aku hanya takut.”

“Takut kenapa?”

“Oh, bukan apa-apa. Sudahlah, aku akan membereskannya sebentar lagi, kau tidur saja sana.”

“Aku memang mau tidur kok.”

Chanyeol kembali ke kamar tanpa melihatku lagi. Dia tidak menutup pintunya karena tahu aku juga akan kembali. Oke, harus kuakui, aku mencemaskan namja tinggi itu karena berbagai alasan. Bagaimana jika dia diculik? Atau bagaimana kalau dia kabur? Ah, itu agaknya terlalu berlebihan. Pokoknya aku takut. Selain takut tentang Chanyeol, aku juga takut kalau yang memanggilku tadi...wow, pikiran-pikiran anehku langsung membuat bulu kudukku berdiri. Sebaiknya kunyalakan lampu, di sini benar-benar gelap.

***

Dorm EXO-K_27-03-2014_06.10 AM

Jam sudah menunjukan pukul 6 pagi, sejam setelah kejadian menakutkan tadi. Oh tidak, mungkin itu tidak menakutkan kalau aku tidak separanoid tadi. Huft...gara-gara mimpi itu aku jadi mudah paranoid. Aku harus ke psikiater pokoknya. Kebetulan Eomma punya teman seorang psikiater, jadi aku harus membuat janji secepatnya.

Biasanya kalau aku bangun terlalu pagi, aku akan tidur lagi seperti yang dilakukan Chanyeol, tapi aku tidak bisa, lebih tepatnya tidak mau. Aku tidak mau bermimpi buruk lagi, jadi aku tetap terjaga sampai orang pertama yang bangun, selain Chanyeol, terheran-heran melihatku sudah menyiapkan roti untuk sarapan.

“Baekhyun-hyung?” tanyanya sambil menyipitkan mata, seperti memastikan kalau orang yang dilihatnya benar-benar aku.

“Ne, Sehunnie.”

“Kau bangun sebelum Kyungsoo-hyung?”

“Ne, memangnya kenapa?”

“Aneh...”

“Ish, maknae kurang ajar!”

Sehun tertawa kecil sambil menggeser kursi makan dan duduk di atasnya.

“Tumben sekali, Hyung.”

“Aku tidak bisa tidur.”

“Kenapa? Hyung sedang sakit?” Sehun mengambil seiris roti dan mulai mengoleskan mentega ke atasnya.

“Tidak juga, pokoknya aku tidak mau tidur.”

“He? Benar-benar aneh.”

“Sudahlah, tidak usah menghiraukanku.”

“Tapi aku benar-benar penasaran, Hyung.” Sekarang Sehun melapisinya dengan selai cokelat. Terkadang aku heran dengan kebiasaannya ini. Mentega dan selai itu kan beda alam.

“Tidak ada apa-apa, makan saja roti anehmu itu.”

“Nde? Roti aneh?”

“Ne, kau selalu mengoleskan mentega dan selai bersamaan, apa itu enak?”

“Rasanya enak,” ucapnya sambil mengunyah rotinya.

“Aku pernah mencobanya, rasanya tidak enak.”

“Lidah kita kan berbeda, Hyung.”

“Hem, benar juga.”

Pembicaraan kami berhenti karena kami mulai bingung menentukan arah pembicaraan ini, yang pasti Sehun masih penasaran kenapa aku tidak bisa tidur. Hem, apa aku ceritakan saja, ya? Ah, tidak mau, nanti dia mengolok-olokku.

Morning, everybody!”

Ah, suara Jongin. Anak itu norak sekali, dia memang sedang tekun belajar bahasa inggris, jadi tidak heran kalau kemana-mana dia memakai bahasa inggris, walaupun kosa katanya masih payah.

“Jangan menyapa kami dengan bahasa asing dong, kedengarannya menggelikan.” Aku setuju dengan ucapan Sehun. Jongin hanya terkekeh dan duduk di samping Sehun.

“Belajar itu harus diulang, kalau tidak, kita akan cepat lupa.”

“Ohya? Buktinya tanpa mengulang pelajaran menghitungpun aku masih ingat kalau satu tambah satu sama dengan dua,” ledek Sehun dengan candaannya yang berhasil membuatku tertawa cukup keras.

“Sehunnie, kau sedang melucu, ya?” tanyaku seraya menahan tawa.

“Tidak juga, Hyung. Aku bicara yang sebenarnya kok.”

“Paboya! Pelajaran menghitung seperti itu kan mudah! Coba kau bandingkan dengan pelajaran bahasa asing? Kau harus menghapal setiap kosa kata dan juga tata bahasanya! Berapa jumlah kata di dunia ini? Ribuan! Jutaan! Millyaran! Bahkan tak terhitung kalau muncul kata-kata baru lagi.”

“Tidak usah sampai hujan lokal, Jongin,” ucap Sehun santai tapi berhasil membuat tawaku kembali meledak. Harus kuakui, walaupun Sehun itu anaknya jahil, aku senang berteman dengannya, seperti tidak ada bosannya. Jongin yang kesal dengan perlakuan Sehun hanya bisa mengambil roti dan melahapnya tanpa isi.

“Hya, kau tidak pakai selai, Kai?” tanyaku, tapi dia tidak menghiraukanku, sepertinya dia juga marah padaku. Hahaha.

 “Mau kubuatkan susu?” kini aku bertanya pada Sehun, ini bayaran karena membuatku sedikit melupakan mimpi itu.

“Boleh, Hyung! Susu cokelat, ne?”

“Aku tidak, Hyung?” tanya Kai dengan wajah memohon.

“Anyeo, tadi kau membuat moodku makin buruk. Kalau bukan karena Sehun, aku pasti marah-marah sepanjang hari ini.” Pagi ini aku dan Sehun berhasil membuat Kai dongkol.

“Pilih kasih!” Aku dan Sehun kembali tertawa.

Tak berapa lama, Kyungsoo bangun sambil mengusap matanya, dia terlihat kelelahan. Ne, kami semua lelah, ini karena kemarin kami merayakan ulang tahun Minseok-hyung, walaupun hanya lewat video call, sampai larut. Kyungsoo dan aku yang paling heboh kemarin, tapi sepertinya yang bisa tidur pulas hanya Kyungsoo, Sedangkan aku? Gara-gara mimpi itu, aku jadi terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang panjang untukku.

“Maaf ya aku baru bangun,” ucap Kyungsoo dan duduk di hadapan Jongin.

“Tidak apa-apa, Hyung. Kau kan heboh sekali kemarin.” Lagi-lagi Sehun menyerang orang yang baru bangun.

“Ohiya, hahaha. Habisnya Januari lalu Minseok-hyung kan memberiku hadiah earphone dan mp3-player yang kuinginkan, jadi aku balas budi dengan menghiburnya.”

So, it’s just good attitude?”

Oh my...Jongin mulai lagi. Sebaiknya aku tidak menghiraukannya. Sekarang perhatianku terfokus pada susu cokelat Sehun dan sebaiknya aku juga membuatkan satu untuk Kyungsoo, kasihan sekali melihat wajah lesunya.

“Joonmyun-hyung dan Chanyeol-hyung belum bangun, ya?” tanya Kyungsoo yang mulai melahap rotinya.

“Ehiya, aku lupa membangunkan Chanyeol,” ucapku. Kupercepat gerak tanganku mengaduk susu itu dan langsung meletakannya di meja.

“Ini untukku, Hyung?” tanya Kai.

“Bukan, untuk Kyungsoo.”

“Aish...chincha...”

Setelah tertawa kecil, aku langsung menuju kamarku untuk membangunkan Chanyeol. Saat kubuka pintu kamar, aku terkejut karena baru sadar kalau lampu kamar belum kunyalakan, jadi suasana kamarku benar-benar menyeramkan. Sebenarnya tidak, tapi sekali lagi karena aku terlalu paranoid, jadi semua terlihat menyeramkan. Segera kubuka jendela kamar untuk memasukan secercah cahaya ke ruangan gelap ini. Rupanya cahaya itu membuat Chanyeol terbangun.

“Umh...”

“Baguslah kalau kau sudah bangun, Chanyeollie.”

“Ne, Chagiya...”

“Jangan panggil aku seperti itu, sangat mengganggu.”

Chanyeol tidak meresponku dan hanya tertawa kecil. Kubuka tirai kamar lebih lebar karena Chanyeol sudah terlanjur bangun.

“Tumben kau membangunkanku, Baekhyunnie.”

“Nde? Kan kau yang minta.”

“Kapan?”

“Subuh tadi kan kau bangun karena sakit perut, lalu kau tidur lagi setelah menyuruhku untuk membangunkanmu saat sarapan.”

“He? Aku baru bangun sekarang,” ucap Chanyeol sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Mwo? Kau tidak melindur, kan?”

“Aku berani bersumpah kalau aku baru bangun sekarang. Mana sempat subuh tadi aku menyuruhmu membangunkanku?”

“Kau jangan menakutiku, Chanyeol.”

“Oh, ayolah, Baekhyunnie. Aku mengatakan yang sebenarnya.”

Aigo...yang bermimpi itu sebenarnya siapa? Jadi yang kemarin malam itu...mimpi, kenyataan, atau dejavu? Atau aku memang terlalu parno? Ish.

“Baekhyunnie, kau harus ke rumah sakit, akhir-akhir ini wajahmu pucat.”

“Chinchayo?”

“Ne, kau kurang tidur?”

“Eum, tidak juga. Baiklah, aku akan ke psi...maksudku ke rumah sakit malam ini.”

“Oke, akan kuantar.”

“Ti-tidak usah! Aku juga mau ke rumah sebentar.”

“Untuk apa?”

“Aku harus mengambil sesuatu.”

“Yasudah, kuantar saja.”

“Sudah kubilang tidak usah, Chanyeol.”

“Hoahm...aku jadi penasaran kau sakit apa. Sebentar lagi kita kan liburan, jadi itu pasti membantu untuk memulihkan tenagamu.”

“Ne.”

“Ngomong-ngomong, kita liburan ke mana, ya?”

“Di dorm saja.”

“Mwo? Hahaha, ada-ada saja.”

“Ne, aku hanya mengada-ada.”

“Sudahlah, sepertinya kau memang sakit, tidak usah banyak bicara. Lagipula, kenapa kau heboh sekali sih kemarin?”

“Sudah jadi kebiasaan, Chanyeol!”

“Oiya, benar juga. Hahahaha.”

***


SM Building_27-03-2014_08.20 AM

Kami memulai latihan kami dengan meregangkan tubuh. Semuanya terlihat baik kecuali aku. Tubuhku benar-benar lemas karena pikiranku terganggu dengan kejadian tadi pagi. Sesekali kulirik Chanyeol untuk memastikan dia manusia. Hei, apa yang kukatakan? Oh, ayolah, aku benar-benar paranoid sekarang bahkan aku membayangkan orang-orang di sekitarku ini hantu semua. Hantu? Di zaman seperti ini aku masih percaya hantu? Aku masih, walaupun dulu aku sempat mengerjai Chanyeol dengan mystery six bohong-bohongan, tapi aku masih percaya kalau hantu benar-benar ada. Oh my...apa ini hukuman dari Tuhan karena aku selalu mengolok-olok Kyungsoo? Ah, tidak mungkin.

“Kau kenapa, Baekhyun?”

“Oh, gwenchana, Suho-hyung.”

“Wajahmu sedikit pucat.”

Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Suho-hyung, sudah dua kali sehari ini ada yang bilang wajahku pucat.

“Ne, akan kusuruh Chanyeol menemanimu ke rumah sakit.”

“Andwe, Hyung. Aku bisa ke rumah sakit sendiri.”

“Jadi kau benar-benar sakit, eoh?”

“Ne, sepertinya aku sedikit demam. Aku kurang tidur.”

“Kan sudah kubilang, kalau mengobrol dengan Chanyeol jangan sampai larut. Kalian berdua ini.”

“A-anyeo, bukan karena mengobrol sampai larut. Aku hanya...”

“Hanya?”

“Kalau sudah diperiksa aku akan bilang, Hyung.”

“Yasudah, ayo berdiri, tempati posisimu.”

“Ne.”

Kuambil posisiku pada lagu “History”, tepat di sebelah kanan belakang Kyungsoo. Kugeleng-gelengkan kepalaku untuk meyakinkan kalau aku baik-baik saja. Musik mulai berkumandang dan kami memulai tarian kami.

“Listen!”

Saat Kai mengucap kata itu, kami langsung memutar tubuh, tapi kakiku tiba-tiba terpeleset hingga tubuhku sedikit oleng dan hampir jatuh. Chanyeol yang pertama kali menyadari ketidakseimbanganku langsung mengacungkan tangan dan semua berhenti.

“Gwenchana, Baekhyunnie?” tanya Chanyeol yang disambut tatapan cemas teman-teman.

“G-gwenchana.”

“Istirahat saja dulu,” saran Chanyeol yang langsung merangkulku dan menuntunku ke dinding. Aku ingin memberontak, tapi tubuhku benar-benar lemas.

“Aku mau ke kamar mandi sebentar,” ucapku dan langsung melepas rangkulan Chanyeol. Aku berjalan gontai dan memutar gagang pintu yang terasa berat untukku yang sedang tidak enak badan ini. Beberapa saat kemudian, aku sudah berada di kamar mandi. Kutatap wajahku yang pucat, sedikit ngeri karena wajahku sudah serupa mayat hidup.

 “Baekhyunnie, kau tidak apa-apa?”

Aku belum bisa menjawab pertanyaan itu. Aku takut kalau yang bertanya itu bukan Chanyeol.

“Baekhyunnie?”

“Ne, gwenchana.”

“Suaramu terdengar serak, Baekhyunnie. Cepat keluar.”

“Anyeo, aku benar-benar tidak apa-apa, kok.”

“Baekhyunnie...”

Dengan ragu akhirnya kubuka pintunya dan benar, tidak ada siapa-siapa, lagi. Air mata merembes membasahi wajahku, aku tahu aku salah, tapi jangan hukum aku seperti ini, Tuhan. Aku kan hanya mengerjai Chanyeol, itupun hanya sekali. Apa di dorm ini benar-benar ada arwah? Aigo...aku bisa gila!

Aku berlari meninggalkan kamar mandi menuju ruang latihan. Sedikit kudobrak pintunya karena aku agak terburu-buru. Orang-orang di dalamnya sontak kaget dan Chanyeol langsung menghampiriku setelah sadar dari keterkejutannya.

“Waeyo, Baekhyunnie?”

Kutatap Chanyeol dengan tatapan memohon, Chanyeol langsung merangkulku dan mengjakku duduk dengan yang lain.

“Ada apa, Hyung?” tanya Kai. Aku hanya menggeleng karena belum bisa menceritakannya. Aku bisa dikira sakit jiwa.

“Wajahmu pucat sekali, Baekhyun,” ucap Chanyeol yang merangkulku lebih erat.

“Wajahmu benar-benar seperti mayat hidup, Hyung,” ucap Sehun, tiba-tiba saja Chanyeol menendang kaki Sehun seperti menyuruhnya diam.

“Aku tidak apa-apa, hanya kurang tidur.”

“Apa penyebabnya, Hyung?” tanya Kyungsoo.

“Mungkin aku terlalu lelah.”

“Lelah apanya? Kita kan tidak dalam masa promosi,” ledek Sehun dan itu benar-benar membuatku bingung. Aku juga tidak tahu lelah kenapa.

“Kau memang harus ke rumah sakit hari ini, Baekhyun,” saran Suho-hyung.

“Suruh manajer-hyung menemani Baekhyun-hyung saja,” ucap Kai.

“Ti-tidak usah! Aku bisa ke rumah sakit sendiri!”

“Kau ini aneh sekali, Baekhyun.”

“Aku akan ke sana sendiri, Chanyeol. Jangan ikuti atau mencemaskan aku, ne?”

Chanyeol belum menjawab, tatapannya benar-benar mencemaskanku.

“Oke.”

***

Seoul Hospital_27-03-2014_07.49 PM

Aku berjalan agak cepat sambil merapatkan jaketku karena aku sudah tidak tahan dengan udara dingin di luar. Semoga Lee-ahjussie bisa membantuku. Aku hampir gila karena mimpi ini. Mimpi yang membuatku paranoid. Mimpi yang kutakutkan akan menjadi nyata. Mimpi yang...

Brukk

Kurasakan seorang lelaki bertubuh besar menabrak tubuhku sampai hampir jatuh. Pikiranku memang sedang tidak tenang, jadi aku berjalan seenaknya. Oh, Byun Baekhyun, kau itu artis terkenal, kenapa jalan serampangan begini? Kau bisa membuat berita besar di koran, ‘seorang anggota EXO-K bernama Byun Baekhyun berjalan serampangan dan mengganggu ketenangan rumah sakit’ hiii...aku tidak mau hal itu terjadi.

“Mian, mianhae, ahjussie,” ucapku sambil membungkuk pada lelaki itu. Kurasakan lenganku ditarik oleh lelaki itu, hingga tubuhku terseret.

“A-ahjussie!”

“Bukankah kau Byun Baekhyun?”

“N-ne!”

“Kau lupa padaku?”

“Nde?”

Lelaki itu melepaskan tarikannya dan memberiku kesempatan untuk melihat wajahnya. Aku memang tidak sempat melihat wajahnya karena terlalu panik.

“Ah...Lee-ahjussie! Aku kira siapa.”

“Nah, kau mau menemuiku, kan? Ayo kuantar ke ruanganku.”

“Ne.”

Sekarang Lee-ahjussie berjalan lebih tenang. Kuikuti langkahnya yang terdengar sangat berat di lorong rumah sakit yang mulai sepi karena sekarang hampir jam delapan malam. Lorong itu agak gelap karena rumah sakit ini akan tutup sekitar jam 10 malam, jadi tidak heran kalau beberapa lampu sudah mulai dipadamkan. Lee-ahjussie tidak menoleh sedikitpun padaku, tapi aku tidak terlalu risau karena begitulah sifatnya. Dia psikiater yang aneh. Bayangkan saja, Lee-ahjussie adalah pribadi yang kurang ramah jika di luar rumah sakit atau di lingkungan yang tidak berhubungan dengan pekerjaannya kecuali keluarganya, maksudku keluarga dekat. Lihat tadi kan? Dia mengajakku dengan agak tidak sopan karena aku hanya anak temannya. Aku bingung, kenapa ada psikolog yang seperti itu ya. Hum, bukan hal yang penting.

Berbicara tentang lorong, lorong yang kulalui ini cukup panjang, sepertinya tadi Lee-ahjussie sengaja menjemputku karena dia sedikit tahu tentang keadaanku. Dia benar-benar mengerti keadaan pasiennya hanya lewat telepon. Lorong ini memang menyeramkan, sepi dan gelap. Aku memandang sekeliling tanpa berpikir yang macam-macam, tapi tetap saja, bulu kuduknya langsung berdiri saat angin malam membasuh tengkukku. Ruangan Lee-ahjussi terletak di ujung lorong ini, jadi orang-orang yang kulihat makin berkurang. Semakin sepi...hingga tidak kutemui satupun orang di lorong ini. Saking sepinya, aku bisa membedakan langkah Lee-ahjussie dan langkahku yang kontras.

Tep...

Tiba-tiba saja Lee-ahjussie berhenti dan berbalik. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena penerangan yang redup.

“Kau harus tenang mulai dari jalan ini, Baekhyun. Tolong jangan berkata apapun.”

“Kenapa?”

“Saat tiba di ruanganku, aku akan mengatakannya. Sekarang diamlah.”

“Ne.”

Kuikuti perintahnya untuk terus diam. Sebenarnya kalau tidak disuruh pun aku akan diam karena aku tidak terlalu dekat dengannya. Lee-ahjussie mengatur langkahnya dengan hati-hati, membuatku agak canggung dengan perjalanan ini. Aku benar-benar penasaran, kenapa Lee-ahjussie menyuruhku diam? Kenapa juga dia berjalan sangat hati-hati seperti itu? Huft...membuat paranoidku semakin parah saja.

Sssshhh...

Nde? Suara apa itu? Kenapa berbisik?

Ssshhh....

Aigo! Suara apa itu? Aku harus...

Belum sempat aku bertanya, Lee-ahjussie langsung menarikku agar aku berjalan lebih cepat. Langkahku agak terkatuk karena belum bisa mengimbangi langkahnya, ini seperti de javu! Aku pernah mengalami ini! Di dalam mimpikukah? Aish...aku bingung! Aku benar-benar bingung! Akhirnya kami sampai juga di ruangannya. Kuatur nafasku karena perjalanan tadi benar-benar membuat adrenalinku kurang terkendali. Perasaan mencekam terus menghantuiku sampai Lee-ahjussie menyuruhku masuk ke ruangannya.

“Berbaringlah di kasur itu, Baekhyun.”

“Ba-baik,” ucapanku terputus-putus karena nafasku masih terengal. Aku berbaring di kasur yang ditunjuknya. Kulihat jam sudah menunjukan pukul 8.10 PM, aku harus cepat-cepat menyelesaikan pemeriksaan ini kalau mau pulang sebelum jam 9.

“Rilekskan tubuhmu dulu, Baekhyun.”

“Bagaimana aku bisa rileks, Ahjussie? Kau membuatku benar-benar parno.”

“Sudah kuduga.”

“Semua orang normal pun akan parno jika kejadiannya seperti ini! Ini sama sekali bukan dugaan!” Aku mulai tidak sabar menanggapi sikap tenangnya. Hei, bukankah aku ke sini memang untuk mencari ketenangan?

“Tenang, Baekhyun. Kau harus rileks. Tadi aku hanya mengujimu.”

“Menguji?”

“Ne, apakah kau benar-benar paranoid atau tidak.”

“Jadi suara-suara itu? Ish, sudah kubilang orang normal pun akan seperti itu.”

“Tidak, kau berbeda, Baekhyun. Sejak awal kau sudah parno.”

Aku hanya diam karena ucapannya benar.

“Pejamkan matamu, Baekhyun. Aku akan menanyakan beberapa hal.”

“Apakah akan lama, Ahjussie? Aku harus pulang sebelum jam sembilan.”

“Tidak, ini tidak akan lama.”

Kupejamkan mataku sesuai perintahnya. Lee-ahjussie membelai surai kepalaku lembut, membuatku lebih tenang. Dia terus membelai sampai aku tidak sadar, aku terbuai dengan belaiannya dan tertidur pulas.

***

“Baekhyun.”

“Nde? Bukankah itu suara Chanyeol?”

“Baekhyun, apa kau mendengarku?”

“Ne, Chanyeol, aku mendengarmu. Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku ingin menanyakan beberapa hal padamu.”

“Tanyakan saja, Chanyeol.”

“Bagaimana perasaanmu?”

“Perasaanku? Aku...eum...”

“Katakan yang sejujurnya, Baekhyunnie.”

“Aku merasa tidak tenang, Chanyeol.”

“Apa sebabnya?”

“Aku tidak tahu, Chanyeol. Selama tiga hari ini aku bermimpi buruk.”

“Mimpi seperti apa itu?”

“Aku bermimpi ada di sebuah tempat yang sangat gelap, tapi aku bisa merasakan banyak sekali orang di sana. Aku berdesak-desakan dengan mereka sampai sebuah tangan menarikku keluar. Kami terus berlari tanpa kutahu kemana kami akan pergi. Aku terus memanggilnya, tapi dia tidak menjawab. Kami hanya berlari sangat jauh. Ketakutan benar-benar menghantuiku saat itu, aku tidak bisa lagi berbicara apalagi memanggilnya. Aku hanya tahu kalau orang itu tinggi karena langkahnya begitu cepat sampai aku kesusahan mengimbangi langkahnya.”

“Lalu?”

“Lalu kami berhenti di tempat yang masih gelap. Tiba-tiba orang itu menghilang! Dia meninggalkanku sendirian. Tubuhku jatuh dan menangis karena aku sendirian. Aku sendirian, Chanyeol...”

“Tenang, Baekhyunnie. Aku di sampingmu. Lalu apakah kejadian itu berdampak pada kehidupanmu?”

“Tentu saja, aku rasa orang itu masih mengikutiku. Beberapa kali dalam hari ini aku mengalami hal aneh.”

“Hal aneh?”

“Ne, misalnya saja tadi pagi, saat aku ke kamar mandi, ada orang yang suaranya sangat mirip denganmu memanggilku, tapi saat aku keluar, tidak ada siapapun. Kau juga menghilang. Tapi yang aneh, kau bilang kalau kau belum bangun kecuali saat kubangunkan. Lalu yang kedua, saat aku ke kamar mandi di gedung SM, kau juga memanggilku, tapi sekali lagi, tidak ada siapapun. Aku benar-benar diikuti, Chanyeol, tolong aku...”

“Apa sebelumnya kau melakukan hal aneh?”

“Hal aneh seperti apa?”

“Seperti menerima barang aneh dari fansmu atau menonton film yang membuatmu paranoid?”

“Aku memang menerima hadiah dari fans sehari sebelum aku mulai bermimpi aneh. Tapi benda itu hanya hiasan, sama sekali tidak mencurigakan.”

“Baiklah, sekarang buka matamu, Baekhyun.”

“Nde?”

***

Kukerjap-kerjapkan mataku saat tersadar dari tidurku. Oh, jadi tadi hanya mimpi? Ah, aku lega sekali karena aku tidak bermimpi buruk tadi.

“Apakah kau sudah baikan, Baekhyunnie?”

“Su-sudah, Ahjussie.”

“Sekarang yang harus kau lakukan adalah membawa hiasan dari fansmu itu ke alamat ini.”

“Hiasan? Oh, apakah...”

“Selain menjadi psikolog, kau pasti tahu kalau aku ahli menangani hal-hal seperti ini dari Eommamu, kan?”

“Ne, Ahjussie.”

“Nah, sekarang kuantar kau pulang, aku khawatir paranoidmu makin parah kalau kau pulang sendiri.”

“Ah, baiklah. Aku juga takut, Ahjussie.”

“Ayo bergegas, sebelum kau terlambat istirahat.”

“Sepertinya aku masih belum bisa tidur nyenyak.”

“Tenang saja, kalau kau menemui pemberi hiasan itu semuanya akan kembali normal.”

“Tapi kenapa dia mengincarku?”

“Aku sendiri tidak tahu alasan pastinya, mungkin sasaeng fans?”

“Apa penyebabnya benar-benar hiasan itu, Ahjussie?”

“Kau mengalami hal-hal aneh itu sejak menerima hiasan itu, kan?”

Aku terdiam. Benar, aku mulai bermimpi buruk dan paranoid setelah aku menerima hadiah itu. Gadis itu juga aneh, dia memaksa untuk memberikan hadiahnya langsung padaku. Kenapa dia tega? Aish, aku lupa pada wajahnya, dia terlalu cepat pergi.

“Ahjussie, darimana kau tahu alamat ini?”

“Kalau mendengar ceritamu tadi dan menyocokannya dengan salah satu cerita pasienku, aku yakin alamat yang kuberikan padamu adalah alamat fans itu.”

“Pasien?”

“Ne. Tapi sebaiknya kau tahu ceritanya dari dia sendiri, aku hanya akan menakutimu kalau kuceritakan sekarang.”

“Sekarangpun kau sudah menakutiku, Ahjussie. Aku seperti diteror dengan ilmu hitam.”

“Memang.”

“Mwo?”

“Sudahlah, kalau kau masih takut untuk tidur, ajaklah seorang temanmu untuk tidur denganmu.”

“Ti-tidur denganku?”

“Ne, kau punya teman sekamar, kan?”

“N-ne.”


***


Dorm EXO-K_27-03-2014_09.09 PM

Aku dan Lee-ahjussie tiba di dormku sekitar jam sembilan malam. Kuharap Suho-hyung atau manajer-hyung tidak memarahiku. Setelah berpamitan dan tentunya berterimakasih untuk penyelesaian Lee-ahjussie, aku masuk ke dalam dorm yang masih terang. Ternyata Sehun dan Kai masih bermain game. Besok memang liburan, jadi tidak heran kalau Suho-hyung mengizinkan mereka begadang.

“Oh, baru pulang, Hyung?”

“Seperti yang kau lihat, Kai.”

“Sudah makan malam? Sepertinya kau belum sempat makan tadi.”

“Tidak usah, Sehun. Aku ingin langsung tidur saja. Ahiya, yang lainnya sudah tidur?”

“Kalau Suho-hyung sih masih baca novel, Kyungsoo-hyung masih mengerjakan tugas kuliahnya, tidak tahu kalau Chanyeol-hyung,” jelas Kai panjang lebar.

“Kalian tidak ngantuk?” tanyaku sambil mengusap mataku yang mulai lelah membuka.

“Belum, Hyung. Kami masih ingin main. Tanggung! Aku hampir mengalahkan Kai!”

“Apanya yang hampir, sudah sepuluh kali bermain kau masih saja kalah!”

“Tapi tadi aku hanya berbeda satu poin denganmu!”

Kedua maknae itu terus saja berdebat, masih penyakit lama mereka sih. Huh, aku sedang malas mendengarnya, jadi kutinggalkan mereka menuju kamarku. Saat kubuka pintu kamar, lampu kamar sudah mati dan kurasa Chanyeol sudah tidur. Aku harus menyalakan lampu, malam ini aku ingin tidur dalam terang. Karena kejadian ini, aku jadi agak takut gelap. Huft...semoga paranoidku ini cepat sembuh.

Saat kunyalakan lampu, aku sangat terkejut karena mendapati Chanyeol tidur di kasurku dalam posisi duduk. Dia menungguku pulang? Atau memang sengaja tidur di sana?

“Chanyeol, Chanyeollie.”

Kutepuk-tepuk pundaknya untuk menyadarkannya. Perlahan dia mulai menggeliat sampai akhirnya sadar sepenuhnya.

“Baekhyunnie!”

Aku lebih kaget lagi saat Chanyeol tiba-tiba saja memelukku sejenak lalu menarikku ke kasurnya. Aku baru sadar kalau keringat membasahi wajahnya, raut wajahnya sangat serius, dan nafasnya terengal seperti habis berlari.

“A-ada apa, Chanyeol?”

“Kau jangan tidur di sana!”

“Kenapa?”

“Tadi aku bermimpi buruk!”

“Mwo?”

“Ne! Apa itu yang membuatmu susah tidur akhir-akhir ini?”

“Tidak ada hubungannya dengan kasur, Chanyeo,” ucapku mencoba menenangkannya.

“Aku bermimpi kau menceritakan masalahmu padaku.”

“Ooh...jadi itu benar-benar kau.”

“Maksudnya?”

“Sebenarnya tadi aku ke psikiater, Chanyeol.”

“Mwo!? Kenapa kau tidak bilang aku?”

“Habisnya tidak penting juga menceritakannya padamu.”

“Penting, Baekhyun! Kau ini kan pacarku!” Bentaknya dan itu cukup membuatku terkejut.

“N-ne, tenang-tenang, mau kuceritakan tidak?”

“Oke, lanjutkan ceritamu.”

“Lee-ahjussie itu psikolog sekaligus paranormal. Eum, paranormal itu bukan pekerjaannya, hanya saja dia kadang-kadang menggunakan kelebihannya untuk beberapa masalah di luar batas manusia. Ya...kau tahu sendiri apa itu. Seperti masalahku sekarang, Chanyeol. Kau masih ingat hiasan itu, kan?”

“Hem, hiasan yang diberikan oleh fansmu saat goodbye stage beberapa hari yang lalu, kan?”

“Tepat. Tidak kusangka hiasan itu adalah media untuk menerorku.”

“Sasaeng fans?”

“Sepertinya begitu. Makanya, aku diberi alamat gadis itu oleh Lee-ahjussie.”

“Bagaimana ahjussiemu itu bisa tahu?”

“Katanya gadis itu pasiennya.”

“Mwo?”

“Aku juga tidak tahu bagaimana jelasnya. Pokoknya besok aku harus menemui gadis itu.”

“Akan kutemani.”

“Ne, tolong temani aku. Malam inipun temani aku, ya?”

“Siap! Oiya, tadi kau juga bermimpi tentangku?”

“Ah, aku lupa bilang. Sepertinya Lee-ahjussie meminjam rohmu dan memasukannya ke dalam mimpiku. Cara pengobatannya memang unik, dia menenangkan kita dengan mengendalikan roh orang yang paling dekat dengan pasiennya lewat mimpi. Hem, orang yang cukup tepat. Oiya, kenapa kalau kau tahu ceritaku lewat mimpi, kau masih menanyakannya padaku?”

“Aku hanya ingin memastikan.”

“Huh...yasudah, aku mau tidur.”

“Ne, aku temani, Baekhyunnie. Jarang-jarang kita tidur seranjang.”

“Jangan macam-macam.”

“Masa’ memeluk saja dibilang macam-macam?”

“Jangan sentuh aku!”

“Yasudah sana pergi! Tidur sana dengan roh-roh gentayangan dalam mimpimu itu!”

“Aaa, jangan begitu dong, Chanyeol!”

“Semasa bodo! Pergi sana!”

“Tega sekali kau ini!”

“Kalau kau mau tidur denganku, kau harus membolehkanku memelukmu.”

“Ish, panas!”

“Biasanya juga panas, kan?”

“Hih, aku tidur di kamar Suho-hyung saja!”

“E-eh, jangan dong jangan, masa’ kau mau meninggalkanku sendirian?”

“Lalu kau maunya bagaimana?”

“Baiklah, aku tidak akan memelukmu erat-erat. Aku hanya akan merangkulmu.”

“Hum, begitu lebih baik.”

“Ayo tidur, Chagiya.”

“Sudah kubilang....”

Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, mulutku sudah dibungkam de-dengan...bibir Chanyeol? I-ini ciuman pertamaku. Aku berani bersumpah, ini benar-benar ciuman pertamaku. Ciuman yang tidak pernah diminta Chanyeol, tapi dia langsung memberikannya. A-aku...jantungku berdetak sangat cepat, na-nafasku terus memburu untuk mengimbangi ciumannya, apa kau mendengarku, Channie? Kalau kau mendengarku...

“Sudah lebih tenang?”

Aku sudah tidak tahu bagaimana warna wajahku sekarang. Kutundukan terus wajahku karena tidak berani melihat wajahnya. A-aku...

Kurasakan Chanyeol mulai memelukku, dia benamkan tubuhku dalam pelukannya yang hangat. Sebenarnya kami sudah sering berpelukan, tapi pelukan malam ini...rasanya benar-benar berbeda. Mengingat bagaimana keadaan jiwaku sebelum ini, ciumannya yang tiba-tiba, dan...pertanyaannya yang benar-benar membuatku merasa terjaga.

“Kau sedang mengerjaiku lagi kan, Baekhyunnie?”

“Ma-maksudmu?”

“November tahun lalu kau juga sakit seperti ini. Separah apapun kau membuatku cemas, aku harap kau hanya membohongiku. Tolong katakan kalau kau mengerjaiku, Baekhyunnie.”

“A-aku...aku tidak sedang mengerjaimu, Channie.”

“Kalau begitu, izinkan aku untuk terus bersamamu sampai semuanya selesai.”

“Tentu saja, Channie. Tanpa adanya masalah seperti inipun kau tetap di sampingku, kan?”

“Ne, itu pasti, Baekhyunnie. Pasti.”

***

Dorm EXO-K_28-03-2014_05.32 AM

Umh...sudah jam berapa ini? Kelihatannya masih pagi. Tapi sesiang apapun, Chanyeol tidak akan bangun lebih pagi dari aku. Lihatlah, dia masih terlelap di sampingku. Untung saja dia sudah tidak memelukku. Aku sempat marah-marah karena kepanasan, akhirnya dia mengalah. Hihihi.

Hem, jam berapa in...

“Aaaaa!!”

Aku berteriak sekuat tenaga saat kulihat sosok hitam duduk di kasurku sambil menatap hiasan yang kemarin kami bicarakan. Sosok itu tinggi dan agak besar. Lampu ruangan mati karena kemarin Chanyeol mematikannya, jadi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Sosok itu langsung menatapku saat aku berteriak, lalu dia berlari meninggalkan kamarku.

Chanyeol terbangun karena teriakanku, dia langsung membalikan tubuhku menghadap padanya dan mulai mengguncang-guncangkan tubuhku.

“Ada apa, Baekhyun? Ada apa?”

Aku terlalu terkejut sehingga tidak bisa menjawab pertanyaannya. Tenggorokanku kelu dan kepalaku tiba-tiba saja sakit. Chanyeol dengan sigapnya melompat dari kasur dan menyalakan lampu, itu membuatku lebih tenang.

“Baekhyunnie, tunggu di sini, akan kuambilkan minuman.”

Saat Chanyeol hendak meninggalkanku, aku langsung mencekal tangannya. Aku tidak bisa menjamin sosok itu tidak datang saat Chanyeol meninggalkanku. Oh my...hatiku benar-benar tidak tenang.

“Ja-jangan tinggalkan aku...aku mohon...”

“Ne-ne, aku masih di sini, aku tidak akan meninggalkanmu, Baekhyunnie,” ucapku sambil menepuk-nepuk pipiku.

“Tolong aku, Channie...tolong aku...”

“Sebenarnya ada apa, Baekhyunnie? Ceritakan padaku. Apa kau bermimpi buruk lagi?”

Aku hanya menggeleng karena aku memang tidak bermimpi buruk malam itu.

“Kita harus mengembalikan hiasan itu secepatnya, Chanyeol. Secepatnya...”

“Baiklah-baiklah, nanti sekitar jam sembilan kita pergi ke alamat ini, ne?”

Chanyeol kembali memelukku, kubalas pelukannya lebih erat lagi. Aku takut sekali sendirian, aku tidak mau...pokoknya aku tidak mau sendirian, Chanyeol...

***

Dorm EXO-K_28-03-2014_06.16 AM

Chanyeol masih menggenggam tanganku saat kami berada di ruang makan. Pemandangan itu membuat Kyungsoo dan Suho-hyung langsung menangkap keanehan. Kami memang jarang bergandengan tangan begini.

“Kalian kenapa?” tanya Kyungsoo.

“Gwenchana, Kyungsoo,” jawabku.

“Anyeo, jangan disembunyikan lagi, Byunnie,” ucap Chanyeol sambil menatapku penuh arti.

“Ada apa ini? Chanyeol, apa yang kau lakukan pada Baekhyun? Kau tidak melakukan yang macam-macam, kan?”

“Aku tidak melakukan apa-apa pada Baekhyun, Suho-hyung.”

“Lalu?”

“Kemarin aku ke psikiater.”

“Mwo?!” teriak Kyungsoo dan Suho bersamaan.

“Kau gila?” tanya Suho-hyung, yang jujur, membuatku sangat kesal.

“Bukan begitu, Suho-hyung! Aku sedang mengalami gangguan mental.”

“Nah, gangguan mental itu kan gila,” ucap Kyungsoo dan itu semakin membuatku kesal. Oke, aku juga yang salah karena tidak langsung bilang.

“Bukan-bukan, aku sedang diteror.”

“Diteror dengan apa?” tanya Kyungsoo yang matanya langsung melebar.

“Dengan...aku juga tidak tahu pastinya.”

“Jadi kemarin kau ke psikiater tanpa membicarakannya dulu pada kami?”

“Aku kira ini hanya paranoid biasa, Suho-hyung.”

“Seharusnya kau langsung bilang pada kami,” nasihat Suho-hyung.

“Ne, aku yang salah.”

“Minumlah susu ini, Hyung. Eum, lalu bagaimana penyelesaiannya?” tanya Kyungsoo yang baru kembali sambil membawa susu hangat untukku. Kuambil cangkir putih berisi susu cokelat itu dan meneguknya perlahan. Tidak ada yang lebih menyenangkan saat berkumpul dan menceritakan semua ganjalan di hati dengan keluarga keduaku ini.

“Nanti aku dan Chanyeol akan pergi ke rumah si peneror.”

“Lho? Kau sudah tahu rumahnya? Dari siapa?”

“Lee-ahjussie, psikiaterku, pernah punya pasien yang kisahnya sama dengan kejadian dalam mimpiku. Bisa dipastikan dialah yang menerorku, Suho-hyung.”

“Memangnya meneror seperti apa sih, Hyung?”

“Dia memberiku patung hiasan yang sekarang ada di dekat tempat tidurku. Sejak itu aku selalu bermimpi buruk dan mimpinya selalu sama. Kemarin aku memutuskan untuk tidur dengan Chanyeol supaya aku tidak bermimpi buruk. Ta-tapi...pagi ini aku melihat sosok hitam sedang duduk di kasurku dan langsung menghilang saat aku berteriak.”

“Oh, jadi ini sebabnya kau bergandengan dengan Chanyeol?”

“Ne, Suho-hyung.”

“Yaampun, masalah yang cukup serius. Aku akan pergi bersama kalian.”

“Aku juga!” seru Kyungsoo.

“Ja-jangan, bisa saja ini membahayakan nyawa kalian.”

“Apa kau pikir kita bisa tenang saat dua teman kami menghadapi seorang peneror?”

“Kyungsoo-ah...”

“Sudahlah, Hyung, kita akan baik-baik saja. Asalkan kita tidak membawa dua maknae kurang ajar itu,” ucap Kyungsoo yang sedang melumuri rotinya dengan mentega.

“Maksudnya kami?” Oh, itu suara Kai dan Sehun. Mereka sudah bangun ternyata.

“Ne, maksudku kalian.”

“Kyungsoo-hyung! Tega sekali!!”

Sehun dan Kai langsung mengapit Kyungsoo dan mulai memelototinya.

“Kalian memang maknae kurang ajar. Masih ingat kejadian November tahun lalu? Kalian berdua yang paling meyakinkan,” ledek Chanyeol.

“Ini kan karena perintah Baekhyun-hyung!” seru Sehun membela diri.

“Pokoknya kalian itu devil maknae. Kalian selalu memonopoli tv untuk bermain game sampai larut,” tambah Kyungsoo.

“Kami kan main hanya di saat senggang!” sekarang giliran Kai yang marah-marah.

“Kami juga menonton tv di saat senggang!” A-aku tidak menyangka Suho-hyung juga ikut-ikutan marah. Hahaha, kejadian pagi ini benar-benar membuatku lebih tenang. Ah...gomawo teman-temanku.

***

Unknown place_28-03-10.23 AM

Sesuai rencana, kami pergi ke alamat yang dianjurkan oleh Lee-ahjussie. Kami pergi tanpa sepengetahuan Manajer-hyung karena kami tidak mau membuat Manajer-hyung cemas. Ahiya, rumah fans yang waktu itu memberiku patung keramat ini berada di pinggiran kota Seoul, karena pergi diam-diam, kami naik bis ke sini. Alhasil kami harus memakai jaket dan kacamata hitam untuk menyamar. Setelah perjalanan selama satu jam, kami tiba di alamat yang dimaksud. Rumahnya cukup besar, pekarangannya benar-benar indah, tidak seperti rumah orang Korea pada umumnya. Sepertinya mereka bukan orang asli Korea, hem, gadis itu memang memakai bahasa inggris saat kami bertemu dulu.

‘ting-tong’

Chanyeol membunyikan bel yang berada di dekat pagar besar rumah itu, tapi setelah beberapa kali memencet, sama sekali tidak ada jawaban. Aku baru sadar kalau rumah itu sangat sepi.

“Hei, kalian!”

“Ah, selamat siang, Ahjumma,” sapa Suho-hyung sambil membungkuk begitupun kami.

“Kalian mencari orang rumah ini?”

“Ne, Ahjumma. Apakah Ahjumma tahu tentang penghuni rumah ini?”

“Tentu saja, aku pernah bekerja di rumah ini.”

“Lalu kemana mereka sekarang, Ahjumma?”

“Mereka sudah pindah.”

“Nde?”

“Mereka kembali ke Jepang.”

“Jepang?” tanyaku agak berteriak, ternyata mereka orang Jepang. Astaga, i-ini benar-benar gawat kalau mereka memang kembali ke Jepang.

“Ne, sebenarnya yang tinggal di sini hanya dua kakak-beradik. Mereka tinggal di sini sejak November tahun lalu. Alasan mereka sih untuk mempelajari budaya Korea sekaligus menonton langsung konser idola mereka. Ohiya, kalian itu kan?”

“Kami anggota EXO, Ahjumma,” jawab Kyungsoo.

“Ka-kalau begitu ayo ke rumahku. Kurang aman kalau kita mengobrol di sini.”

Ahjumma itu berjalan agak terburu-buru dan kami mengikutinya dari belakang. Setelah berjalan beberapa menit, kami tiba di rumah Ahjumma yang sangat sederhana.

“Hei, bocah nakal! Cepat ambilkan minum untuk tamu-tamuku!” serunya pada seorang anak lelaki seumuran Sehun yang sedang membaca buku.

“Lho? Mereka kan?”

“Sudahlah! Jangan banyak bicara!”

“N-ne.”

Mereka ini kenapa sih? Sepertinya ada yang mereka sembunyikan. Kalau tidak, tidak mungkin mereka gugup saat melihat kami.

“Nah, silahkan duduk di sana.”

Kami turuti perintah wanita paruh baya itu. Dia juga duduk setelah menaruh barang belanjaannya di dapur yang tidak jauh dari ruang duduk itu. Tak berapa lama anak yang tadi dipanggil bocah nakal itu datang dengan enam gelas berisi teh hangat.

“Kalau boleh kutahu, untuk apa kalian mencari mantan majikanku?”

“Begini, Ahjumma. Beberapa hari yang lalu, Baekhyun menerima patung dirinya dari mantan majikan ahjumma. Sejak itu Baekhyun selalu mengalami mimpi buruk dan itu benar-benar meresahkan. Kami ingin mengembalikan patung itu pada pemiliknya,” jelas Suho-hyung sambil memeluk pinggangku.

“Bukankah itu hadiah? Kenapa dikembalikan?”

“Eum, kami hanya ingin memastikan kalau teror yang dialami oleh Baekhyun bukan berasal dari patung itu. Jika patungnya dikembalikan dan teror itu hilang, itu artinya penyebabnya memang patung itu. Tapi kalau bukan, kami akan meminta maaf padanya dan mengambil lagi patung itu.”

“Apa kalian pernah mendengar kasus kecelakaan di hari yang sama dengan konser solo pertama kalian?”

“Nde? Kami belum pernah mendengarnya,” jawab Kai dan itu membuatku semakin cemas.

“Baiklah, aku akan menceritakan peristiwa itu sedetail-detailnya, karena aku yakin kalian lambat laun akan datang dan menanyakan perihal patung itu. Aku memang tidak banyak tahu tentang urusan yang ingin diselesaikan Mitsuki di sini, tapi mungkin teror itu berhubungan dengan cerita ini. Kedua majikanku itu memang orang Jepang. Mereka bernama Shinji Mitsuki dan Shinji Ikkirou. Mereka baru pindah beberapa bulan yang lalu untuk menonton konser kalian. Sang kakak lelaki bernama Ikkirou itu adalah penggemar berat Baekhyun. Dia juga pengrajin seni, jadi dia membuat banyak patung Baekhyun di rumah itu. Dia berniat untuk memberikan salah satu patung itu pada Baekhyun saat konser. Tapi...cukup sulit memberi hadiah patung tanah liat yang mudah rusak itu kalau tidak langsung pada orangnya dan akhirnya Ikkirou mengurungkan niatnya. Saat konser itu berlangsung, Mitsuki, yang menderita asma akut, sangat susah bernafas di antara kerumunan penonton. Dia terus meronta, tapi Ikkirou tidak mendengarnya. Saat Mitsuki hampir kehilangan nyawa, Ikkirou menyadari keadaan adiknya itu dan langsung menariknya pergi dari konser. Mereka agak berlari untuk menerobos keluar dari kerumunan dan sampailah mereka di luar.
“Di jalanan, Ikkirou sama sekali tidak memandang Mitsuki. Sepertinya dia marah karena penyakit Mitsuki yang tiba-tiba kambuh, ‘lebih baik tadi kau tidak ikut’ kata Ikkirou, dan itu membuat Mitsuki merasa bersalah, ‘kau kan tahu aku sangat menyukai Baekhyun, suaranya yang sudah menyadarkanku dari narkoba, aku suka dia’ kata Ikkirou lagi. Akhirnya Mitsuki mengambil patung yang ingin diberikan kakaknya pada Baekhyun dan berlari kembali ke tempat konser. Tapi...saat menyebrang, Mitsuki tidak sadar kalau ada truk yang sedang melaju kencang siap menghantam tubuhnya. Ikkirou yang pertama kali menyadarinya langsung mendorong Mitsuki, dan...kalian sudah tahu apa yang terjadi.
“Kejadian itu benar-benar membuat Mitsuki terpukul, dia tidak menyangka kalau kakaknya akan meninggal di hari bahagia itu. Mitsuki benar-benar depresi dan hanya bisa memandangi patung yang dibuat kakaknya itu dengan mata penuh air mata. Orangtua Mitsuki dan almarhum Ikkirou datang dari Jepang untuk menjemput anaknya, tapi Mitsuki tidak mau karena dia bilang harus menyelesaikan urusan kecil. Setelah berminggu-minggu ditunggu, Mitsuki belum juga keluar dari kamarnya. Ibu Mitsuki yang cemas akhirnya membawa Mitsuki ke seorang psikiater. Awalnya Mitsuki memberontak, dia bilang kalau belum saatnya dia melaksanakan urusannya, tapi Ibu Mitsuki terus memaksa. Mereka bersama aku menarik paksa Mitsuki ke Seoul Hospital untuk ditangani. Mitsuki benar-benar seperti orang kehilangan akal, dia terus meneriaki nama Ikkirou sepanjang perjalanan. Tapi teriakan itu meredam saat kami bertemu dengan psikiater yang bernama Lee Mun Yoo. Tuan Lee mulai mengelus puncak kepala Mitsuki sampai gadis itu tertidur.
“Setelah Nona Mitsuki tertidur, Tuan Lee menanyakan beberapa hal di luar dugaan kami. (dalam bahasa jepang) ‘Mitsuki-chan, apakah kau merasa bersalah akan kematian kakak?’ Mitsuki menjawab dengan sedikit bergumam, tapi kami bisa mendengarnya dengan jelas, ‘iya, kak...’ kami sempat bingung karena percakapan mereka berdua seperti percakapan Ikkirou-kun dengan Mitsuki-chan, tapi ternyata itu memang metode Tuan Lee. Aku sempat bergidik saat tahu Tuan Lee memanggil roh Ikkirou untuk menenangkan Nona Mitsuki. ‘Jangan merasa bersalah, Mitsuki-chan. Kakak sudah tenang di sini,’ ucap psikiater itu lagi. Perlahan airmata Mitsuki jatuh, Tuan Lee menghapus air mata Mitsuki dan kembali berkata, ‘kau harus menenangkan dirimu. Jika masih ada urusan di sini, cepat kau selesaikan masalah itu, kau tidak mau melihat mama sedih, kan?’ Oh yaampun, benar-benar ajaib, seketika wajah Mitsuki yang gelisah berubah tenang. Tuan Lee menepuk-nepuk wajah Mitsuki untuk membangunkannya. Mitsuki pun kembali ceria. Setelah itu keluarga Shinji kembali ke Jepang. Apa kalian bisa menarik kesimpulan dari ceritaku? Maksudku, apa kalian sudah menemukan jawaban dari teror itu?”

Kami semua masih terdiam, benar-benar menyedihkan saat mendengar cerita kematian Ikkirou itu. Jadi orang tinggi, sosok hitam, dan sosok yang menyerupai Chanyeol itu...apa mungkin dia itu Ikkirou? Tapi untuk apa dia mengikutiku? Chanyeol melingkarkan tangannya di pinggangku seperti menjagaku.

“Setelah mendengar cerita Anda tadi...kami makin yakin kalau teror itu terjadi karena patung pemberian Mitsuki. Apakah ada yang Anda ketahui lagi? Sehubungan dengan urusan Mitsuki itu?”

“Aku sudah bilang, aku tidak banyak tahu tentang urusan itu. Tapi mungkin...aish, aku juga tidak yakin pada cerita bocah nakal itu. Hei, bocah nakal! Kemari!”

Anak seumuran Sehun yang tadi mengantarkan minuman datang dengan wajah pucat pasi.

“Ceritakan apa yang kau lihat di kamar Mitsuki saat kau mengintip waktu itu.”

“A-aku tidak yakin, Eomma.”

“Sudahlah, ceritakan saja. Kasihan anak bernama Baekhyun ini.”

Anak itu menatapku dengan seksama, lalu dia duduk di samping Ahjumma. Dia membungkuk hormat dan kami membalasnya.

“Pe-perkenalkan, namaku Sangwook.”

“Ne, sudahlah, jangan banyak basa-basi,” ucap Ahjumma itu.

“A-aku...aku sebenarnya...itu...”

“Hya! Kim Sangwook!”

“Ne-ne, Eomma, aku akan menceritakannya. Waktu itu, saat aku sedang menyiram tanaman di depan kamar Nona Mitsuki, aku tidak sengaja melihatnya sedang melakukan...semacam ritual.”

“Ri-ritual?” tanyaku.

“Ne, aku tidak tahu ritual apa itu. Tapi gadis itu benar-benar menyeramkan. Dia memakai ikat kepala berwarna merah dengan tulisan jepang, yang aku tidak tahu artinya, matanya memerah, beberapa bagian tubuhnya terdapat bercak darah, dan didepannya ada sebuah patung mungil. Dia terus menyebut nama kakaknya, dan yang tidak kusangka, patung mungil itu bergerak tanpa dia sentuh! Setelahnya, patung itu mendekati Mitsuki dan Mitsuki mengambilnya sambil berbisik. Aku tidak bisa mendengarnya karena dia berbisik. Eum, hanya itu yang kulihat.”

“Ritual pemanggilan roh?” tanya Kai.

“Nde?”

“Apakah itu ritual pemanggilan roh?”

“A-aku tidak tahu, tapi sepertinya begitu.”

“Kapan itu terjadi?”

“Kemarin lusa, malam sebelum mereka pindah.”

“Kau menyiram tanaman pada malam hari?” tanya Suho-hyung.

“Kalau aku ceritakan lebih lanjut alasanku, kurasa tidak terlalu penting.”

“Baiklah, gomawo untuk informasinya, Sangwook, Ahjumma. Eum, apa kami boleh minta nomor telepon atau alamat Mitsuki di Jepang?”

“Kami tidak punya alamat maupun nomor teleponnya, maaf.”

Tanganku gemetaran menahan rasa takutku. Chanyeol langsung menggenggam tanganku dan merangkulku erat. Tolong aku...siapapun tolong aku...

“Ahjumma, bolehkah kami masuk ke rumah keluarga Shinji? Sebentar saja,” ucap Suho-hyung yang membuat kami terperanjat. Mau apa dia?

“Kalian mau apa?”

“Mungkin kami bisa menemukan alamat keluarga Shinji di Jepang.”

“Anyeo, kalian tidak boleh ke sana.”

“Tolonglah teman kami ini, Ahjumma...,” pinta Kyungsoo. Te-teman-teman...

Kim-Ahjumma menatapku sejenak, lalu seperti tidak tega, akhirnya dia setuju dan memberikan segerombol kunci pada Sangwook.

“Temani mereka, Sangwook.”

“Ne, Eomma. Mari.”

Kami membungkuk terimakasih lalu mengikuti Sangwook. Ternyata rumah keluarga Shinji dengan rumah Sangwook terhubung jadi kami hanya memerlukan kunci rumah.

“Kalian mau mencari apa? Rumah ini kosong.”

“Kami juga belum tahu darimana harus memulai, tapi apakah tidak ada petunjuk mengenai rumah mereka di Jepang?” tanya Suho.

“Tidak ada,” ucapnya dingin. Kenapa sikap Sangwook tiba-tiba berubah saat memasuki rumah ini? Oh my...aku punya firasat buruk.

“Baiklah, kami akan mencarinya di seluruh ruangan,” ucap Suho-hyung.

“Jangan macam-macam.”

Kami berhenti saat Sangwook memperingati kami untuk menghentikan pencarian yang belum dimulai ini.

“Kalian pernah dengar permainan orang Jepang tentang ritual pemanggilan roh?”

“Ma-maksudmu? Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya Sehun yang kutahu memang paling peka dalam hal seperti ini.

“Ada dua jenis ritual yang sering dilakukan keluarga Shinji. Pemanggilan roh untuk dipergunakan dalam suatu kepentingan dan satu lagi untuk bermain petak umpet.”

“Sudahlah, jangan bicara yang aneh-aneh. Kami hanya ingin mencari petunjuk,” sergah Kai yang mulai tidak nyaman dengan perubahan sikap Sangwook.

“Pemanggilan roh yang pertama hanya sesekali dipakai. Sedangkan yang kedua...sudah sering sekali dilakukan oleh Ikkirou dan Mitsuki. Dalam sehari mereka memanggil roh-roh itu sebanyak lima kali, itu artinya lima roh setiap harinya ada di rumah ini. Saat mereka memanggil, banyak roh yang betah dengan rumah ini. Awal-awal aku bekerja di sini aku masih belum terbiasa, setiap hari aku mendengar Mitsuki dan Ikkirou berlari untuk bersembunyi, jahatnya, mereka tidak memberitahuku kalau orang yang tinggal bersama mereka juga akan terlibat dalam ritual itu. Pernah suatu waktu, aku melihat boneka yang mereka pakai untuk ritual berjalan sendiri dan menatapku, aku langsung berteriak dan Tuan Ikkirou langsung datang dan menusuk boneka itu. Setelah itu aku diperingatkan untuk ikut bersembunyi saat mereka memulai permainan itu. Hum, roh-roh itu betah di rumah ini, jadi...”

“Baiklah, intinya kau mau mengusir kami dari sini, kan?” tanya Chanyeol.

“Ne, aku tidak suka rumah yang sangat kusukai ini dimasuki orang-orang seperti kalian.”

“Bu-bukankah ini rumah keluarga Shinji? Kenapa kau yang repot?” tanya Kyungsoo. Suho-hyung menyuruh kami mulai mundur karena wajah Sangwook berubah pucat.

“Sudah kubilang kan? Roh di sini sangat betah di sini...”

“O-oke, kami akan pergi sekarang,” ucap Suho-hyung sedikit panik.

“Pergi!”

Sangwook sudah siap mengejar kami, kamipun berlari sekencang mungkin melewati pintu sebelumnya. Aku menoleh ke belakang dan sekilas kulihat tubuh Sangwook sedang dipegang oleh sosok lelaki, terlihat seperti sosok lelaki itu sedang menyelamatkan kami.

Hosh...hosh...hosh...

“Sial! Rumah itu benar-benar menyeramkan!” seru Sehun.

“Kasihan Sangwook, dia pasti sering dipakai oleh roh-roh itu,” ucap Chanyeol.

“Lalu bagaimana ini? Apa mereka akan terus menerorku?” tanyaku dengan isakan perlahan. Kelima temanku hanya bisa memandangku prihatin. Aish, aku benci ini, aku benar-benar benci ini!

***

Dorm EXO-K_28-03-2014_17.21 PM

Kami tiba di dorm sekitar jam setengah enak sore. Perjalanan yang benar-benar melelahkan, lebih melelahkan lagi karena kami belum mendapat solusi dari masalah ini.

“Kau harus tenang, Baekhyun. Kami akan menjagamu,” ucap Suho-hyung sambil menepuk-nepuk punggungku.

“Ne, Hyung. Semoga saja Mitsuki dan Ikkirou cepat-cepat pergi dari hidupku.”

“Kita cari keterangan mereka lewat internet yuk, Hyung?” ajak Kyungsoo.

“Oh, benar juga!”

Kyungsoo dan aku duduk di depan laptop dan mulai mencari keterangan mereka lewat google.

“Ah! Ada, Hyung! Shinji Ikkirou! Lelaki kelahiran Jepang 15 Oktober 1992, seumur denganmu, Hyung. Lalu...ah, meninggal tanggal 29 Desember 2013 karena kecelakaan di jalan raya Seoul. Adiknya bernama Mitsuki mengalami depresi berat, tapi dia masih bisa menceritakan kronologi kecelakaan itu. Shinji Ikkirou adalah pengidap narkoba sejak SMA, tapi langsung berhenti tiba-tiba sejak bulan Maret 2013. Ikkirou, warga Jepang yang meninggal di Seoul tanggal 29 Desember 2013 ini adalah fans fanatik EXO, jadi dia sengaja datang ke Korea untuk menonton langsung idolanya itu. Ada yang bilang penyebab lepasnya Ikkirou dari narkoba karena mendengar salah satu suara main vokal EXO di lagu bahasa Jepang berjudul “Hold” yang berisi, ‘aku manusia biasa yang hanya bisa disadarkan oleh luka, genggamlah tanganku saat aku terluka, sembuhkanlah luka ini dengan kasih sayangmu, berikanlah aku kesempatan untuk sadar, dan tetaplah berada di sampingku’. Ah, itu memang bagianmu, Hyung! Suaramu benar-benar suara malaikat!”

Aku terdiam saat membaca kisah Ikkirou. Dia saja bisa bangkit dari kesedihan dan ketakutannya hanya dengan suaraku, kenapa aku selalu mengeluh? Oh my...maafkan aku, Ikkirou, aku yakin kau punya maksud tertentu menghantuiku seperti ini.


‘Ada email! Ada email!’


Ah, ada email masuk dari...Mi-Mitsuki?


From: Mitsukishinji@yahoo.com
To: Byunbaekhyun@yahoo.com


Byun Baekhyun. Apa kabar? Tolong jangan tanya aku bagaimana aku mendapatkan alamat email pribadimu. Tolong jangan juga bertanya, bagaimana aku bisa mengirim email padamu dalam bahasa korea padahal aku orang Jepang. Menurutku itu hal yang tidak perlu dijawab. Mungkin aku langsung saja pada pokok permasalahan.

Baekhyun, maafkan aku karena membuatmu begitu paranoid, maafkan aku juga karena mengizinkan kakakku menemuimu. Kakakku hanya ingin bertemu denganmu, Baekhyun. Kakakku hanya ingin kau tahu kalau dia ada. Tolong jangan benci dia, dia benar-benar menyukaimu. Aku jamin, dia tidak akan menyakitimu walau kau berpikir seperti itu. Ahiya, sepertinya kakakku sudah cukup berteman denganmu. Dia bilang, dia merasa bersalah karena membuatmu takut padahal maksudnya bukan begitu. Tolong maafkan kami. Kami berjanji tidak akan mengganggumu lagi. Kami juga akan mengusir roh-roh itu agar Sangwook tenang. Sebagai permintaan maaf kami, kami akan pergi dari kehidupanmu. Simpanlah kenang-kenangan dari kakakku, kalau kau merasa terganggu, kau boleh membuangnya, tapi jangan lupakan kakakku yang sangat menyukaimu.

Kami berjanji, mulai malam ini kau tidak akan bermimpi buruk lagi. Salam dari fans setiamu, Ikkirou Shinji.


Ada sebuah gambar dalam email itu, aku yakin dua orang dalam gambar itu adalah Ikkirou dan Mitsuki. Ikkirou sangat mirip dengan Chanyeol! Tapi menurutku Ikkirou masih lebih tampan.

Senyumku terus mengembang setelah membaca email itu. Apakah ini nyata? Oh, Tuhan...gomawo! Jeongmal kamsahamnida!

“Ada apa, Baekhyun-hyung?”

“Baca ini, Kyungsoo.”

Kyungsoo menerima ponsel yang kusodorkan dan membaca email dari Mitsuki, matanya langsung berbinar setelah membacanya.

“Ini serius, Hyung?”

“Aku tidak tahu, fiuh...semoga saja.”

***

Dorm EXO-K_28-03-2014_08.12 PM

Aku tidak pernah merasakan perasaan selega ini seumur hidupku! Aku benar-benar senang setelah mendapat email itu! Seingatku, aku membalas sangat panjang, tapi sampai sekarang Mitsuki tidak membalasnya. Mungkin dia memang ingin pergi dari kehidupanku. Aku agak kecewa, tapi lega juga.

“Baekhyunnie...chagiya...”

“Chanyeol, cukup!”

“Kau sedang senang, kan?”

“Tentu saja! Bayangkan, selama empat hari ini aku selalu merasa ketakutan, dan sekarang semuanya sudah selesai. Huaaa, rasanya benar-benar lega!”

“Yah...kita jadi tidak bisa tidur bersama lagi.”

“Maksudnya?”

“Kalau kau ketakutan begitu kan kita bisa tidur bersama...”

“Ish, aku benar-benar kepanasan tidur denganmu!”

“Aku janji deh, aku tidak akan memelukmu erat-erat!”

“Tidak mau! Panas!”

“Tidak akan menyentuhmu deh...”

“Sempit!”

“Hya! Byun Baekhyun! Aku heran kenapa Ikkirou bisa menyukaimu sampai menghantuimu! Aku juga heran kenapa aku bisa menyukaimu! Huh, dasar pacar yang jahat!”

“Aku jahat? Jahat seperti apa?”

“Coba ya kau ingat-ingat lagi perbuatan jahatmu. Pertama, kau mengerjaiku habis-habisan November tahun lalu, membuatku hampir mati saja. Kedua, aku tidak pernah meminta ciuman pertama karena aku tahu kau belum siap, malah aku baru bisa menciummu saat kau lengah. Ketiga, tidur satu ranjang saja kau tidak mau, padahal aku tidak macam-macam padamu, keempat dan masih banyak lagi yang aku tidak ingat! Intinya kau benar-benar pacar yang jahat!”

Aku hanya bisa tercengang mendengar penjelasan panjang lebar Chanyeol tentang kejahatanku. Err...sepertinya dia benar-benar berlebihan, atau aku memang jahat? Aish...chincha...dia itu...

“Lalu sekarang maumu apa?” tanyaku seperti menantang.

“Pokoknya kau harus tidur denganku malam ini! Aku janji deh tidak akan melakukan yang macam-macam!”

“Aaa, sempit, Chanyeol bodoh!”

“Ish, keras kepala sekali sih!”


Kudekati Chanyeol yang membelakangiku, langsung kupeluk Chanyeol seperti orang putus asa. Oh, tidak, aku tidak putus asa, ini memang caraku untuk menenangkannya. Aku selalu menenangkannya lewat pelukan. Kuelus punggung Chanyeol lembut dan kurasa Chanyeol masih kaget dengan perlakuan tiba-tibaku ini.

“Ba-Baekhyunnie...”

“Kalau aku dalam bahaya seperti Mitsuki waktu itu, apakah kau akan rela mati untukku?”

“Tentu saja, bodoh.”

“Walaupun aku ini jahat?”

“Kau benar-benar bodoh, kau tahu jawabannya, kan?” Chanyeol meregangkan pelukanku dan berbalik, lalu dia berganti memelukku.

“Ne, aku yang salah dan bodoh, Channie. Aku tahu...”

“Kalau begitu, kau mau tidur denganku, kan?”

Ish, dia itu masih saja. Langsung kulepas pelukan itu dan memukul pelan kepala nya.

“Tidak mau, sempit.”

“Byun Baekhyun! Awas ya, kalau kau dalam bahaya, aku tidak akan menenangkanmu lagi.”

“Lho? Tadi kau bilang akan berkorban untukku walaupun aku jahat padamu!”

“Oh? Yang benar saja itu! Aku lupa aku lupa!”

“Sebenarnya siapa sih yang bodoh!”

Di tengah pertengkaran bercanda kami itu, aku tidak sengaja melihat Ikkirou di balik jendela. Dia tersenyum manis padaku, dan harus kuakui, dia benar-benar tampan. Aku membalas senyumnya dan dia langsung menghilang.

Ikkirou, terimakasih karena sudah membuatku mengalami pengalaman menakjubkan ini. Aku tidak akan melupakanmu dan adikmu. Mulai sekarang aku akan lebih menyayangi fansku. Ahiya Aku juga akan menjaga patungmu dengan baik. Kau harus tenang di alam sana, ne? Sekali lagi, terimakasih.


END

13 komentar:

  1. Woah merinding serius ㅋㅋㅋ
    Keren ffnya tapi seriusan bikin takut jadinya,
    Bacanya juga dag dig dug haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. huhuhuuuu, merinding ni yeeee :D
      wkwkwk.
      makasih ya udah baca ^^

      Hapus
  2. hihihi, makasih banyakkk yaaa :D
    aku juga mengalami hal-hal aneh pas bikin O.O . Ini cius. xD

    BalasHapus
  3. Author sukses membuatku takut ke kamar mandi
    ; (

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk, ayo kutemenin xD heheheee
      makasih ya udah bacaa ^^

      Hapus
  4. Author, posting lebih banyak cerita tentang BaekYeol & XiuHan dong. Hehe :3
    FF disini keren semuanya ga bosen bacanya.
    Buat cerita yang ini WOW banget deh, suskses bikin aku ketakutan. Tapi keren deh ceritanya. Thanks author :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. tau aja kamu aku hardshipper mereka xD hehehehehe.
      wahhh, makasih ya udah dibilang keren *ffnya*
      sip dehhh, doain aja :D

      Hapus
    2. sekarang aku lebih sering nulis ff boys love di sini http://fiesufistory.wordpress.com tapi semuanya XiuHan soalnya...setelah kupikir-pikir aku sukanya cuman sama XiuHan :* :*

      Hapus
  5. Hi author ^^ ff yg mystery 6 + paranoid ini sukses bikin aku ktakutan bngt . Mna aku pas baca nya lgi d kmar jam 1 mlm lgi . d tmbh pas lgi baca ada suara ketok2 pintu , ada suara2 gk jlas deh pokoknya . sukses bngt deh bkin aku ktakutan . Keren ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. hiiii, serem banget sii sampe begitu ._. yaampun, maapin ya. jangan-jangan aku udah manggil...sesuatu....huahahaha
      makasih ya udah bacaa ^^

      Hapus
  6. Ff mystery 6 + paranoid ini sukses bkin aku ktakutan . Mana pas lgi baca udah jam 1 mlm . Ada suara2 aneh lgi . Tapibsemuanya keren...keren bikin aku ktakutan . FF NYA TOP BNGT

    BalasHapus
  7. keren bangedd aaa thorr keep writing yaa><

    BalasHapus
    Balasan
    1. huaaa, makasih banyak ya :D :D

      Hapus

No Bashing just positive. oke?

Daftar Blog Saya

Cari Blog Ini